NovelToon NovelToon
Satu Ranjang Dua Luka

Satu Ranjang Dua Luka

Status: tamat
Genre:Rumah Tangga / Perjodohan / Misteri / Tamat
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Antara Tugas dan Istri

​Udara di Taman Pemakaman Umum perbatasan Bogor ini terasa setebal timah. Sisa-sisa hujan gerimis masih turun, membasahi payung-payung hitam yang dipegang oleh dua orang penyidik kepercayaan Komisaris Herman.

​Pukul dua dini hari. Kegelapan menyelimuti area pemakaman yang dikhususkan untuk anak-anak panti asuhan tersebut. Tidak ada batu pualam atau nisan berukir indah di sini. Hanya ada gundukan-gundukan tanah merah yang ditandai dengan papan kayu lapuk. Salah satu dari papan kayu itu bertuliskan nama Fulan bin Fulan—nama anonim yang diberikan oleh panti asuhan untuk balita malang berusia enam tahun yang meninggal bulan lalu.

​Balita malang yang sebenarnya bernama Gala Anindita. Anak kandung dari pria yang berdiri tepat di sampingku saat ini.

​"Prosedur ekshumasi (penggalian makam) ini dilakukan di bawah kewenangan penyidikan darurat Bareskrim Polri," suara bariton Komisaris Herman memecah kesunyian yang mencekam. Perwira veteran itu menyalakan sebuah kamera perekam video portabel yang terpasang di dadanya. "Penggalian ini didokumentasikan secara visual dari awal hingga akhir tanpa jeda. Ini untuk memastikan bahwa chain of custody (rantai komando alat bukti) sah secara hukum dan tidak bisa dibantah dengan dalih Fruit of the Poisonous Tree di persidangan nanti."

​Ghazali Mahendra mengangguk kaku. Wajah suamiku itu tampak sepucat mayat di bawah pendaran cahaya senter. Tangan kanannya yang hancur karena Asam Hidrofluorik masih terbungkus perban tebal dan ditopang oleh arm-sling hitam. Sementara tangan kirinya yang sehat menggenggam sebuah senter forensik berdaya tinggi, menyoroti para penggali kubur yang sedang menyingkirkan tanah merah basah dari atas pusara.

​"Cepatlah," perintah Ghazali dengan suara rendah yang sarat akan otoritas seorang dominus litis—pengendali perkara. "Kita berpacu dengan waktu. LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban) akan mengadakan rapat paripurna besok pagi pada pukul sembilan untuk mengesahkan status Justice Collaborator Maia Anindita secara permanen. Jika kita tidak memiliki bukti lab toksikologi sebelum jam itu, wanita iblis itu akan kebal hukum seumur hidup."

​Mendengar ketegasan dalam suara suamiku, rongga dadaku serasa diremas paksa.

​Ghazali berdiri di sana, menggunakan seluruh sisa kejeniusan hukumnya untuk membedah kasus ini, menganggap bahwa mayat di bawah tanah ini hanyalah sekadar alat bukti—sebuah sarana atau anak yatim piatu tak bernama yang kebetulan dibunuh oleh Maia. Ia sama sekali tidak tahu bahwa tanah merah yang sedang digali oleh para petugas itu menutupi darah dagingnya sendiri. Ia tidak tahu bahwa ia sedang memerintahkan pembongkaran makam putra kandungnya.

​"Peti matinya terlihat, Ndan!" lapor salah satu penggali kubur dari dalam lubang sedalam satu setengah meter itu.

​Suara cangkul yang beradu dengan kayu lapuk terdengar nyaring. Bau khas dekomposisi basah dan tanah yang lembap seketika menguar di udara.

​"Angkat ke atas dengan hati-hati. Jangan merusak integritas segel kayunya," instruksiku, melangkah mendekati bibir liang lahat. Aku membuka tas medisku, mengenakan masker respirator N95 ganda dan sepasang sarung tangan lateks hitam.

