Satu malam karena pengaruh alkohol, Arkananta Mahendra merenggut segalanya dari Zevanya Adistira, seorang pelayan hotel Arkan pergi tanpa tahu wajah wanita itu, meninggalkan Zevanya dengan janin yang tumbuh di rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Tanda Lahir
Keesokan harinya,
Zevanya memasuki kantor dengan perasaan canggung.
Ia melihat Arkananta mahendra yang sudah berdiri di depan pintu lobi,
Seolah menunggu kedatangannya.
Namun Zevanya memilih untuk mengabaikannya,
tiba tiba langkahnya terhenti saat kakinya tersandung.
Tubuhnya oleng,
namun sepasang tangan arkan menangkap tubuh Zevanya.
Hingga Mereka saling bertatapan,
"Akh..."
Rintih zevanya.
"Stop, Arkan!"
Tiba tiba suara Clarissa memecah suasana.
Arkan tersentak,
refleks melepaskan tubuh Zevanya dengan canggung.
"Bagus ya, pagi-pagi sudah berpelukan dan saling menatap! Murahan sekali kamu, Zevanya!"
Ucap Clarissa sambil bertepuk tangan dengan sinis.
"Nona, tolong jangan salah paham. ini tidak sengaja,"
Ucap Zevanya dengan suara bergetar.
"Tidak sengaja? Selalu itu alasanmu setiap kali terlihat berduaan dengan Arkan!"
Ucap Clarissa berteriak.
Arkan menatap Clarissa dan berteriak.
"Cukup, Clarissa!"
Kemudian Arkan Menarik tangan Zevanya untuk pergi.
"Ayo, Zevanya, saya antar ke ruanganmu."
Setelah menjauh dari clarissa,
arkan kemudian mendekat ke arah wajah Zevanya,
"Tuan,"
ucap zevanya dengan suara gugup.
arkan menempelkan jari telunjuknya ke bibir Zevanya,
"Tidak perlu dijelaskan lagi. Zevanya, maukah kamu berkencan denganku malam ini?"
Zevanya terkejut. "Kencan?"
"Ya, makan malam sepulang kantor,"
ucap Arkan.
Zevanya sempat ragu,
memikirkan Arsen yang di rumah sendirian.
Namun,
melihat tatapan memohon Arkan,
ia akhirnya mengangguk.
"Baiklah, Tuan Arkan."
Setelah Clarissa melihat arkan dan zevanya pergi,
Clarissa segera menelepon ibunya, Siska wijaya.
"Mah, aku tidak tahan lagi! Wanita itu semakin berani. Tadi pagi dia bahkan berpelukan dengan Arkan!"
Siska meradang.
"Tenang, Sayang. Mama akan ke sana. Kita bawa dia keluar kantor agar kita bisa memberinya pelajaran tanpa diketahui Arkan."
Ucapan siska itu didengar oleh Hendra dari kejauhan.
Hendra merasa malu mendengar rencana istrinya.
"Benar-benar keterlaluan. Siska ingin membuat malu keluarga Wijaya,"
Ucap Hendra,
lalu ia bergegas mengikuti siska secara diam-diam.
Sesampainya di kantor,
Siska dan Clarissa masuk ke ruangan Zevanya.
Dengan berpura-pura baik,
mereka membujuk Zevanya agar mau diajak bicara di luar.
Zevanya yang terpancing akhirnya menurut.
Namun, begitu tiba di area yang sepi,
PLAK!
Tiba tiba Siska menampar Zevanya dengan keras.
"Ini pelajaran karena kamu sudah berani menggoda calon suami anakku!"
"Saya tidak menggoda tuan arkan! Bukankah pertunangan nona clarissa dan tuan arkan sudah batal?"
jawab Zevanya,
air mata mengalir di pipinya.
Clarissa yang murka menjambak rambut Zevanya.
Hingga baju Zevanya sedikit tersingkap,
memperlihatkan tanda lahir di pundaknya.
Dari kejauhan,
Hendra melihat siska dan clarissa,
ia turun dari mobil dengan segera
Kemudian hendra tersentak,
saat melihat tanda lahir di pundak zevanya.
Itu seperti tanda lahir yang sama dengan putriku yang hilang belasan tahun lalu...
batin hendra.
"Cukup, Siska! Clarissa!"
Hendra akhirnya berteriak saat melihat clarissa menarik rambut Zevanya.
Ia segera memisahkan mereka.
"Ayah? Kenapa Ayah membantu wanita miskin ini?"
Ucap Clarissa histeris.
Hendra tidak memperdulikan clarissa.
Ia justru dengan lembut membantu Zevanya berdiri,
" Cukup, kalian berdua sudah keterlaluan. Kalian berdua benar-benar membuat malu keluarga Wijaya. Sekarang, pulang!"
