NovelToon NovelToon
Nai "Panggil Bunda Saja"

Nai "Panggil Bunda Saja"

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Navy Ane

Aku memang memimpikan menjadi seorang IBU, tapi aku tidak pernah memimpikan menjadi seorang ISTRI.

Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.

Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.

Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Seperti Keluarga Kecil"

Zain menoleh sekilas, nadanya berubah sedikit menuntut.

“Tadi.”

Nayla menghela napas.

“Nggak penting kali, Kak Zain…”

“Tapi buat aku itu penting banget,” jawab Zain serius.

Nayla terdiam sejenak, lalu akhirnya bicara—

“Sebenarnya… nggak ada yang benar-benar nyakitin.”

“Cuma… respon aku saja yang berlebihan.”

Zain ikut terdiam, mendengarkan. Ia memperlambat laju mobil saat memasuki perumahan.

“Aku itu…”

Nayla menatap ke depan, suaranya lebih pelan.

“Ngeliat dari pernikahan orang tuaku… pernikahan kakak-kakakku… bahkan orang-orang di kampung.”

Ia menghela napas lagi.

“Menurut aku… kebanyakan dari mereka jauh dari bahagia.”

“Awalnya saja manis. Waktu pacaran, kata-katanya indah…”

Nayla tersenyum tipis, tapi tanpa rasa.

“Tapi ujung-ujungnya…”

“Seperti kata orang di TikTok… semua akan ‘pret’ pada masanya.”

Zain melirik sekilas, tapi tidak menyela.

“Aku juga lihat di media sosial…”

“Banyak cerita yang sama.”

“Jadi menurut aku… laki-laki itu emang se-brengsek itu.”

“Semua yang kamu lihat itu nyata, Nay…”

Zain menatap lurus ke depan, suaranya tenang.

“Tapi… bukan berarti semua orang akan sama.”

Ia menghela napas pelan.

“Aku bukan mereka.”

Jari-jarinya menggenggam setir sedikit lebih erat.

“Aku nggak mau jadi orang yang kamu takutin.”

Zain terdiam sejenak.

“Dan… kamu juga nggak harus menutup diri sebelum benar-benar tahu.”

Nayla tersenyum tipis.

“Iya… aku tahu, Kak Zain.”

Ia mengangkat bahu pelan.

“Laki-laki yang nggak begitu itu ada…”

“…tapi perbandingannya paling dua, banding sembilan puluh delapan.”

Zain menghela napas berat.

Ia membelokkan mobil ke arah gerbang rumah Arkan.

Saat Nayla hendak turun, Zain memanggil pelan—

“Nay…”

Nayla menghentikan gerakannya, lalu menatapnya lewat kaca spion tengah.

“Aku minta maaf soal tadi. Aku… cuma bercanda.”

“Kak Zain serius bercanda?” tanya Nayla, masih ragu.

Zain menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Ya… siapa tahu saja kamu kepincut sama uang,” ucapnya, setengah bercanda, setengah menyesal.

Nayla hanya mengangguk pelan, tanpa komentar.

“Nay…” panggil Zain lagi, setengah berteriak saat Nayla mulai melangkah.

Nayla berhenti. Ia menoleh, bertanya hanya lewat raut wajahnya.

“Besok jadi, kan… nontonnya?” tanya Zain penuh harap.

“Nggak jadi,” jawab Nayla singkat.

Ia menatap Zain datar.

“Soalnya Kak Zain bikin kesel.”

Zain langsung panik. Ia buru-buru turun dari mobil dan menghampiri Nayla.

“Nay… jangan gitu dong. Sebelumnya kan kita udah setuju.”

Arkan yang sejak tadi memperhatikan, diam-diam merasa senang melihat Nayla marah pada Zain.

“Yah, Kak Zain sih nyebelin. Hari ini juga jail banget sama Arkan,” tambah Nayla tegas.

Zain terdiam.

Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kehabisan kata.

“Aku benar-benar minta maaf, Nay…”

Zain menunduk, membungkukkan badan hampir sembilan puluh derajat.

“Tadi aku… sedikit cemburu sama Arkan.”

“Maaf, ya.”

Nayla menghela napas panjang.

“Oke…”

Ia melirik sekilas, lalu menambahkan—

“Tapi kalau mau nonton, lebih baik film anak saja.”

Tanpa menunggu jawaban, Nayla berbalik dan melangkah pergi.

Zain hanya bisa berdiri diam, pasrah.

Beberapa langkah kemudian, Nayla menghentikan langkahnya.

Ia menoleh.

“Makasih, ya…” ucapnya singkat.

Lalu kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan Zain yang masih terpaku.

**

Keesokan harinya,

Zain membatalkan rencana awalnya untuk menonton film dan memilih mengajak mereka berjalan-jalan ke taman hijau di pusat kota.

