NovelToon NovelToon
Mendadak Hamil

Mendadak Hamil

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.

Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 Orang yang Paling Kutunggu

Pagi itu mansion Dimitri terasa lebih ramai dari biasanya.

Sejak subuh para pelayan sudah sibuk mondar-mandir membawa berbagai kebutuhan. Sebagian sedang membersihkan ruangan, sebagian lagi mempersiapkan makanan untuk sarapan keluarga.

Namun di tengah kesibukan itu, ada satu orang yang masih tertidur nyenyak di kamarnya.

Rubi.

Selama beberapa hari terakhir, tubuhnya memang lebih mudah lelah.

Dokter mengatakan itu wajar karena usia kehamilannya sudah memasuki bulan kedelapan.

Bahkan semalam Rubi baru bisa tidur menjelang dini hari karena bayinya terus bergerak aktif.

Membuatnya beberapa kali harus mengubah posisi tidur.

Saat sinar matahari mulai masuk melalui celah tirai, Rubi perlahan membuka mata.

Refleks tangannya langsung mengusap perut yang kini terlihat semakin besar.

"Selamat pagi."

gumamnya sambil tersenyum.

Tak lama kemudian sebuah tendangan kecil terasa dari dalam perutnya.

Membuat senyumnya semakin lebar.

"Kamu juga sudah bangun rupanya."

bisiknya.

Entah kenapa setiap kali berbicara dengan bayinya, hatinya selalu terasa damai.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Karena saat mencoba bangun dari tempat tidur, Rubi merasakan nyeri ringan di punggungnya.

"Aduh..."

Ia langsung meringis.

Rasa sakit itu tidak terlalu kuat.

Tetapi cukup membuatnya tidak nyaman.

"Mungkin karena posisi tidur."

gumamnya mencoba menenangkan diri.

---

Di ruang makan, Alexander sudah duduk sejak lima belas menit lalu.

Secangkir kopi hitam berada di depannya.

Namun pria itu belum menyentuhnya.

Tatapannya beberapa kali mengarah ke pintu.

Menunggu seseorang.

Kepala pelayan yang melihat itu berusaha menyembunyikan senyum.

Karena semua orang di mansion tahu.

Alexander selalu sarapan tepat waktu.

Tetapi sejak Rubi datang, kebiasaan itu berubah.

Pria itu akan menunggu.

Bahkan jika harus terlambat beberapa menit.

Dan benar saja.

Saat Rubi akhirnya masuk ke ruang makan, ekspresi dingin Alexander sedikit melunak.

"Kau bangun terlambat."

ucapnya.

Rubi langsung duduk di kursinya.

"Bayi kita yang harus disalahkan."

Alexander mengangkat alis.

"Oh?"

"Iya."

Rubi mengusap perutnya.

"Dia membuatku sulit tidur."

Alexander melirik perut tersebut.

Kemudian berkata dengan nada serius,

"Kalau begitu dia harus meminta maaf."

Rubi langsung tertawa.

Bahkan para pelayan yang mendengar hampir ikut tertawa.

Karena siapa yang meminta bayi yang belum lahir untuk meminta maaf?

---

Saat sarapan berlangsung, Alexander memperhatikan Rubi lebih sering dari biasanya.

Awalnya Rubi tidak menyadari.

Namun lama-kelamaan ia merasa aneh.

"Apa?"

tanyanya.

Alexander menggeleng.

"Tidak ada."

"Itu jelas bukan tatapan 'tidak ada'."

balas Rubi.

Pria itu terdiam sejenak.

Kemudian berkata,

"Kau terlihat lelah."

Rubi berkedip.

Hanya itu?

Ia bahkan sempat berpikir ada sesuatu yang serius.

"Karena aku memang lelah."

jawabnya.

"Kau tidak tidur nyenyak?"

Rubi mengangguk.

Alexander langsung terlihat tidak senang.

Membuat Rubi buru-buru menambahkan,

"Aku baik-baik saja."

Meski begitu, Alexander tetap terlihat khawatir.

Dan entah kenapa hal itu membuat hati Rubi terasa hangat.

---

Setelah sarapan, Alexander kembali bekerja.

Sedangkan Rubi memilih menghabiskan waktu di perpustakaan pribadi mansion.

Ruangan itu menjadi salah satu tempat favoritnya.

Selain tenang, koleksi bukunya juga sangat banyak.

Bahkan beberapa buku yang dulu hanya bisa ia lihat di internet kini berada tepat di depannya.

Rubi duduk di sofa dekat jendela sambil membaca novel.

Namun baru beberapa halaman, pikirannya mulai melayang.

Tanpa sadar ia teringat kehidupan lamanya.

Panti asuhan.

Kamar kecil yang ia tempati bersama beberapa anak perempuan lain.

Pekerjaannya di kafe.

Dan dirinya yang selalu berusaha bertahan seorang diri.

Jika seseorang mengatakan bahwa suatu hari ia akan menjadi istri seorang mafia kaya raya dan mengandung anaknya, Rubi pasti akan menganggap orang itu gila.

Namun sekarang semua itu benar-benar terjadi.

Dan yang lebih aneh lagi...

Ia bahagia.

Sangat bahagia.

---

Menjelang siang, Rubi memutuskan berjalan menuju taman belakang.

Cuaca hari itu cukup cerah.

Udara segar membuat pikirannya jauh lebih tenang.

Saat sedang menikmati pemandangan bunga yang bermekaran, tiba-tiba ponselnya berdering.