​Peti kayu kecil seukuran tubuh balita itu ditarik ke atas dan diletakkan di atas terpal plastik biru yang sudah disiapkan oleh Herman.

​Lututku seketika terasa lemas. Tanganku bergetar hebat di balik sarung tangan lateks itu. Selama tiga tahun karierku sebagai dokter spesialis forensik, aku telah melakukan ratusan ekshumasi dan otopsi pada berbagai macam kondisi jenazah. Namun, tidak ada satu pun prosedur medis yang mempersiapkanku untuk momen ini: membedah jenazah anak suamiku, di depan mata suamiku sendiri, sementara aku harus menyembunyikan identitas anak itu darinya demi mencegah jantung suamiku mengalami henti fatal (Takotsubo Cardiomyopathy).

​"Keana," panggilan Ghazali menyentakku.

​Ia melangkah mendekatiku, menggunakan tangan kirinya untuk menyentuh bahuku. Sentuhannya hangat, namun matanya yang memindai wajahku dari balik masker memancarkan interogasi yang tajam. Insting jaksanya terlalu peka untuk dikelabui.

​"Tanganmu gemetar," Ghazali mengerutkan dahi, menatap lurus ke dalam mataku. "Napasmu juga tidak teratur. Kau sudah mengotopsi ratusan mayat di RS Bhayangkara tanpa berkedip. Ada apa denganmu malam ini? Apakah luka sayatan di bahumu kembali berdarah?"

​Aku menelan ludah dengan susah payah, memalingkan wajahku dari tatapan elangnya. "Aku baik-baik saja, Mas. Hanya... udara malam ini terlalu dingin."

​"Kau berbohong," Ghazali membalikkan tubuhku dengan lembut namun paksa. Di bawah rintik hujan, ia menatapku dengan sorot mata seorang suami yang peduli, sekaligus seorang jaksa yang menuntut fakta. "Setiap kali kau berbohong, matamu selalu bergerak mencari titik fokus lain. Apa yang kau sembunyikan dariku?"

​Jantungku berpacu liar. Jika aku memberitahunya sekarang bahwa ini adalah Gala, ia akan hancur lebur di pemakaman ini. Jantungnya tidak akan sanggup menahannya. Aku harus mempertahankan kebohongan ini sedikit lebih lama lagi.

​"Aku tidak menyembunyikan apa pun!" balasku dengan nada yang sedikit kutinggikan, mencoba membangun perisai defensif. "Ini adalah jenazah anak usia enam tahun, Ghazali! Anak sekecil ini disuntik mati sebagai tikus percobaan oleh Maia! Sebagai seorang dokter, empati kemanusiaanku berhak untuk merasa terguncang saat melihat peti mati sekecil ini!"

​Ghazali terdiam. Ekspresi wajahnya mengeras, sebuah pergulatan batin terpampang jelas di garis rahangnya. Di satu sisi, ia adalah pria yang baru saja berjanji untuk tidak pernah lagi mengabaikanku dan membiarkanku menangis sendirian. Namun di sisi lain, ia adalah penegak hukum yang sedang berpacu melawan waktu demi menjebloskan ibunya dan Maia ke penjara.

​Inilah konflik absolut yang menyiksa kami berdua malam ini: di antara batas tipis antara tugas dan istri.

​Ghazali menghela napas berat. Ia melepaskan cengkeramannya dari bahuku, mundur setengah langkah, dan membiarkan sisi dominus litis-nya (pengendali perkaranya) mengambil alih kembali.

​"Maafkan aku jika aku terkesan tidak berperasaan, Keana," ucap Ghazali, suaranya berubah menjadi formal dan dingin, meskipun matanya memancarkan rasa bersalah yang mendalam. "Aku mengerti empati medismu. Tapi saat ini, jenazah anak itu adalah satu-satunya peluru yang bisa menembus jantung pertahanan LPSK Maia. Kesampingkan dulu empatimu. Buka peti itu, temukan tulang yang mengandung Digoxin, dan berikan aku bukti untuk menghancurkan wanita iblis itu lusa nanti."

