"Sabar itu ada batasnya, Laras. Dan batasmu adalah kematianmu sendiri," bisik Dimas tepat di telingaku, saat tangannya dengan lembut mengusap kepalaku yang tertutup hijab.
Di depan semua orang, Dimas adalah suami saleh dan pengacara terpandang yang setia menjaga istrinya yang lumpuh. Namun, di balik pintu kamar, ia adalah iblis yang meracuniku setiap hari. Ia menghancurkan tubuhku demi membalas dendam masa lalu dan menguasai harta warisan orang tuaku untuk wanita lain.
Aku terjebak dalam tubuh yang tak bisa bergerak. Namun, di atas kursi roda ini, aku bersujud dalam hati. Aku berhenti meminum racun itu dan mulai berpura-pura lumpuh. Di saat Dimas merasa telah menang, ia tidak tahu bahwa aku mengawasi setiap langkah busuknya.
Aku memang istri yang kau buang, Dimas. Tapi ingatlah, doa orang yang terzalimi tidak akan pernah terhalang oleh langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang Dingin
Pesta pernikahan yang melelahkan namun indah itu akhirnya usai. Kamar pengantin kami di hotel mewah ini sudah dihias sedemikian rupa. Wangi semerbak kelopak bunga mawar merah yang ditaburkan di atas sprei putih bersih berpadu dengan cahaya temaram lampu kamar yang memberikan kesan romantis sekaligus hangat.
Aku duduk di tepi ranjang, masih mengenakan jubah mandi satin setelah berhasil membersihkan sisa-sisa noda merah jus stroberi di kulitku. Meski gaun pengantin impianku rusak, hatiku tetap berbunga. Aku menatap pantulan diriku di cermin, menyentuh bibirku yang masih menyisakan senyum kecil. Sebentar lagi, aku dan Dimas akan memulai lembaran baru sebagai suami istri yang sah.
Namun, pintu kamar terbuka dengan kasar. Aku terlonjak kaget. Dimas masuk dengan wajah pucat dan napas yang memburu. Tidak ada lagi gurat ketenangan yang tadi ia tunjukkan di pelaminan.
"Mas Dimas? Ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu?" tanyaku cemas, segera berdiri menghampirinya.
Dimas menggenggam pundakku, tangannya terasa sedikit gemetar. "Laras... Paman baru saja menelepon. Ibu... Ibu kecelakaan saat perjalanan pulang dari gedung tadi. Mobilnya terguling, Laras!"
Jantungku seolah berhenti berdetak. Ibu mertuaku, satu-satunya sosok orang tua yang kini kumiliki setelah ibu kandungku tiada. "Astagfirullah! Bagaimana keadaan Ibu, Mas? Di rumah sakit mana? Ayo, kita berangkat sekarang!"
Aku bergegas meraih jilbab instan yang tergeletak di kursi, namun tangan Dimas menahanku. Gerakannya cepat dan kuat, membuatku tersentak.
"Tidak, Laras. Kamu tidak perlu ikut. Kamu istirahat di sini saja," ucapnya dengan nada yang tegas, namun berusaha dilembutkan di akhir kalimat.
"Tapi Mas, itu Ibu! Mana mungkin aku bisa tenang berdiam diri di sini sementara Ibu terluka? Aku ini menantunya, aku harus ada di sana," protesku. Hatiku terasa tidak keruan. Bagaimana mungkin malam pertama kami dilewati dengan berita mengerikan seperti ini?
Dimas menggeleng, ia mendekat dan menangkup wajahku dengan kedua tangannya. Ia menatap mataku dalam-dalam—tatapan yang selalu membuatku luluh. "Dengarkan aku, Sayang. Suasana di rumah sakit pasti sangat kacau sekarang. Kamu sudah berdiri seharian, kamu pucat dan kelelahan. Kalau kamu ikut dan malah jatuh sakit di sana, aku akan semakin tertekan. Biarkan aku yang urus semuanya dulu, ya? Aku janji akan segera memberi kabar."