Rubi melihat nama yang muncul di layar.

Alexander.

Senyum kecil langsung muncul di bibirnya.

"Ada apa?"

tanyanya setelah mengangkat telepon.

"Kau di mana?"

Suara pria itu terdengar datar seperti biasa.

Namun Rubi bisa mendengar nada khawatir di baliknya.

"Di taman."

jawabnya.

"Hanya sendiri?"

"Iya."

Beberapa detik hening.

Lalu Alexander berkata,

"Tunggu di sana."

Panggilan langsung terputus.

Rubi menatap layar ponselnya sambil menghela napas.

"Orang itu benar-benar..."

Ia bahkan belum selesai berbicara ketika beberapa menit kemudian Alexander muncul dari arah mansion.

Membuat Rubi membelalak.

"Kau lari?"

tanyanya.

Alexander terlihat sedikit kesal.

"Kau berjalan sendirian."

"Itu taman kita sendiri."

"Kau tetap tidak boleh sendiri."

Rubi benar-benar tidak tahu harus tertawa atau kesal.

Namun pada akhirnya ia memilih tertawa.

Karena perhatian Alexander memang sudah berada di tingkat yang sulit dijelaskan.

---

Mereka akhirnya duduk bersama di gazebo.

Suasana siang terasa damai.

Tidak ada pembahasan pekerjaan.

Tidak ada pembicaraan tentang Viktor.

Hanya mereka berdua.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Alexander terlihat benar-benar santai.

"Boleh aku bertanya sesuatu?"

ucap Rubi.

Alexander mengangguk.

"Apa?"

Rubi berpikir beberapa saat.

Kemudian tersenyum kecil.

"Dulu waktu kecil, cita-citamu apa?"

Pertanyaan itu membuat Alexander membeku.

Mungkin karena tidak pernah ada yang menanyakan hal seperti itu.

"Cita-cita?"

ulangnya.

"Iya."

Alexander menghela napas.

"Aku tidak punya."

Rubi terlihat terkejut.

"Tidak mungkin."

"Aku serius."

jawab Alexander.

"Dari kecil aku hanya belajar bertahan hidup."

Senyum Rubi perlahan menghilang.

Karena ia tahu kalimat itu bukan lelucon.

Pria di depannya memang tumbuh dalam dunia yang keras.

Dunia yang tidak memberinya kesempatan bermimpi seperti anak-anak lain.

Tanpa sadar Rubi menggenggam tangan Alexander.

Pria itu menatapnya.

Lalu untuk pertama kalinya tersenyum tipis.

"Aku baik-baik saja."

ucapnya.

Namun Rubi tetap tidak melepaskan tangannya.

Dan anehnya, Alexander juga tidak ingin melepaskannya.

---

Sore hari.

Saat matahari mulai tenggelam, mereka kembali ke mansion.

Namun saat sedang berjalan di koridor lantai dua, Rubi tiba-tiba berhenti.

Wajahnya sedikit pucat.

Alexander langsung waspada.

"Ada apa?"

tanyanya cepat.

Rubi memegang perutnya.

"Bukan apa-apa."

jawabnya.

Namun ekspresinya tidak terlihat meyakinkan.

Alexander langsung memanggil dokter.

Membuat Rubi panik.

"Alexander, aku baik-baik saja."

"Tetap periksa."

ucap pria itu tegas.

Tidak ada ruang untuk perdebatan.

Beberapa saat kemudian dokter datang.

Setelah melakukan pemeriksaan singkat, pria paruh baya itu tersenyum.

"Tidak ada masalah."

Alexander langsung menghela napas lega.

"Hanya kelelahan."

lanjut dokter.

"Usia kandungannya sudah besar. Wajar kalau Nyonya Muda cepat lelah."

Barulah Alexander sedikit tenang.

Sedangkan Rubi hanya bisa menggeleng pasrah.

---

Malam itu sebelum tidur, Rubi duduk di atas tempat tidur sambil mengusap perutnya.

Hari terasa panjang.

Namun menyenangkan.

Tiba-tiba bayi dalam kandungannya bergerak cukup kuat.

Membuatnya tertawa kecil.

"Kamu bahagia hari ini?"

bisiknya.

Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu.

Alexander masuk.

Pria itu baru selesai bekerja.

Namun bukannya langsung pergi ke kamarnya sendiri, ia justru mendekati Rubi.

"Kau sudah minum vitamin?"

tanyanya.

Rubi mengangguk.

"Sudah."

"Obat?"

"Sudah."

"Air putih?"

Rubi langsung tertawa.

"Aku merasa sedang diperiksa polisi."

Alexander mengabaikan komentar itu.

Kemudian duduk di sampingnya.

Saat bayi kembali bergerak, refleks pria itu meletakkan tangan di atas perut Rubi.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

Dan untuk pertama kalinya, Rubi menyadari sesuatu.

Orang yang paling ia tunggu setiap hari bukan lagi seseorang dari masa lalunya.

Bukan teman-teman panti.

Bukan kehidupan lamanya.

Melainkan pria yang sedang duduk di sampingnya sekarang.

Alexander Dimitri.

Pria yang tanpa sadar sudah menjadi rumah bagi hatinya.

1
Alia Chans
like + 🌹+ komen semangat thor ✍️🤭





kalo sempat mampir ya thor🤭😉
wulaniii
gais jangan lupa like dan komen kalo bisa nonton iklanya 🤭🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!