​Kata-kata itu menyayat hatiku hingga berdarah. Suamiku sendiri yang memerintahkanku untuk memutilasi mayat anaknya demi sebuah bukti.

​Aku menahan isakan yang mendesak naik ke tenggorokan. "Baiklah, Bapak Jaksa Penuntut Umum. Aku akan memberimu senjatamu."

​Dengan tangan yang sudah kembali stabil oleh determinasi kelam, aku mengambil linggis kecil dari kotak peralatanku dan mencongkel penutup peti kayu lapuk itu.

​Suara kayu berderak keras memecah malam. Tutup peti itu terbuka.

​Pemandangan di dalamnya membuat Komisaris Herman memalingkan wajahnya dan mengumpat tertahan. Jenazah anak itu telah berada di dalam tanah selama satu bulan. Dekomposisi awal telah merusak sebagian besar jaringan lunaknya. Sisa-sisa pakaian rumah sakit panti asuhan yang kusam masih menempel di tulang rusuknya yang rapuh. Wajah mungil itu kini hanya menyisakan tengkorak dengan sedikit jaringan otot yang menghitam.

​Air mataku jatuh menetes, membasahi tepi masker N95 yang kukenakan. Maafkan aku, Gala. Maafkan ibu tirimu ini karena harus menyakitimu untuk yang kedua kalinya.

​"Sorotkan lampunya ke area rongga mulut," instruksiku dengan suara parau pada Ghazali.

​Ghazali melangkah maju. Tanpa keraguan sedikit pun, ia mengarahkan pendaran cahaya senternya ke arah tengkorak anak tersebut. Ia menatap wajah anaknya sendiri dengan tatapan klinis seorang penegak hukum yang mencari kebenaran materiil di tempat kejadian perkara (locus delicti).

​"Apa yang kau cari pada giginya, Dokter?" tanya Ghazali, suaranya tetap datar meskipun aku bisa melihat rahangnya mengetat menahan mual.

​"Dalam kasus kematian akibat racun organik seperti ekstrak Digitalis, racun tersebut mengalir melalui sistem kardiovaskular dan mengendap di jaringan keras tubuh," jelasku seraya mengambil tang khusus ekstraksi tulang dan pinset bedah panjang. "Tulang paha (os femur) memang bisa menjadi sampel yang bagus. Namun, pada balita berusia enam tahun, kepadatan tulang mereka masih sangat lunak dan rentan terkontaminasi oleh mineral tanah."

​Aku menundukkan wajahku sangat dekat dengan tengkorak kecil itu. Tanganku bergerak mengambil salah satu gigi geraham bawah jenazah.

​"Gigi geraham (molar) adalah kapsul waktu toksikologi yang paling sempurna dalam ilmu forensik," lanjutku, mencoba menenggelamkan rasa perih di hatiku dengan rentetan teori ilmiah. "Lapisan email gigi adalah substansi terkeras dalam tubuh manusia. Ia membungkus pulpa dan dentin di dalamnya, melindungi endapan racun dari kontaminasi bakteri pembusuk anaerobik di dalam tanah kuburan. Jika Maia benar-benar membunuh balita ini dengan Digoxin, residunya akan terkunci abadi di dalam akar gigi ini."

​Terdengar suara retakan pelan saat aku berhasil mencabut dua buah gigi geraham dari rahang jenazah tersebut. Aku segera memasukkannya ke dalam tabung reaksi kaca steril, lalu menyegelnya dengan label merah PRO JUSTITIA (Demi Keadilan).

​Aku bangkit berdiri, menyerahkan tabung kaca itu kepada Komisaris Herman yang kameranya masih menyala merekam setiap detail prosedur.

