Arini, seorang mahasiswi sastra yang berjiwa bebas, terjebak dalam janji perjodohan antara ayahnya dengan pemilik Pondok Pesantren Al-Ikhlas. Ia membayangkan akan menikah dengan sosok pria religius yang kaku, namun kenyataan justru mempertemukannya dengan Gus Zikri.
Zikri adalah anomali di lingkungan pesantren. Di balik statusnya sebagai putra Kyai, ia adalah seorang pemberontak yang lebih akrab dengan deru motor gede, jaket kulit, dan balapan liar daripada kitab kuning. Baginya, pernikahan ini hanyalah beban hutang budi yang harus ia bayar.
Arini harus bertahan di tengah dinginnya sikap Zikri dan aturan ketat pesantren yang asing baginya. Namun, perlahan ia mulai menemukan sisi lain dari suaminya yang tersembunyi di balik topeng "bad boy". Di sisi lain, Zikri pun mulai terusik oleh kehadiran Arini yang tidak hanya melihatnya sebagai seorang "Gus", tapi sebagai manusia biasa.
Dua dunia yang bertolak belakang ini pun berbenturan. Bisakah Arini melunakkan hati Zikri yang liar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Nafas di Ujung Tanduk
Hujan deras mengguyur bumi seolah ingin mencuci bersih dosa-dosa yang tersembunyi di balik dinding tinggi Pesantren Al-Ikhlas. Di dalam kamar ndalem yang kini terasa seperti sel penjara mewah, Arini duduk mematung di lantai kayu. Ia menatap pintu jati yang terkunci rapat dari luar. Di balik pintu itu, ia tahu Kang Said atau anak buahnya sedang berjaga dengan sorot mata dingin yang tak kenal ampun.
Zikri berada di sudut ruangan, sedang membongkar kembali map biru berisi rekam medis ibunya. Jemarinya yang biasanya lincah saat memegang kunci inggris, kini gemetar hebat. Cahaya lampu kamar yang redup memantulkan bayangan luka lebam di pipinya akibat tamparan Kyai Ahmad tadi malam.
"Mereka akan memisahkan kita, Arin," bisik Zikri.
Suaranya pecah, seolah-olah setiap kata yang keluar adalah pecahan kaca yang mengiris tenggorokannya. "Abah tidak pernah main-main dengan ucapannya. Baginya, aku hanyalah bidak catur yang rusak, dan kamu adalah gangguan yang harus dibuang."
Arini bangkit perlahan, mendekati Zikri dan duduk di sampingnya. Ia melingkarkan tangannya di lengan Zikri, mencoba menyalurkan kehangatan yang ia sendiri pun hampir kehabisan. "Dia tidak bisa memisahkan kita secara hukum, Zik. Kita suami istri."
"Hukum pesantren berbeda dengan hukum negara, Arin. Di sini, titah Abah adalah segalanya. Dia bisa mengirimku ke pelosok dengan alasan 'pembersihan jiwa', dan dia bisa memulangkanmu ke rumah orang tuamu dengan alasan 'ketidakcocokan'. Dan orang-orang akan percaya padanya, karena dia adalah sang Kyai Besar," Zikri menatap Arini dengan tatapan putus asa. "Aku tidak takut dibuang. Aku hanya takut kehilangan satu-satunya orang yang melihatku sebagai manusia."
Tengah malam, saat suara hujan sedikit mereda menjadi rintik yang pilu, sebuah ketukan halus terdengar di jendela kamar mereka. Arini dan Zikri tersentak. Zikri segera berdiri dengan waspada, tangannya menyambar sebuah lampu meja kayu yang berat sebagai senjata.
"Gus... ini saya, Rian," bisik sebuah suara dari balik kaca.
Zikri membuka kunci jendela dengan hati-hati.
Wajah Rian yang basah kuyup muncul di balik kegelapan. Ia tampak terengah-engah, matanya melirik ke kanan dan kiri dengan gelisah.
"Rian? Bagaimana kamu bisa masuk?" tanya Zikri heran. Area ndalem seharusnya dijaga ketat oleh tim Kang Said.
