NovelToon NovelToon
Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.

​Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.

​Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.

​"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Aroma antiseptik yang pekat kembali menyambut Diandra saat kursi rodanya didorong memasuki ruang rehabilitasi medis. Namun, sesi terapi fisik kedua ini terasa sangat berbeda dari sebelumnya.

Tidak ada lagi kesunyian yang mencekam. Tepat di sampingnya, Pratama setia menemani, duduk di atas kursi roda laras panjang dengan tiang infus yang tiada henti mengekor di belakangnya.

Meskipun tubuh tegap sang CEO masih dibalut perban dan napasnya sesekali masih terasa berat, Pratama menolak keras saat diminta dokter untuk tetap beristirahat di kamar rawat.

Ia ingin menjadi saksi hidup bagi setiap jengkal perjuangan istrinya.

Dua orang terapis mulai memosisikan tubuh Diandra di depan palang sejajar (parallel bars). Hari ini, target mereka jauh lebih berat: memaksa kaki Diandra untuk menumpu beban tubuhnya sendiri untuk pertama kali.

"Nyonya Diandra, genggam palang besi ini erat-erat. Fokuskan kekuatan pada otot paha dan betis Anda. Kita akan mencoba berdiri dalam hitungan ketiga," instruksi dokter spesialis saraf dengan nada tegas namun suportif.

Pratama memajukan posisi duduknya, menggenggam tangan kiri Diandra sebelum wanita itu meraih palang besi.

"Kamu pasti bisa berjalan lagi, Sayang. Aku ada di sini, tepat di sampingmu," bisik Pratama, menyalurkan seluruh keyakinan yang ia miliki melalui sorot matanya yang teduh.

Diandra menarik napas dalam-dalam, mencengkeram palang besi dingin di kanan dan kirinya.

"Satu... dua... tiga... angkat, Nyonya!"

Begitu Diandra memaksa lututnya yang kaku untuk melurus dan menahan bobot tubuhnya, petaka itu kembali datang.

Rasa sakit yang teramat masif, layaknya ribuan sengatan listrik dan hantaman godam tak kasat mata, seketika menjalar dari telapak kaki hingga ke tulang pinggangnya.

Otot-ototnya yang atrofi selama lima tahun seperti ditarik paksa hingga nyaris putus.

Bruk!

Baru setengah badan terangkat, kedua kaki Diandra langsung lemas tak bertulang.

Ia ambruk kembali ke atas bantalan kursi roda dengan napas yang memburu liar.

Keringat dingin bercucuran membanjiri pelipisnya, berbaur dengan air mata yang mendadak tumpah tanpa bisa dibendung.

Diandra menangis tergugu, menggelengkan kepalanya dengan frustrasi yang teramat dalam.

Rasa percaya diri sang nyonya besar seketika menguap, dikalahkan oleh rasa perih yang terlampau menyiksa raganya.

"Sakit, Mas... Aku tidak bisa... Kakiku benar-benar mati, aku tidak bisa berdiri lagi," isak Diandra, menutup wajahnya dengan kedua tangan yang bergetar hebat.

Rasa sakit fisik dan ketakutan akan kelumpuhan permanen kini bercampur aduk, meremukkan mentalnya hingga berkeping-keping.

Melihat istrinya yang rapuh, hati Pratama serasa diiris. Namun, ia tidak boleh ikut lemah.

Pria itu mengulurkan tangannya, merengkuh jemari Diandra dari wajahnya dan mengecupnya dengan penuh kelembutan.

"Kamu bisa, Sayang. Jangan dengarkan rasa takutmu," ujar Pratama lembut namun sarat akan penekanan yang menguatkan.

"Diandra yang kukenal adalah wanita paling kuat di dunia ini. Rasa sakit ini hanya sementara, ia sedang membuka jalan agar kamu bisa kembali berlari bersamaku."

Diandra masih terisak, menatap Pratama dengan mata yang sembap dan sarat akan keputusasaan.

"Tapi ini terlalu sakit, Mas..."

Pratama tersenyum tipis. "Aku tahu. Karena itu, aku punya ini untuk semangatmu."

Dengan gerakan perlahan, Pratama merogoh saku jubah rumah sakitnya.

Dari dalam sana, ia mengeluarkan sebuah batang cokelat premium dengan kemasan dark chocolate berlogo emas—cokelat isi praline kacang hazelnut langka kiriman langsung dari Swiss, yang sejak dulu selalu menjadi camilan wajib Diandra setiap kali wanita itu stres mengurus berkas korporasi.

"Aku menyuruh Diko mencarinya ke seluruh penjuru kota pagi ini," ucap Pratama dengan binar jenaka di matanya, mencoba mengalihkan badai duka di hati istrinya.