​"Sampel biologis telah diamankan, Komisaris," ucapku dengan otoritas penuh. "Rantai komando alat bukti ini sah secara hukum tanpa celah prosedur."

​"Kerja bagus, Dokter Keana," Herman menerima tabung itu dan memasukannya ke dalam tas evidence khusus. Ia lalu menoleh pada Ghazali. "Laboratorium independen yang sudah kusiapkan di markas BIN (Badan Intelijen Negara) sudah siaga. Mereka memiliki mesin Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) tercanggih. Proses pemanasan dan ekstraksi cairan pulpa gigi ini hanya akan memakan waktu empat jam. Kita akan mendapatkan hasil cetakannya tepat sebelum matahari terbit."

​Ghazali menghela napas panjang. Wajahnya memancarkan kelegaan yang mengerikan. Ia baru saja mendapatkan tiket untuk menghancurkan musuhnya, dari mayat putranya sendiri.

​"Kirimkan file digitalnya padaku begitu hasilnya keluar, Herman. Aku akan mem-BAP (Berita Acara Pemeriksaan) diriku sendiri besok pagi untuk melengkapi novum (bukti baru) ini," Ghazali menoleh menatapku. Matanya melembut sesaat, menyadari bahwa aku sedang berdiri mematung menatap peti mati yang kembali ditutup oleh para penggali kubur.

​Ghazali menyentuh lenganku pelan. "Ayo kita pulang, Istriku. Kau sudah melakukan hal yang luar biasa hebat malam ini."

​Aku tidak membalas sentuhannya. Aku hanya mengangguk kaku, berbalik, dan berjalan menembus hujan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

​Pukul 06.30 Pagi. Apartemen Sudirman.

​Aku berdiri di depan wastafel dapur, mencuci cangkir kopi dengan gerakan mekanis layaknya sebuah robot. Di ruang tengah, Ghazali sedang duduk di depan laptop dengan earpiece di telinganya. Ia sedang melakukan komunikasi video conference terenkripsi dengan Komisaris Herman dan Leo Sastra.

​"Jadi, konsentrasi Digoxin di dalam pulpa gigi balita itu mencapai tingkat lethal?" suara Ghazali terdengar bergetar karena antusiasme. Ia tersenyum lebar, sebuah senyuman pemenang yang sudah lama tidak kulihat. "Sempurna. Cetak dokumen itu. Pak Leo, bawa bukti itu dan daftarkan permohonan pembatalan status Justice Collaborator Maia ke sidang paripurna LPSK jam sembilan nanti. Kita buat dia tidak memiliki tempat bersembunyi hari ini."

​Ghazali menutup laptopnya. Ia bangkit berdiri dan berjalan menghampiriku di dapur. Ia melingkarkan lengan kirinya di pinggangku dari belakang, menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku.

​"Kita menang, Keana," bisiknya, menghirup aroma sabun di leherku dalam-dalam. "Bukti gigi itu membuktikan bahwa Maia membunuh anak yatim piatu itu secara independen, tanpa perintah dari ibuku. Karena dia adalah pelaku utama dan inisiator dalam pembunuhan balita itu, status Justice Collaborator-nya batal demi hukum berdasarkan Pasal 10A UU No. 31 Tahun 2014. Perlindungan negaranya akan dicabut siang ini."

​Aku mematikan keran air. Tanganku yang basah mencengkeram pinggiran wastafel. Setiap kali ia menyebut kata 'anak yatim piatu' itu dengan nada kemenangan, rasanya seolah ada yang menguliti jantungku hidup-hidup.

​"Itu berita yang bagus, Mas," jawabku datar, berusaha keras melepaskan diri dari pelukannya dengan alasan mengambil handuk pengering tangan.

​Ghazali mengerutkan dahinya. Ia menyadari penghindaran fisikku. "Ada apa denganmu sejak kita pulang dari pemakaman tadi? Kau menjauhiku. Apakah lukamu sakit?"

