NovelToon NovelToon
James Reaper: Pembalasan Tanpa Ampun

James Reaper: Pembalasan Tanpa Ampun

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: BRAXX

Setelah pertempuran di hutan Sylven melawan Elias dan para pemburu harta karun, James Brook kembali ke Crescent Bay dan kehidupan di Pearl Villa perlahan kembali normal. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama ketika ia menemukan sebuah paket misterius di dalam mobilnya.

Di dalam paket tersebut terdapat foto lama kakeknya, Timothy Brook, bersama seorang wanita yang tidak dikenal. Petunjuk ini membawanya pada Olivia Pierce, yang kemudian mempertemukannya dengan Edna Winslow, kakak dari nenek kandung James.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Takdir!!

Léo berdiri di samping Reaper, matanya berkilau penuh kenakalan. "C’est toi qui paies, hein ? (Kau yang traktir, kan?)"

Reaper meliriknya, senyum tipis muncul di wajahnya. "Bien sûr. (Tentu saja.)"

Léo menyeringai lebih lebar. "C’est drôle, non? (Lucu, kan?)"

Reaper sedikit memiringkan kepala. "Pourquoi drôle? (Lucu kenapa?)"

Léo melipat tangannya, berpura-pura berpikir dalam. "Je ne connais même pas ton nom. Maman aussi me l’a demandé tout à l’heure. (Aku bahkan tidak tahu namamu. Mama juga tadi menanyakannya.)"

Reaper tertawa pelan, "Qu’est-ce que tu vas faire de mon nom? (Apa yang akan kau lakukan dengan namaku?)"

Léo mendekat, menurunkan suaranya seolah membagikan rahasia. "Mystérieux, hein ? J’aime bien. C’est super cool. (Misterius, ya? Aku suka. Keren sekali.)"

Reaper menggeleng pelan, tapi tidak ada penolakan nyata di ekspresinya.

Mereka mendekat ke kedai kecil itu, berdiri di tepi kerumunan. Reaper memesan dua cangkir cokelat panas. Penjual mengangguk dan mulai menyiapkannya, uap perlahan naik ke udara dingin.

Celiné berdiri beberapa langkah dari sana bersama teman-temannya, sama sekali tidak menyadari badai yang ia ciptakan di dunia orang lain. Ia berbicara dengan santai, tidak bisa diabaikan oleh Reaper meskipun ia mencoba.

Jantung Reaper mulai berdetak lebih cepat tanpa izin. Senyum kecil dan polos muncul di wajahnya bahkan sebelum ia menyadarinya.

Léo melihatnya. Bocah itu menyenggol Reaper dengan sikunya, senyum menggoda menyebar di wajahnya.

Sebelum Reaper sempat bereaksi, sebuah suara datang dari samping. "Vous êtes déjà amis, tous les deux ? (Bukankah kalian berdua sudah seperti teman sekarang?)"

Reaper berbalik.

Celiné berdiri di sana, menatap mereka dengan senyum penasaran. "Léo, espèce de petit fauteur de troubles. Pourquoi tu continues à fuir ? (Léo, dasar pembuat masalah kecil. Kenapa kau terus lari dariku?)"

Léo membeku sejenak, benar-benar terkejut.

"Umm… grande sœur Céliné… je… je dois y aller. (Umm... Kakak senior Celiné... aku... aku harus pergi.)"

Sebelum Reaper sempat memprosesnya, bocah itu meraih cokelat dan payungnya lalu kabur. "Merci pour le chocolat, grand frère! (Terima kasih traktirannya, Kakak.)"

Reaper mengangkat tangannya refleks. "Hé, Léo… (Hei, Léo…)"

Tapi bocah itu sudah pergi.

Reaper berdiri di sana, memegang cangkirnya, tiba-tiba tersadar akan ruang di sekitarnya. "Umm… Hé. (Umm… hai.)"

Celiné tertawa pelan, “Hé. (Hai.)"

Salah satu temannya mendekat, matanya penuh rasa penasaran. "C’est ton ami? (Temanmu?)"

