Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Luka Fisik dan Siksa Batin!
Kawasan hutan pinus Lembang perlahan ditelan oleh pekatnya malam. Suhu udara anjlok drastis, membawa embun beku yang menyusup masuk ke sela-sela serat kain dan menusuk pori-pori kulit. Di area perkemahan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, panitia telah menyalakan beberapa titik api unggun raksasa untuk mengusir hawa dingin. Suara gemeretak kayu bakar yang dilahap api dan kepulan asap putih yang membumbung ke udara berbaur dengan dengung obrolan ribuan mahasiswa yang sedang mengistirahatkan tubuh mereka setelah seharian digempur aktivitas fisik.
Namun, di dalam salah satu tenda pleton berwarna hijau army yang difungsikan sebagai posko medis darurat, hawa dingin yang sesungguhnya tidak berasal dari cuaca pegunungan, melainkan dari sebuah hati yang sedang sekarat.
Anandara Arunika duduk bersila di atas matras lipat tipis, punggungnya disandarkan pada ransel besar milik Rehan. Ia mengenakan jaket windbreaker tebal berwarna hitam, tudungnya ditarik hingga menutupi sebagian rambutnya yang masih sedikit lembap oleh sisa keringat dan embun. Di depannya, Sinta berlutut dengan wajah yang luar biasa serius dan sepasang mata yang masih membengkak parah.
Di tangan Sinta terdapat sebotol cairan rivanol, kapas steril, dan beberapa lembar plester luka. Bidadari ceria itu sedang beralih profesi menjadi seorang perawat yang sangat protektif.
"Perih sedikit ya, Nan. Tahan bentar. Ini lukanya banyak pasirnya, kalau nggak dibersihin nanti infeksi," bisik Sinta dengan suara seraknya. Tangan gadis itu bergerak dengan sangat hati-hati, sangat pelan, menyapukan kapas basah itu ke goresan panjang di pelipis kanan Anandara.
Setiap kali kapas itu menyentuh lukanya, Anandara sedikit mendesis. Namun, rasa perih dari goresan ranting dan batu di kulitnya itu sama sekali tidak ada artinya. Luka fisik itu tidak lebih dari sekadar sensasi geli jika dibandingkan dengan siksaan batin yang sedang mengoyak-ngoyak nuraninya dari dalam.
Anandara menatap wajah Sinta dari jarak sedekat ini. Ia melihat bagaimana kening sahabatnya itu berkerut penuh kekhawatiran. Ia melihat tangan Sinta yang sedikit bergetar setiap kali mengusap lukanya, seolah Sinta sendirilah yang sedang menahan rasa sakit itu. Sinta memperlakukannya layaknya sebuah porselen kaca yang tak ternilai harganya. Sinta merawatnya dengan kasih sayang yang begitu murni, tulus, dan tanpa pamrih.
Menyaksikan ketulusan itu, dada Anandara terasa seperti diinjak oleh sepatu bot besi berpaku.
Aku adalah seorang pengkhianat, batin Anandara merintih, jeritan keputusasaan yang bergema di dalam palung jiwanya yang paling gelap. Aku adalah makhluk paling menjijikkan di dunia ini.
Anandara menundukkan pandangannya, tak sanggup lagi menatap langsung ke dalam mata Sinta. Rasa bersalah menelan seluruh akal sehatnya. Ia teringat kembali pada debaran gila di jantungnya saat Angga menggenggam tangannya di tepi jurang tadi sore. Ia teringat bagaimana seluruh sel di tubuhnya meronta ingin membalas genggaman pemuda itu, ingin menarik diri ke dalam pelukan hangat Angga yang bersimbah darah.
Bahkan saat ini, di saat Sinta sedang mengobati lukanya, separuh otak Anandara masih memikirkan pemuda itu. Ia memikirkan bagaimana kondisi bahu Angga yang menghantam batu raksasa demi melindunginya. Ia mencemaskan luka di lengan pemuda itu. Ia merindukan sorot mata elang yang menatapnya dengan penuh kelegaan saat ia tersadar dari pingsan.
