NovelToon NovelToon
Jalan Kultivasi Sang Dewa

Jalan Kultivasi Sang Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Adit

Di sebuah desa kecil yang terlupakan dunia, seorang anak pemburu hidup dalam kemiskinan sambil merawat ibunya yang sakit parah. Setiap hari ia mempertaruhkan nyawanya di hutan demi bertahan hidup, tanpa mengetahui bahwa takdir besar sedang menunggunya.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, sang ibu mengungkap rahasia yang selama ini disembunyikan—ayahnya masih hidup, dan berada di Dunia Atas, tempat para kultivator kuat menguasai langit dan bumi.
Dengan tekad untuk menemukan ayahnya dan mengubah nasibnya, pemuda itu memulai perjalanan kultivasi dari dunia paling bawah. Bersama teman yg ditemui Nya waktu dia masih kecil, ia menghadapi monster, sekte, pengkhianatan, dan perang antar dunia demi mencapai puncak kekuatan.
Sebuah perjalanan dari seorang pemburu desa… menuju penguasa langit tertinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7 - Empat Tahun Berlalu

Empat tahun berlalu dalam sekejap mata.

Siang itu, hutan yang berada tidak jauh dari Desa Awan Timur dipenuhi suara benturan keras yang terus bergema di antara pepohonan. Burung-burung yang semula bertengger di dahan segera beterbangan menjauh ketika sebuah suara ledakan terdengar dari area yang lebih dalam.

Boom!

Seekor beruang besar setinggi hampir tiga meter mengayunkan cakarnya dengan kekuatan yang mampu menghancurkan batang pohon. Serangan itu melesat ke depan dengan kecepatan yang sama sekali tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya.

Namun sesaat sebelum cakar tersebut mengenai sasaran, sosok seorang pemuda telah lebih dulu melompat ke samping dan menghindarinya.

Pemuda itu tidak lain adalah Cang Xuan.

Empat tahun latihan tanpa henti telah membawa perubahan besar pada dirinya. Tubuhnya kini jauh lebih tinggi dan kokoh dibandingkan saat berusia dua belas tahun. Wajahnya masih menyisakan sedikit kesan muda, tetapi sorot matanya telah berubah menjadi jauh lebih tenang dan dewasa. Pakaian pemburu yang dikenakannya bergerak mengikuti langkahnya saat ia kembali menatap lawannya dengan penuh fokus.

Di tangannya tergenggam sebuah pedang yang memancarkan kilatan dingin di bawah cahaya matahari.

Begitu beruang itu kembali menerjang, Cang Xuan tidak memilih mundur. Ia justru melangkah maju dan mengayunkan pedangnya secara langsung.

Clang!

Suara benturan nyaring bergema ketika bilah pedang bertemu dengan cakar beruang yang keras seperti baja.

Sebelum gema benturan itu menghilang, serangan berikutnya kembali menyusul.

Clang!

Clang!

Percikan api sesekali muncul dari titik benturan, sementara gelombang kejut kecil menyapu dedaunan di sekitar mereka. Pertarungan berlangsung sengit sejak awal. Beruang itu mengandalkan kekuatan fisiknya yang luar biasa, sedangkan Cang Xuan memanfaatkan kecepatan dan ketepatan gerakannya untuk menghindari serangan-serangan mematikan.

Meski telah berlatih selama bertahun-tahun dan kekuatannya jauh melampaui kebanyakan pemburu biasa, lawan yang berada di hadapannya tetap bukan musuh yang mudah dihadapi. Setiap kali pedangnya berhasil mengenai tubuh beruang tersebut, luka yang tercipta tidak sedalam yang diharapkannya.

Kulit dan otot monster itu terlalu tebal.

Beberapa tebasan hanya meninggalkan goresan dangkal sebelum beruang itu kembali menggeram dan melancarkan serangan berikutnya.

Melihat hal tersebut, alis Cang Xuan sedikit berkerut. Jelas bahwa pertarungan ini tidak akan berakhir hanya dengan beberapa ayunan pedang seperti biasanya. Beruang raksasa di hadapannya merupakan lawan terkuat yang ditemuinya dalam beberapa waktu terakhir.

