NovelToon NovelToon
Suami Rahasia

Suami Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Beda Usia
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: candra pipit

Clarindra Arabella, siswi kelas tiga SMA yang tinggal selangkah lagi menuju kelulusan, tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah dalam satu keputusan sepihak.
Di saat teman-temannya sibuk mempersiapkan ujian akhir dan masa depan, Clarindra justru dipaksa menerima kenyataan pahit—ia harus menikah.
Bukan dengan pria seusianya.
Melainkan dengan seorang pria dewasa… yang bahkan tak pernah ia kenal.
Demi alasan sederhana namun kejam—orang tuanya akan pindah ke luar negeri, dan mereka tak ingin meninggalkan putrinya sendirian.
Di balik keputusan itu, tersembunyi kesepakatan antara dua keluarga besar.
Nama besar keluarga Hardinata menjadi jaminan keamanan Clarindra… sekaligus awal dari keterikatannya.
Zavian Hardinata.
Pria itu bukan sekadar pewaris keluarga kaya raya. Ia adalah sosok bebas, penuh pesona, namun sulit dikendalikan. Seseorang yang lebih terbiasa bermain dengan hidupnya sendiri… daripada terikat dalam satu hubungan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon candra pipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Jatuh Cinta

"Om, Tante," sapanya sopan sambil sedikit menunduk.

Ramdan langsung tersenyum lebar. "Wah, Zavian ya? Tampan sekali."

Fenita mengangguk cepat. "Iya… iya… sangat tampan."

Lalu…

Zavian menoleh ke arah Clarinda.

Tatapannya kali ini lebih lama.

Lebih intens.

"Ini Clarinda?" tanyanya singkat.

Fenita langsung mendorong pelan bahu Clarinda yang sedari tadi menunduk. Gadis ini salting setelah melihat pesona Zavian.

"Iya… ini putri kami."

"Calon istrimu," sahut Damar.

Clarinda mendongak perlahan.

Mata mereka kembali bertemu.

Dan kali ini—

Zavian tersenyum tipis.

Senyum yang… entah kenapa terasa berbahaya.

Oh Astaga... Debaran jantung dalam da da tak bisa dikondisikan.

"Masih sekolah?" tanyanya.

Clarinda mengangguk. "I-iya." Ia lirik kiri lirik kanan. Tak kuat dengan tatapan maut Zavian.

"Kelas tiga SMA."

"Hm."

Hanya satu gumaman, tapi cukup membuat suasana terasa aneh.

"Tampaknya kalian perlu waktu bicara berdua," ujar Damar.

Clarinda langsung panik.

"HAH?!"

Fenita langsung mencubit pinggangnya.

"Aw!" Rintih lirih gadis itu.

"Mereka butuh waktu saling mengenal," Damar tertawa kecil.

Zavian tampak tak keberatan.

Ia mengangguk ringan. "Oke."

"Taman belakang saja," lanjut Damar.

Beberapa menit kemudian…

Clarinda dan Zavian sudah berdiri berhadapan di taman luas belakang mansion.

Angin sore berhembus pelan.

Sunyi.

Canggung.

Sangat canggung.

Clarinda memainkan ujung dress-nya, menatap ke bawah. Ia benar-benar gugup.

Sementara Zavian hanya berdiri santai, memasukkan satu tangan ke saku.

"Apa kamu terpaksa?" tanyanya tiba-tiba.

Pertanyaan itu membuat Clarinda langsung mendongak.

"Apa?"

"Menikah."

To the point.

Tanpa basa-basi.

Clarinda terdiam beberapa detik. Gadis ini benar-benar gugup. Belum sempat ia menjawab Zavian melontarkan kata yang merubah pujiannya tadi untuk calon suaminya itu.

"Atau jangan-jangan kamu malah senang.'

"Apa?" Clarinda mengernyit.

"Lulus sekolah langsung menikah hidup kaya raya tanpa usaha."

"Maksudnya...?"