"Salah satu santri senior, Kang Yusuf, masih punya hutang budi pada mendiang Ummi Fatimah. Dia yang membukakan jalan tikus di dekat empang," jawab Rian sambil menyerahkan sebuah kantong plastik hitam yang terlindungi rapat. "Gus, Marco bergerak. Dia tahu Anda sedang dikurung. Dia berencana mengirimkan sisa foto-foto dan video balapan liar Anda langsung ke dewan yayasan besok pagi saat rapat besar. Dia tidak terima dikalahkan Mbak Arini kemarin."
Arini merasakan jantungnya mencelos. "Tapi kemarin dia sudah menghapusnya di depan kami!"
"Marco punya cloud storage, Mbak. Dia licik," Rian menggeleng. "Dan ada yang lebih buruk. Kang Said... saya melihatnya bertemu dengan Marco di pinggiran kota tadi sore. Mereka bekerja sama.
Said ingin Gus Zikri hancur total agar dia bisa naik posisi menjadi kepala yayasan administratif. Dia yang membisiki Kyai Ahmad tentang setiap gerak-gerik kalian."
Zikri tertawa pahit, sebuah tawa yang terdengar lebih seperti tangisan. "Ternyata musuhnya bukan cuma di luar, tapi di dalam rumah sendiri. Lengkap sudah."
"Gus, Anda harus pergi malam ini," desak Rian.
"Yusuf sudah menyiapkan kunci gerbang gudang belakang. Motor Ninja Anda sudah saya isi bensin penuh. Kita harus bergerak sebelum rapat subuh dimulai."
Zikri menoleh ke arah Arini. "Kamu dengar itu? Ini saatnya."
Mereka tidak membawa banyak barang. Arini hanya membawa buku catatannya dan beberapa helai pakaian yang ia masukkan ke dalam tas ransel kecil. Zikri menyelipkan map biru medis ibunya ke dalam jaket kulitnya—senjata terakhir yang ia miliki untuk membongkar kemunafikan yang menyiksa ibunya hingga akhir hayat.
"Arin, dengar," Zikri memegang kedua bahu Arini di depan jendela yang terbuka. Angin malam yang dingin menerpa wajah mereka. "Begitu kita keluar dari jendela ini, tidak ada jalan kembali.
Kamu bukan lagi menantu Kyai yang terhormat. Kamu akan menjadi istri dari seorang pelarian. Apa kamu benar-benar siap?"
Arini menatap mata Zikri. Di sana, ia melihat pria yang selama ini ia tulis dalam imajinasinya—seorang pria yang rusak namun memiliki hati yang tulus. "Aku sudah berhenti menjadi penonton ceritamu sejak aku memberikan maharku padamu, Zik. Aku ikut."
Zikri mencium kening Arini dengan sangan dalam, sebuah janji tanpa kata. Mereka kemudian keluar melalui jendela, memijak tanah yang becek dengan sangat hati-hati. Rian memandu mereka melewati lorong-lorong gelap di samping asrama, menghindari sorot lampu senter penjaga yang berlalu-lalang.
Saat mereka sampai di gudang belakang, Zikri melihat motor Ninjanya berdiri gagah di sana. Ia mengelus tangki motor itu sejenak. "Maaf ya, lama menunggu," bisiknya.
Namun, saat Zikri hendak menyalakan mesin, sebuah lampu sorot besar tiba-tiba menyala dari arah pintu gudang, menyilaukan mata mereka.
"Mau ke mana, Gus?" suara dingin Kang Said menggema.
Said berdiri di sana bersama lima orang santri keamanan. Di tangannya, ia memegang sebuah tongkat kayu panjang. Wajahnya tampak penuh kemenangan. "Kyai Ahmad sudah menduga kalian akan mencoba lari. Sayang sekali, Rian... temanmu ini tidak sepintar yang kamu kira."
Rian langsung dikepung dan dipiting oleh dua orang santri. Zikri menarik Arini ke belakang punggungnya.
"Said, lepaskan Rian. Urusanmu denganku," desis Zikri.
"Urusanku adalah membersihkan pesantren ini dari sampah seperti Anda, Gus," Said melangkah maju. "Seorang pemimpin harus tegas. Dan Kyai Ahmad sudah memerintahkan saya untuk membawa Anda kembali ke ndalem dengan cara apapun... termasuk dengan kekerasan jika diperlukan."