Setelah bertukar serangan beberapa kali, Cang Xuan melompat ke belakang dan mengambil jarak dari lawannya. Dadanya naik turun perlahan saat ia menarik napas panjang, sementara tatapannya tetap terkunci pada beruang raksasa yang masih menggeram di depannya. Monster itu tampak semakin ganas setelah menerima beberapa luka, meskipun tidak satu pun cukup dalam untuk benar-benar melumpuhkannya.

Cang Xuan tidak berniat melanjutkan pertarungan dengan cara yang sama.

Ia perlahan mengangkat dua jarinya, lalu mengarahkan keduanya ke pedang yang masih berada di tangannya. Pada saat yang sama, energi spiritual di dalam tubuhnya mulai bergerak mengikuti kehendaknya dan mengalir menuju bilah pedang.

"Teknik Tingkat 1..."

Suaranya terdengar tenang.

"Kilat Pedang Melayang!"

Begitu kata-kata itu terucap, energi spiritual yang terkumpul langsung meledak keluar.

Wuussh!

Pedang di tangannya terlepas dengan sendirinya dan melesat ke depan seperti sambaran petir. Kecepatannya jauh melampaui ayunan pedang biasa hingga hanya menyisakan bayangan samar di udara.

Beruang itu bahkan tidak sempat bereaksi.

Sreet!

Bilah pedang menembus dadanya dari depan hingga belakang dalam satu gerakan bersih.

Raungan penuh rasa sakit langsung mengguncang area hutan. Tubuh besar monster itu bergoyang beberapa kali, seolah masih berusaha mempertahankan keseimbangannya. Namun luka yang diterimanya terlalu fatal.

Tak lama kemudian, kedua kakinya kehilangan kekuatan.

Bruk!

Tubuh raksasa itu jatuh menghantam tanah dengan keras, membuat debu dan dedaunan beterbangan ke segala arah.

Keheningan perlahan kembali menyelimuti area tersebut.

Cang Xuan mengembuskan napas lega sambil mengulurkan tangannya. Pedang yang menancap di tubuh beruang bergetar sesaat sebelum kembali terbang dan mendarat di genggamannya.

Meski berhasil mengalahkan lawan yang cukup kuat, wajahnya tidak menunjukkan kepuasan seperti yang seharusnya.

Sebaliknya, ekspresinya terlihat sedikit murung.

"Sudah empat tahun..."

Gumamannya pelan sambil menatap telapak tangannya sendiri.

Empat tahun telah berlalu sejak ia pertama kali berhasil merasakan energi spiritual dan membuka jalan kultivasi yang diwariskan dalam Kitab Pedang Langit Terbang. Selama kurun waktu itu, ia tidak pernah berhenti berlatih.

"Aku terus melatih energi spiritualku."

Tatapannya perlahan menjadi lebih dalam.

"Tapi kenapa energiku masih belum stabil?"

Ia dapat merasakan kekurangan itu setiap kali bertarung. Meskipun kekuatannya telah meningkat jauh dibandingkan sebelumnya, penggunaan energi spiritualnya masih terasa kasar dan boros.

"Bahkan untuk menggunakan teknik sederhana, energiku masih cepat habis."

Pikirannya tanpa sadar teringat pada isi Kitab Pedang Langit Terbang. Kitab itu berkali-kali menjelaskan bahwa seorang pendekar pedang sejati mampu mengendalikan pedangnya semudah menggerakkan tangan sendiri. Namun hingga saat ini, setiap kali menggunakan teknik pedang, energi spiritualnya selalu terkuras dalam jumlah yang tidak sedikit.

"Apakah metode latihanku salah?"

Pertanyaan itu telah muncul berkali-kali dalam beberapa bulan terakhir.

Sayangnya, tidak ada seorang pun yang dapat memberinya jawaban.

Pada akhirnya, ia hanya menggelengkan kepala pelan.

"Kekuatan yang kumiliki saat ini masih belum cukup."

Kalimat itu keluar tanpa keraguan sedikit pun.

"Belum cukup untuk meninggalkan desa."

