NovelToon NovelToon
Jalan Kultivasi Sang Dewa

Jalan Kultivasi Sang Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Adit

Di sebuah desa kecil yang terlupakan dunia, seorang anak pemburu hidup dalam kemiskinan sambil merawat ibunya yang sakit parah. Setiap hari ia mempertaruhkan nyawanya di hutan demi bertahan hidup, tanpa mengetahui bahwa takdir besar sedang menunggunya.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, sang ibu mengungkap rahasia yang selama ini disembunyikan—ayahnya masih hidup, dan berada di Dunia Atas, tempat para kultivator kuat menguasai langit dan bumi.
Dengan tekad untuk menemukan ayahnya dan mengubah nasibnya, pemuda itu memulai perjalanan kultivasi dari dunia paling bawah. Bersama teman yg ditemui Nya waktu dia masih kecil, ia menghadapi monster, sekte, pengkhianatan, dan perang antar dunia demi mencapai puncak kekuatan.
Sebuah perjalanan dari seorang pemburu desa… menuju penguasa langit tertinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32 - Mantan Pengawal Sang Penguasa

Namun suasana tenang di meja mereka tiba-tiba berubah ketika sebuah suara terdengar dari belakang.

"Jadi kalian ingin melengserkan Murong Ye?"

Mendengar kalimat itu, Cang Xuan dan Xu Kong langsung tersentak.

Keduanya menoleh hampir bersamaan dengan ekspresi terkejut.

Beberapa kemungkinan buruk langsung muncul di benak mereka.

Namun setelah melihat siapa yang berbicara, keduanya sedikit terdiam.

Ternyata yang berdiri di belakang mereka hanyalah pemilik warung.

Pria paruh baya itu membawa sebuah nampan kosong sambil menatap mereka dengan senyum geli di wajahnya.

Cang Xuan langsung merasa tidak enak.

"Paman tadi mendengarnya?"

Pria itu tertawa kecil.

"Tentu saja."

Nada suaranya terdengar santai.

"Kalian berbicara terlalu keras."

Mendengar jawaban itu, Xu Kong langsung memegang dahinya.

Ia tidak tahu harus kesal kepada dirinya sendiri atau kepada Cang Xuan.

Sementara itu, Cang Xuan hanya bisa menunjukkan senyum canggung.

Mereka baru saja berusaha menghindari perhatian seluruh kota, lalu tanpa sadar membahas rencana melengserkan penguasa benua di tempat umum.

Melihat reaksi keduanya, pemilik warung kembali tertawa.

"Tenang saja."

Ia melambaikan tangannya seolah ingin menenangkan mereka.

"Aku tidak akan melaporkan kalian kok."

Mendengar itu, Cang Xuan dan Xu Kong langsung merasa sedikit lega.

Setidaknya pria itu tidak terlihat seperti seseorang yang berniat mencari masalah.

Pria paruh baya itu sempat memperhatikan keadaan sekitar untuk memastikan tidak ada orang yang terlalu memperhatikan pembicaraan mereka. Setelah merasa cukup aman, ia kembali menatap Cang Xuan dan Xu Kong.

"Sejujurnya..."

Senyum tipis di wajahnya perlahan memudar.

"Aku juga setuju dengan apa yang kalian katakan tadi."

Nada suaranya menjadi lebih pelan.

"Murong Ye memang harus dilengserkan."

Mendengar perkataan yang begitu berani diucapkan secara langsung, mata Xu Kong langsung menyipit.

Ia memperhatikan pria itu dengan lebih serius dibandingkan sebelumnya.

"Paman tidak takut mengucapkan itu?"

Namun pria tersebut hanya tersenyum kecil.

Tidak terlihat sedikit pun rasa takut di wajahnya.

"Kau tahu..."

Ia menuangkan minuman ke dalam cangkirnya sendiri sebelum melanjutkan.

"Aku pernah menjadi pengawal istana."

Mata Cang Xuan langsung membesar.

"Pengawal istana?"

Pria itu menganggukkan kepala.

"Iya."

Tatapannya seolah menerawang ke masa lalu.

"Dulu aku bekerja langsung di bawah Murong Ye."

Xu Kong dan Cang Xuan langsung saling berpandangan.

Mereka tidak menyangka pemilik warung sederhana ini ternyata memiliki latar belakang seperti itu.

Pria tersebut kemudian menghela napas panjang.

"Tapi aku lebih memilih keluar."

Ekspresinya perlahan berubah serius.