"Satu gigitan untuk setiap satu langkah kecil. Bagaimana? Apakah pemilik Pratama Group ini tertarik dengan penawaran suaminya?"

Melihat batangan cokelat kesukaannya yang masih diingat dengan sangat detail oleh Pratama setelah lima tahun berlalu, tangis Diandra perlahan mereda.

Rasa manis imajiner dari cokelat itu seketika meresap ke dalam hatinya, mengusir rasa pahit dan perih yang sempat merantai mentalnya.

Diandra menyeka air matanya dengan punggung tangan, lalu menatap cokelat dan suaminya bergantian.

Sumpah dendamnya pada Mita dan cintanya pada Pratama kembali membakar sisa-sisa keberanian di dalam dadanya.

"Curang..." gumam Diandra dengan suara serak, namun seulas senyuman tipis mulai terukir di bibirnya yang pucat.

"Pegang cokelat itu, Mas. Jangan berani-berani memakannya sebelum aku berhasil berdiri di depanmu."

Melihat kilat tekad yang kembali menyala di sepasang netra Diandra, dokter dan perawat di dalam ruangan itu tidak menyia-nyiakan momentum.

Perawat kembali membantu Diandra, memosisikan diri di sisi kanan dan kiri untuk menyangga tubuh sang nyonya besar dengan penuh kehati-hatian.

"Nyonya Diandra, mari kita coba sekali lagi. Atur napas Anda, tumpuan ada pada telapak kaki, bukan pada palang besi," instruksi perawat dengan lembut namun tegas.

Diandra kembali mencengkeram palang sejajar itu.

Tangannya yang sempat gemetar kini mengunci besi dingin itu dengan kekuatan penuh.

Sebelum mulai mengangkat badannya, Diandra melihat suaminya yang sedang menggenggam cokelat kesukaannya di atas pangkuan.

Pratama tidak mengalihkan pandangannya sedetik pun.

Ia mengangkat batangan cokelat itu sedikit lebih tinggi, memamerkan bungkusan emas yang berkilau di bawah lampu ruang rehabilitasi, sementara tangan satunya mengepal kuat di udara.

"Ayo, Sayang... kamu bisa. Langkah ini milikmu, dan rumah ini sudah menunggumu untuk pulang sepenuhnya," seru Pratama, suaranya yang serak kini terdengar begitu bertenaga, menggema di dalam ruangan sebagai suntikan semangat yang paling mujarab.

“Satu... dua... tiga... angkat!”

Nggggh!

Diandra menggeram rendah, menggigit bibir bawahnya hingga memutih.

Rasa sakit yang luar biasa kembali meledak, menjalar bagai aliran magma yang membakar sendi-sendi lutut dan otot pahanya yang kaku. A

Air mata spontan meleleh melewati pipinya yang tirus, menetes ke atas lantai semen medis. Namun kali ini, Diandra tidak membiarkan tubuhnya ambruk kembali.

Ia mengunci pandangannya lurus pada netra elang Pratama.

Bayangan rasa manis cokelat, dekapan hangat suaminya, dan bayang-bayang keadilan untuk Gia menyatu menjadi kekuatan mistis yang mendobrak batas keterbatasan fisiknya.

Dengan satu hentakan napas yang berat, Diandra memaksakan kedua lututnya mengunci tegap.

Set!

Tubuh tirus Diandra berhasil berdiri tegak di atas kedua kakinya sendiri.

Meskipun seluruh tubuhnya bergetar hebat menahan beban dan tangannya mencengkeram besi hingga memucat, Diandra tidak lagi terjatuh.

Ia berhasil menaklukkan gravitasi dan kelumpuhan yang merantainya selama lima tahun.

"Luar biasa! Pertahankan posisinya, Nyonya!" seru dokter spesialis dengan wajah sumringah, takjub melihat progres masif yang ditunjukkan oleh pasiennya.

Pratama yang menyaksikan hal itu langsung mengembuskan napas lega yang teramat panjang.

Matanya berkaca-kaca menahan haru. Ia memajukan sedikit kursi rodanya, mengulurkan batangan cokelat itu tepat ke arah istrinya yang kini tengah terengah-engah dengan senyuman kemenangan yang terukir di bibirnya.

"Istriku memang tidak pernah mengecewakan," bisik Pratama penuh kebanggaan.

"Satu kemenangan kecil untuk hari ini, Sayang."

1
Anne Soraya
lanjut
Tian Selli
lanjutannya mana ya
Tian Selli: judul nya apa?
total 2 replies
cici
seru kali smpek yg baca ikut panik tiap episode
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
my name is pho: iya kak 🥰
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjuttt
Asra
waah, makin menarik aja, next kak🙌💖
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Asra
semangat n ditunggu up nya lagi kak
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!