Kesadaran bahwa ia masih, dan semakin, mencintai pria yang sangat diidam-idamkan oleh sahabatnya sendiri membuat Anandara merasa lebih kotor dari lumpur yang menempel di sepatunya.
Ibu mengkhianati Ayah demi seorang pria asing, batin Anandara terus menyiksa dirinya tanpa ampun, menyayat luka lama yang belum mengering. Dan sekarang, apakah aku akan mengkhianati Sinta, gadis yang rela mati untukku, demi seorang laki-laki? Apakah darah pengkhianat itu benar-benar mengalir deras di nadiku? Apakah aku pada akhirnya akan menjadi monster yang sama seperti wanita itu?
"Nah, selesai," ucap Sinta, memecah lamunan kelam Anandara. Gadis berlesung pipi itu menempelkan plester luka terakhir di sudut dagu Anandara, lalu memundurkan tubuhnya. Sinta menghela napas panjang yang terdengar luar biasa lega.
Sinta membuang kapas kotor ke dalam kantong plastik, lalu kembali menatap Anandara. Mata Sinta kembali berkaca-kaca. Tanpa peringatan, Sinta menubrukkan tubuhnya ke depan dan memeluk leher Anandara dengan sangat erat.
"Jangan pernah... jangan pernah coba-coba ngelepasin tangan siapa pun lagi kalau lo lagi dalam bahaya, Nanda," isak Sinta di ceruk leher sahabatnya, suaranya pecah oleh trauma yang masih membekas. "Lo nggak tahu rasanya jantung gue berhenti berdetak pas lihat lo jatuh ke jurang itu. Gue pikir gue bakal kehilangan lo selamanya. Kalau sampai itu terjadi, gue nggak tahu cara ngelanjutin hidup gue."
Anandara membeku di dalam pelukan Sinta. Tangannya yang dingin perlahan terangkat, membalas pelukan itu dengan kaku. Ia menepuk punggung Sinta pelan-pelan. Di balik jaketnya, hati Anandara menangis darah.
"Maaf, Sin. Gue janji nggak akan ceroboh lagi," bisik Anandara dengan suara parau yang ia paksakan keluar dari tenggorokannya yang tercekat. Sebuah janji yang ia tujukan bukan hanya untuk keselamatan fisiknya, tetapi juga untuk keselamatan rahasianya. Ia berjanji tidak akan pernah melepaskan topengnya.
Tenda itu terbuka dari luar. Kiera dan Ami melongok masuk membawa dua gelas styrofoam berisi minuman panas yang uapnya mengepul, disusul oleh Rehan dan Reza yang membawa beberapa bungkus roti dan camilan.
"Nyonya Besar udah selesai diobatin?" tanya Rehan dengan nada yang berusaha ia buat ceria, meski gurat kelelahan dan syok masih tercetak jelas di wajah konyolnya. "Nih, panitia bagiin teh manis panas sama roti sobek. Makan dulu, Nan. Dari siang perut lo kosong, nanti asam lambung lo kumat lagi."
Sinta melepaskan pelukannya, mengambil salah satu gelas teh dari tangan Kiera, dan menyodorkannya pada Anandara. "Minum, Nan. Biar badan lo hangat."
Anandara menerimanya dengan senyum tipis. Kehadiran teman-temannya yang begitu solid dan penuh perhatian ini adalah anugerah terbesar dalam hidupnya. Mereka semua meninggalkannya acara malam keakraban di lapangan utama hanya untuk berkumpul di tenda medis ini demi menemaninya. Rasa hangat dari teh manis itu mengalir di kerongkongannya, namun tak sedikit pun mampu mencairkan kebekuan di hatinya.
"Kalian ke depan aja, ikut gabung sama anak-anak yang lain di api unggun," ucap Anandara lembut, merasa bersalah telah merepotkan circle-nya. "Gue udah nggak apa-apa. Tinggal pusing sedikit doang."
"Enak aja! Mana bisa kita senang-senang bakar marshmallow di luar sementara elo meringkuk di sini kayak korban penculikan," tolak Reza sambil duduk bersila di atas matras, membuka bungkus rotinya.
