Di kantor, Arkananta Dewangga adalah CEO dingin yang bicara seformal buku pelajaran. Namun saat malam tiba, ia adalah "Nightshade", penulis novel dewasa populer dengan imajinasi paling liar.
Rahasia besar itu runtuh saat sekretarisnya, Saffiya "Sia" Adhisti, menemukan draf novelnya dan memberi kritik pedas: "Adegan ini kaku sekali, Pak. Kurang rasa!"
Terpojok karena writer's block, Arkan memaksa Sia menjadi "Konsultan Riset". Sia harus membantu Arkan memahami sensasi nyata demi kelanjutan bab novelnya. Dari diskusi di ruang rapat hingga eksperimen rasa di apartemen pribadi, batasan profesional mulai kabur.
Di hadapan publik, Arkan tetaplah CEO yang tak tersentuh. Namun di balik pintu tertutup, Sia menyadari bahwa bosnya jauh lebih panas dari semua karakter yang pernah ia tulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wie Arpie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Pinterest dan Realita Dewangga
Malam itu, Arkan memutuskan untuk benar-benar menutup pintu dunia luar. Setelah momen emosional di tangga darurat, ia membawa Sia pulang ke apartemennya. Tempat ini bukan lagi wilayah asing bagi Sia. Sejak awal riset novel Nightshade, Sia sudah menghabiskan banyak malam di sini—mulai dari berdebat soal plot, tertidur di tumpukan buku, hingga momen-momen intim yang hanya diketahui oleh dinding-dinding apartemen mewah ini.
"Masuklah," ujar Arkan lembut sambil meletakkan kunci mobilnya di atas meja marmer, gerakan yang sudah sangat familiar bagi Sia.
Sia melangkah masuk tanpa canggung. Ia langsung menuju rak untuk meletakkan sepatunya, menghirup aroma sandalwood yang selalu membuatnya merasa tenang. Suasana apartemen itu sunyi, memberikan privasi yang tidak bisa mereka dapatkan di kantor atau di rumah orang tua Arkan. Sia melepas ikat rambutnya, membiarkan rambut hitamnya tergerai, merasa seolah ia baru saja melepas beban seberat sepuluh kilo dari pundaknya begitu kakinya menyentuh karpet bulu yang halus.
"Mau minum apa? Aku buatkan teh atau kamu mau yang lain?" tanya Arkan sambil melepas kancing manset kemejanya, tampak jauh lebih rileks dibanding saat di kantor tadi.
"Teh hangat saja, Kan. Aku cuma butuh duduk sebentar," jawab Sia sambil merebahkan diri di sofa velvet panjang, posisi favoritnya setiap kali berkunjung ke sini.
Arkan kembali membawa dua cangkir teh yang mengepulkan aroma melati. Ia duduk di sebelah Sia. Ia tidak menuntut Sia bicara, ia hanya ada di sana, membiarkan Sia mengumpulkan sisa-sisa energinya. Merasa suasana sudah cukup tenang, Sia merogoh ponselnya. Ia membuka aplikasi Pinterest yang selama ini menjadi tempat persembunyian impiannya yang paling jujur.
"Kan... sebenarnya, ini yang aku bayangkan kalau kita bicara soal pernikahan," bisik Sia sambil menyodorkan layar ponselnya ke hadapan Arkan.
Arkan mendekat, merangkul bahu Sia sehingga wanita itu bersandar di dadanya. Di layar itu, terpampang foto-foto outdoor wedding yang sangat hangat. Lampu-lampu kecil menggantung di dahan pohon, meja kayu panjang yang dihias bunga liar, dan suasana senja yang syahdu tanpa panggung pelaminan yang tinggi dan kaku.
"Intimate wedding?" tanya Arkan sambil mengusap lengan Sia lembut.