"Karena dia sudah tidak lagi seperti orang yang dulu kukenal."

Suasana di meja mereka langsung menjadi lebih tenang.

Bahkan suara keramaian pasar di luar seakan menghilang dari perhatian mereka.

Pemilik warung itu melanjutkan dengan nada yang penuh penyesalan.

"Murong Ye yang sekarang sangat berbeda."

Tangannya menggenggam cangkir dengan sedikit lebih erat.

"Padahal dahulu dia adalah pemimpin yang ramah."

Tatapannya menunduk sesaat.

"Dan benar-benar peduli kepada rakyatnya."

Mendengar itu, Cang Xuan dan Xu Kong langsung memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut pria tersebut.

Mereka menyadari bahwa informasi seperti ini sangat berharga.

Terutama karena berasal dari seseorang yang pernah bekerja langsung di dalam istana.

Setelah mendengarkan penjelasan panjang mengenai perubahan Murong Ye, Cang Xuan terdiam beberapa saat sambil mencerna semua informasi yang baru saja mereka peroleh. Namun tujuan utama mereka masih belum berubah. Karena itulah ia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menanyakan hal yang paling penting.

"Paman."

Pria paruh baya itu menoleh ke arahnya.

"Kalau begitu..."

Tatapan Cang Xuan menjadi lebih serius.

"Berarti Paman tahu tentang gulungan milik Murong Ye, kan?"

Senyum tipis langsung muncul di wajah pria itu.

"Tentu saja aku tahu."

Mendengar jawaban tersebut, Xu Kong langsung meletakkan sumpitnya ke atas meja.

Perhatiannya kini sepenuhnya tertuju pada pria tersebut.

"Kalau boleh tahu, di mana letak gulungan yang mereka simpan?"

Namun alih-alih langsung menjawab, pria itu justru menatap mereka berdua cukup lama.

Kemudian ia berkata dengan suara yang lebih pelan.

"Orang-orang Dunia Bawah seharusnya tidak mengetahui keberadaan gulungan itu."

Kalimat tersebut langsung membuat Cang Xuan dan Xu Kong membeku.

Tatapan keduanya berubah.

Mereka tidak menyangka pria ini mengetahui hal tersebut.

Pria itu melanjutkan tanpa terburu-buru.

"Karena menurut aturan..."

Ia berhenti sejenak.

"Manusia Dunia Bawah tidak boleh pergi ke Dunia Tengah."

Suasana di meja mereka langsung menjadi jauh lebih serius.

Tatapan Xu Kong mengeras.

Pria itu kemudian melanjutkan.

"Mereka ditakdirkan hidup berdampingan dengan Monster Abyss."

Xu Kong langsung menatapnya tajam.

"Kau tahu tentang Dunia Tengah?"

Pemilik warung itu tertawa kecil seolah pertanyaan tersebut cukup lucu baginya.

"Tentu saja."

Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Aku tahu lebih banyak daripada yang kalian bayangkan."

Mendengar jawaban itu, kecurigaan Cang Xuan semakin bertambah.

Orang ini jelas bukan pemilik warung biasa.

Pengetahuannya terlalu luas.

Bahkan beberapa hal yang ia ketahui tidak seharusnya diketahui oleh orang biasa di Dunia Bawah.

Namun pria itu tampaknya tidak berniat menjelaskan identitasnya.

Setelah membiarkan rasa penasaran mereka berkembang beberapa saat, ia akhirnya menjawab pertanyaan yang sejak tadi ingin mereka ketahui.

"Gulungan itu disimpan di dalam istana."

Mata Cang Xuan langsung fokus.

Xu Kong juga ikut mencondongkan tubuhnya.

Pria itu melanjutkan.

"Tepatnya di Menara Arsip Timur."

Begitu mendengar nama lokasi tersebut, mata Cang Xuan langsung berbinar.

Akhirnya.

Setelah sekian lama mencari informasi, mereka akhirnya menemukan petunjuk yang benar-benar berguna.

Namun pria itu segera mengangkat tangannya.

"Jangan terlalu senang dulu."

Senyumnya perlahan menghilang.

"Menara itu dijaga sangat ketat."

Nada suaranya menjadi lebih serius.

"Bahkan para jenderal ikut menjaganya."

Tatapannya berpindah dari Cang Xuan ke Xu Kong.

"Tidak sembarang orang bisa masuk."

Kemudian ia kembali melanjutkan.