"Tapi Mas..."
"Sstt..." Dimas meletakkan jarinya di bibirku. "Percayalah padaku. Aku hanya ingin kamu beristirahat. Aku tidak mau istriku sakit di hari pertama kita menikah. Mengerti?"
Suara baritonnya begitu lembut, menyihir logika yang tadinya sempat meronta. Rasa curiga sempat melintas di benakku selama sepersekian detik; mengapa dia begitu bersikeras melarangku? Namun, melihat raut wajahnya yang tampak begitu khawatir, aku merasa egois jika terus memaksanya. Aku mengira dia hanya sedang menunjukkan sifat protektifnya yang luar biasa.
Dimas kemudian berjalan ke arah meja samping tempat tidur. Ia mengambil sebuah botol kecil yang tidak berlabel, lalu mengeluarkan sebutir pil berwarna putih dari sana. Ia mengambil segelas air dan menyodorkannya kepadaku.
"Sebelum aku pergi, tolong minum ini ya?"
Aku mengernyitkan dahi. "Apa ini, Mas?"
"Ini vitamin penguat saraf dan daya tahan tubuh. Teman dokterku yang memberikannya. Kamu sangat lelah hari ini, Laras. Kalau kamu tidak minum ini, besok badanmu bisa ambruk. Aku tidak mau itu terjadi," jelasnya dengan senyum tipis yang tampak sangat tulus.
Aku menerima pil itu. Tidak ada sedikit pun keraguan di hatiku saat menatap wajah suamiku yang begitu penuh perhatian. Di mataku, Dimas adalah pria yang sangat memikirkan kesehatanku bahkan di tengah kepanikannya karena kecelakaan ibunya sendiri. Tanpa bertanya lebih lanjut, aku memasukkan pil itu ke mulutku dan meminumnya hingga tuntas.
"Pintar. Sekarang, berbaringlah. Aku harus berangkat sekarang," Dimas mengecup keningku cukup lama. Ciuman yang terasa dingin, namun aku menganggapnya sebagai tanda perpisahan sementara yang emosional.
Ia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan kamar. Suara pintu yang tertutup rapat bergema di ruangan yang sunyi ini. Aku kembali duduk di tepi ranjang, menatap botol air yang masih tersisa separuh.
Tiba-tiba, rasa kantuk yang sangat luar biasa menyerangku. Mataku terasa seberat timah. Tubuhku yang tadinya tegang karena cemas, mendadak terasa lemas dan mati rasa secara perlahan. Aku mencoba meraih ponselku di atas meja untuk mengirim pesan singkat pada Paman, menanyakan keadaan Ibu mertua, namun tanganku terasa sangat sulit untuk digerakkan.
Mungkin ini efek kelelahan... pikirku dalam hati.
Aku merebahkan diriku di atas hamparan kelopak mawar merah yang kini terasa dingin. Malam pertama yang kubayangkan akan penuh dengan curahan kasih sayang, kini berakhir dengan keheningan yang mencekam. Aku menatap langit-langit kamar yang mulai berputar, sementara kesadaranku perlahan meredup.
Di ambang kesadaran yang hampir hilang, aku sempat berpikir; apakah benar Ibu mertua kecelakaan? Mengapa ponsel Dimas tidak berbunyi sekali pun saat ia berada di kamar tadi? Namun, semua pertanyaan itu hilang ditelan kegelapan yang dibawa oleh pil pemberian suamiku.
Aku terlelap dengan hati yang berat, tanpa menyadari bahwa di luar sana, Dimas tidak sedang menuju rumah sakit. Aku tidak tahu bahwa vitamin yang kutelan barusan adalah awal dari sandiwara panjang yang akan merenggut paksa kemampuanku untuk kembali berdiri tegak. Malam itu, di bawah pengaruh obat yang mulai bekerja merusak sarafku, aku resmi menjadi istri yang terbuang—bahkan sebelum matahari pertama pernikahan kami terbit.