Celiné mengangguk sedikit. "C’est lui dont je vous ai parlé. Celui qui a sauvé le petit Léo. (Dia yang aku ceritakan. Yang menyelamatkan Léo kecil waktu itu.)"

Ekspresi gadis itu langsung berubah. "Ohh. Hé, mec. On a beaucoup entendu parler de toi ces derniers temps. (Ohh. Hai, bro. Kami sudah sering mendengar tentangmu belakangan ini.)"

Reaper sedikit bergeser, tidak sepenuhnya terbiasa dengan perhatian seperti ini. "Umm... ahh..."

Celiné tersenyum, matanya memiliki kilau bermain. "Alors, comment tu t’appelles, super-héros? (Jadi, siapa namamu, superhero?)"

Reaper berkedip. "Super-héros ? (Superhero?)"

Celiné sedikit memiringkan kepala, seolah jawabannya sudah jelas. "Quoi ? Tu sauves un enfant et tu disparais quand la police arrive. (Apa? Kau menyelamatkan anak itu lalu pergi saat polisi datang.)"

Ia mengangkat jarinya sedikit, seolah menjelaskan teori. "Il y a deux types de personnes qui fuient la police : les criminels, et ceux qui ne veulent pas de reconnaissance. (Ada dua tipe orang yang lari dari polisi. Yang melakukan kejahatan, dan yang tidak ingin mengambil pujian.)"

Reaper mendengarkan, sambil menyesap cokelatnya.

Celiné menatapnya dengan cermat. "Tu ne ressembles pas à un criminel. (Kau tidak terlihat seperti penjahat bagiku.)"

Hening sejenak.

"Donc tu ne veux pas de reconnaissance. C’est ce que font les héros. (Jadi kau tidak ingin pujian. Itu yang dilakukan para pahlawan.)”

Salah satu temannya tertawa pelan. "Regardez-la… la fan de super-héros est de retour. (Lihat dia. Si pecinta superhero mulai aktif lagi.)"

Celiné meletakkan tangannya di dahi, sedikit malu. "Hé, ne te moque pas! (Hei, jangan mengejek seperti itu.)"

Reaper tidak bisa menahan tawa kecilnya. Ia sedikit memiringkan kepala, nadanya mengandung sedikit rasa penasaran. "Comment tu peux être sûre que je ne suis pas un criminel? (Bagaimana kau bisa yakin bahwa aku bukan penjahat?)"

Celiné berkedip, terkejut dengan pertanyaan itu. "Quoi? Tu en es un? (Apa? Memangnya kau?)"

Untuk sesaat, keheningan turun di antara mereka.

Reaper menatapnya, lalu ia tertawa. "Je plaisante. (Aku bercanda.)"

Celiné menghela napas yang bahkan tidak ia sadari tadi ia tahan. "Ce n’est pas drôle. (Itu tidak lucu.)"

Namun ada senyum tipis di bibirnya. Ia menatapnya lagi, kali ini mengamatinya lebih saksama. "Tu es un proche de Léo ou quelque chose comme ça ? (Kau kerabatnya Léo atau semacamnya?)"

Reaper sedikit mengangkat alis.

"Il y a quelques jours, tu étais au café, en train de parler avec sa mère. (Beberapa hari lalu, kau ada di kafenya, berbicara dengan ibunya.)"

Mata Reaper sedikit melebar. "Tu as vu ça? (Kau melihat itu?)"

Celiné mengangguk, sedikit canggung sekarang. "Oui… enfin… c’était une baie vitrée. J’étais juste curieuse. (Ya. Maksudku... itu dinding kaca. Aku cuma penasaran.)"

Reaper menggelengkan kepalanya pelan. "Pas vraiment. C’était une coïncidence. (Tidak juga. Itu hanya kebetulan.)"

Ia menyesap lagi. "Je suis venu boire un café. Comme aujourd’hui. (Aku ke sana untuk minum kopi. Sama seperti hari ini.)"

