Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.
Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.
Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
Pukul 7 pagi, mentari baru saja merangkak naik, namun ketegangan canggung sudah menyelimuti meja makan megah itu. Syifa duduk dengan posisi tegak yang kaku, sesekali melirik suaminya yang duduk di kepala meja. Di hadapan mereka, tersaji nasi goreng cumi dan telur mata sapi buatan Bi Darsih yang aromanya sangat menggugah selera. Namun, nafsu makan Syifa mendadak menguap entah ke mana.
Syifa berdeham kecil, mencoba memecah keheningan yang mencekik. "Semalam... Bapak tidak tidur di kamar, ya?" tanya Syifa, suaranya agak cicit karena canggung.
Fadhlan tidak langsung menjawab. Tangannya yang kokoh masih tenang menyuapkan sendok berisi nasi goreng ke dalam mulutnya. Setelah mengunyah pelan dan menelannya, barulah ia menyahut pendek tanpa menoleh. "Hem."
Syifa meremas pelan jilbab pashminanya di bawah meja. "Kenapa?"
"Masih banyak kerjaan," jawab Fadhlan singkat, padat, dan sedingin es di kutub utara.
Syifa menghela napas pendek. 'Dingin banget. Padahal kemarin sore di kamar mandi... ah, lupakan! Jangan diingat lagi!' wajah Syifa mendadak merona mengingat kejadian shower. Ia berdeham lagi, berusaha bersikap rasional. "Oh, iya. I-itu, biar saya naik angkutan umum saja berangkat ke kampusnya ya, Pak? Supaya tidak merepotkan."
Tak!
Bunyi sendok yang diletakkan Fadhlan di atas piring kaca terdengar begitu nyaring di telinga Syifa. Fadhlan menghentikan makannya, lalu menegakkan tubuh. Pandangan matanya yang tajam dan pekat langsung mengunci manik mata Syifa.
"Tidak. Kita berangkat bersama," ucap Fadhlan dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan.
Syifa mencoba membela diri. "Tapi, Pak—"
Fadhlan memajukan sedikit tubuhnya, menatap Syifa dengan ekspresi yang luar biasa datar, namun sorot matanya memancarkan aura dominasi yang kuat. "Saya tidak mau mendengar ada penolakan, Sayang."
Syifa seketika terbungkam. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena tatapan tajam itu, melainkan karena kata terakhir yang diucapkan suaminya.
'Manggil Sayang tapi wajahnya datar dan sedingin kulkas dua puluh pintu begitu! Ini mau mencintai atau mau mengintimidasi sih?' gerutu Syifa dalam hati, mengerucutkan bibirnya kesal.
"Hmm... iya," jawab Syifa akhirnya, pasrah dan menunduk dalam-dalam sembari menusuk-nusuk telur dadar di piringnya dengan garpu.
...----------------...
Di dalam mobil, suasana justru kian senyap. Fadhlan bersandar di kursi penumpang belakang, terus saja memejamkan matanya dengan kening yang sesekali berkerut dalam. Ia tidak banyak bicara sejak mobil melaju meninggalkan gerbang rumah. Kemudi sengaja diserahkan kepada Pak Ridwan, sang supir pribadi.
Syifa yang duduk di sebelahnya mulai merasa ada yang tidak beres. Wajah Fadhlan yang biasanya putih bersih kini tampak agak pucat, dan napasnya terdengar sedikit berat.
"Tidak enak badan ya, Pak?" tanya Syifa pelan. Karena dorongan rasa khawatir yang beralih menjadi naluri seorang istri, Syifa memberanikan diri mengulurkan tangan, menempelkan punggung tangannya ke dahi Fadhlan.
Begitu kulit mereka bersentuhan, Syifa langsung terlonjak kecil. 'Ya Allah, suhu badannya panas sekali! Ini sih demam tinggi!'
"Kita pergi ke klinik atau rumah sakit ya, Pak. Bapak demam loh, badannya panas banget," ujar Syifa panik, suaranya meninggi satu oktav.
Fadhlan membuka matanya sedikit, melirik Syifa dengan tatapan sayu namun tetap keras kepala. "Tidak usah. Kita langsung ke kampus."
"Engga! Kita ke dokter dulu, anda sakit, Pak!" tegas Syifa, melupakan sejenak rasa canggungnya.
