NovelToon NovelToon
Haruskah Seperti Ini

Haruskah Seperti Ini

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:900
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

​Di balik apron Cafe Nuansa, Alan hanyalah mahasiswa biasa berpesona luar biasa. Ia berjuang menopang keluarga, tanpa menyadari cinta tulus Rahmi, sang pewaris properti yang selalu menjadi pelindungnya. Namun, saat takdir mempertemukan Alan kembali dengan Bunga, primadona masa SMA, persahabatan dan cinta pun mulai diuji. Di antara pengorbanan tersembunyi, patah hati yang bisu, dan garis takdir yang membingungkan, kepada siapakah hati Alan akan berlabuh? Rahasia besar menanti untuk segera terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Jawaban Tanpa Suara

​Udara di atas geladak perahu kayu buatan itu terasa mendadak hilang, seolah tersedot oleh ruang hampa yang tercipta dari tatapan mengunci milik Bunga. Alan Prawija, sang pemuda berwajah keras yang biasanya tak pernah gentar menghadapi kerasnya jalanan atau kasarnya omelan pelanggan kafe, kini tak ubahnya seperti seekor kelinci yang terperangkap lampu sorot. Pertanyaan Bunga barusan—kenapa sama aku kamu nggak dingin?—adalah sebuah serangan fatal yang langsung menusuk jantung pertahanannya.

​Mata elang Alan melebar, napasnya tertahan di ujung tenggorokan. Ia kebingungan setengah mati. Pikirannya berputar liar mencari ribuan alasan yang masuk akal, namun tak satu pun yang berani ia utarakan. Menyatakan kebenaran sama saja dengan membongkar isi dadanya dan menyerahkan harga dirinya secara telanjang di hadapan gadis kelas atas ini. Kegugupan yang menyelimuti Alan sudah mencapai titik didih. Tangannya yang berada di bawah meja mulai berkeringat dingin, meremas ujung kemejanya sendiri hingga kusut. Waktu terasa berhenti. Kiamat kecil rasanya sedang terjadi di dalam kepala Alan.

​Namun, di detik ketika Alan merasa dadanya akan meledak karena tak sanggup menjawab, langkah kaki berirama mendekat ke arah meja mereka, membawa aroma gurih yang langsung memecah ketegangan di udara.

​Seorang pelayan pria dengan nampan kayu besar di tangannya muncul tepat waktu bagaikan malaikat penyelamat yang diturunkan dari langit khusus untuk Alan. Pelayan itu meletakkan dua porsi ayam bakar madu yang asapnya masih mengepul, lengkap dengan nasi hangat, lalapan, serta dua gelas besar matcha susu dingin dan dua botol air mineral.

​"Ini pesanannya Kak," ucap pelayan tersebut dengan nada ramah yang sopan, memecah gelembung atmosfer intens yang sedari tadi mengurung Alan dan Bunga. Pelayan itu menata piring-piring di atas meja kayu dengan cekatan. "Silahkan dinikmati. Jika ada yang kurang pesanannya, silahkan pesan di barcode yang tadi ya Kak."

​Alan menghembuskan napas yang sedari tadi disekapnya. Tubuhnya yang menegang bagai papan perlahan mengendur. Ia selamat. Setidaknya untuk saat ini, ia terselamatkan dari keharusan menjawab pertanyaan yang bisa mengubah jalan hidupnya itu.

​Bunga, yang fokusnya harus teralihkan oleh kehadiran sang pelayan, mendongak dan menatap pelayan itu dengan raut wajah yang tetap manis, seolah tak pernah terjadi ketegangan apa pun sebelumnya.

​"Makasih, Kak," jawab Bunga dengan senyum ramahnya yang khas, suaranya mengalun lembut.

​Pelayan itu membalas dengan anggukan sopan, "Sama-sama, Kak. Permisi," ucapnya sebelum akhirnya berbalik dan meninggalkan meja mereka, kembali membaur dengan kesibukan pengunjung kafe lainnya.