Zikri melepaskan jaket kulitnya, menyerahkannya pada Arini. Ia meregangkan lehernya, matanya menatap tajam ke arah Said. "Selama ini aku diam karena aku menghormati Abah. Tapi karena kamu sudah bekerja sama dengan bajingan seperti Marco dan mengkhianati amanah pesantren ini, aku tidak punya alasan lagi untuk menahan diri."
Pertarungan pecah di dalam gudang yang sempit itu. Zikri bergerak dengan kecepatan yang tidak pernah diduga oleh siapa pun di pesantren.
Selama bertahun-tahun ia berkelahi di jalanan untuk bertahan hidup, dan kini kemampuan itu ia gunakan untuk melindungi satu-satunya hal berharga yang ia miliki.
Dua santri yang mencoba meringkusnya tumbang dalam hitungan detik. Zikri menghindari ayunan tongkat Said dengan gerakan gesit, lalu mendaratkan pukulan telak di rahang Said.
"Ini untuk ibuku!" teriak Zikri saat melayangkan pukulan kedua. "Dan ini untuk Arini!"
Di tengah kekacauan itu, Arini melihat kunci gerbang yang jatuh dari saku Said. Ia merangkak di antara kaki-kaki yang bertarung, menyambar kunci itu, dan berlari menuju pintu gerbang belakang.
"Zikri! Kuncinya!" teriak Arini.
Zikri memberikan satu tendangan terakhir yang membuat Said tersungkur menabrak tumpukan ban bekas. Ia menyambar ranselnya, menarik tangan Arini, dan melompat ke atas motornya.
"Naik, Arin! Cepat!"
Arini naik ke boncengan, memeluk pinggang Zikri seerat mungkin. Zikri menyalakan mesin. Suara deru Ninja 1000cc itu menggelegar di keheningan malam, membangunkan santri-santri di asrama terdekat. Tanpa ragu, Zikri memacu motornya menembus gerbang yang baru saja dibuka Arini, melesat keluar dari wilayah Al-Ikhlas.
Mereka membelah jalanan pedesaan yang gelap dengan kecepatan tinggi. Angin dingin menusuk hingga ke tulang, namun adrenalin membuat mereka tetap terjaga. Zikri baru melambatkan motornya saat mereka sampai di perbatasan kota, di sebuah SPBU yang sepi.
Zikri turun dari motor dengan napas terengah-engah. Ia menatap Arini yang gemetar karena kedinginan dan ketakutan. Tanpa bicara, ia menarik Arini ke dalam pelukannya yang sangat erat.
"Kita berhasil," bisik Zikri di telinga Arini. "Kita keluar."
Arini menangis di dada Zikri. Rasa takut, lega, dan sedih bercampur menjadi satu. "Tapi kita tidak punya tempat tujuan, Zik. Kita tidak bisa kembali."
Zikri melepaskan pelukannya, menatap mata Arini dengan binar yang belum pernah Arini lihat sebelumnya. "Kita punya bukti medis itu, Arin.
Besok pagi, kita tidak akan sembunyi. Kita akan pergi ke rumah Kyai sepuh, kakak dari kakekku di kota sebelah. Beliau adalah satu-satunya orang yang ditakuti Abah. Kita akan bongkar semuanya di sana."
Zikri mengusap air mata di pipi Arini. "Dan setelah itu, aku akan membawamu sejauh mungkin dari tempat ini. Kita akan membangun cerita kita sendiri, bukan cerita yang dipaksakan orang lain."
Namun, di saku jaket Zikri, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor Marco, berisi sebuah video singkat. Video itu memperlihatkan Kyai Ahmad yang tiba-tiba jatuh pingsan di ruang tamu ndalem setelah mengetahui pelarian mereka, dikelilingi oleh para santri yang panik.
Zikri terpaku menatap layar ponselnya. Wajahnya berubah pucat.
"Ada apa, Zik?" tanya Arini cemas.
Zikri menutup matanya rapat-rapat. Pilihan sulit kembali menghantamnya. Apakah ia akan terus lari menuju kebebasan, atau kembali ke neraka yang telah menghancurkan hidupnya demi seorang ayah yang, meskipun kejam, kini sedang meregang nyawa karena perbuatannya?
"Abah... kritis," bisik Zikri lirih.
ceritanya menarikkk, sukses selalu thorr