Pandangannya beralih ke langit biru yang membentang luas di atas pepohonan.

"Belum cukup untuk mencari petunjuk tentang Dunia Atas."

Selama empat tahun terakhir, tujuan tersebut tidak pernah berubah. Ia masih ingin mengetahui kebenaran tentang ayahnya dan dunia yang disebutkan oleh ibunya sebelum meninggal. Namun semakin banyak ia berlatih, semakin ia menyadari betapa sedikitnya yang ia ketahui tentang dunia di luar Desa Awan Timur.

Setelah terdiam beberapa saat, pandangannya perlahan turun dan berhenti pada tubuh beruang raksasa yang tergeletak di depannya.

Kali ini, senyum akhirnya muncul di wajahnya.

"Setidaknya hasil buruanku hari ini sangat bagus."

Dibandingkan memikirkan masalah yang belum dapat dipecahkan, lebih baik fokus pada sesuatu yang bisa dilihat langsung di depan mata.

"Beruang sebesar ini pasti bisa dijual dengan harga tinggi."

Memikirkan jumlah koin yang mungkin diperolehnya membuat suasana hatinya sedikit membaik.

Tanpa membuang waktu, Cang Xuan mengambil tali yang selalu dibawanya saat berburu. Dengan gerakan yang sudah terlatih, ia mengikat tubuh beruang tersebut hingga cukup kuat untuk ditarik.

Setelah memastikan semuanya aman, ia mulai menyeret hasil buruannya menuju arah desa.

Beberapa langkah pertama terasa cukup ringan.

Namun setelah beberapa saat, ia tidak dapat menahan diri untuk mengeluh pelan.

"Berat juga..."

Tubuh beruang itu memang jauh lebih besar dibandingkan kebanyakan mangsa yang biasa dibawanya pulang.

Untungnya lokasi pertarungan tidak terlalu jauh dari Desa Awan Timur.

"Kalau tidak, aku mungkin baru sampai besok pagi."

Dalam perjalanan kembali menuju Desa Awan Timur, Cang Xuan terus menyeret tubuh beruang raksasa itu melewati jalan setapak yang membelah hutan. Meski bebannya tidak ringan, langkahnya tetap stabil. Sesekali ia mengusap keringat yang mengalir di dahinya sambil memperkirakan berapa banyak koin yang bisa diperoleh dari hasil buruan tersebut.

Ketika melewati sebuah jalur yang lebih sempit, ia berpapasan dengan seorang pria berjubah hitam yang berjalan dari arah berlawanan.

Pria itu tampak cukup aneh.

Seluruh tubuhnya tertutup jubah panjang berwarna gelap, sementara sebuah tudung menutupi sebagian besar wajahnya sehingga sulit melihat penampilannya dengan jelas. Ia berjalan dengan langkah tenang dan tidak mengeluarkan suara sedikit pun.

Saat jarak mereka semakin dekat, keduanya saling melirik sesaat.

Tidak ada sapaan.

Tidak ada percakapan.

Hanya pertemuan singkat antara dua orang asing yang kebetulan melewati jalan yang sama.

Cang Xuan sempat merasa bahwa pria tersebut terlihat cukup mencurigakan. Namun setelah memikirkannya sejenak, ia tidak terlalu memedulikannya. Dunia ini dipenuhi berbagai macam orang, dan ia tidak memiliki kebiasaan mencampuri urusan orang lain tanpa alasan.

Lagipula, matahari sudah mulai bergerak turun ke arah barat.

Ia masih harus membawa beruang itu kembali ke desa sebelum malam tiba.

Dengan pikiran tersebut, Cang Xuan segera melanjutkan perjalanannya dan perlahan menghilang di antara pepohonan.

Setelah sosoknya menjauh cukup jauh, pria berjubah hitam itu tiba-tiba menghentikan langkahnya.

Keheningan menyelimuti area tersebut.

Beberapa saat kemudian, ia perlahan menoleh ke belakang.

Tatapannya menembus pepohonan dan berhenti pada sosok Cang Xuan yang masih terlihat samar di kejauhan, sedang menarik seekor beruang besar seorang diri.