​Sepeninggal pelayan tersebut, Bunga kembali menatap Alan. Pemuda di seberang mejanya itu terlihat masih sedikit pucat dan sibuk mengatur napas, pura-pura fokus menata posisi sendok dan garpu untuk menutupi sisa kepanikannya. Melihat Alan yang begitu gelagapan dan salah tingkah, sudut bibir Bunga tertarik ke atas.

​'Kamu beruntung,' bisik batin Bunga dengan nada gemas yang tak tertahankan. Matanya menatap lekat wajah keras Alan yang kini tertunduk menghindari kontak mata. 'Kegugupan kamu atas pertanyaan aku barusan diselamatkan sama pelayan cafe ini. Kamu bisa lari sekarang, Lan. Tapi kamu gak akan bisa sembunyi selamanya. Nanti... nanti pasti akan aku ulangi pertanyaannya. Aku mau denger langsung dari bibir kamu sendiri.'

​Sebuah senyum tipis yang sangat jahil dan penuh intrik terukir di wajah cantik Bunga. Ia sengaja membiarkan Alan bernapas sejenak, mengumpulkan kepingan harga dirinya yang sempat berserakan. Bunga mengambil gelas matcha susu miliknya, mengaduknya pelan dengan sedotan, lalu menatap hamparan makanan yang menggiurkan di depan mereka.

​"Ayo dimakan, Lan. Keburu dingin nanti ayamnya," ucap Bunga, memecah kecanggungan yang masih tersisa. Ia memotong sedikit daging ayamnya. "Oh iya, kalau ada yang kurang, tinggal pesen lagi aja di barcode tadi ya. Mau nambah minum, dessert, atau cemilan apa pun pesen aja."

​Alan baru saja menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya saat mendengar kalimat lanjutan Bunga yang seketika membuat kunyahannya melambat.

​"Hari ini semuanya aku yang traktir," sambung Bunga dengan nada santai, seolah ia baru saja menyatakan bahwa langit itu biru. Matanya berbinar ceria menatap Alan. "Soalnya aku yang ngajak main kamu hari ini. Jadi kamu santai aja, anggap aja ini reward buat driver andalanku."

​Mendengar kata 'traktir', insting kemaskulinan dan harga diri Alan sebagai seorang laki-laki sontak meronta. Meskipun ia sangat sadar bahwa isi dompetnya saat ini mungkin hanya cukup untuk membayar makanannya sendiri, dan tabungannya menipis karena biaya hidup, dibayari oleh seorang perempuan—terlebih perempuan yang ia sukai—adalah sebuah pukulan telak bagi gengsinya.

​Alan menelan makanannya dengan susah payah. Ia terdiam sejenak, meletakkan sendoknya, lalu menatap Bunga dengan tatapan serius yang menyiratkan ketidaksetujuan.

​"Kenapa harus kamu semua, Nga?" protes Alan, suaranya terdengar sedikit berat dan tertahan. "Kan aku... aku cowok masa dibayarin. Biar aku aja yang bayar bagian aku, atau kalau kurang, aku yang nambahin. Gak enak kalau..."

​Sebelum Alan sempat melanjutkan kalimat penolakannya dan merangkai argumen tentang harga diri seorang laki-laki, Bunga sudah lebih dulu bergerak cepat. Gadis itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Alan dengan tatapan tajam namun dibalut dengan kelucuan yang tak bisa dibantah.

​"Aku gak terima penolakan, udah gitu aja," potong Bunga dengan cepat dan tegas. Nada suaranya sedikit meninggi namun tetap terdengar merdu, seolah memberikan titah mutlak dari seorang ratu kepada pengawalnya.

​Alan tertegun. Kata-kata Bunga begitu absolut, memotong habis semua alasan yang sudah ia siapkan di ujung lidah. Ia menatap mata Bunga, mencari celah kompromi, namun yang ia temukan hanyalah dinding tekad yang keras kepala. Gadis ini benar-benar tidak bisa dibantah.