"Bener tuh," timpal Ami. "Kita ngumpul di sini aja. Lagian di luar berisik banget, panitia lagi ngadain acara games angkatan yang cringe abis. Mending kita di sini, tenang."
Anandara menghela napas pasrah. Ia tidak akan bisa mengusir sahabat-sahabat keras kepalanya ini.
"Eh, ngomong-ngomong soal di luar," Sinta tiba-tiba teringat sesuatu. Gadis itu menoleh ke arah pintu tenda yang terbuka sedikit, mengintip ke arah area api unggun yang berjarak sekitar dua puluh meter dari tenda medis mereka. "Angga... dia di mana sekarang ya? Tadi setelah tim medis balut lukanya, dia ngilang gitu aja bareng Dimas."
Mendengar nama itu disebut, tubuh Anandara seketika menegang. Cengkeramannya pada gelas styrofoam mengerat hingga air teh panas di dalamnya nyaris tumpah.
"Gue tadi lihat dia duduk di batang pohon tumbang dekat api unggun pinggir, sebelah timur dari sini," jawab Kiera santai sambil menyeruput minumannya. "Sama Dimas juga. Mereka berdua emang nggak suka keramaian kan."
Sinta menggigit bibir bawahnya. Ada rona kekhawatiran yang sangat mendalam di wajah gadis itu. "Gue... gue mau ke sana sebentar boleh nggak, guys? Gue mau mastiin keadaannya. Dia tadi nolak waktu panitia medis mau bawa dia ke rumah sakit terdekat buat rontgen bahunya. Gue takut lukanya makin parah karena hawa dingin ini."
Anandara menelan ludah. Ia memejamkan matanya sekilas, mengumpulkan sisa-sisa reruntuhan logikanya. Bagus, Sinta. Pergilah padanya. Dia membutuhkanmu. Dan kau membutuhkan dia, batin Anandara menghukum dirinya sendiri.
"Pergi aja, Sin," dorong Anandara dengan suara yang diatur sedatar dan setenang mungkin, memasang kembali topeng Nyonya Es-nya yang mematikan. Ia menatap Sinta dengan sepasang mata obsidiannya yang kelam. "Lo harus berterima kasih sama dia karena udah repot-repot nyelamatin gue. Pastikan lukanya nggak infeksi. Bawa aja sisa cairan antiseptik sama plester ini, siapa tahu perbannya kotor."
Sinta tersenyum lebar, merasa mendapat restu penuh dari sahabatnya. "Makasih, Nan! Gue cuma sebentar kok! Nanti gue balik lagi ke sini nemenin lo tidur."
Sinta segera mengambil kotak P3K kecil itu dan merapikan jaketnya sebelum berlari kecil keluar dari tenda.
Sepeninggal Sinta, Rehan menatap Anandara dengan alis bertaut. Pemuda plontos itu memang sering bertingkah konyol, namun ia bukanlah orang yang bodoh dalam membaca situasi.
"Nan," panggil Rehan dengan nada yang tak biasa, sedikit lebih serius. "Lo... lo beneran benci banget ya sama Angga?"
Anandara tak langsung menjawab. Ia menatap permukaan tehnya yang beriak tertiup angin malam yang masuk dari celah tenda. Pertanyaan Rehan itu sangat sederhana, namun dampaknya bagaikan memutar pisau di dalam lukanya.
"Kenapa lo nanya gitu?" Anandara berbalik menanya tanpa mengubah ekspresinya.
"Ya habisnya..." Reza ikut menimpali, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Waktu di jurang tadi, gue sama Rehan lihat dengan mata kepala kita sendiri gimana lo nepis tangan dia. Padahal dia udah nahan lo sekuat tenaga. Lo nyuruh dia ngelepasin lo, Nan. Lo teriak nggak sudi ditolong sama dia." Reza bergidik ngeri mengingat momen itu. "Sumpah, Nan, itu gila banget. Se-benci-bencinya orang, masa iya lebih milih mati jatuh ke jurang daripada ditolong sama musuhnya?"
Kiera dan Ami yang tidak melihat kejadian itu secara langsung langsung terkesiap dan menatap Anandara dengan mata membelalak tak percaya.