"Tak usah munafik, semua gadis muda sama sepertimu... Ingin masuk dalam keluarga Hardinata.

Dengan mudah."

Clarinda mendengus kesal.

Sudah.

Ia tak gugup lagi. Yang ada ingin meninju menendang lelaki di depannya ini.

"Lo kira sekeren apa? Siapa juga yang ngarep nikah sama pria tua kayak Lo. Pantesnya Lo itu jadi Bapak atau Om gue!"

Clarinda nyerocos da da nya naik turun. Gak ada yang namanya sopan-sopanan sama orang yang sudah menggaruk hatinya meskipun dia lebih tua.

"Lo, gue?" Zavian menegakkan tubuhnya.

"Kamu manggil aku apa?"

"Lo?"

Zavian memicing. "Bocah kurang ajar."

"Napa emang, hah?"

"Lo pikir gue mau dinikahi laki-laki macam Lo?"

"Ih... Kayak gak ada laki-laki lain aja."

"Noh temen laki gue banyak yang ganteng lebih dari Lo!"

Zavian mendengus agak gregetan juga dia ingin nambal mulut gadis remaja di depannya ini. Tapi untung masih bisa tahan emosi.

"Bagus lah kalau gitu."

Clarinda mengernyit.

"Bagus apanya?"

"Berarti kamu nggak akan berharap lebih."

Clarinda melotot.

"HEH?!"

Zavian menatapnya lurus.

"Dengarkan baik-baik. Pernikahan ini bukan keinganku. Cuma formalitas."

Ucapan itu terasa dingin.

Menusuk.

"Ini kesepakatan keluarga. Aku menjalankan bagianku, kamu jalankan punyamu."

Clarinda mengepalkan tangan.

Hatinya sedikit sakit.

Padahal tadi dia sendiri juga menolak.

Tapi mendengar langsung seperti ini…

Rasanya berbeda.

Sudah jelas keduanya tak punya perasaan kenapa masih dipaksakan.

"Tenang saja," lanjut Zavian. "Aku nggak akan menyentuhmu... Sedikitpun."

DEG.

Wajah Clarinda langsung merah.

"SIAPA JUGA YANG MAU DISENTUH?!"

Zavian mengangkat satu alis.

"Mikirmu terlalu jauh bocah!"

"IH NYEBELIN!"

Zavian tersenyum lagi.

Kali ini… jelas.

Ia menikmati reaksi Clarinda.

"Tapi ada satu hal," katanya kemudian.

"Apa lagi?!"

Zavian mendekat satu langkah.

Cukup dekat sampai Clarinda bisa merasakan aura dinginnya.

"Jangan jatuh cinta padaku."

DEG.

Kalimat itu…

Sialnya terdengar seperti peringatan.

Sekaligus tantangan.

Clarinda mendengus.

Ia menyilangkan tangan di dada.

"Denger ya, Pak em Om—eh Kak—eh… apalah itu!"

Zavian menahan tawa namun tak terlihat.

"Namaku Zavian. Panggil saja Zavi."

"IYA ITU! Denger ya Zavian!"

Ia menunjuk dada pria itu tanpa takut.

"Tanpa Lo suruhpun Gue nggak akan pernah jatuh cinta sama Lo!"

"Mata Gue masih normal kale!"

Tatapan mereka kembali bertemu.

Ada percikan kecil yang tak bisa dijelaskan.

Zavian tersenyum tipis.

"Bagus."

Lalu ia berbalik.

Tapi sebelum pergi meninggalkan Clarinda yang masih berdiri dengan napas sedikit tidak teratur ia berhenti. "Lo Gue Lo Gue, aku tak ingin lagi mendengarnya. Telingaku sakit!"

Di dalam rumah…

Damar memperhatikan dari kejauhan melalui jendela besar.

Senyumnya perlahan muncul.

"Menarik," gumamnya.

"Kenapa, Pak?" tanya Ramdan.

Damar tidak langsung menjawab justru ia malah tertawa khas orang sepuh.

