" Nak. Ayo kita pulang, tak baik loh melamun di waktu senja, apalagi kamu melamun nya di bawah pohon randu." Tegur wanita tua, lembut dan tersenyum hangat kepada pemuda berusia 20 tahun.
" Ehk. Nek... Ayo.." Jawab pemuda itu tak beraturan ucapannya. Lalu bangkit dari tempat duduk di bawah pohon itu.
" Kamu kenapa Nak. Akhir akhir ini Nenek perhatikan kamu suka melamun seorang diri?"
" Gak kenapa-kenapa kok Nek." Jawab nya.
" Hmmmmmmm.." Gumam Nenek tak puas dengan jawaban dari pemuda yang kini berjalan berbarengan pulang ke rumah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
EPISODE 17: JARINGAN YANG MULAI TERUNGKAP
Intan sedikit terkejut dengan bisikan Langit, tapi segera mengangguk dengan wajah yang serius.
"Baik Langit, hati-hati ya. Kalau ada apa-apa segera beri tahu aku."
Dia lalu menarik Adel dan Adi masuk ke rumah dengan cepat, menutup pintu dengan hati-hati sambil tetap mengawasi dari balik jendela dengan rasa penasaran yang memuncak.
Sementara itu, Langit melangkah perlahan ke arah ujung rumah Intan. Tubuhnya menyelinap lincah di balik pepohonan dan pagar bambu. Matanya tetap terpaku tajam pada arah di mana lelaki tegap itu bersembunyi. Setiap langkahnya terkontrol sempurna, tidak mengeluarkan suara sedikitpun, layaknya seorang pemburu yang sedang mengintai mangsa.
Ketika jarak sudah cukup dekat, ia bersembunyi di balik pohon jambu yang rindang. Dari sana ia melihat jelas lelaki itu sedang berbicara lewat telepon dengan suara rendah.
"Target sudah kembali ke rumahnya. Saya akan lanjut memantau seperti yang diperintahkan. Ya Pak, saya akan pastikan tidak ada yang salah."
Langit merenung sejenak.
'Siapa yang menyuruhnya? Pardi kah? Atau orang lain yang lebih berkuasa?'
Tanpa berpikir panjang, dia melompat cepat dari balik pohon dan menepuk bahu lelaki itu dengan kuat.
"Siapa kamu? Dan kenapa kamu memata-matai kami?"
Lelaki itu terlonjak kaget dan berbalik dengan cepat, tangannya siap mengepal untuk menyerang. Namun saat melihat wajah Langit yang tenang namun memancarkan wibawa yang menakutkan, tangannya langsung luruh dan diturunkannya dengan takut-takut.
"Aku... aku tidak ada maksud jahat. Aku hanya bekerja untuk seseorang saja, Tuan."
"Untuk siapa?" tegas Langit menekan. "Jangan bilang kamu tidak tahu! Aku sudah melihat kamu mengawasi kita berkali-kali!"
KEDATANGAN DEWI
Belum sempat lelaki itu menjawab, suara langkah kaki terdengar mendekat. Mereka berdua menoleh dan melihat Sri berjalan bersama seorang wanita muda yang mengenakan baju merah muda mencolok.
Wanita itu memiliki wajah yang mirip dengan Sri, namun auranya jauh berbeda. Jika Sri terlihat lembut dan polos, wanita ini memancarkan aura percaya diri yang tinggi, tatapan matanya tajam, licik, dan seolah bisa menembus isi hati orang lain.
"Sri? Bu Sri... kenapa kamu kesini?" tanya Langit sedikit heran.
Sri tersenyum pelan lalu memperkenalkan wanita di sampingnya.
"Ini adikku, Dewi. Aku bilang padanya kalau kamu anak baik, jadi dia ingin sekali kenalan langsung sama kamu."
Tanpa basa-basi, Dewi langsung melangkah mendekat, senyumnya manis namun terasa menusuk.
"Halo Langit... Aku sudah sering dengar cerita tentangmu dari Kakakku. Katanya kamu anak baik, polos, dan suka menolong. Tapi... kok aku melihatnya berbeda ya? Kamu tampak jauh lebih dewasa dan misterius dari yang aku bayangkan."
Ucapan itu membuat Langit semakin waspada. Instingnya mengatakan wanita ini berbahaya.
Tiba-tiba, lelaki yang tadi dia interogasi itu langsung berjalan mendekati Dewi dan mengangguk hormat.
"Bu Dewi, tugas saya selesai mengawasi seperti yang diperintahkan. Laporan sudah siap."
DOR!