"Lo serius lakuin itu, Nan?!" pekik Kiera syok.
Jantung Anandara berdetak tak beraturan. Ia telah terpojok oleh fakta yang ia ciptakan sendiri. Ia harus memberikan jawaban yang masuk akal, jawaban yang akan menyegel kebenciannya pada Angga di mata semua orang, sehingga tidak ada satu pun yang akan mencurigai perasaannya yang sebenarnya.
Dengan sangat perlahan, Anandara mengangkat wajahnya. Ia menatap Rehan dan Reza dengan sorot mata yang luar biasa dingin, angkuh, dan tak tertembus. Sebuah pertunjukan teater kelas dewa yang ia mainkan untuk membohongi dunia.
"Gue nggak suka berhutang budi pada orang yang gue benci," jawab Anandara dengan artikulasi yang sangat jelas dan tajam, setiap suku katanya dilapisi oleh kebohongan yang mengiris hatinya sendiri. "Angga adalah laki-laki yang arogan. Gue muak melihat wajahnya. Gue muak dengan sikapnya yang selalu sok pahlawan. Saat gue bergantung di tebing itu, gue lebih memilih mengambil risiko jatuh daripada harus hidup dengan beban hutang nyawa pada laki-laki seperti dia. Sederhana, kan?"
Rehan, Reza, Kiera, dan Ami terdiam membisu. Mereka semua tahu seberapa keras kepalanya Anandara, namun kebencian yang mendidih di balik kalimat itu membuat mereka merinding. Mereka tidak tahu bahwa kebencian yang Anandara tunjukkan itu sebenarnya adalah sebuah perisai untuk melindungi perasaannya yang rapuh.
"Sinting lo, Nan," gumam Rehan akhirnya, menggelengkan kepalanya tak habis pikir. "Angga itu udah ngorbanin badannya sendiri buat jadi tameng lo pas ngehantam batu. Lengannya robek-robek. Bahunya mungkin retak. Dan lo masih ngomong kayak gitu? Se-enggak-punya-hati itukah lo?"
Aku sangat punya hati, Rehan. Dan karena aku punya hatilah, aku harus menghancurkannya, jerit batin Anandara menangis darah. Namun di luar, ia hanya memalingkan wajahnya ke arah dinding tenda, mengabaikan tatapan tak percaya dari teman-temannya. Ia membiarkan mereka menghakiminya. Ia membiarkan dirinya menjadi tokoh jahat dalam cerita ini.
"Gue capek. Gue mau tidur," final Anandara, menarik ritsleting sleeping bag-nya hingga sebatas leher, menyudahi percakapan itu secara sepihak dan menutup rapat semua akses komunikasi.
Di luar sana, menjauh dari tenda medis, angin malam pegunungan berhembus semakin kencang, membawa kabut tebal yang mulai turun menyelimuti bumi perkemahan. Cahaya dari api unggun raksasa di tengah lapangan menciptakan siluet-siluet panjang pepohonan pinus yang tampak seperti raksasa penjaga hutan.
Di sudut timur area perkemahan, agak jauh dari keramaian mahasiswa yang sedang bermain games dan bernyanyi diiringi petikan gitar, duduklah Angga Raditya dan Dimas.
Mereka duduk di atas sebuah batang pohon pinus yang tumbang. Di hadapan mereka, terdapat sebuah api unggun kecil sisa-sisa pembakaran kayu panitia yang tak terpakai. Suasana di antara kedua pemuda itu sangat hening.
Angga duduk dengan postur sedikit membungkuk. Kemeja flanelnya yang robek dan berlumuran darah telah ia ganti dengan jaket parka berwarna gelap miliknya sendiri, namun perban putih tebal yang melilit kedua lengan bawahnya terlihat mencolok di bawah cahaya api unggun. Tangan kanannya ia topangkan di atas paha, menahan bahunya yang masih berdenyut menyakitkan. Setiap tarikan napasnya terasa berat, bukan hanya karena hawa dingin, melainkan karena kelelahan fisik dan beban pikiran yang menyiksa otaknya.