Taman itu terkenal dengan jajanan kulinernya yang enak dan beragam. Nayla pun setuju, sementara Arkan—seperti biasa—akan ikut ke mana pun Nayla pergi.

Pukul 16.05, mobil mereka memasuki area parkir. Sejak tadi, Arkan sudah berceloteh riang, tampak tidak sabar.

Nayla tersenyum melihat tingkah Arkan yang begitu antusias ingin mencoba cumi panggang paling populer di taman itu.

Zain pun tersenyum lega. Nayla tidak lagi bersikap cuek seperti kemarin. Ia kembali seperti biasanya—terlihat manis setiap kali berinteraksi dengan Arkan.

Zain turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk mereka. Ia meraih tangan Nayla, menatapnya dengan hangat.

Nayla tersenyum ramah.

“Terima kasih, Kak Zain.”

Arkan menatap Zain dengan wajah tidak suka. Tanpa ragu, ia langsung menarik tangan Nayla agar terlepas dari genggaman pria itu.

Zain berdecak dalam hati, namun tetap mempertahankan senyumnya.

Mereka pun berjalan beriringan menyusuri taman yang ramai.

Taman hijau itu terbentang di tengah hiruk-pikuk kota, menghadirkan suasana teduh dengan pepohonan rindang dan angin sejuk yang menenangkan. Orang-orang duduk santai di bangku taman, menikmati waktu di sela kesibukan.

Di sisi lain, deretan jajanan kuliner menambah hidup suasana. Aroma sosis dan jagung bakar bercampur dengan wangi gorengan hangat, sementara suara tawa dan obrolan ringan mengalun akrab. Taman itu bukan hanya tempat beristirahat, tetapi juga ruang kecil yang penuh rasa dan cerita.

Melihat antrean yang cukup ramai, Nayla menyarankan agar mereka membagi tugas supaya lebih cepat.

Setelah menunggu beberapa saat, mereka pun mencari tempat untuk menikmati jajanan kuliner yang telah dibeli.

Sejak tadi, Arkan sudah tidak sabaran. Ia berlari kecil mengelilingi mereka yang sedang menggelar tikar.

“Kakak, mau cumi-cumi.”

“Cumi-cumi.”

“Cumi-cumi.”

Zain terkekeh gemas, sementara Nayla hanya bisa menggeleng pelan.

“Kalau mau cepat, sini bantu pegang ini,” ucap Zain, menyuruh Arkan memegang ujung tikar.

Arkan menurut, meski wajahnya sedikit cemberut. Tangannya memegang ujung tikar dengan enggan, bibirnya masih bergerak pelan, mengulang kata yang sama.

“Cumi-cumi…”

Zain meliriknya sekilas, menahan tawa.

“Kalau kamu bantu yang benar, nanti dapat duluan.”

Seketika, mata Arkan berbinar. Pegangannya pada tikar jadi lebih kuat, seolah semangatnya kembali penuh.

Nayla hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya, merasa suasana sore itu terasa hangat dengan cara yang sederhana.

Setelah menghabiskan sebagian hidangan, Arkan bersandar pada Nayla, mengeluh kekenyangan.

Nayla tertawa kecil melihatnya.

“Suruh siapa badan kecil, sok-sok makan banyak,” ucapnya gemas sambil menarik kedua pipi Arkan.

Sejak tadi, Arkan sudah menghabiskan dua tusuk cumi panggang, tiga tusuk cilor, dua tusuk odeng, dan sepotong jagung bakar.

Nayla dan Zain hanya bisa saling pandang, lalu menggeleng pelan.

Masih banyak jajanan yang tersisa, karena hampir semuanya dipilih sendiri oleh Arkan sejak tadi.

Nayla mengusap perut Arkan yang mulai mengeras, sesekali mencium pipinya dengan gemas.

Zain tersenyum tipis, tanpa sadar membayangkan dua orang di hadapannya sebagai keluarga kecilnya.

“Kak Zain, kenapa senyum-senyum sendiri? Kayak orang aneh tahu,” ucap Arkan dengan nada polos, meski terdengar sedikit menyindir.

Zain terbengong sejenak.

“Eh, Arkan,” tegur Nayla.

“Tidak boleh begitu. Minta maaf sama Kak Zain,” lanjutnya tegas.

Arkan menggerutu pelan, jelas tidak suka.

“Maaf, Kak Zain,” ucapnya lirih, terdengar setengah hati.

“Kakak belum mau maafin. Minta maafnya belum ikhlas,” ucap Zain sambil tersenyum mengejek.

“Aku ikhlas kok,” seru Arkan kesal.

“Minta maaf yang benar, Arkan,” tegur Nayla.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!