​Menyadari bahwa berdebat dengan Bunga dalam posisi seperti ini hanya akan merusak suasana indah mereka, dan mengingat bagaimana gadis itu bisa merajuk jika kemauannya tak dituruti, Alan akhirnya menyerah. Pertahanan gengsinya runtuh oleh dominasi lembut sang bidadari. Alan menghembuskan napas pelan, menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

​"Ya udah..." ucap Alan akhirnya, nada suaranya merendah, tanda pasrah. Ia tersenyum kecil, senyum canggung yang menyiratkan rasa malu namun juga terima kasih yang mendalam. "Makasih ya, Nga."

​Bunga yang sedang mengunyah ayam bakarnya, hanya melirik Alan sekilas. Pipinya sedikit menggembung karena makanan, membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih menggemaskan di mata Alan. Setelah menelan makanannya, Bunga menjawab dengan nada acuh tak acuh yang dibuat-buat.

​"Buat apa makasih," sahut Bunga santai. Ia mengambil selembar tisu dan mengusap ujung bibirnya dengan anggun. "Kan kamu juga udah anterin aku kesini. Udah nemenin aku muter-muter, ngadepin jalanan yang jauh, kedinginan di motor. Traktiran ini gak ada apa-apanya dibandingin waktu dan tenaga kamu buat aku hari ini."

​Mendengar pembenaran Bunga, perasaan Alan berkecamuk. Di satu sisi ia merasa lega karena alasan Bunga masuk akal, namun di sisi lain, logika liarnya tak bisa menerima begitu saja persamaan itu. Membawa Bunga jalan-jalan baginya bukanlah sebuah pengorbanan atau beban, melainkan sebuah anugerah yang tak ternilai harganya. Ia rela menembus badai sekalipun asalkan bisa melihat Bunga tersenyum.

​Alan menggelengkan kepalanya pelan, sebuah senyuman tulus terukir di wajahnya. "Tapi kan itu beda, Nga..." ucap Alan lembut, berusaha menjelaskan perasaannya bahwa mengantarkan Bunga adalah keinginannya sendiri. "...neminin kamu itu kemauan aku sendiri, bukan kerjaan yang harus dibayar pakai—"

​Lagi-lagi, kalimat Alan tak pernah mencapai garis akhir. Bunga meletakkan garpunya dengan sedikit penekanan, menghasilkan bunyi pelan yang membuat Alan refleks menghentikan ucapannya. Gadis itu menatap Alan dengan sorot mata yang sulit diartikan; campuran antara keras kepala, dominasi, dan... sebuah afeksi yang tersembunyi sangat rapat.

​"Gak ada beda-beda," potong Bunga untuk yang kedua kalinya. Kali ini, suaranya terdengar lebih meyakinkan dan tak terbantahkan. Ia mengunci pandangan Alan. "Aku gak terima alasan apa pun dan penolakan apa pun hari ini. Khusus hari ini."

​Kalimat terakhir Bunga menggantung di udara. Khusus hari ini. Kata-kata itu terdengar seperti sebuah mantra ajaib yang mengurung mereka dalam sebuah dimensi waktu yang terisolasi dari sisa dunia.

​Mendapat serangan penolakan beruntun seperti itu, Alan benar-benar terdiam. Otaknya yang biasanya kritis kini terasa tumpul. Ia tak berani lagi mendebat. Di balik kebungkamannya, sebuah perang batin kecil kembali berkecamuk di dalam kepalanya.