Dimas duduk di sebelahnya, menyesap kopi panas dari gelas kertas sambil menatap kobaran api. Pemuda berkacamata itu tahu temannya sedang tidak ingin diajak bicara.
Pikiran Angga terus berputar mengulang kejadian di tepi tebing itu. Ia mengingat sentakan kasar di pergelangan tangannya. Ia mengingat tatapan tajam dan penuh kebencian dari mata hitam legam Anandara saat gadis itu menepisnya. "Gue nggak sudi ditolong sama lo!" Kalimat itu menggema berulang-ulang di kepalanya, lebih menyakitkan daripada hantaman batu raksasa yang meremukkan bahunya.
Sebenarnya kesalahan fatal apa yang gue perbuat sampai dia lebih memilih mati daripada menerima tangan gue? batin Angga merintih frustrasi, rahangnya mengeras. Gue udah ngorbanin segalanya buat nembus tembok es lo, Nanda. Tapi lo lebih milih hancur lebur di dasar jurang daripada ngebiarin gue masuk.
Keputusasaan mulai menyusup ke dalam hati Angga. Ia merasa seperti seorang pejuang yang terus-menerus memukulkan pedangnya ke arah dinding baja yang tak tertembus, hingga pedangnya patah dan tangannya hancur berdarah.
Di tengah keheningan yang menyiksa itu, terdengar suara langkah kaki yang mendekat, menginjak ranting-ranting kering.
Angga dan Dimas menoleh secara bersamaan.
Sinta berjalan menghampiri mereka. Gadis itu memakai jaket puffer tebal berwarna pink pucat, tangannya membawa kotak P3K kecil. Wajahnya yang biasanya selalu ceria kini terlihat sangat serius dan dipenuhi oleh gurat kekhawatiran yang mendalam.
Melihat kedatangan Sinta, Dimas otomatis memperbaiki letak kacamatanya. Jantung pemuda pendiam itu berdesir nyeri, namun ia segera menyembunyikannya di balik ekspresi datarnya yang sempurna. Ia tahu Sinta tidak datang untuknya.
"Sinta?" sapa Angga dengan suara baritonnya yang berat, berusaha duduk sedikit lebih tegak untuk menyembunyikan rintihan sakit dari bahunya.
"Maaf ganggu waktu istirahat kalian," ucap Sinta lembut, berhenti tepat di depan Angga. Gadis itu menatap lekat-lekat pada jaket Angga yang terlihat sedikit menggelembung di bagian bahu kanan, lalu turun menatap ujung perban yang mengintip dari balik lengan jaket.
Tanpa sengaja, mata Sinta menangkap sebuah noda merah segar yang baru saja merembes menembus perban putih di pergelangan tangan kiri Angga, tetesan darah yang kembali mengucur karena luka goresan yang terlalu dalam itu belum sepenuhnya menutup dan Angga terlalu banyak bergerak.
Melihat noda darah itu, dada Sinta mendadak terasa luar biasa sesak.
Rasanya seperti ada tangan kasat mata yang mencekik paru-parunya. Napas Sinta tertahan di tenggorokan. Rasa ngilu yang luar biasa menjalar dari ulu hatinya, menyebar ke seluruh tubuhnya. Ia merasakan sakit yang teramat sangat, sebuah simpati yang lahir dari dasar cintanya yang paling murni untuk pemuda di depannya ini.
Ini semua karena kecerobohan sahabatku, batin Sinta merintih, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. Pria yang aku cintai menghancurkan tubuhnya sendiri demi menyelamatkan orang yang paling aku sayangi. Tangannya pasti sangat sakit. Bahunya pasti hancur. Ya Tuhan, aku nggak sanggup lihat dia terluka kayak gini.
Sinta memejamkan matanya sekilas, mengusap kasar setetes air mata yang nyaris jatuh, lalu memberanikan diri melangkah lebih dekat. Ia berlutut di depan Angga, persis seperti yang ia lakukan siang tadi di dasar jurang.