Siska dan Clarissa terdiam kaku,
mereka tidak percaya melihat sikap Hendra yang biasanya diam kini murka,
demi membela seorang "wanita miskin".
Kemudian Hendra membantu zevanya kembali masuk ke area kantor,
Hendra sempat menahan napas sejenak.
memberanikan diri lagi untuk melihat kembali pundak Zevanya yang masih tersingkap.
"Tanda itu..."
batin Hendra.
"Benar-benar sama. Letaknya, bentuknya... persis seperti milik putri kecilku yang hilang belasan tahun lalu. Mungkinkah Zevanya adalah putri kecilku yang hilang?"
batin hendra.
Zevanya kemudian menunduk,
menatap Hendra dengan sorot mata yang penuh rasa terima kasih.
"Tuan, terima kasih banyak sudah menyelamatkan saya.
Saya pikir Anda akan membantu Nona Clarissa dan Nyonya Siska untuk menyakiti saya."
Hendra menatap Zevanya ada kerinduan yang sangat dalam.
"Tidak, Kalau begitu, saya permisi."
Begitu masuk ke dalam mobil,
Siska wijaya yang sudah menunggu dengan wajah merah padam berteriak.
"Kamu itu kenapa, Hendra?! Kenapa kamu malah membantu wanita miskin itu? Dia sudah membuat anak kita menangis!"
Hendra menatap siska wijaya,
"Berhenti memikirkan perasaan Clarissa sebentar saja, Siska!
Aku tadi melihat tanda lahir di pundak wanita itu. Itu tanda lahir yang sama persis dengan putri kita yang hilang!"
Siska tersentak.
Wajahnya pucat seketika,
namun ia menutupinya dengan tawa sinis.
"Apa? Tanda lahir? Hendra, tanda lahir seperti anak kandung kita itu banyak yang punya! Itu pasti hanya sebuah kebetulan.
Lagi pula, tadi aku tidak melihat hal konyol seperti itu."
ucap siska wijaya,
Namun di dalam lubuk hati Siska,
getaran aneh itu semakin kuat.
Setiap kali ia melihat Zevanya,
ada perasaan tidak tega yang selalu ia paksa untuk marah.
"Apa benar yang dikatakan suamiku?"
batin Siska gelisah.
Namun Hendra tidak memperdulikan ucapan siska.
"Sudahlah, Siska. Aku tidak peduli dengan ucapanmu. Aku akan mencari tahu asal-usul Zevanya.
Jika benar dia putri kita yang hilang, berhenti bersikap kasar padanya!"
"Tidak mungkin!"
Siska tertawa,
meski tangannya bergetar hebat.
"Hendra Wijaya, buang kegilaanmu itu! Dan kamu tidak perlu repot-repot mencari tahu tentang perempuan itu!"
"Terserah apa katamu, Siska,"
jawab Hendra dingin.
"Aku akan tetap mencari kebenarannya."
Sementara Arkan datang menghampiri zevanya.
"Zevanya, apa kamu sudah siap?"
tanya Arkan.
Zevanya mengangguk.
"Sudah, Tuan."
Kemudian mata Arkan melihat tangan zevanya yang terluka.
Arkan meraih tangan Zevanya dan menatapnya dengan raut wajah yang cemas.
"Zevanya... kenapa dengan tanganmu? Kenapa memerah parah seperti ini?"
tanya Arkan dengan nada panik.
Zevanya tersentak.
Ia menarik tangannya dari genggaman arkan,
Dalam hatinya,
ia ingin berkata jujur bahwa ini perbuatan Siska dan Clarissa.
Namun,
Zevanya takut membuat siska dan clarissa akan semakin marah jika ia memberitahukan nya pada arkan,
Ia tidak ingin memicu kemarahan yang lebih besar lagi.
"Tidak apa-apa, Tuan,"
jawab Zevanya dengan senyum yang dipaksakan.
"Tadi hanya... tidak sengaja tertindih laptop saat aku mengantuk di meja kerja. Mungkin aku terlalu lelah,"
Ucap zevanya berbohong.
Arkan menatap mata Zevanya dalam-dalam,
ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan.
"Tanganmu merah sekali, Zevanya. Ini tidak mungkin hanya karena tertindih laptop. Biar aku obati dulu,"
ucap Arkan.
Arkan menarik kursi dan meminta Zevanya duduk.
Dengan sangat hati-hati,
ia mengambil kotak P3K dari laci kantornya.
Ia mengoleskan salep dengan sentuhan yang sangat lembut,
Zevanya hanya bisa diam,
menahan napasnya.
Sentuhan lembut Arkan membuat hatinya bergetar.
Ia tidak menyangka,
pria yang baru saja ia ketahui sebagai ayah dari anaknya itu bisa begitu perhatian di balik sikapnya yang dingin.