​'Maksud Bunga apaan sih?' tanya Alan dalam batinnya yang penuh dengan kebingungan. Sambil perlahan menyuapkan kembali nasi ke mulutnya, ia terus mencuri pandang ke arah gadis di depannya. 'Aneh banget. Kenapa dia bersikeras banget mau traktir, pakai bilang gak nerima penolakan segala? Terus, apa maksudnya "khusus hari ini"? Memangnya hari ini ada apa? Apa jangan-jangan... ah, gak mungkin. Otak lo kejauhan mikirnya, Lan. Dia cuma anak orang kaya yang lagi pengen berbagi rezeki sama gembel kayak lo. Udah, nikmatin aja, jangan banyak nuntut.'

​Meskipun logika Alan berusaha merasionalisasi tindakan Bunga, namun hati kecilnya tak bisa dibohongi. Ada percikan harapan yang menghangatkan dadanya, menyugesti bahwa mungkin—hanya mungkin—hari ini memang benar-benar hari yang sangat spesial di mata Bunga, sama seperti betapa spesialnya hari ini bagi Alan.

​Waktu berlalu tanpa terasa di atas geladak kayu tersebut. Semilir angin danau Situ Patenggang menemani setiap suapan mereka. Di antara bunyi denting sendok dan garpu, mereka mulai mengobrol ringan. Alan yang mulai bisa mengendalikan kegugupannya, perlahan mulai membuka diri. Ia bercerita tentang hiruk-pikuk pekerjaannya di kafe, tentang pelanggan-pelanggan aneh yang sering ia temui, dan tentang betapa melekarnya otot tangan setelah seharian mencuci piring. Bunga mendengarkan setiap patah kata Alan dengan antusiasme yang luar biasa. Tidak ada raut jijik atau merendahkan di wajah cantiknya saat Alan menceritakan profesi kasarnya. Sebaliknya, Bunga justru sering tertawa lepas mendengar cara Alan bercerita yang kadang diselingi umpatan-umpatan kecil khas anak tongkrongan yang tertahan.

​Setelah piring mereka bersih tak bersisa, keduanya meraih gelas besar berisi matcha milk yang es batunya sudah mulai mencair. Rasa manis bercampur pahit khas teh hijau mengalir membasahi tenggorokan mereka yang kering sehabis banyak berbicara dan tertawa.

​Bunga menyedot sisa matcha milk-nya sambil pandangannya menyapu berkeliling area restoran berbentuk perahu tersebut. Pandangannya kemudian terpaku pada area ujung haluan geladak yang paling depan. Di sana, terdapat sebuah ornamen prop raksasa berbentuk kemudi perahu pinisi peninggalan zaman VOC. Bentuknya yang sangat besar dan estetik, dengan latar belakang hamparan kebun teh dan danau yang luas tak terhalang apa pun, menjadikannya spot foto paling ikonik di tempat itu.

​Mata Bunga seketika berbinar. Segala keagresifan dan keceriaannya yang sempat mereda kembali melonjak naik. Ia segera meletakkan gelasnya yang sudah kosong setengah ke atas meja.

​"Eh, Lan!" panggil Bunga dengan antusiasme yang meletup-letup. Ia mengangkat tangan kanannya, menunjuk lurus ke arah haluan geladak. "Itu di sana spot-nya bagus yang ada kemudi besar itu. Kesana yuk!"

​Tanpa memberikan jeda satu detik pun bagi Alan untuk merespons, mencerna ucapan, atau bahkan menelan sisa matcha di mulutnya, Bunga langsung berdiri dari kursinya. Ia melangkah cepat memutari meja.

​Dan kemudian, terjadilah sesuatu yang selalu membuat sistem saraf Alan konslet.

​Bunga mengulurkan tangannya dan tanpa ragu memegang pergelangan tangan Alan dengan erat. Genggaman gadis itu begitu kuat, menyalurkan kehangatan dari telapak tangannya langsung ke kulit Alan yang terasa dingin.

​Alan yang nyaris tersedak, buru-buru meletakkan gelasnya secara serampangan hingga menimbulkan bunyi benturan kaca dan kayu yang cukup keras. Ia hanya bisa terdiam membeku. Ia tidak menarik tangannya, tidak juga bertanya. Tubuh tingginya secara otomatis bangkit berdiri, patuh seperti anak kecil yang dituntun ibunya di tengah keramaian pasar.