"Selain itu..."

Kali ini ekspresinya benar-benar serius.

"Jalan menuju menara dipenuhi berbagai jebakan."

Suasana di meja kembali menjadi tenang.

Pria itu mengetukkan jarinya ke atas meja.

"Orang yang pertama kali masuk hampir pasti akan memicu jebakan tersebut."

Meskipun peringatannya terdengar cukup mengkhawatirkan, reaksi Cang Xuan dan Xu Kong justru berbeda dari yang ia bayangkan.

Alih-alih kehilangan semangat, keduanya malah terlihat semakin bersemangat.

Karena bagi mereka, lokasi gulungan jauh lebih penting daripada tingkat kesulitan untuk mencapainya.

Setelah memberikan berbagai informasi penting kepada mereka, pria paruh baya itu tiba-tiba menunjukkan ekspresi berpikir. Alisnya sedikit berkerut seolah sedang berusaha mengingat sesuatu yang terlupakan.

"Hm?"

Ia mengetuk dagunya pelan.

"Tunggu sebentar."

Tanpa menjelaskan apa pun, pria itu langsung berdiri dari kursinya lalu berjalan menuju bagian belakang warung.

Cang Xuan dan Xu Kong hanya bisa memperhatikannya dengan bingung.

Tak lama kemudian terdengar suara lemari dibuka dan ditutup dari balik ruangan.

Brukk!

Kraak!

Beberapa benda bahkan terdengar jatuh ke lantai.

Mendengar keributan itu, Cang Xuan tidak bisa menahan rasa penasarannya.

"Apa yang dia cari?"

Xu Kong hanya menggeleng pelan.

"Aku juga tidak tahu."

Keributan dari belakang warung terus berlanjut selama beberapa menit. Sesekali terdengar suara pria itu bergumam sendiri, seolah sedang mencari sesuatu yang telah lama tersimpan.

Kemudian tiba-tiba terdengar suara penuh kegembiraan.

"Ah!"

"Akhirnya ketemu!"

Beberapa saat kemudian pria itu kembali muncul sambil membawa sebuah gulungan tua yang tampak sudah berusia cukup lama. Permukaan gulungan tersebut terlihat sedikit menguning dimakan waktu, tetapi kondisinya masih cukup baik.

Ia berjalan menuju meja mereka lalu meletakkan gulungan itu di atas permukaan meja dengan hati-hati.

"Lihat ini."

Mata Cang Xuan dan Xu Kong langsung tertuju pada benda tersebut.

Pria itu membuka sebagian gulungan lalu memperlihatkan isi di dalamnya.

"Ini peta bagian dalam istana."

Mata Cang Xuan langsung membesar.

"Peta istana?!"

Bahkan Xu Kong yang biasanya lebih tenang pun tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya.

Pria itu hanya menganggukkan kepala.

"Dulu aku menyimpannya."

Tatapannya tertuju pada peta yang terbentang di atas meja.

"Kurasa benda ini akan membantu kalian."

Jarinya menunjuk beberapa bagian penting di dalam gambar tersebut.

"Setidaknya kalian tidak akan tersesat saat berada di dalam."

Cang Xuan menerima gulungan itu dengan kedua tangan seolah sedang memegang harta yang sangat berharga.

Wajahnya dipenuhi rasa syukur.

"Terima kasih banyak, Paman."

Di sampingnya, Xu Kong juga menganggukkan kepala dengan hormat.

Bagi mereka, peta ini jauh lebih berharga daripada emas atau batu spiritual.

Karena benda ini dapat meningkatkan peluang keberhasilan misi mereka secara drastis.

Namun pria itu hanya melambaikan tangannya dengan santai.

"Tidak perlu berterima kasih."

Kemudian ia tersenyum tipis.

"Kalau kalian benar-benar ingin masuk ke sana, gunakan peta itu dengan baik."

Tatapannya menjadi sedikit lebih serius.

"Karena sekali kalian melangkah ke dalam istana, tidak akan ada jalan yang mudah."

Cang Xuan dan Xu Kong mengangguk bersamaan.

Mereka memahami maksud dari peringatan tersebut.

Setelah itu, pria itu kembali menunjuk ke arah meja makan mereka.

"Sudah."

Senyum santainya kembali muncul.

"Lanjutkan makan kalian."

Ia menunjuk hidangan yang masih mengepulkan uap hangat.

"Nanti keburu dingin."

