Siapa sangka pernikahan pura-pura antara Jeevan dan Valerie membuat mereka berdua benar-benar merasakan jatuh cinta sama lain. Dimulai Jeevan meminta Valerie untuk berpura-pura menjadi Maura calon istrinya yang akan dikenalkan kepada keluarganya, namun di saat yang bersamaan Maura pergi meninggalkan Jeevan keluar negri.
Situasi yang salah paham membuat Valerie terjebak di antara keluarga Jeevan dan terpaksa membuat kesepakatan bersama Jeevan untuk menjadi calon istrinya.
Namun ada satu alasan Valerie menerima pernikahan pura-pura, agar dirinya putus dengan Nathaniel kekasihnya saat itu. Sejak pertama bertemu, Jeevan sudah jatuh hati pada Valerie. Apalagi ketika tahu jika Valerie adalah cinta pertamanya sejak SMP. Mulai saat itu Jeevan terus mencoba membuat Valerie jatuh cinta kepadanya, sampai bisa menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Jeevan
Jeevan dilanda rasa penasaran dengan apa yang Nino ucapkan, siapa yang dimaksud oleh kakak keduanya? Siapa perempuan yang mengaku sebagai calon istrinya padahal Maura sudah berada di dalam pesawat. Apakah Maura berbohong kepadanya hanya untuk mengerjai dirinya? Jika memang benar Maura berbohong sungguh sangat senang hati Jeevan. Tapi tidak mungkin, karena Maura sudah memberikan bukti jika dirinya sedang berada di bandara.
Meskipun dicecar dengan berbagai macam pertanyaan tidak membuat Valerie terlihat bosan dan kesal. Justru gadis penyuka ice cream sangat menyukainya, tidak seperti biasanya yang begitu risih jika banyak orang bertanya tentang dirinya dan kehidupan pribadinya. Valerie begitu nyaman dan menyukai keberadaannya di tengah-tengah keluarga besar Jeevan. Apalagi neneknya yang sedari tadi terus berada di samping Valerie dengan tangannya terus menggenggam telapak tangan kanan Valerie.
Sesaat kemudian Valerie pamit ke toilet sebentar untuk mengecek keberadaan Nathaniel yang juga belum datang. Betapa kagetnya Valerie setelah mengecek ponsel miliknya, ada begitu banyak panggilan telepon masuk tidak terjawab dan pesan masuk dari Nathaniel dan itu 1 jam lalu. Sontak Valerie terdiam mematung menatap notifikasi yang menghiasi ponselnya. Satu jam lalu terakhir kali Nathaniel menghubunginya dan mengirim pesan namun sampai saat ini belum juga sampai menemuinya.
Dengan rasa penuh penasaran Valerie membuka semua pesan masuk dari Nathaniel dan betapa terkejutnya Valerie saat membaca pesan dari Nathaniel. Ternyata Nathan tidak bisa datang karena mendadak papanya masuk kerumah sakit karena penyakit jantungnya kumat lagi dan harus kembali ke Belanda bersama mamanya yang baru saja sampai di bandara, saat ini mungkin Nathaniel sudah berada di atas pesawat perjalanan menuju Belanda. Lalu keluarga siapa yang saat ini bersama dengan Valerie? Mengapa mereka begitu welcome menerima seolah sudah mengetahui akan kedatangan dirinya, sepertinya ada yang salah di sini. Valerie mencoba untuk menghubungi Nathan namun sayang ponselnya sudah tidak aktif. Celaka itulah yang sedang Valerie hadapi saat ini.
Sesampainya di depan kamar hotel dengan cepat Jeevan masuk dan melihat pemandangan begitu sejuk di dalam sana. Tawa ceria terlukis di wajah keluarganya, sepertinya mereka semua sedang dilanda rasa bahagia dan membuat Jeevan penasaran. Berbeda dengan wajah Jeevan yang terlihat begitu kebingungan dan gelisah akan apa yang diucapkan nanti kepada keluarganya, terutama kepada neneknya yang baru saja keluar dari rumah sakit. Jeevan takut jika tiba-tiba saja neneknya kembali masuk ruang ICU karena kabar darinya.
Seseorang perawakan tinggi tegap memakai kacamata dengan rambut model undercut menghampiri Jeevan yang masih terdiam menatap keluarganya. Jeevan masih terdiam mematung entah apa yang harus diucapkan olehnya saat ini. Nino sedikit keheranan saat melihat reaksi Jeevan seperti orang kebingungan.
"Dari mana aja lo?" tanya Nino seraya menghampiri Jeevan yang masih berdiri mematung tidak jauh dari pintu masuk.
"Siapa yang lo bilang tadi?" Jeevan balik bertanya saat tersadar dengan suara Nino yang menyadarkannya.
Nino terdiam menatap Jeevan sambil mengerutkan keningnya saat adiknya tidak menjawab akan pertanyannya lebih dulu, apalagi dengan wajah Jeevan yang terlihat kebingungan.
"Calon istri lo. Valerie," jawab Nino sambil menyebut nama Valerie.
