Alawiyah yang nekad menyusul suaminya ke kampung halaman yang terletak dilereng Gunung Kawi, membuat ia dihadapkan pada teror yang mengerikan.
Desa yang ia bayangkan penuh kedamaian, justru menjadi mimpi buruk yang mengerikan.
Rahasia apa yang sedang disembunyikan suaminya?
Ikuti kisah selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hantaran-2
"Maaf, saya afa keperluan yang mendadak. Dan terimakasih untuk hantaran makanannya," Ratih seolah jenuh dengan semua kepalsuan yang ia bangun sendiri.
Novita, Juminten dan dan juga Gina terpaksa mengalah, tetapi ketiganya saling pandang, seolah merasa saling tersaingi satu sama lainnya.
Mereka memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah Ratih—dengan hati yang penuh ke khawatiran, apakah hantaran mereka dimakan Bayu, atau justru didahului oleh yang lainnya.
Novita memsuki rumah dengan wajah masam. Ia menghempaskan bokongnya diatas sofa dengan sangat hati-hati, sebab mengalami masalah di bagian rahimnya, lalu memainkan I phone nya yang merupakan keluaran terbaru.
Baginya, membeli harga benda canggih dengan harga puluhan juta, hanyalah isapan jempol semata.
Seeer
Cairan pekat darah kembali keluar dari liang intimnya. Tampaknya Genderuwo itu tak lagi mengenal waktu untuk meminta jatah padanya, di sebabkan tidak tercapainya target tumbal jiwa yang diminta.
"Nov, gimana? Kamu liat si Ratih ada ngasih atau nyuapin makanan itu ke Bayu‐Gak? Kok lama banget matinya," Ratna yang baru saja turun dari lantai dua langsung menghampirinya.
Novita menghela nafas dengan berat, lalu mematikan I Phone-nya dengan gerakan malas.
"Sesekali, ibu yang layani si Genderuwo. Dia terus saja meminta setiap malam, sebab jiwa yang sudah kita sebutkan tudak juga berhasil diambil." Novita menyandarkan kepalanya disandaran sofa yang cukup mahal.
Ratna langsung melotot. Ia mersa jika Novita semakin membangkang dengannya.
"Kamu ini—ya. Cuma sekedar ngangkang saja, apa susahnya—sih?!" ia tidak terima dengan ucapan puterinya.
"Ya karena aku sampai sakir perut! Darah gak berhenti keluar" Novita menjawab dengan berang. Nad suaranya lebih tinggi dari sang ibu.
"—Apa? Cuma darah begitu saja kamu ributkan? Bisa jadi itu cuma menstruasi!" sangkal Ratna, yang tampaknya tak peduli dengan aduan dan juga keluhan puterinya.
"Tapi ini sudah berlaku stu bulan, orang menstruasi, paling lama cuma seminggu," bantah Novita, tak ingin kalah.
Ratna bukannya iba, ia justru semakin kesal. "Dasar anak durhaka! Udah syukur kamu dapat beli apapun yang kamu mau dengan mudah, tapi taunya ngedumel!"
Ratna meraih kunci mobilnya, tampak ia sangat kesal hari ini, dan berniat ingin keluar rumah, untuk menenangkan dirinya.
"Ingat! Jiwanya tidak berhasil diambil, karena makanan itu belum juga sampai ke perutnya," Ratna mengingatkan Novita, jika apa yang dilakukannya belum sesuai harapan.
"Itu bukan salahku! Tanyakan saja pada Juminten dan Gina, kenapa mereka mengincar orang yang sama, padahal masih ada Bagas dan juga Ratih!" Novita beranjak bangkit dari duduknya.
Ia terus saja menyangkal setiap ucapan ibunya, seolah merek mersa panas satu sama lainnya.
Plok
Darah beku sebesar telapak tangan jatuh diatas lantai, saat ia melangkah ke arah tangga.
Ratna melihat itu, dan hanya menanggapi biasa aaja.
Sebab hal ini, ia terfokus pada ucapan Novita barusan, dimana Juminten dan Gina, ternyata menghantarkan makanan yang sama.
"Ternyata si Juminten dan juga Gina menusukku dai arah belakang, dasar kedondong!" Ratna merasakan gejolak amarah di dalam hatinya, dan memilih untuk mengajak keduanya bertemu, membahas tentang masalah tersebut.
Sementara itu, Ratih menuju ke arah belakang, dan membawa tiga buah rakit rantang yang berisi makanan lezat.
Alawiyah menyambutnya di dapur, tetapi tanggapan ibu mertuanya sangat dingin.
"Mau dibuang juga—Mbok?" tanya Alawiyah, saat melibat Ratih membuka satu persatu isi rakitan rantang.