Senyuman tipis perlahan muncul di wajah yang tersembunyi di balik tudung.

"Jadi itu dia..."

Suaranya terdengar pelan.

"Anak Tuan Kaisar."

Tidak ada keterkejutan dalam nada bicaranya, seolah ia memang sudah mengetahui identitas Cang Xuan sejak awal.

Tatapannya menjadi semakin dalam.

"Sepertinya dia hidup dengan cukup baik."

Meskipun tinggal di desa kecil yang terpencil dan menjalani kehidupan sederhana, kondisi Cang Xuan jelas jauh lebih baik daripada yang dibayangkannya sebelum datang ke tempat ini.

Pria berjubah hitam itu terdiam sejenak sebelum menganggukkan kepala pelan.

"Aku harus kembali ke Dunia Atas dan melaporkan keadaannya."

Namun tepat ketika hendak berbalik, ekspresinya tiba-tiba berubah.

Senyuman di wajahnya perlahan menjadi aneh.

Seolah ada sesuatu yang baru saja menarik perhatiannya.

Tatapannya tetap tertuju pada sosok Cang Xuan yang semakin menjauh, tetapi kali ini matanya seakan sedang melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh orang biasa.

"Menarik."

Nada suaranya mengandung sedikit rasa heran.

"Takdir anak ini ternyata sangat kacau."

Angin berembus pelan melewati hutan ketika ia mengucapkan kata-kata tersebut.

"Jalan hidup yang menantinya penuh darah dan penderitaan."

Meskipun terdengar suram, pria itu tidak menunjukkan rasa kasihan sedikit pun.

Sebaliknya, senyumnya justru semakin lebar.

"Tapi justru karena itulah masa depannya sulit ditebak."

Takdir biasanya mengikuti jalur tertentu yang dapat dibaca oleh mereka yang memiliki kemampuan khusus. Namun pada diri Cang Xuan, jalur itu tampak kabur dan tidak menentu, seolah diselimuti kabut yang terus berubah.

Pria berjubah hitam itu tertawa kecil.

Tawanya tidak keras, tetapi terdengar jelas di tengah keheningan hutan.

Kemudian, tanpa ada peringatan apa pun, tubuhnya perlahan memudar seperti bayangan yang kehilangan bentuknya.

Dalam beberapa detik, sosok tersebut lenyap sepenuhnya.

Yang tersisa hanyalah jalan setapak yang sunyi dan pepohonan yang bergoyang perlahan diterpa angin, seolah pria berjubah hitam itu tidak pernah berada di sana sejak awal. Sementara itu, jauh di depan sana, Cang Xuan sama sekali tidak menyadari bahwa keberadaannya baru saja diamati oleh seseorang yang berasal dari Dunia Atas.

Sore hari, Cang Xuan akhirnya tiba kembali di Desa Awan Timur sambil menarik tubuh beruang raksasa yang menjadi hasil buruannya hari itu. Kemunculannya segera menarik perhatian beberapa penduduk desa yang sedang beraktivitas di sepanjang jalan. Meskipun mereka telah terbiasa melihat Cang Xuan membawa berbagai hasil buruan dari hutan, beruang sebesar itu tetap merupakan pemandangan yang jarang terlihat.

Tanpa berhenti di tempat lain, ia langsung menuju tempat penjualan hasil buruan yang sudah sangat dikenalnya sejak kecil.

Begitu melihat sosok Cang Xuan muncul di kejauhan, pedagang tua yang menjaga tempat itu langsung tertawa lebar.

"Cang Xuan! Sepertinya kau mendapatkan hasil buruan yang luar biasa hari ini."

Mendengar sapaan tersebut, Cang Xuan tidak bisa menahan senyumnya.

"Iya, Paman."

Pedagang tua itu segera berjalan mendekat lalu mengelilingi tubuh beruang tersebut beberapa kali sambil mengamatinya dengan saksama. Semakin lama ia melihat, semakin jelas kekaguman yang muncul di wajahnya.

"Luar biasa."

Tangannya menepuk tubuh beruang itu beberapa kali.