Ia melirik sekeliling sebentar. "J’étais au marché, et il m’a retrouvé. (Aku sedang di pasar dan dia menemukanku lagi.)"

Celiné tersenyum. "Donc c’est bien lui. (Jadi memang dia.)"

Reaper memiringkan kepala. "Lui? (Dia?)"

Celiné melipat tangannya ringan, ekspresinya sedikit bermain. "Chaque fois que je le vois… je te trouve aussi. (Setiap kali aku melihat dia... aku menemukanmu.)"

Reaper terdiam sejenak. Lalu tersenyum kecil, agak canggung. "Oh… ça. (Oh... itu.)"

Ia memalingkan pandangan sejenak. "Encore une coïncidence, je suppose. (Hanya kebetulan lagi, kurasa.)"

Celiné menggeleng perlahan. "Non… je dirais plutôt que c’est le destin. (Tidak, lebih tepatnya seperti takdir.)"

Reaper mengulangnya pelan, hampir tanpa sadar. "Le destin… ? (Lebih tepatnya seperti takdir…?)"

...

Celiné meregangkan tangannya sedikit, menatap teman-temannya. "Qui paie aujourd’hui? (Siapa yang bayar hari ini?)"

Salah satu gadis langsung merogoh tasnya dengan percaya diri. "Moi! (Aku…)"

Tangannya mencari sebentar di dalam. Lalu ekspresinya berubah. "Oups… mon portefeuille… je l’ai oublié. (Ups... dompetku... aku lupa membawanya.)"

Hening sejenak, lalu tawa tertahan muncul dari kelompok itu.

Reaper melangkah maju tanpa ragu. "Je vais vous offrir. (Biar aku saja yang mentraktir kalian.)"

Celiné langsung menatapnya. "Comment on pourrait te laisser payer pour nous? (Bagaimana bisa kami membiarkanmu mentraktir kami?)"

Reaper menggeleng pelan, "Ce n’est pas grave. (Tidak apa-apa.)"

Salah satu gadis melambaikan tangan santai. "Laisse, on lui offrira la prochaine fois. (Biarkan saja. Nanti kami traktir dia lain kali.)"

Yang lain mengangguk setuju. "Oui, ce sera notre tour. (Ya, nanti giliran kami.)"

Celiné mengernyit, jelas tidak senang. "Mais vous êtes sérieux… ? (Kalian ini kenapa... jahat sekali?)"

Reaper tersenyum tipis. "Ce n’est vraiment pas grave. (Tidak apa-apa, sungguh.)"

Para gadis saling bertukar pandangan cepat, ekspresi mereka menyimpan kegembiraan yang berbeda.

Salah satu dari mereka mendekat ke temannya dan berbisik pelan. "Ils vont bien ensemble, non? (Mereka terlihat cocok, bukan?)"

Mata gadis itu berbinar. "Oui, carrément. Je ne l’ai jamais vue parler comme ça avec un garçon. (Benar sekali. Aku belum pernah melihat dia bicara dengan laki-laki seperti ini. Biasanya dia dingin sekali.)"

Yang lain langsung menyuruh diam. "Sst... nanti dia dengar. (Sst… elle va entendre.)"

Celiné menghela napas pelan, masih belum sepenuhnya setuju. "Désolée… je vais payer. (Maaf... biar aku saja yang bayar.)"

Reaper kembali menggelengkan kepalanya. "Non, laisse. C’est à moi de rendre la pareille. (Tidak apa-apa. Aku yang harus membalas.)"

Celine berkedip. "Rendre quoi? (Membalas apa?)"

Reaper mengeluarkan dompetnya, "D’être parti l’autre jour et de t’avoir tout laissé. (Karena kabur waktu itu dan meninggalkan semuanya padamu.)"

Senyum kecil muncul di wajahnya. "Alors… merci. (Kalau begitu... terima kasih.)"

Ia membayar minuman itu.

Reaper melirik jam tangannya, waktu sudah berjalan cepat.