Matanya masih tertuju pada dua sosok di taman.

"Mereka nampaknya cepat akur.

Sementara itu…

Clarinda menatap punggung Zavian yang menjauh.

Dadanya masih berdebar.

Kesal.

Kesel.

Tapi juga…

Entah kenapa…

Ada rasa lain yang mulai tumbuh tanpa izin.

"Jangan jatuh cinta padaku."

Ucapan itu terus terngiang. Justru…

Semakin sulit untuk diabaikan.

***

Hari itu akhirnya datang.

Hari yang sejak awal terasa seperti keputusan sepihak, kesepakatan yang terlalu cepat, bahkan bagi Clarinda—terasa seperti mimpi yang dipaksakan menjadi nyata.

Pernikahan Zavian Hardinata dan Clarinda Arabella.

Tidak ada gedung mewah. Tidak ada ratusan tamu. Tidak ada sorot lampu atau deretan kamera wartawan.

Hanya keluarga inti.

Ruang utama rumah keluarga Hardinata disulap menjadi tempat akad sederhana namun elegan. Dominasi warna putih dan emas memberi kesan hangat sekaligus sakral. Bunga-bunga segar menghiasi setiap sudut, aroma lembutnya menyatu dengan udara pagi yang tenang.

Clarinda duduk di ruang rias.

Tangannya dingin.

Jantungnya tidak berhenti berdetak cepat sejak pagi tadi.

Gaun yang ia kenakan begitu indah—putih bersih dengan detail renda halus yang jatuh lembut mengikuti tubuhnya. Rambutnya ditata sederhana namun anggun, memperlihatkan wajahnya yang hari ini tampak berbeda.

Lebih dewasa.

Lebih tenang.

Namun matanya tetap menyimpan kesedihan dan kemarahan yang tak bisa ia luapkan.

Fenita berdiri di belakangnya, menatap putrinya melalui cermin.

“Cantik sekali… putri Mama” gumamnya pelan.

Clarinda tersenyum tipis.

“Mama yakin ini keputusan yang benar?” suaranya lirih.

Fenita tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat, lalu meraih tangan Clarinda.

“Kadang hidup tidak memberi kita waktu untuk memilih dengan nyaman. Tapi Mama percaya… Zavian akan menjagamu.”

Clarinda menunduk. Marahpun percuma. Beberapa menit lagi hidupnya akan berubah.

Di ruangan lain, Zavian berdiri tegak dengan setelan jas hitam yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Wajahnya tenang seperti biasa, dingin, sulit ditebak.

Damar Hardinata menatapnya dengan sorot mata penuh penilaian.

“Mulai hari ini… Clarinda tanggung jawabmu.”

Zavian mengangguk singkat.

“Ya," jawabannya terdengar tak ikhlas.

Tidak ada janji panjang. Tidak ada kata manis.

Prosesi pernikahan berlangsung singkat.

Hening.

Khidmat.

Clarinda kini bukan lagi gadis SMA biasa.

Ia adalah istri dari Zavian Hardinata.

"Jaga dirimu baik-baik Clea."

"Nurut sama suamimu."

"Mama Papah sayang sama kamu."

Setelah ini Ramdan, Fenita dan Kavian segera bertolak ke Jerman.

Ada perasaan sedih dan kecewa. Clarinda merasa sengaja di buang.

Sehari setelahnya...

Calrinda dan Zavian berada di rumah baru mereka.

Hadiah pernikahan dari Kakek Damar.

Rumah dua lantai bergaya minimalis modern. Tidak terlalu besar, tapi cukup elegan. Halaman depan rapi, dengan taman kecil yang ditata indah.

Clarinda menatapnya cukup lama.

"Haaaah?” desahnya pelan.

Sebagus-bagusnya rumah baru ini tetap akan berbeda dengan rumah sebelumnya.

Tidak ada keluarga.

Tidak ada suara ramai.

Hanya mereka berdua.

Sepi.

Dan... canggung.