"Dari mana kau mendapatkan beruang sebesar ini?"

Cang Xuan melepaskan tali yang digunakan untuk menarik mangsanya lalu menjawab dengan santai, "Aku mendapatkannya tidak jauh dari desa sih, Paman."

"Oh begitu."

Pedagang tua itu menganggukkan kepala beberapa kali.

Meskipun terdengar sederhana, ia tahu betul bahwa memburu monster atau binatang sebesar ini bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan sembarang orang.

Setelah melakukan penilaian singkat, ia masuk ke dalam bangunan kayu di belakangnya dan kembali dengan membawa sebuah kantong koin yang jauh lebih besar dari biasanya.

Tanpa banyak bicara, kantong itu langsung diserahkan kepada Cang Xuan.

Begitu merasakan beratnya, mata Cang Xuan sedikit membesar.

Jumlah koin di dalamnya jelas jauh lebih banyak dibandingkan hasil buruan yang biasa ia jual.

Senyum lebar pun langsung muncul di wajahnya.

"Terima kasih, Paman."

Pedagang tua itu tertawa kecil sambil melambaikan tangannya.

"Seharusnya aku yang berterima kasih."

Tatapannya beralih kepada beruang yang tergeletak di samping mereka.

"Kau selalu menjual hasil buruanmu di sini."

Cang Xuan hanya mengangguk sambil menyimpan kantong koin tersebut dengan hati-hati.

"Kalau begitu aku pergi dulu."

Ia sempat berbalik sebelum menambahkan dengan nada bercanda, "Doakan besok aku mendapatkan hewan yang lebih besar."

Pedagang tua itu langsung tertawa.

"Tentu saja."

Dengan suasana hati yang jauh lebih baik, Cang Xuan meninggalkan tempat tersebut dan berlari menyusuri jalan desa. Kantong koin yang berada di pinggangnya terus bergoyang mengikuti langkahnya, sementara senyum di wajahnya belum juga menghilang.

Jumlah uang yang diperolehnya hari itu cukup besar.

Setelah menghitungnya beberapa kali, ia memperkirakan bahwa koin tersebut setidaknya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selama hampir satu bulan penuh.

Perasaan itu terasa cukup aneh baginya.

Selama bertahun-tahun, ia selalu hidup dari hasil buruan hari demi hari. Tidak jarang ia harus memikirkan bagaimana mendapatkan makanan untuk esok pagi. Kini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak perlu terlalu mengkhawatirkan hal tersebut.

Sebelum pulang, Cang Xuan terlebih dahulu mengunjungi beberapa toko yang berada di sepanjang jalan desa. Ia membeli beberapa kebutuhan sehari-hari yang diperlukan di rumah, lalu menambah persediaan makanan yang jarang bisa dibelinya dalam jumlah banyak.

Setelah semua barang selesai dibeli, kedua tangannya sudah dipenuhi berbagai bungkusan sederhana. Meski begitu, langkahnya tetap terasa ringan. Sore yang awalnya biasa saja kini terasa jauh lebih menyenangkan dibandingkan hari-hari sebelumnya.

End Chapter 7

1
asri_hamdani
Sepertinya terulang dari Bab sebelumnya
.: oh iya benar terima kasih koreksinya
total 1 replies
asri_hamdani
tangkap 1-2 kan bisa untuk ganjel perut lapar 🤔
.: karena menurut Cang xuan menangkap hewan hewan kecil seperti kelinci ataupun kucing hutan itu hanya membuang-buang waktu karena hewan tersebut memiliki pergerakan yg cukup lincah Apalagi walaupun berhasil menangkap dia hanya mendapatkan koin yg sedikit apalagi dia mempunyai waktu terbatas yaitu jangan sampai malam hari karena banyak monster abbys yg berkeliaran oleh karena itu daripada membuang buang waktu ke hewan yg memiliki nilai koin yg sedikit menurut Cang xuan lebih baik mencari hewan yg ukuran nya cukup besar dan mendapatkan koin yg lebih banyak dibandingkan harus bersusah payah menangkap hewan ukuran kecil
total 1 replies
Kevandra
B🌻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!