Hujan hampir berhenti sekarang, hanya tersisa beberapa tetes yang jatuh dari langit.

"Je dois y aller. J’ai encore du travail. (Aku harus pergi. Aku masih ada pekerjaan.)”

Celiné mengangguk, meskipun ada sedikit keraguan di matanya. "Oh... baiklah. (Oh… d’accord.)"

Ia melangkah sedikit ke depan. "Au moins, dis-moi ton nom avant de partir. Moi, c’est Céliné. (Setidaknya beritahu namamu sebelum pergi. Perkenalkan aku Celiné.)"

Reaper menatapnya sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke teman-temannya. Senyum tipis muncul. "Je te le dirai la prochaine fois qu’on se verra. (Akan kuberitahu lain kali saat kita bertemu.)"

Ia berhenti sejenak. "Comme elles l’ont dit… ce sera à toi de m’offrir quelque chose. (Seperti yang mereka bilang... kau yang akan mentraktirku nanti.)"

Celiné tertawa pelan. "Tu es vraiment drôle. (Kau lucu sekali.)"

Lalu ekspresinya sedikit berubah, rasa penasaran mengambil alih. "Attends… comment je vais te retrouver? (Tunggu... bagaimana aku bisa menemukanmu?)"

Reaper berbalik, punggungnya sudah menghadap mereka. "Comme tu l’as dit… si c’est le destin, on se reverra, Céliné. (Seperti yang kau katakan... kalau itu takdir, kita akan bertemu kembali, Celiné.)"

Hening sejenak.

"À bientôt. (Sampai jumpa.)"

Ia berjalan pergi.

"Au revoir, super-héros. (Selamat tinggal, superhero.)"

Para gadis melambaikan tangan di belakangnya.

Salah satu gadis langsung menoleh ke arah Celiné, tidak bisa menahan kegembiraannya. "Il est vraiment beau, non ? (Dia sangat tampan sekali, bukan?)"

Celiné berdiri diam sejenak, menatap jalan kosong tempat ia menghilang. Ia tidak langsung menjawab.

Lalu berbicara pelan… "Il a l’air… mystérieux. (Dia terlihat... misterius.)"

...

Saat ini.

Sore hari di Pearl Villa.

Chloe dan Felix duduk di meja, sepenuhnya tenggelam dalam kompetisi mereka sendiri.

"Aku yang akan selesai duluan."

"Tidak, aku."

Pensil mereka bergerak cepat di atas buku, tekad terlihat jelas di wajah mereka.

Julian dan Sophie belum pulang, sibuk di Atelier, memastikan semuanya berjalan lancar seperti biasa.

Paula juga belum kembali. Pekerjaan menahannya lebih lama dari biasanya.

James duduk di sebuah ruangan yang tenang. Di samping tempat tidur.

Timothy Brook terbaring di sana, diam dan tak bergerak.

Perawat Maya merapikan selimut untuk terakhir kalinya sebelum melangkah mundur.

"Aku akan meninggalkan kalian berdua sendiri, bos." Ia tersenyum lembut. "Bicaralah dengannya. Kadang... mereka bisa mendengar."

James mengangguk pelan.

Maya keluar, menutup pintu di belakangnya..

James menatap pria tua itu.

Lalu di berbicara pelan… "Hai, kakek… ini pertama kalinya kita berbicara seperti ini."

Ia menarik kursi lebih dekat dan duduk, tatapannya tertuju pada wajah Timothy yang damai. "Mungkin kau bisa mendengarku."

Hening sejenak.

Ia menghela napas pelan. "Tapi jujur saja... kurasa lebih baik jika kau tidak bisa mendengarku."

Jarinya bertumpu ringan di tepi tempat tidur. "Kalau kau bisa mendengar semuanya... mungkin kau akan merasakan betapa sepinya itu. Betapa tidak berdayanya rasanya... hidup seperti ini selama bertahun-tahun."

Ia menggeleng pelan. "Aku tidak ingin itu untukmu."