"Perban lo tembus lagi, Angga," bisik Sinta dengan suara bergetar, menunjuk noda merah itu. Tangannya yang mungil terulur, menyentuh tepi lengan jaket Angga dengan gerakan yang luar biasa hati-hati, seolah takut menyakiti pemuda itu lebih jauh. "Biar gue ganti perbannya ya? Gue bawa cairan antiseptiknya Nanda. Bahu lo juga... apa lo mau gue panggilin panitia medis lagi buat ngasih obat pereda nyeri?"
Suara Sinta dipenuhi oleh permohonan dan kasih sayang yang begitu telanjang. Siapa pun yang mendengar nada suaranya akan tahu bahwa gadis ini telah menyerahkan seluruh hatinya tanpa sisa.
Dimas yang duduk tak jauh dari mereka, membuang pandangannya ke arah api unggun. Pemuda berkacamata itu menelan ludah yang terasa sepahit empedu. Menyaksikan gadis yang ia cintai menangisi dan merawat pria lain di depan mata kepalanya sendiri adalah bentuk penyiksaan visual yang sangat kejam.
Angga terdiam. Ia menatap wajah Sinta yang berada sangat dekat dengannya. Ia melihat mata Sinta yang berkaca-kaca, ia merasakan sentuhan lembut tangan gadis itu di ujung lengan jaketnya. Ketulusan Sinta benar-benar tak terbantahkan. Gadis ini menawarkan kehangatan, perlindungan, dan sebuah tempat untuk bersandar yang sangat nyaman.
Namun... hati Angga sama sekali tidak merespons.
Tidak ada debaran gila di dadanya. Tidak ada sengatan listrik saat kulit mereka bersentuhan tipis. Tidak ada dorongan untuk membalas pelukan atau mengusap air mata gadis itu. Yang Angga rasakan hanyalah sebuah rasa hormat yang mendalam dan rasa terima kasih yang tak terhingga sebagai seorang teman, tidak lebih dari itu.
Di saat Sinta menatapnya dengan penuh cinta, tatapan mata elang Angga tanpa sadar justru terangkat, bergerak melewati bahu Sinta, membelah kegelapan malam, melintasi jarak dua puluh meter, dan mengunci pada satu titik di kejauhan.
Di sana, di ambang pintu tenda pleton medis yang sedikit terbuka, berdiri sosok Anandara.
Gadis yang tadi mengaku ingin tidur itu, ternyata diam-diam keluar dari sleeping bag-nya dan berdiri menyandar pada tiang tenda. Wajah pucatnya diterangi oleh cahaya remang-remang lampu darurat.
Dan pada detik itulah, tatapan mereka beradu kembali.
Jarak mereka cukup jauh, terhalang oleh kabut tipis dan kegelapan malam, namun tatapan itu seolah memiliki jalur tolnya sendiri yang melesat tanpa hambatan. Mata hitam legam Anandara bertabrakan dengan mata elang Angga.
Bumi seolah berhenti berputar untuk kedua kalinya hari ini. Waktu membeku dalam resonansi penderitaan yang sama.
Angga diam. Tubuhnya menegang sempurna. Ia membiarkan Sinta merawat lengannya, namun seluruh atensinya, seluruh jiwanya, telah terbang menyeberangi lapangan perkemahan itu dan mendarat di kaki Anandara.
Dari jarak sejauh itu, Angga berusaha membaca mata gadis tersebut. Ia ingin tahu, apakah Anandara merasakan hal yang sama melihatnya dirawat oleh Sinta? Apakah ada sedikit saja rasa cemburu yang mengoyak dinding es itu? Apakah gadis itu akhirnya akan menyerah dan mengakui kelemahannya?
Namun, apa yang Angga lihat di mata Anandara adalah sesuatu yang jauh lebih rumit, jauh lebih gelap, dan jauh lebih menyayat hati daripada sekadar cemburu.
Mata hitam legam Anandara menatap lurus ke arahnya, tidak berkedip. Tidak ada kilatan kemarahan, tidak ada kebencian yang tadi ia pamerkan di tebing, dan tidak ada air mata. Yang ada hanyalah sebuah kekosongan yang absolut, sebuah kepedihan yang sangat dalam dan sunyi, kepedihan seorang martir yang sedang menyaksikan pengorbanannya dieksekusi secara perlahan.
