NovelToon NovelToon
ONE TOP GOD: Perjalanan Menuju Puncak Dunia

ONE TOP GOD: Perjalanan Menuju Puncak Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Action / Showbiz
Popularitas:357
Nilai: 5
Nama Author: Ab Je

Di dunia pro-scene FPS yang kejam, satu peluru bisa menentukan segalanya.

Reno, seorang remaja yang bekerja di warnet kumuh, hanya dikenal sebagai "hantu" di server publik. Tanpa tim, tanpa perlengkapan mewah, ia mendominasi setiap pertandingan dengan satu ciri khas: satu tembakan, satu nyawa melayang. Kemampuannya yang tidak masuk akal membuat banyak orang menuduhnya menggunakan cheat.

Namun, nasib Reno berubah saat sebuah tim e-sport yang sedang di ambang kehancuran menemukannya secara tidak sengaja. Di tengah keraguan rekan setim yang tidak mempercayainya dan rival-rival besar yang siap menjatuhkannya, Reno harus membuktikan bahwa [aim] miliknya adalah murni bakat dewa.

Dari turnamen antar-warnet yang penuh asap hingga panggung megah kejuaraan dunia, Reno akan menunjukkan bahwa untuk menjadi yang terbaik, kamu tidak butuh peluru kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ab Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Kalkulasi Dingin

Kemarahan Apex bukan lagi sekadar gertakan. Di ronde kedua, ia mengubah total gaya permainannya. Tidak ada lagi tawa atau gestur sombong di kursi pemain lawan. Wajahnya memerah, dan matanya tertuju tajam pada layar, mencari keberadaan karakter Phantom yang baru saja mempermalukannya di hadapan dunia.

"Hancurkan formasi mereka!" perintah Apex kepada rekan setimnya. "Jangan biarkan si Phantom itu mendapatkan sudut pandang statis. Gunakan granat asap secara berantai di area tengah!"

Sesuai perintah, tim Stars and Stripes melepaskan rentetan granat asap yang menutupi hampir seluruh jalur utama di peta *Shattered Peak*. Jarak pandang Reno dan tim Black Viper kini terbatas hanya dalam hitungan meter. Suasana menjadi sunyi, hanya suara langkah kaki samar yang terdengar di atas salju yang membeku.

"Reno, aku tidak bisa melihat apa-apa! Sensor pendengaranku juga kacau karena suara badai buatan mereka!" teriak Leo mulai merasa tertekan.

"Jangan panik. Masuk ke formasi delta. Gunakan sensor panas jika tersedia, jika tidak, dengarkan getaran di lantai es," sahut Reno. Suaranya tetap tenang, seolah ia tidak sedang bertaruh nyawa di panggung internasional.

Tiba-tiba, Apex muncul dari balik kabut asap. Ia tidak menggunakan senjata laras panjang seperti biasanya, melainkan senjata otomatis jarak dekat dengan laju tembakan yang sangat tinggi. Ia menyapu posisi Leo dan Marco dalam hitungan detik.

"Dua eliminasi cepat dari Apex! Dia mengamuk!" teriak komentator. Penonton Amerika bersorak gempita, seolah kemenangan sudah di depan mata.

Reno kini sendirian melawan tiga pemain Stars and Stripes. Apex tahu Reno terjebak. Ia sengaja tidak langsung menembak Reno, melainkan menembaki area di sekitar Reno—sebuah provokasi mental untuk menunjukkan bahwa ia memegang kendali penuh.

"Di mana ketangkasanmu sekarang, Phantom?" tulis Apex di kolom pesan global. "Tanpa penglihatan, kamu hanya target diam yang menunggu waktu."

Namun, Apex melakukan kesalahan fatal. Ia menganggap Reno hanya mengandalkan mata. Ia lupa bahwa Reno tumbuh di lingkungan warnet yang penuh kebisingan, di mana ia belajar membedakan suara langkah kaki di tengah teriakan orang-orang di sekitarnya.

Reno menutup matanya sejenak di balik *headset*. Ia tidak lagi melihat monitor, melainkan memvisualisasikan peta di dalam kepalanya berdasarkan pantulan suara yang ia dengar. Setiap tetesan air dari es yang mencair, setiap gesekan sepatu bot di atas salju, dikonversi menjadi koordinat di otaknya.

*Kanan bawah, tiga meter. Belakang pilar kayu, satu pemain.*

Reno menarik pelatuk senjatanya tanpa melihat.

*Klik.*

Satu pemain lawan jatuh. Reno langsung melakukan *slide* ke arah kiri, menghindari rentetan peluru balasan dari pemain kedua. Sambil meluncur, ia melepaskan tembakan kedua yang menembus tipisnya dinding es.

*Klik.*

Dua pemain lawan tereliminasi. Kini menyisakan duel satu lawan satu antara Reno dan Apex.

"Mustahil! Dia menembak tanpa melihat?! Bagaimana dia tahu posisi tepat mereka di balik asap tebal itu?" Komentator berdiri dari kursinya, terpaku melihat replay yang menunjukkan peluru Reno mengenai sasaran dengan akurasi 100%.

Apex mulai gemetar. Ia melepaskan sisa granat asapnya, mencoba menghilang dalam kabut. Namun, Reno kini sudah benar-benar masuk ke dalam zona kejeniusannya yang terdalam. Ia tidak lagi mengejar Apex; ia justru berdiri diam di tengah jembatan es yang terbuka lebar.

"Kembalilah ke warnetmu!" Apex muncul dari atas tebing, membidik kepala Reno.

Namun, sebelum Apex sempat menarik pelatuk, Reno melakukan gerakan yang disebut para ahli e-sport sebagai **"The Invisible Flick"**. Dengan kecepatan yang melebihi refleks manusia normal, Reno mengarahkan senjatanya ke atas tanpa sedikit pun keraguan.

*Klik.*

Layar Apex berubah menjadi abu-abu. Tulisan *[ELIMINATED]* terpampang besar di wajahnya.

Reno membuka matanya, menatap monitor dengan pandangan yang tetap dingin. Di layar raksasa arena, skor berubah menjadi 2-0 untuk Black Viper. Keheningan total kembali menyelimuti Suntec Singapore Convention Centre. Ribuan penonton seolah tidak percaya bahwa pemain nomor satu dunia baru saja dijatuhkan dua kali berturut-turut oleh seorang pendatang baru.

"Kalkulasimu salah, Apex," ucap Reno pelan melalui mikrofon tim. "Kamu terlalu fokus pada apa yang bisa dilihat mata, sampai lupa bahwa dalam game ini, insting adalah senjata yang jauh lebih tajam."

Di kursi lawan, Apex membanting *mouse*-nya ke meja. Ia menatap Reno dengan kebencian mendalam, namun di balik kebencian itu, ada rasa takut yang mulai tumbuh. Ia menyadari satu hal: pemuda di depannya ini bukan manusia biasa. Dia adalah sebuah algoritma hidup yang tidak memiliki emosi saat bertanding.

"Match point untuk Black Viper! Satu kemenangan lagi dan mereka akan menciptakan sejarah terbesar dalam turnamen ini!" suara komentator kembali pecah, kali ini dengan nada hormat yang luar biasa bagi tim Indonesia.

Reno menyandarkan punggungnya, menarik napas dalam-dalam. Pertandingan belum usai, namun ia sudah mengirimkan sinyal kuat ke seluruh penjuru Singapura: Puncak dunia kini memiliki penguasa baru yang tidak bisa dihentikan oleh apa pun.

1
Alia Chans
wow cerita nya menarik, semangat✍️ nya
Ab Je: makasih yahh sudah menyemangati. (🌹)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!