Matanya menunduk sejenak. "Aku tidak ingat banyak dari masa kecilku."

Senyum tipis muncul. "Tapi aku tahu... kau pernah menggendongku."

Tangannya perlahan maju, menggenggam tangan Timothy dengan lembut. Ia menatapnya lagi. "Aku benar-benar berharap... kau hanya sedang tidur. Di suatu tempat yang jauh... bermimpi dengan tenang. Tanpa rasa sakit, tanpa penyesalan."

"Tapi..." Genggamannya sedikit mengencang. "Kalau kau bisa mendengarku… Maka ada hal-hal yang harus kau tahu."

Ia bersandar sedikit, suaranya kini lebih tegas. "Orang-orang yang menghancurkan keluarga kita... sedang aku urus. Satu per satu. Aku sudah membersihkan nama ayah."

Ada kebanggaan dalam nadanya. "Setelah semua tahun ini. Bisnis yang kau bangun... dari nol..."

Tatapannya mengeras penuh tekad. "Sudah bangkit kembali. Brook Enterprises sudah bangkit lagi."

Ia berhenti sejenak. "Chester Brook... sudah mati. Kyle Brook... ada di rumah sakit jiwa. Mungkin dia pantas mendapat yang lebih buruk. Tuan Tua dari Scarlet Isle… Aku mengakhirinya dengan tanganku sendiri."

"Dan sekarang..." Suaranya menurun. "Rowan Mordecai… Dia akan menghabiskan sisa hidupnya di atas ranjang. Tak bernyawa."

Napas pelan keluar dari dirinya. "Dan dia akan mati... Mengetahui bahwa dia tidak bisa menyelamatkan putranya.”

1
Irvan (イルヴァン)
👍👍
Nathan Grdn
teu ngarti
MELBOURNE: yang penting kan ada bahasa Indonesia 👍👍👍
total 1 replies
Noer Asiah Cahyono
masih menebak2 alurnya karena semakin penasaran, banyak nama
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di upp yaa
total 2 replies
anak panda
lanjut🤭🤭
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di upp yaa
total 2 replies
Irvan (イルヴァン)
👍
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di upp yaa
total 1 replies
Noer Asiah Cahyono
masih penasaran terus
anak panda
crazy up torr 🤭🤭🤭
MELBOURNE: punya hari ini udah dobel up yaa
total 1 replies
orang kaya
up tor👍
july
nggak pernah ngebosenin sama sekali
anak panda
🔥
sweetie
seruu😍😍😍
Coffemilk
ditunggu kelanjutannya kak
Noer Asiah Cahyono
tegang thor🤭🤭🤭 lanjutkan💪💪💪💪💪
MELBOURNE: jangan lupa yaa bab terbarunya sudah di upp
total 1 replies
Coutinho
jangan lupa crazy up nya Thor ditunggu nihh🙏🙏
MELBOURNE: jangan lupa yaa bab terbarunya sudah di upp
total 1 replies
vaukah
terus konsisten tor, ditunggu kelanjutannya
MELBOURNE: jangan lupa yaa bab terbarunya sudah di upp
total 1 replies
anak panda
lanjutt
MELBOURNE: jangan lupa yaa bab terbarunya sudah di upp
total 1 replies
Afifah Ghaliyati
terimakasih kak bab terbarunya, makin seru
ditunggu kelanjutannya besokk, moga moga dobel up yaw🤭🤭🤭
MELBOURNE: jangan lupa yaa bab terbarunya sudah di upp
total 1 replies
sartini
masalah lama telah terungkap, kini muncul masalah baru, kelurga mordecai mencari gara gara dengan orang yang salah
MELBOURNE: jangan lupa yaa bab terbarunya sudah di upp
total 1 replies
eva
mantap
MELBOURNE: jangan lupa yaa bab terbarunya sudah di upp
total 1 replies
Stevanus1278
ceritanya makin seru, ditunggu lanjutannya kak
MELBOURNE: jangan lupa yaa bab terbarunya sudah di upp
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!