Mendengar itu, Cang Xuan dan Xu Kong saling berpandangan sebelum tertawa kecil.

Mereka kemudian kembali menyantap makanan mereka.

Namun kali ini suasana hati keduanya jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Mereka tidak lagi berjalan tanpa arah.

Mereka sudah mengetahui lokasi gulungan.

Mereka memiliki petunjuk mengenai Menara Arsip Timur.

Dan sekarang mereka bahkan memiliki peta bagian dalam Istana Timur.

Semua informasi yang mereka butuhkan perlahan mulai terkumpul.

Sementara itu, di sisi lain Kota Timur, Tuan Xin dan Ling Yue terus berjalan menuju kawasan pelabuhan. Setelah melewati beberapa jalan utama yang ramai dan dipenuhi para pedagang serta pengelana dari berbagai daerah, mereka akhirnya tiba di salah satu tempat tersibuk di seluruh kota.

Di hadapan mereka terbentang lautan luas yang berkilauan di bawah cahaya matahari. Deretan kapal besar berlabuh di sepanjang dermaga, sementara para pelaut dan pekerja pelabuhan hilir mudik mengangkut peti-peti barang ke berbagai kapal yang akan berlayar menuju wilayah lain. Suara teriakan para pekerja, derit tali kapal, serta deburan ombak yang menghantam dermaga bercampur menjadi satu, menciptakan suasana yang sangat hidup.

Ling Yue menghentikan langkahnya sejenak untuk memperhatikan pemandangan di depannya. Ini adalah pertama kalinya ia melihat pelabuhan sebesar ini di Dunia Bawah. Matanya sedikit membesar sebelum ia berkata pelan, "Jadi itu pelabuhannya."

Di sampingnya, Tuan Xin meneguk arak dari kendi kecilnya sebelum menganggukkan kepala dengan santai. Senyum tipis muncul di wajah lelaki tua itu ketika ia menjawab, "Iya. Dan orang yang akan membantu kita seharusnya berada di sini."

Setelah mengatakan hal itu, pandangannya perlahan menyapu seluruh area pelabuhan. Tatapannya bergerak dari satu kapal ke kapal lain, lalu berpindah ke para pekerja dan pelaut yang berlalu-lalang di sekitar dermaga. Dari luar, ia terlihat seperti seseorang yang sedang menikmati pemandangan pelabuhan. Namun Ling Yue tahu bahwa lelaki tua itu sebenarnya sedang mencari seseorang.

Karena itulah ia ikut memperhatikan keadaan sekitar. Meskipun tidak mengetahui siapa orang yang dimaksud Tuan Xin, ia yakin orang tersebut bukanlah sosok biasa. Jika tidak, Tuan Xin tidak mungkin datang langsung ke pelabuhan hanya untuk menemuinya.

Angin laut berhembus pelan, membuat ujung pakaian mereka berkibar. Aroma air laut dan kayu basah memenuhi udara di sekitar dermaga. Di kejauhan, beberapa kapal dagang terlihat sedang bersiap meninggalkan pelabuhan, sementara kapal-kapal lain baru saja tiba setelah menempuh perjalanan panjang dari wilayah yang jauh.

Di tengah keramaian itu, Tuan Xin terus mengamati keadaan dengan tenang. Tidak ada yang menyadari bahwa di balik sikap santainya, ia sedang menjalankan bagian penting dari rencana mereka. Jika semuanya berjalan sesuai harapan, maka pelabuhan ini akan menjadi jalan yang membawa Cang Xuan dan yang lainnya menuju benua berikutnya setelah urusan di Kota Timur selesai.

End Chapter 32

1
asri_hamdani
tangkap 1-2 kan bisa untuk ganjel perut lapar 🤔
.: karena menurut Cang xuan menangkap hewan hewan kecil seperti kelinci ataupun kucing hutan itu hanya membuang-buang waktu karena hewan tersebut memiliki pergerakan yg cukup lincah Apalagi walaupun berhasil menangkap dia hanya mendapatkan koin yg sedikit apalagi dia mempunyai waktu terbatas yaitu jangan sampai malam hari karena banyak monster abbys yg berkeliaran oleh karena itu daripada membuang buang waktu ke hewan yg memiliki nilai koin yg sedikit menurut Cang xuan lebih baik mencari hewan yg ukuran nya cukup besar dan mendapatkan koin yg lebih banyak dibandingkan harus bersusah payah menangkap hewan ukuran kecil
total 1 replies
Kevandra
B🌻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!