Mendengar nama Valerie yang begitu asing baginya membuat Jeevan kaget bukan main, siapa Valerie yang dimaksud oleh kakaknya itu? Dan kenapa jadi Valerie bukannya Maura. Lagi-lagi Nino dibuat keheranan saat melihat ekspresi wajah Jeevan, kenapa adiknya terlihat begitu bingung dan terkejut saat mendengar nama Valerie. Apakah Nino salah menyebutkan namanya?
"Kenapa nih anak jadi bengong gini? lo kesambet?" tanya Nino lagi mencoba menyadarkan Jeevan namun adiknya hanya terdiam tak bergeming.
"Ternyata calon istri Lo model ya? Bisa-bisanya cari calon istri yang cantik kaya dia, terkenal lagi." Nino terus memuji Vale yang membuat Jeevan semakin dibuat kebingungan.
Model? Jeevan semakin tidak mengerti dengan semua ucapan Nino. Siapa yang dimaksud oleh Nino itu. Belum sempat Jeevan menjawab pertanyaan-pertanyaan Nino, dirinya kembali dibuat kaget saat melihat seseorang yang tidak dikenalnya muncul secara tiba-tiba dari arah kamar mandi, dia adalah Valerie. Jeevan tidak berkedip saat melihat Valerie untuk pertama kalinya, begitu cantik sekali. Rambutnya terurai sebahu kedua matanya yang sedikit oriental, kulitnya yang putih, serta bibir tipisnya berwarna merah muda membuat Jeevan terpesona. Seperti ada sesuatu yang mengusik hati dan pikirannya.
Bukan hanya Jeevan yang terlihat kaget, begitu juga dengan Valerie saat melihat sosok Jeevan di sana. Lelaki tampan yang begitu menarik perhatiannya. Keduanya saling menatap sesaat, tatapannya begitu tajam dan lekat seolah penuh tanda tanya yang mendalam. Sebenarnya apa yang sedang terjadi dan siapa dia? Itulah yang ada di dalam pikiran Jeevan saat ini.
"Calon istri lo cantik juga, ya?" puji Nino berbisik kepada Jeevan dengan kedua bola matanya menatap ke arah Valerie karena kagum tidak bisa berhenti menatapnya sejak tadi sampai Nino lupa jika dia sudah mempunyai istri.
Deg, kedua bola mata Jeevan membulat sempurna menoleh menatap Nino yang begitu terpukau menatap Valerie. Calon istri dari mana? Dan siapa yang bilang jika perempuan yang berdiri tidak jauh darinya adalah calon istrinya. Sepertinya benar di sini sudah terjadi sesuatu yang diluar rencananya. Dan dari mana perempuan cantik bermana indah itu muncul?
"Kamu dari mana saja, Van? Kasihan Vale menunggumu sedari tadi?" tanya mamanya Jeevan yaitu Deevina yang menyadari kedatangan putra bungsunya.
Valerie yang awalnya terlihat santai kini dibuat gugup dan gelisah ketika tahu jika mereka bukanlah keluarga dari kekasihnya yaitu Nathaniel. Pasti akan terjadi masalah besar saat ini yang menimpa Valerie.
"Em...Ma...Maaf, Ma. Jalanan macet," jawab Jeevan spontan sedikit terbata-bata dengan sedikit gugup seperti orang kebingungan.
Sepertinya Jeevan sudah terlambat untuk bertanya yang sebenarnya sudah terjadi di sini, yang bisa ditanyai saat ini adalah perempuan dengan bentuk tubuh yang sangat ideal, membuat Jeevan seolah enggan untuk memalingkan pandangannya. Sudah beberapa kali Jeevan dan Valerie mencoba untuk menjelaskan kesalahpahaman di sini, namun tidak diberi kesempatan untuk berbicara.
"Sini duduk. Kita ngobrol sama-sama," ajak neneknya yang terlihat sangat sumringah tidak seperti biasanya.
Apa yang sudah dilakukan oleh Valerie sehingga membuat situasi di kamar ini begitu sangat hangat dan bahagia. Jeevan belum pernah melihat nenek dan mamanya begitu sangat bahagia. Apa ini ada hubungannya dengan kehadiran Valerie?
Yang bisa dilakukan Jeevan saat ini adalah mengikuti alur cerita yang sudah terjadi, alur yang sepertinya sudah dibuat dan dirancang oleh Tuhan untuknya. Setelah makan bersama barulah Jeevan akan bertanya siapa perempuan yang tiba-tiba saja muncul ke dalam keluarganya. Seperti bidadari yang turun dari khayangan tanpa ada satu orang yang tahu. Selama berbincang kedua bola mata Jeevan terus mengawasi Valerie membuat perempuan penyuka senja merasa terintimidasi.
Valerie mulai tidak nyaman dengan sikap Jeevan yang terlihat dingin dengan tatapan tajam kepadanya, seperti hendak memangsanya. Kenapa juga Jeevan tidak bertanya kepada Valerie siapa dirinya, membuat Valerie merasa tidak enak hati. Sampai akhirnya mereka berdua diberi kesempatan untuk berbicara di dalam kamar. Saat itu Jeevan meminta izin kepada keluarganya untuk bicara empat mata dengan Valerie.