"Iya. Aku ingin kita benar-benar hadir di sana. Aku ingin bisa menyapa setiap tamu tanpa harus merasa seperti pajangan di etalase hotel mewah selama berjam-jam," Sia menjelaskan dengan mata berbinar, namun perlahan nadanya merendah. "Aku ingin melihat Ayah tertawa, melihat Doni makan dengan tenang tanpa harus sungkan dengan kolega bisnismu yang memakai jas mahal. Tapi aku sadar, keluarga Dewangga bukan keluarga sembarangan. Ayah Hardi punya banyak kolega, dan Mama pasti mau yang terbaik menurut standar sosialnya. Aku nggak mau jadi menantu yang egois dan dianggap merusak tradisi."
Arkan mengambil ponsel Sia, mengamati setiap detail gambar itu dengan saksama. Ia bukan pria yang mengerti soal estetika dekorasi, tapi ia sangat mengerti soal kenyamanan Saffiya. Ia tahu betapa Sia menghargai kehangatan keluarga di atas kemegahan materi.
"Kita cari jalan tengahnya, Sia," Arkan menatap mata Sia dengan serius. "Bagaimana kalau kita buat dua acara? Akad nikah dan syukuran kecil di luar ruangan—persis seperti maumu. Kita undang keluarga inti dan teman-teman dekat saja. Itu adalah acara 'kita', di mana kita bisa benar-benar merayakan cinta kita tanpa masker korporat. Lalu, resepsi besar di hotel tetap kita adakan untuk relasi bisnis Ayah dan Mama. Kita anggap itu sebagai acara 'dinas' terakhir kita sebelum benar-benar bebas sebagai suami istri."
Sia akhirnya menghela napas lega. "Jalan tengah yang adil. Aku setuju, Kan. Asalkan di acara utama kita, aku boleh pakai sneakers di balik gaun pengantinku."
Arkan tertawa rendah, sebuah suara yang selalu berhasil meluluhkan kecemasan Sia. "Pakai sandal jepit pun aku tidak keberatan."
Setelah beban soal resepsi itu menemui titik terang, suasana menjadi jauh lebih ringan. Mereka berdua akhirnya pindah ke atas tempat tidur besar milik Arkan. Mereka berbaring berdampingan, menatap langit-langit kamar yang temaram sambil bergandengan tangan dalam keheningan yang nyaman. Cahaya lampu kota yang masuk melalui jendela besar menciptakan siluet yang tenang di dinding kamar.
"Kan... setelah menikah nanti, kamu bayangin hidup kita gimana?" tanya Sia pelan, memulai deeptalk tentang masa depan mereka.
Arkan menarik napas dalam, jemarinya memainkan jari manis Sia, seolah memastikan cincin itu masih ada di sana. "Aku bayangin rumah yang nggak terlalu kaku. Aku mau kita tetap punya ruang untuk tumbuh masing-masing. Aku pulang, ada kamu, dan kita masih bisa diskusi soal naskah baru tanpa harus merasa terbebani urusan korporasi sepanjang waktu. Aku nggak mau pernikahan kita jadi sekadar rutinitas yang membosankan."
"Soal anak... gimana?" Sia bertanya hati-hati. Topik ini terasa berat bagi Sia, mengingat ia sering mendengar cerita tentang menantu di keluarga kaya yang ditekan untuk segera memberikan cucu laki-laki sebagai pewaris.
Arkan menoleh, memiringkan tubuhnya agar bisa menatap wajah Sia sepenuhnya. Pandangannya matang dan penuh pengertian. "Aku tahu keluarga besar mungkin mengharapkan 'penerus' secepatnya. Ayah mungkin sudah membayangkan siapa yang akan memimpin Dewangga Group tiga puluh tahun lagi. Tapi, aku mau kita siap secara mental dulu, Sia. Aku ingin kita punya waktu minimal satu atau dua tahun untuk benar-benar menikmati masa kita berdua. Menjadi tim yang solid sebelum ada anggota baru."