Makanan yang sangat nikmat. Soto pojok khas ayam betina muda, menggugah selera, dengan rempah yang berlimpah.
Di tambah lagi krengsengan kambing pedas, serta sambal belut cabai hijau, semuanya sangat terlihat nikmat, sayang ekali jika di buang.
"Kalau gak di buang, mau diapain lagi? Mau di makan?" suara Ratih terdengar sangat dingin.
"Dilangkahi saja tiga kali, Mbok. Lalu bacain ayat ruqyah, aku jamin gak bakal masuk," saran Alawiyah.
"Kamu mau jadi tumbal? Makanya mau coba-coba dengan ini?" Ratih semakin kesal dengan ide yang diberikan oleh menantunya.
"Kita coba dulu, Mbok. Kasih kucing, kalau mempan, nanti kita makan saja," jawab Alawiyah dengan sedikit memaksa.
Ratih beranjak bangkit, dan tatapannya sangat marah, membuat Alawiyah menjadi menciut.
"Biar makanan ini rugi di buang, ketimbang harus menyesal seumur hidup!" Rati membawa soto pojok buatan Ratna yang diantar oleh Novita ke dalam toilet.
Byuuuur
Ia membuangnya, lalu mengulanginya dengan hal yang sama, terhadap hantaran masakan lainnya.
"Dengar! Sesuatu yang terlalu bahaya, jangan pernah kamu jadikan sebagai ajang coba-coba, jika kamu sendiri tidak tau mengukur sebatas mana kemampuanmu dalam mengatasinya!"
Ratih menunjukkan jari telunjuknya ke arah Alawiyah, dan tentunya dengan wajah yang masih berang.
"Apakah ketika kau melihat sungai yang tenaga, kau ingin melompat terjun kebawah, sedangkan kau sendiri tau todak mahir berenang, yang ada kau akan tenggelam tanpa bantuan pelampung,"
"Saat aku mencoba untuk mencebur diriku ke sungai, maka setidaknya aku sudah menyiapkan pelampung, dan anggap pelampung itu adalah doa, sebab Doa adalah senjata yang sangat ampuh." sahut Alawiyah.
Ratih terdiam sejenak, bahkan ia sudah melupakan tentang doa, tentang semua ibadah, mungkin saja ia sudah terpengaruh dengan lingkungan, hanya saja, masih mempertahankan dirinya, tidak terjerumus dalam jalan sesat.
Wanita itu tak menjawab, ia memilih keluar dari dapur, lalu menuju kamarnya.
Di sana, ia melihat sebuah sajadah yang sudah sangat usang, bukan karena sring terpakai, tetapi sebab terlalu lama digantung, hingga berebu.
Ia melangkah menghampiri benda tersebut, lalu memegangnya.
Ingatannya kembali ke masa silam, dimana saat dua puluh tahun yang lalu, ia masih bersujud diatasnya.
Sat itu, menjadi untuk terakhir kalinya, saat ia menyaksikan Usman suaminya, yang berasal dari luar desa, dibakar warga hidup-hidup, didepan matanya, hanya karena mengumandangkan suara adzan.
Trauma yang ia alami, membuatnya melupakan Tuhan-Nya, ia takut peristiwa itu terulang lagi, kobaran api yang membumbung tinggi, suara teriakan, dan bahkan mereka melempari Usman dengan batu.
"Lama sekali, aku menjauh dari—Mu." bisiknya dengan sangat lirih, hampir tak terdengar.
Jiwanya yang kering, bagaikan berada di padang tandus, membuat ia seperti kosong, dan tak tahu untuk kembali.
Perlahan, ia merasakan bulir bening jatuh disudut matanya, entah sebab apa—ia menangisi sesuatu, tetapi kehadiran Alawiyah sudah membuatnya merasakan hal berbeda.
Dalam keheningan yang ia ciptakan, dalam samar, ia mendengar suara langkah Alawiyah sedang menuju kamar Bayu.
Suara pintu terbuka, itu cukup jelas, sebab ia tahu dengan langkah yang cukup berat, akibat perut yang membuncit.
Sementara itu, Alawiyah sendiri sudah berada di dalam kamar. Ia menatap suaminya tertidur lelap.
Perlahan ia duduk ditepian ranjang, lalu menyentuh jemari tangan suaminya.
"Laa ilaaha ilaa anta subhanaka inni kuntu minadzhalimin," ucapnya dengan penuh keyakinan.
Tarikan nafasnya terasa berat, tetapi ia meyakini, akan ada petunjuk yang datang, untuk mengobati kesembuhan suaminya.
pkoknya lebih lucu setannya dripda org orgnya 🤣🤣