"Siapa kamu? Kenapa bisa kamu bilang calon istriku?" tanya Jeevan saat berhasil membawa Valerie dari keluarganya.
Glek, Valerie mulai ketakutan melihat wajah dingin Jeevan yang sepertinya marah kepadanya. Tapi ini bukan disengaja oleh Valerie, semua hanya salah paham dan Valerie juga terlambat mengetahuinya. Andai saja ponsel Valerie tidak dalam mode silent, pasti tidak akan seperti ini. Jeevan melihat ada ketakutan di wajah cantik Valerie, seperti kebingungan dirinya harus menjelaskan dari mana.
"Aku minta maaf, ini semua salah paham. Sepertinya aku salah masuk kamar," jelas Valerie dengan wajah kebingungan serta panik.
Jeevan masih terdiam seraya memperhatikan gerak-gerik Valerie, perempuan bermata coklat itu tidak berbohong kepadanya. Mungkinkah semua hanya kebetulan ataukah takdir yang sudah mempertemukan mereka berdua di saat yang tepat.
"Kenapa bisa kamu salah masuk? Memangnya kamu nggak mengeceknya sebelum masuk?" Jeevan terus memberikan pertanyaan kepada Valerie sehingga merasa bersalah sudah terlanjur mengenal keluarga Jeevan terlalu jauh.
Pertanyaan Jeevan membuat Valerie putus asa dan frustasi. Akhirnya Valerie menceritakan semuanya dari awal, namun sepertinya Jeevan belum percaya dengan apa yang diucapkan oleh Vale. Apalagi yang harus diucapkan oleh Valerie agar Jeevan percaya kepadanya. Sesekali Vale memejamkan kedua bola matanya seraya berpikir apa yang harus dilakukannya saat ini. Mereka semua sudah terlanjut mengetahui jika Valerie sebagai calon istri Jeevan, bisa saja Valerie memberitahu yang sebenarnya tapi ada seseorang yang dipikirkan oleh Valerie yaitu adalah neneknya Jeevan yang baru saja keluar dari rumah sakit kemarin karena serangan jantung.
"Sekali lagi aku minta maaf, dan aku akan bilang sama mereka yang sebenarnya kalau semua ini salah paham," ucap Valerie terlihat ketakutan dan kebingungan karena masalah yang baru saja dibuatnya.
Tiba-tiba saja terlintas di dalam pikiran Jeevan sebuah ide yang mungkin akan menyelamatkan dirinya saat ini. Kepergian Maura akan berdampak buruk bagi Jeevan dan keluarganya, apalagi jika papanya tahu jika Jeevan harus menunda pernikahannya karena Maura pergi meninggalkannya. Semua yang Jeevan inginkan akan hancur berantakan karena salah satu alasan Jeevan untuk menikah adalah agar mendapatkan anak cabang perusahaan milik papanya yang sudah disediakan jika dirinya sudah menikah nanti. Bukan hanya menyelamatkan dirinya saja tapi bisa menyelamatkan neneknya agar tidak kembali masuk rumah sakit karena kabar ini.
"Jangan!" Jeevan menahan Valerie yang hendak akan menghampiri keluarganya.
Sontak Valerie menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Jeevan yang sudah memegang lengan tangannya lebih dulu. Untuk yang kedua kalinya kedua bola mata Jeevan dan Valerie saling menyapa satu sama lain, tatapan Jeevan masih sama saat mereka bertemu, begitu lekat dengan nanar kagum menatap Valerie.
"Aku mohon padamu jangan lakukan ini sekarang," pinta Jeevan menatap lekat Valerie memohon.
Mendengar ucapan Jeevan membuat Valerie kebingungan dan keheranan, kenapa Jeevan menahan dirinya untuk memberitahu yang sebenarnya.
"Aku minta jangan bilangan sekarang sama mereka kalau kamu bukan calon istriku yang sebenarnya," jelas Jeevan sedikit memohon membuat Valerie semakin kebingungan.
Kenapa Jeevan melarang Valerie untuk memberitahu yang sebenarnya? Valerie tahu pasti akan ada masalah besar dan saat ini Valerie sudah siapa untuk menghadapinya.
"Apa maksudmu?" Valerie tidak mengerti sambil mengerutkan keningnya menatap Jeevan yang masih memegang lengan kanannya.
"Biar saja mereka menyangka kalau kamu adalah calon istriku untuk saat ini saja," jawab Jeevan yang terkenal dengan soft spoken-nya kepada perempuan.
Entah apa yang terjadi kepada Jeevan sehingga dirinya menyuruh Valerie melanjutkan kesalahpahaman yang telah dibuatnya. Apa Jeevan menyuruhnya untuk berbohong? Itulah yang Valerie rasakan.
"What! Are you crazy!" teriak Valerie kaget sambil mengibaskan tangan Jeevan yang masih menggenggam lengan kanannya membuat Jeevan sedikit kaget dan kecewa karena sepertinya rencana yang sedang disusun olehnya akan berantakan.
ku kasih bintang lima biar author nya tambah semangat lagi🤭💪