​Pemuda yang sering ditakuti oleh mahasiswa baru di kampusnya itu, kini melangkah menyusuri geladak kayu dengan pikiran kosong, sepenuhnya dikendalikan oleh tarikan tangan seorang gadis. Nyatanya, tangannya kini sedang dipegang erat oleh Bunga. Sensasi kulit mereka yang bersentuhan adalah candu baru bagi Alan. Setiap langkah yang ia ambil, hatinya berteriak kegirangan, membanggakan momen yang rasanya terlalu indah untuk menjadi nyata ini.

​Mereka melewati beberapa meja pengunjung lain yang tampak memperhatikan mereka. Namun, Alan sudah tak peduli lagi dengan tatapan orang-orang. Fokus dunianya kini hanya terpusat pada punggung mungil Bunga yang berjalan antusias di depannya, dan pada tautan tangan mereka yang tak terpisahkan.

​Tibalah mereka di spot yang diinginkan Bunga. Ujung haluan perahu buatan itu menjorok jauh ke arah tebing yang di bawahnya langsung terhampar danau Situ Patenggang. Angin di titik ini berhembus paling kencang, menerbangkan ujung rambut Bunga dan kerah jaket kanvas Alan. Di depan mereka berdiri kokoh kemudi kayu raksasa yang menjadi ikon tempat tersebut. Pemandangannya sungguh spektakuler, seolah mereka benar-benar sedang berlayar menembus lautan awan dan hamparan teh hijau.

​Bunga akhirnya melepaskan genggaman tangannya. Ia melangkah maju, memegang jeruji kemudi kayu raksasa itu, merentangkan sedikit tangannya menikmati terpaan angin yang membelai wajahnya. Ia memejamkan mata, menarik napas panjang, menghirup udara bersih pegunungan.

​Alan berdiri di belakangnya, terdiam memandangi siluet Bunga. Kehilangan kehangatan dari genggaman tangan Bunga membuat Alan merasa ada sebagian dari dirinya yang kembali kosong. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeans-nya untuk mengusir dingin dan rasa canggung yang kembali menyergap.

​Melihat Bunga yang tampak begitu menikmati suasana di spot estetik itu, Alan mencoba memecah kesunyian dengan pertanyaan yang paling logis menurutnya.

​"Kamu mau poto-poto lagi, Nga?" tanya Alan dengan nada pelan, kakinya melangkah mendekat hingga ia berdiri tepat di sebelah Bunga. Ia sudah bersiap jika Bunga memintanya mengeluarkan ponsel dan mengambil puluhan jepretan lagi seperti di kebun teh tadi.

​Mendengar pertanyaan itu, Bunga perlahan membuka matanya. Ia menolehkan kepalanya ke samping, menatap profil wajah Alan. Anehnya, Bunga tidak langsung menjawab. Ia terdiam selama beberapa saat yang terasa sangat menyiksa bagi Alan. Tidak ada cengiran antusias atau tawa renyah. Angin berhembus menyingkap sebagian rambut Bunga yang kemudian dengan sigap diselipkannya ke belakang telinga.

​"Bisa iya, bisa juga enggak," jawab Bunga akhirnya. Suaranya terdengar sangat berbeda dari sebelumnya. Tidak ada lagi nada riang atau manja. Kali ini suaranya terdengar lebih pelan, sangat lembut, namun memiliki resonansi ketegasan yang aneh.

​Bunga memutar tubuhnya sepenuhnya, kini menghadap lurus ke arah Alan. Jarak di antara mereka di haluan sempit itu hanya tersisa satu langkah kecil.

​"...tapi aku mau nanya," sambung Bunga, tatapan matanya mengunci langsung ke dalam bola mata Alan, memutus seluruh akses pemuda itu untuk melarikan diri.