Seperti tersambar petir, Langit langsung menyadari kebenarannya.
JADI DEWI INILAH YANG MENYURUH ORANG ITU MEMANTAU DIRIKU!
"Aku mendengar suara mata mata itu ketika menelepon, dia menyebut nama pak, tapi ketika yang datang adalah wanita, hmmmmm. Menarik. " Guman Langit tersenyum licik di hati Langit.
"Sekarang kamu sudah tahu kan Langit?" ucap Dewi dengan nada yang sedikit menyindir. "Kakakku Sri ini kan baik hati, dia cuma ingin tahu kebenaran tentangmu dan juga gerak-gerik suaminya Pardi. Aku hanya membantu dia saja. Tapi ternyata... kamu tidak sesederhana yang terlihat di mata orang banyak ya?"
"Jika berkenan dan ada waktu, esok malam kita mengobrol panjang lebar. Nanti Kak Sri juga ikut. Bagaimana Langit?" tambahnya cepat.
Langit terdiam sesaat, terkejut dengan keberanian dan kelicikan wanita di hadapannya ini. Namun ia segera menetralkan detak jantungnya dan kembali tenang.
"Baiklah. Tapi tidak bisa besok, saya ada urusan penting yang tidak bisa dibatalkan. Bagaimana kalau hari Minggu sore? Kita ngobrol santai di saung dekat sungai itu," jawab Langit sambil menunjuk ke arah gugusan pohon Randu di kejauhan.
"Oke, deal! Tidak masalah hari Minggu," jawab Dewi antusias. Ia lalu menoleh ke arah kakaknya. "Kak Sri gimana? Hari Minggu kan pas libur, sekalian piknik saja. Tempatnya asri, anak-anak juga bisa main air atau berenang kan asik?"
Sri hanya mengangguk setuju, wajahnya terlihat biasa saja seolah tidak mengerti betapa besarnya permainan yang sedang dimainkan adiknya ini.
Setelah sepakat, ketiga orang itu pun pamit pulang. Langit sendiri langsung berbalik arah, langkahnya cepat menuju rumahnya.
PIKIRAN LICIK LANGIT
Dalam perjalanan, otak Langit bekerja keras memutar segala kemungkinan.
'Ini tidak sederhana... Ini pasti berkaitan erat dengan jati diriku, dengan masa lalu yang coba disembunyikan Nenek.'
'Dewi... wanita muda cantik tapi otaknya penuh strategi dan licik. Sedangkan Bu Sri... dia tampak seperti bayi yang baru turun ke dunia yang kejam ini, tidak tahu apa-apa dan hanya dimanfaatkan.'
Seringai tipis mulai terbentuk di bibir Langit, sebuah senyuman yang jauh dari kesan polos bocah seperti biasanya.
"Semua saling terjerat satu sama lain..." bisiknya dalam hati.
"Bolehkah aku menjadi serakah? Menjerat mereka semua... mulai dari Intan, Sri, hingga Dewi. Sedangkan suaminya Intan dan suaminya Sri... mereka hanyalah batu loncatan tak berarti bagiku."
Langit saat ini terlihat sangat licik dan penuh perhitungan.
"Aku tidak ingin menyakiti mereka... sungguh. Tapi mereka semua sudah tanpa sadar terjebak dalam rahasia besar yang menyangkut diriku. Aku harus menjerat mereka semua agar kebenaran bisa keluar satu per satu. Tidak ada jalan lain."
Tak terasa ia sudah sampai di depan pintu rumah neneknya. Ia memutuskan tidak mampir ke rumah Intan dulu karena matahari sudah mulai condong ke barat, senja akan segera tiba.
Pintu rumah tidak dikunci, pertanda Nenek ada di dalam. Langit masuk dan mencari-cari sosok wanita tua itu, namun ruang tamu kosong melompong.
Tiba-tiba langkah kakinya terhenti tepat di depan kamar Nenek.
Dari balik dinding bilik kayu yang tipis itu, terdengar jelas suara Nenek Wati sedang berbicara... tapi anehnya, ia berbicara seorang diri seolah sedang menceritakan sesuatu atau berdoa dengan nada yang sangat berat dan penuh beban.
CATATAN PEMBACA:
SESUDAH MEMBACA JANGAN LUPA KLIK LIKE YA!
SYUKUR-SYUKUR DAPAT VOTE DAN GIFT KALAU KALIAN SUKA DENGAN CERITA INI.
JANGAN LUPA JUGA ADD KE LIBRARY / FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATE SELANJUTNYA!
SALAM DARI ANAK KAMPUNG,
ARIS.
"Bersambung.