"Saya tidak apa-apa, Syifa. Cuma pusing sedikit."
"Pokoknya kita ke dokter!"
Fadhlan menghela napas berat, lalu mengetuk sandaran kursi depan. "Tidak. Pergi ke kampus saja, Pak Ridwan."
Pak Ridwan melirik dari kaca spion tengah dengan wajah bapak-bapak yang terjepit situasi darurat. "Baik, Pak..." jawabnya ragu.
Pak Ridwan makin bingung, memegang setir dengan keringat dingin. 'Aduh, saya harus ikut perintah Pak Bos yang punya uang, atau Ibu Bos yang punya kuasa atas hatinya Pak Bos?' batin Pak Ridwan merana.
Melihat istrinya yang mulai berkaca-kaca karena panik dan marah, benteng pertahanan Fadhlan akhirnya runtuh. Ia memijit pangkal hidungnya yang berdenyut nyut-nyutan. "Oke... saya akan ke dokter. Tapi setelah urusan di kampus selesai. Bagaimana?"
Syifa mendengus, namun akhirnya mengalah. "Betul ya? Awas kalau bohong." Syifa kemudian membuka tasnya, mengubek-ubek isinya dan mengeluarkan sebuah strip obat. "Ini... kebetulan saya bawa obat flu dan demam di tas. Ayo diminum dulu, Pak." Syifa menyodorkan sebutir obat beserta sebotol air mineral yang belum dibuka.
Tidak dipungkiri, Fadhlan memang merasa kepalanya seperti dihantam godam besar. Pandangannya bahkan sempat mengabur beberapa kali. Tanpa banyak penolakan lagi, Fadhlan menerima obat itu. Syifa dengan telaten membantu membukakan tutup botol airnya. Fadhlan meminum obat itu hingga tandas, lalu kembali memejamkan mata.
...----------------...
Begitu sampai di kampus, Fadhlan langsung turun dan melangkah cepat menuju ruang dosen dengan sisa-sisa kekuatannya. Syifa yang sangat mengkhawatirkan kondisi suaminya hanya bisa mengekor dari belakang dengan jarak sekitar lima meter, memastikan suaminya tidak pingsan di koridor.
"Hem! Suka ngatain orang lain keras kepala, tapi sendirinya jauh lebih keras kepala seperti batu!" gerutu Syifa pelan saat berjalan melewati pintu ruangan Fadhlan yang tertutup rapat.
Syifa pun mempercepat langkah menuju ruang kuliahnya sendiri. Rupanya, suasana kelas sudah sangat ramai dan gaduh oleh para mahasiswa. Baru saja menginjakkan kaki di ambang pintu, telinga Syifa langsung menangkap kasak-kusuk panas. Topik pagi ini tidak lain dan tidak bukan adalah, pernikahan sang dosen idola, Pak Fadhlan.
"Eh, Syifa udah berangkat!" seru Adiba begitu melihat sahabatnya muncul.
Jihan yang duduk di sebelah Adiba langsung mencondongkan tubuhnya, berbisik dengan nada menggoda yang menyebalkan. "Ciye... pengantin baru..."
"Ssstt... Jihan, diam!" Syifa melotot, menaruh jari telunjuk di depan bibirnya, menatap sekeliling dengan cemas takut ada mahasiswa lain yang mendengar rahasia besar mereka.
"Sini duduk, Syif," tawar Adiba menunjuk kursi kosong di sebelahnya.
Syifa segera duduk dan menaruh tasnya. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas yang penuh sesak. "Tumben jam segini anak-anak kelas kita sudah pada datang? Biasanya kan jam pertama pada hobi bolos?" tanya Syifa heran.
"Kamu amnesia ya, Syif? Pagi ini kan jadwal mata kuliahnya Pak Fadhlan," celetuk Jihan sembari mengunyah permen karet. "Palingan kelompoknya Ayu sama Bella itu mau presentasi, makanya mereka datang pagi-pagi biar dapet nilai plus dari dosen ganteng."
"Oh... begitu ya," jawab Syifa mangut-mangut.
Memang sudah menjadi rahasia umum di kampus, jika kelas Fadhlan berlangsung, tidak boleh ada yang terlambat semenit pun, tidak ada dispensasi, dan handphone harus dalam mode senyap. Jika melanggar, bersiaplah menerima sanksi nilai langsung meluncur ke huruf E.