​Alan mengerutkan dahinya bingung. Perasaan tidak enak kembali menyelinap masuk ke dalam dadanya. Suasana hati Bunga seolah berubah seratus delapan puluh derajat dalam hitungan detik.

​"Nanya apa, Nga?" tanya Alan dengan polosnya, tak menyadari badai apa yang sedang bersiap menerjang kewarasannya.

​Di bawah terpaan cahaya matahari sore yang mulai condong ke barat, Alan bisa melihat perubahan yang terjadi pada diri Bunga. Wajah cantik gadis itu, yang sedari tadi terlihat natural, perlahan mulai dihiasi rona merah yang sangat jelas. Bukan merah karena dinginnya udara pegunungan, melainkan merah yang memancar dari dalam, dari aliran darah yang berpacu seiring dengan gejolak emosi di dadanya. Mata bening Bunga terlihat sedikit bergetar, memancarkan kombinasi antara keberanian yang dipaksakan dan sebuah kerentanan yang mendalam.

​Gadis itu mengambil napas dalam-dalam, menahan udara di paru-parunya sejenak, sebelum akhirnya melepaskan sebuah bom waktu yang sebelumnya telah ia tunda di meja makan.

​"Kenapa sama cewek lain kamu dingin..." suara Bunga sedikit bergetar, namun ia menolak untuk memalingkan wajahnya sedetik pun. Ia memaksa dirinya menatap tajam ke mata Alan. "...tapi sama aku nggak?"

​Duarr.

​Pertanyaan itu kembali meledak di wajah Alan, kali ini dengan daya hancur yang berkali-kali lipat lebih dahsyat karena ditanyakan dalam jarak yang begitu dekat dan suasana yang begitu intim.

​Alan terdiam seketika. Matanya sedikit terbuka lebar karena kaget yang tak terkira. Mulutnya setengah terbuka, namun tak ada satu pun silabel yang keluar. Angin yang menderu di telinganya seakan lenyap, digantikan oleh suara dengungan keras yang memenuhi kepalanya.

​Pertanyaan Bunga barusan telah menghancurkan benteng terakhir pertahanan Alan. Gadis itu tidak sedang memancing atau bercanda. Bunga sedang menuntut sebuah kepastian, menelanjangi rahasia terbesar yang Alan sembunyikan di balik topeng ketus dan wajah datarnya selama ini.

​Tubuh Alan seketika membeku. Ia merasa seperti sedang diadili oleh malaikat takdir. Di dalam kepalanya yang mendadak pening, peperangan logika dan perasaan kembali meletus dengan hebat.

​'Gila! Dia nanya itu lagi!' jerit batin Alan, kepanikan yang luar biasa kini menggerogoti setiap sel di tubuhnya. 'Masa iya... masa iya gue harus jujur sekarang? Masa iya gue harus ngomong kalo gue... gue cinta sama Bunga?!'

​Keringat dingin kembali membasahi dahi dan telapak tangan Alan. Rentetan ketakutan yang mendasar langsung menyerangnya bertubi-tubi. Ia menatap wajah Bunga, lalu pikirannya melayang pada realita kehidupannya sendiri.

​'Gimana kalo gue jujur, terus Bunga malah ilfeel? Gimana kalo dia nganggep gue gak tau diri? Kalo Bunga nolak gue... hancur udah semuanya. Dia ini bidadari. Dia anak orang kaya, pergaulannya elit, rumahnya mewah. Sementara gue? Gue cuma seorang pemuda miskin, hidup dari gaji kuli kafe yang kadang cuma cukup buat makan mie instan akhir bulan. Kita ini beda kelas, beda dunia! Langit dan bumi! Gue pantes ngaca dulu sebelum ngomong cinta sama dia. Tapi... tapi tatapan dia sekarang... Ya Tuhan, gue harus jawab apa?!'