Clarinda melangkah pelan, menelusuri ruang tamu, dapur, lalu melihat tangga menuju lantai dua.

“Kamarku di atas. Dan kau di bawah.”

Langkah Clarinda langsung terhenti.

Ia menoleh cepat.

“Eh enak saja!” balasnya spontan. “Aku yang di atas. Aku masih muda, langkahku gesit. Bapak itu sudah tua—jaga itu lutut. Kasihan kalau encoknya kumat!”

Zavian mengangkat satu alis.

“Bapak?”

“Memang Bapak kan? Mau disebut Bu?"

"Hei bocah!!!"

Sebelum Clarinda melangkah naik, Zavian dengan cepat menarik pergelangan tangannya.

Gerakan itu tidak kasar.

Tapi cukup kuat untuk menghentikannya.

Ia berdiri tepat di depan tangga, menghalangi jalan.

“Dengar baik-baik bocah. Lantai atas adalah wilayahku. Jadi jangan sembarangan menginjakkan kakimu tanpa seijinku.”

Clarinda mendengus kesal.

“Wilayah? Emang ini negara ya pakai wilayah segala?!” balasnya sambil melipat tangan di da da.

Zavian menyipitkan mata. Tatapannya tajam, khas pria dewasa yang terbiasa memegang kendali. Tapi bagi Clarinda, itu sama sekali tidak mengintimidasi—justru memancing keusilannya.

“Kalau kau ingin hidup tenang di rumah ini, ikuti aturanku,” lanjut Zavian santai.

Clarinda mendekat satu langkah. Ia mendongak, karena tinggi mereka cukup jauh berbeda.

“Kalau Bapak ingin hidup tenang, jangan coba-coba mengatur aku,” balasnya tak kalah santai.

Sejenak, suasana hening.

Tatapan mereka bertemu.

Dekat.

Terlalu dekat.

Clarinda menelan ludah.

Namun bukannya mundur, ia justru mendongak sedikit.

"Bapak pasti punya rahasia disana?”

Zavian menyipitkan mata.

“Tidak semua hal perlu kau tahu.”

Clarinda tersenyum remeh. "Atau Bapak sedang menyembunyikan wanita yang..."

"Masih bocah punya pikiran kotor!" Zavian menoyor kening Clarinda. Clarinda mendesis. Dalam hati ia mengumpati Zavian.

1
Nona aan Chayank
Buaahahahhaha....🤣🤣🤣
partini
hemmm dah keliatan kamu kecintaan ma suamimu,aihhh why pihak cewek yg jatuh cinta duluan ga cowoknya ga pernah si saddddddd
Marini Suhendar
Dasar bocah😄
partini
ko cuma sama baby sitter doang apa duda anak satu ,, alamak tensi nanti suamimu cle
Titien Prawiro
Bagaimana jadinya
partini
👍👍👍
Erna Riyanto
ihh..pak tua bisa ae nyari kesempatan,pke pegang" segala🤣🤣
Marini Suhendar
Awas yah..nanti pada bucin kalian ya 😄
Marini Suhendar
Jangan cemburu pak tua😄
partini
ingio ingon wedus kaleee 😂😂
wah ada yg CLBK nih nanti jad jadi jendonggggg ,,
partini
kenapa selalu cewek yg klepek klepek duluan sih jarang bnggt cowoknya
partini
tinggal jaa kek yg lama cucu mu juga rada"suka keluar malam lupa pulang cucu mentu juga sama so 50/50
partini
jirrr Ampe lupa, maklumlah di club siapa sih yg ingat di rumah ga ada
partini
nah Lo habis megang apa gunung kembarnya 😂😂😂
nanti pasti terbayang bayang rasanya kenyal"
partini
😂😂😂😂 lah kaya bola di tendang
partini
hemmm SE anak kalian yg bikin ulah
partini
good story
partini
lanjut Thor Setu ceritanya
candra pipit: siap... lanjut 😍
total 1 replies
partini
lelaki bebas di luar OMG
partini
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!