​"Tidak. Aku hanya kelelahan," dustaku tanpa menatap matanya.

​Ghazali melangkah maju, memblokir jalanku. Ia menunduk menatapku dengan sorot mata yang penuh selidik. Insting interogatornya kembali mengambil alih. "Kau menyembunyikan sesuatu dariku, Keana. Tadi malam di makam, kau menangis tersedu-sedu untuk mayat seorang anak yang tidak kau kenal. Dan sekarang, di saat kita memenangkan pertempuran hukum ini, kau terlihat seolah kau baru saja menjatuhkan vonis mati pada dirimu sendiri."

​"Berhenti menginterogasiku seperti tersangka di ruang sidang, Ghazali!" bentakku, emosiku kembali meledak di luar kendali. "Aku baru saja mematahkan gigi seorang anak berumur enam tahun dari tengkoraknya yang membusuk! Tidak bisakah kau memberikanku sedikit ruang untuk bernapas?!"

​"Aku memberimu ruang, tapi kau membangun dinding!" Ghazali mencengkeram kedua bahuku dengan tangan kirinya, memaksaku menatap matanya yang membara. "Antara kita sudah berjanji tidak akan ada lagi kebohongan. Tidak ada lagi rahasia. Apa yang kau temukan di klinik aborsi itu sebelum kita pergi ke makam, yang tidak kau beritahukan padaku?"

​Darahku mendadak berhenti mengalir. Ia tahu. Insting prianya tahu bahwa Bidan Darmi mengatakan sesuatu padaku di gudang obat malam itu, sesuatu yang kusembunyikan di balik alasan forensik.

​"Tidak ada, Mas. Darmi hanya memberitahukan lokasi makam panti asuhan itu," ucapku cepat, memalingkan wajah.

​"Pembohong," desis Ghazali, suaranya merendah menjadi geraman yang mengancam. "Kau tidak pernah bisa berbohong padaku, Dokter. Matamu selalu bergerak ke kiri bawah saat kau merangkai skenario fiktif."

​Ghazali melepaskan bahuku dengan kasar. Ia berbalik dan berjalan cepat menuju meja kerjanya di sudut ruangan. Ia mengambil tas medisku yang kubawa dari klinik aborsi semalam.

​"Mas, apa yang kau lakukan?! Jangan sentuh tasku!" teriakku, berlari mengejarnya.

​Namun terlambat. Ghazali telah membuka ritsleting tas medisku dengan satu tarikan kasar. Ia menumpahkan seluruh isi tas itu ke atas meja kayu. Jarum suntik, perban, ampul obat, dan... sebuah map kuning kusam yang terikat karet gelang jatuh berserakan.

​Map rekam medis milik Gala Anindita dari Klinik Kasih Bunda yang sengaja kusembunyikan di dalam tas medisku.

​Ghazali membeku menatap map usang itu. Matanya terpaku pada logo klinik aborsi yang tertera di bagian depan sampulnya.

​"Apa ini?" suara Ghazali terdengar begitu pelan, namun bergetar oleh kengerian yang mulai merayap naik ke otaknya.

​"Mas, jangan dibuka. Kumohon," aku meraih lengannya, air mataku langsung tumpah. "Jangan dibaca. Jantungmu belum siap. Kumohon, biarkan aku membuangnya."

​Namun Ghazali menepis tanganku. Rasa curiganya telah berubah menjadi obsesi untuk mencari kebenaran. Dengan tangan kirinya yang gemetar, ia menarik karet gelang itu dan membuka sampul map tersebut.

​Matanya langsung tertuju pada lembaran pertama.

​Nama Pasien: Gala Anindita.

Usia: 6 Tahun.

​Kertas itu seolah menjadi bom waktu yang meledak tepat di wajahnya. Mata Ghazali melebar hingga batas maksimal. Ia mundur selangkah, napasnya tersengal seolah ia baru saja ditinju tepat di ulu hati.