Arkan menggenggam tangan Sia lebih erat, membawa jemari wanita itu ke bibirnya untuk dikecup pelan.
"Tapi yang paling penting, Sia... aku menyerahkan keputusan itu sepenuhnya di tangan kamu. Kapan pun kamu merasa siap, atau bahkan jika kamu butuh waktu lebih lama, aku akan dukung. Karena nanti, kamu yang akan mengandung selama sembilan bulan, kamu yang akan berjuang menyusui, dan kamu yang akan memberikan waktu dua puluh empat jammu untuk mengurus anak kita. Aku nggak mau kamu merasa terbebani hanya karena ekspektasi orang lain. Tubuhmu, mentalmu, itu prioritas utamaku. Aku tidak ingin kamu kehilangan dirimu sendiri hanya karena menjadi seorang ibu."
Sia tertegun. Matanya memanas mendengar ketulusan Arkan. Di tengah tekanan keluarga konglomerat yang biasanya menganggap keturunan adalah aset, Arkan justru berdiri sebagai pelindungnya. Ia merasa sangat dimanusiakan oleh pria di depannya ini.
"Makasih ya, Kan. Aku sempat takut kamu bakal merasa harus buru-buru karena tuntutan Ayah atau Mama. Ternyata pola pikir kamu jauh lebih terbuka dari yang aku kira," ujar Sia haru, suaranya sedikit bergetar.
"Aku nggak mau kita jadi orang tua karena dituntut, Sia. Aku mau kita jadi orang tua karena kita memang menginginkannya, terutama kamu yang akan menjalani proses terberatnya. Aku akan ada di sana, tapi beban fisiknya ada padamu, dan aku menghormati itu," jawab Arkan tegas.
Mereka terdiam cukup lama, membiarkan kata-kata itu meresap ke dalam hati masing-masing. Arkan kemudian menarik Sia ke dalam pelukannya, membiarkan kepala Sia bersandar di dadanya yang bidang. Sia bisa mendengar detak jantung Arkan yang tenang dan berirama.
"Tahu tidak," bisik Sia pelan. "Dulu aku membayangkan CEO itu pria yang diktator, yang mau semua keinginannya dituruti, termasuk di rumah. Tapi kamu... kamu beda."
"Aku hanya diktator di ruang rapat, Sia. Di sini, aku hanyalah Arkan yang sedang berusaha belajar cara mencintai dengan benar," sahut Arkan sambil mengelus punggung Sia.
"Ngomong-ngomong," Sia mengangkat kepalanya sedikit, menatap Arkan dengan jahil. "Kalau nanti kita menunda momongan, Mama Ratna pasti akan rajin mengirimkan kita jamu atau suplemen kesuburan. Kamu siap menghadapinya?"
Arkan terkekeh, membayangkan ibunya yang memang terkadang terlalu bersemangat. "Aku akan bilang padanya kalau aku sedang melakukan 'riset mendalam' bersamamu, jadi tolong jangan diganggu. Dia pasti akan mengerti kode itu."
"Dasar!" Sia mencubit pinggang Arkan pelan, membuat pria itu tertawa.
Malam itu, di bawah temaram lampu apartemen, mereka tidak hanya menyepakati soal dekorasi pernikahan, tapi juga menyepakati sebuah fondasi hidup yang lebih kuat. Sebuah janji bahwa di balik nama besar Dewangga, tetap ada Saffiya dan Arkan yang sederhana, yang hanya ingin bahagia dengan cara mereka sendiri tanpa harus mengorbankan impian satu sama lain.
"Sia," panggil Arkan pelan saat matanya mulai terpejam.
"Ya?"
"Jangan pernah simpan ketakutanmu sendirian lagi. Kita tulis bab selanjutnya bareng-bareng, oke?"
Sia tersenyum, merapatkan tubuhnya pada kehangatan Arkan, merasa benar-benar aman. "Siap, Pak Penulis."