Tatapan itu tidak bisa ditebak oleh logika mana pun. Tatapan itu seolah berkata: 'Inilah akhirnya. Inilah tempatmu yang sesungguhnya. Berbahagialah dengannya, dan lupakan aku.'
Dada Angga terasa seperti dihantam godam raksasa. Sesuatu yang sangat perih meremas jantungnya. Ia merasa ditolak untuk kesekian kalinya, namun kali ini penolakan itu tidak dilakukan dengan kata-kata kasar, melainkan dengan sebuah keikhlasan yang mematikan.
Di ambang pintu tenda, Anandara mengepalkan kedua tangannya di dalam saku jaketnya dengan sangat kuat hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri.
Ia baru saja menyaksikan bagaimana Sinta menatap luka Angga dengan mata yang begitu penuh cinta dan kepedihan. Ia menyaksikan bagaimana Sinta berlutut merawat pemuda itu. Pemandangan itu adalah sebuah mahakarya pengorbanannya yang telah rampung. Sempurna tanpa cela.
Saat mata elang Angga menatapnya, Anandara tidak memalingkan wajahnya dengan terburu-buru. Ia membiarkan kontak mata itu bertahan selama beberapa detik, membiarkan jiwa mereka saling berpamitan dalam kebisuan malam. Ia menelan seluruh rasa sakit yang membakar rongga dadanya, mengunci rapat pintu hatinya yang berdarah, dan mengubah dirinya menjadi bongkahan es abadi.
Dengan gerakan yang sangat lambat, sangat pelan, dan luar biasa anggun, Anandara memutuskan kontak mata itu. Ia memalingkan wajahnya, memutar tubuhnya, dan melangkah masuk kembali ke dalam kegelapan tenda medis, menghilang sepenuhnya dari pandangan Angga.
Gadis itu pergi, meninggalkan Angga yang terperangkap dalam jaring kebingungan dan rasa frustrasi yang semakin menumpuk.
Angga masih menatap kosong ke arah tenda medis yang telah tertutup rapat itu. Rahangnya mengeras sedemikian rupa hingga otot-otot di wajahnya menegang. Rasa nyeri di bahunya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa nyeri akibat diabaikan oleh tatapan misterius itu.
Gue nggak akan biarin lo pergi gitu aja, Nanda, batin Angga meronta-ronta, sebuah tekad baja yang semakin membara di tengah kedinginan malam. Sebesar apa pun rahasia yang lagi lo tutupin, sekeras apa pun lo mencoba ngusir gue dan numbalin Sinta di tengah kita, gue bakal hancurin tembok itu. Gue bakal bongkar kebohongan lo, Nyonya Es.
Di sebelahnya, Dimas yang sejak tadi hanya memperhatikan arah pandangan Angga yang terkunci pada tenda medis, dan juga melihat Sinta yang dengan penuh kasih sayang membalut lengan Angga, kembali menghela napas panjang.
Pemuda berkacamata itu menengadahkan kepalanya, menatap langit malam Lembang yang pekat tanpa bintang.
Ia kembali menggelengkan kepalanya pelan, sangat pelan. Sebuah senyum sinis yang sarat akan ironi dan kepahitan tersungging di bibirnya.
Drama yang sangat sempurna, batin Dimas mengutuk takdir mereka berempat. Sinta merawat luka fisik Angga. Angga merawat luka penolakan dari Nanda. Nanda merawat luka pengorbanannya demi Sinta. Dan gue merawat luka patah hati gue sendiri. Kita berempat sedang berdarah di dalam hutan ini, dan bodohnya, tidak ada satu pun dari kita yang berani meminta obat penawarnya yang sebenarnya.
Malam itu, di bawah bayang-bayang pohon pinus yang menjulang tinggi, api unggun kecil di depan mereka terus menyala, memberikan kehangatan yang palsu pada tubuh yang kedinginan, persis seperti topeng-topeng kebohongan yang sedang mereka kenakan untuk melindungi hati yang sebenarnya telah hancur berkeping-keping.
pengamat Senja_