​Keputusasaan tergambar jelas di raut wajah keras Alan. Rahangnya menegang, matanya bergerak gelisah tak tentu arah, mencoba mencari jawaban di awan-awan atau di permukaan danau di bawah sana. Namun tak ada jawaban yang datang. Bunga masih berdiri di hadapannya, menunggu dengan sabar, menuntut kejujuran absolut.

​Karena tak sanggup menahan keheningan yang semakin mencekik, dan tak ingin Bunga menyadari kekalutannya yang parah, Alan memaksa mulutnya terbuka.

​"Karena..." suara Alan keluar begitu serak dan bergetar parah, nyaris tak terdengar. Ia menelan ludah yang terasa sebesar biji kedondong. Matanya melirik ke segala arah kecuali ke wajah Bunga. "...karena aku, itu Nga... itu... aku..."

​Alan terbata-bata. Otaknya konslet total. Kalimatnya terputus-putus seperti kaset rusak. Ia sama sekali tidak tahu harus berkata apa. Berbohong rasanya tak mungkin karena tatapan Bunga sudah mengulitinya, tapi jujur pun rasanya sama saja dengan bunuh diri secara emosional. Lidahnya kelu. Ia terjebak dalam labirin kepanikannya sendiri.

​Namun, di saat Alan sedang berjuang mati-matian mencari satu saja kata yang tepat untuk menyelamatkan situasi itu... Bunga mengambil alih kendali dunia.

​Tanpa membiarkan Alan menyelesaikan kalimatnya yang hancur berantakan itu, tanpa memberikan peringatan apa pun, Bunga melangkah maju. Satu langkah kecil yang menghapus jarak aman di antara mereka. Jarak mereka kini begitu dekat hingga Alan bisa menghirup aroma napas Bunga yang beraroma manis.

​Alan mematung, matanya terbelalak tak percaya melihat Bunga tiba-tiba menginvasi ruang pribadinya.

​Bunga menatap lurus ke arah Alan. Senyum tipis yang sarat akan kasih sayang muncul di bibirnya. Kemudian, dengan gerakan yang begitu halus dan anggun bak sebuah tarian, kaki Bunga yang mengenakan flat shoes putih itu perlahan berjinjit. Ia mengangkat tubuhnya untuk menyeimbangkan perbedaan tinggi badan mereka.

​Waktu benar-benar berhenti. Bumi rasanya berhenti berotasi.

​Dengan mata setengah terpejam, Bunga memiringkan wajahnya, mendekatkan wajahnya ke arah wajah Alan yang masih shock berat.

​Dan kemudian... bibir lembut Bunga yang terpoles lip tint berwarna peach itu mendarat dengan sangat lembut... menempel tepat di pipi kiri Alan.

​Cup.

​Sentuhan itu hanya berlangsung selama dua detik. Namun bagi Alan, dua detik itu adalah sebuah keabadian yang meruntuhkan seluruh hukum fisika di sekitarnya.

​Hati Alan mencelos. Jantungnya seakan copot dari tangkainya dan jatuh berguguran ke dasar perut. Sengatan listrik jutaan volt mengalir dari titik sentuhan bibir Bunga di pipinya, menjalar liar ke seluruh sistem sarafnya, membakar habis setiap keraguan, ketakutan, dan rasa insecure yang sedari tadi menyiksanya. Aroma vanilla dari parfum Bunga dan kelembutan bibirnya adalah sebuah konfirmasi fisik yang tak bisa dibantah oleh logika paling rasional sekalipun.

​Bunga baru saja menciumnya. Gadis pujaan satu kampus, bidadari yang selalu ia anggap tak tergapai, baru saja mencium pipinya di tengah keindahan alam Situ Patenggang.

​Secara perlahan, Bunga menarik kembali wajahnya. Ia menurunkan kakinya dari posisi berjinjit. Wajah Bunga kini semerah buah ceri matang, rona merahnya menjalar hingga ke telinga dan lehernya. Ia tak berani menatap langsung ke mata Alan, pandangannya tertunduk malu menatap dada kemeja pemuda itu.