​"Anindita..." bisik Ghazali, matanya bergerak panik membaca baris demi baris dokumen medis yang ada di tangannya. "Enam tahun... Bidan Darmi... Maia..."

​Lalu, selembar pasfoto polaroid jatuh dari sela-sela dokumen itu dan mendarat di atas meja. Foto wajah balita laki-laki dengan rahang tegas dan mata elang gelap yang sangat mirip dengannya. Wajah balita panti asuhan yang tengkoraknya baru saja ia perintahkan untuk dibongkar giginya dua jam yang lalu.

​Aku menutup wajahku dengan kedua tangan, menangis sejadi-jadinya, meratapi rahasia berdarah yang akhirnya meledak di depan mataku.

​"Tidak..." Ghazali mundur lagi hingga punggungnya menabrak dinding apartemen. Ia menatap foto itu, lalu menatapku dengan pandangan yang dipenuhi oleh horor, penyangkalan, dan penderitaan absolut yang meremukkan tulang.

​"Balita panti asuhan itu... anak yang giginya kau cabut tadi malam..." suara Ghazali pecah, berubah menjadi parauan histeris yang menyayat urat nadi. Ia memegangi dada kirinya dengan putus asa, kakinya kehilangan seluruh tenaganya. "Anak yang dibunuh oleh Maia untuk menguji racun itu... dia adalah..."

​"Dia adalah Gala, Mas," isakku, memeluk tubuhnya yang merosot jatuh ke lantai. "Anakmu tidak pernah digugurkan di usia dua bulan. Anakmu hidup hingga usia enam tahun di panti asuhan itu... hingga Maia menyuntik mati darah dagingnya sendiri tanpa sadar."

​Raungan kepedihan Ghazali meledak, memekakkan telinga, membelah kesunyian pagi Jakarta yang kelabu. Pria itu menenggelamkan wajahnya di lantai, memukul-mukul lantai kayu dengan tangan kanannya yang dibalut perban hingga darah kembali merembes keluar, menghukum dirinya sendiri atas dosa yang tak terbayangkan.

​Sang Jaksa Penuntut Umum telah berhasil menggunakan hukum untuk menghancurkan musuhnya. Namun sebagai bayarannya, kebenaran itu telah menghancurkan kewarasannya hingga tak bersisa. Di apartemen mewah ini, di antara sisa-sisa pelukan hangat dan pengkhianatan masa lalu, ranjang kami kembali dikoyak oleh sebuah luka baru yang tak akan pernah bisa disembuhkan oleh ilmu kedokteran mana pun.

1
falea sezi
ya uda end
falea sezi
novel sekeren ini sedetail ini sepi like ya ampun😍 aq ksih hadiah deh
falea sezi
uda Keana dia cocok ma maia yg uda di ewe
falea sezi
🤣 laki najis pernah tidur gk dia sama maya pasti pernah donk
falea sezi
mending cerai aja lah😕
Detia Anastasia
Gila aku suka novel gini, kenapa baru nemu sekarang🤧
Yeni Puspitasari
pernikahan yang mengerikan Thor,
baca part ini aku merinding
Mei TResna Rahmatika
kapan bahagianya thorr😭
Mei TResna Rahmatika
pliss thor nanti bikin happy ending buat keana sama ghazali😭
Mei TResna Rahmatika
kasian banget keana😭
Mei TResna Rahmatika
susah di tebak alurnya tp seruuu poll
Mei TResna Rahmatika
plisss Ghazali jangan mati thorr😭
Mei TResna Rahmatika
deg"an tiap baca part nya thor
Mei TResna Rahmatika
nangisss bangettt part ini 😭😭
Dewy Aprianty
seru banget, lanjut thorr
Mei TResna Rahmatika
baguss kak, cerita nya lain drpd yg lain
nunggu update selanjutnya kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!