Di deretan kursi depan, suara Ayu terdengar melengking memimpin gosip. "Eh, kalian tahu ngga? Kemarin pernikahannya Pak Fadhlan mewah banget tahu! Dekorasinya aesthetic parah di hotel bintang lima!"
"Iya betul! Tapi yang bikin heran, ternyata pengantin wanitanya bukan Kak Sonia semester 8 itu kok!" sahut mahasiswi lain.
"Emang siapa sih istrinya? Kok misterius banget?" kepo yang lain, langsung mengerubungi meja Ayu.
Ayu mengibaskan tangannya misterius. "Ngga tahu! Di foto-foto tamu undangan, wajah pengantin wanitanya di-blur total! Kayaknya sih identitasnya sengaja disembunyikan rapat-rapat demi kebaikan istrinya sendiri. Ya kalian pikir aja, hampir semua mahasiswi dari semester awal sampai akhir, dari prodi Tarbiyah, Tafsir, sampai Syariah kan ngefans berat sama Pak Fadhlan. Kalau ketahuan siapa istrinya, bisa-bisa kena santet atau minimal di-bully habis-habisan satu kampus!"
"Ih seram juga ya... Eh, kira-kira Pak Dosen bakal tetap kelihatan ganteng dan berwibawa engga ya setelah nikah begini?" tanya Bella penasaran.
Mahasiswi di sebelahnya menyahut sok tahu. "Denger-denger sih ya, kalau cowok ganteng sudah nikah, auranya bakal jadi biasa aja karena udah ada yang punya. Apalagi kalau nanti istrinya sudah hamil!"
Syifa yang mendengarkan dari kursi belakang langsung ketar-ketir. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Ia membayangkan jika suatu hari rahasia bahwa dirinya adalah istri sah Fadhlan terbongkar, mungkin ia harus memakai topeng ninja setiap kali pergi ke kampus agar selamat dari amukan para penggemar suaminya.
"Udah gila mereka ya, dosen sudah punya istri masih aja dikagumi setengah mati," cibir Jihan pelan, menatap sinis ke deretan depan.
"Jihan... jaga bicaramu," tegur Adiba memperingatkan.
"Eh, sorry, sorry... sengaja," Jihan menyengir, lalu sedetik kemudian wajahnya berubah jadi senyuman jahil. Ia menyenggol lengan Syifa dengan siku. "Oh iya bestie, gimana malam pertama kemarin? Sukses? Berapa ronde?"
Wajah Syifa seketika memanas. "Apaan sih! Ngga ada ya!" jawab Syifa ketus, memalingkan muka.
"Ah, ngga usah malu-malu kucing gitu sama kita. Pasti kamu udah lihat roti sobeknya Pak—"
Plak!
Syifa langsung membekap mulut Jihan dengan telapak tangannya dengan sangat erat sebelum nama suaminya terucap. Namun, gara-gara ucapan Jihan, memori Syifa justru otomatis terlempar kembali pada momen intim ketika liburan dan di bawah kucuran shower kemarin sore. Bayangan Fadhlan yang basah kuyup, menangkup wajahnya, dan mencium bibirnya dengan intens seketika berputar layaknya film beresolusi tinggi di otaknya.
"Pipimu merah banget tuh, Syif! Kayak tomat matang," bisik Adiba menyenggol sisi lengan Syifa yang lain, ikut menggoda.
"Eh... mana ada! Engga... ini karena panas aja!" jawab Syifa gugup, menepuk-nepuk pipinya yang terasa membara.
Jihan berhasil melepaskan bekapan tangan Syifa, lalu berbisik sangat pelan di telinga sahabatnya. "Hah? Berarti seriusan... kamu sudah di-unboxing sama Pak Dosen?"
"Engga! Sembarangan kalau ngomong! Udah ah, duduk yang bener sana, dosennya mau masuk!" ketus Syifa salah tingkah, mendorong kepala Jihan agar menjauh.
Tepat beberapa menit kemudian, pintu kelas terbuka. Sosok Fadhlan melangkah masuk ke dalam ruangan. Namun, pemandangan pagi ini terasa berbeda. Wajah Fadhlan tampak sedikit pucat, matanya terlihat sangat lelah dan sayu, efek dari demam yang berpadu sempurna dengan dosis kuat obat flu yang diberikan Syifa tadi di mobil.
...****************...