​Namun, ketegasan di dalam diri Bunga tidak luntur. Dengan napas yang sedikit memburu akibat luapan adrenalin dan debaran jantungnya sendiri yang menggila, Bunga membuka suara.

​"Gak usah kamu lanjutin, Lan," bisik Bunga dengan suara yang sangat lembut, namun bergetar hebat menahan emosi.

​Bunga perlahan mengangkat kedua tangannya. Ia meraih kedua tangan Alan yang tadinya menggantung kaku di sisi tubuh pemuda itu. Dengan gerakan yang penuh kelembutan namun tegas, Bunga memegang kedua telapak tangan Alan yang dingin dan kasar itu secara bersamaan, menggenggamnya erat-erat, seolah takut pemuda itu akan lari meninggalkannya.

​Bunga mendongak, memaksa dirinya menatap mata elang Alan yang kini memancarkan keterkejutan absolut. Di dalam mata Bunga, terlihat genangan air mata haru yang tertahan, sebuah refleksi dari perasaan cinta yang akhirnya terbebas dari sangkar keraguannya.

​"Apa ini..." Bunga menjeda ucapannya, mempererat genggamannya pada kedua tangan Alan, menyalurkan seluruh sisa keberaniannya. Ia menatap lekat pria di hadapannya, meruntuhkan tembok kelas sosial, kekayaan, dan segala perbedaan yang menghalangi mereka. "...apa ini udah cukup buat kamu yakin, Lan... kalo kita... punya perasaan yang sama?"

​Keheningan mutlak langsung menyergap menyusul pernyataan Bunga. Angin pegunungan yang menerpa wajah mereka terasa hangat. Dunia di sekitar mereka—danau, kebun teh, bangunan perahu, dan orang-orang—semuanya menguap menjadi background blur tak berarti.

​Alan?

​Pemuda berjaket kanvas itu telah kehilangan fungsinya sebagai manusia normal. Ia hanya bisa terdiam mematung layaknya sebuah arca batu. Matanya melebar tak berkedip menatap bidadari di hadapannya. Muka Alan yang tadinya memerah kini berubah menjadi pucat pasi akibat shock berat yang tak sanggup diproses oleh otaknya. Tangannya yang berada dalam genggaman Bunga terasa sedingin es.

​Pikirannya melayang jauh melampaui galaksi. Pertanyaan Bunga barusan adalah palu godam yang menghancurkan dinding realitanya. Gadis itu tidak menolak. Gadis itu tidak jijik. Bunga baru saja menyatakan bahwa perasaan cinta yang ia pendam selama ini dalam diam, perasaan yang ia anggap tak tahu diri, nyatanya gayung bersambut. Bunga menyukainya. Bunga mencintainya.

​Di atas haluan perahu yang diam di tengah deru angin Ciwidey, seorang Alan Prawija membeku. Ia tak mampu berkata-kata. Ia tak tahu bagaimana cara bernapas yang benar. Ia hanya bisa berdiri di sana, menjadi tawanan mutlak dari sebuah kepastian cinta yang baru saja mencium pipinya dan menggenggam masa depannya.

1
Reza Reva
kasihan Rahmi cinta tak terbalas
Yuni Uni
paling ga suka baca novel on going,,,capek nungguh up nya tp tetep nungguin kapan up nya thor
falea sezi
lanjut Thor q ksih Hadiah
falea sezi
pindah kuliah rahmi🤣 laki g tau diri emank sih dia g tahu siapa yg bantu dia kira hendri tp dia uda buang berlian demi jalang🤣
falea sezi
pergi jauh rahmi pengorbanan mu g di hargai
falea sezi
kacian bgt rahmi klo lu lebih milih bunga lu salah besar alan🤭ada yg tulus nrima lu apa adanya loh malah lirik bunga bangke
Reza Reva
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!