Veliora tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah ibunya menikah dengan pria paling berbahaya di dunia elite Jakarta.
Kaelric Vorn.
Pria dingin yang dikenal sebagai penguasa bisnis internasional itu memiliki segalanya, kekuasaan, uang, dan dunia gelap yang tidak tersentuh orang biasa.
Namun di balik mansion mewah, tatapan tajam, dan nama besarnya…
Kaelric menyimpan sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Seekor black panther betina bernama Nyx.
Dan anehnya, binatang liar itu memilih Veliora.
Awalnya Veliora hanya ingin bertahan hidup di dunia baru yang terasa asing baginya.
Namun semakin lama dia berada di sisi Kaelric…
semakin dia menyadari bahwa pria itu bukan sekadar ayah tirinya.
Kaelric terlalu protektif.
Terlalu dominan.
Dan perlahan mulai memperlakukannya seperti sesuatu yang tidak ingin dia lepaskan.
Di tengah dunia elite penuh rahasia, pengkhianatan, dan kekuasaan…
Veliora terjebak di antara rasa cinta terhadap Ayah Tirinya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wandhansari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 : Pertemuan Kaelric Vorn Dan Alessandro Vorneti
Nama Alessandro Vorneti bukan hal asing bagi Bismantaka. Pria itu dikenal luas, tidak terikat, sulit ditebak, dan berbahaya.
Namun justru karena itu sangat menarik. Bismantaka menatap laporan di tangannya, senyum tipis terbentuk di sudut bibirnya.
“Akhirnya mereka memanggil orang luar,” gumamnya pelan.
Baginya, itu bukan ancaman justru adalah sebuah peluang. Karena satu hal yang ia yakini
semua orang selalu punya celah.
Dan Bismantaka akan memanfaatkan celah yang ada untuk sesuatu yang dia inginkan.
Ruangan itu nampak tenang. Cahaya lampu redup memantul di kaca jendela besar. Kota di luar masih hidup, namun di dalam semuanya terasa terpisah.
Sementara itu di Vorn Aegis Consortium, Kaelric Vorn berdiri menghadap jendela. Tangannya di saku, sikapnya tegak. Sementara itu di belakangnya, Alessandro Vorneti duduk santai di kursi, satu kaki disilangkan.
“Adiwinata mulai goyah, bro.”
Kaelric membuka percakapan tanpa berbalik.
Nada suaranya datar.
Alessandro tersenyum tipis.
“Aku lihat itu tidak buruk.”
Ia mengangkat gelasnya, memutar cairan di dalamnya perlahan.
“Untuk sebuah retakan awal.”
“Bukan retakan tetapi ujian, bro."
jawab Kaelric singkat
Alessandro tertawa pelan.
“Selalu saja begitu.”
Ia menatap punggung sepupunya.
“Kau tidak pernah melihat sesuatu sebagai kebetulan.”
“Karena memang tidak ada.”
Jawaban itu datang tanpa jeda.
Hening sejenak. Namun bukan hening kosong
lebih seperti ruang untuk berpikir.
“Aku benar-benar penasaran,” ujar Alessandro kemudian.
“Kenapa tidak langsung kau hancurkan saja?”
Nada suaranya ringan. Hampir seperti candaan.
“Dengan semua yang kau punya itu bukan hal sulit.”
Kaelric akhirnya berbalik. Tatapannya langsung mengarah pada Alessandro. Begitu tenang dan tegas.
“Karena aku tidak sedang menghancurkan.”
Alessandro mengangkat alis sedikit.
“Oh?”
“Aku sedang menjaga sesuatu, bro. Dan sesuatu itu tidak boleh lepas dari tanganku."
Kalimat itu sederhana. Namun cukup untuk mengubah arah percakapan.
Alessandro menurunkan gelasnya pelan.
“Menarik.”
Ia bersandar lebih dalam.
“Jadi semua ini hanya cara eleganmu menjaga sesuatu?”
“Semua yang ada di bawah namaku tentu saja aku jawab iya, ” jawab Kaelric.
“Dan itu akan tetap berdiri, tidak boleh disentuh oleh orang lain.”
"Bukankah kau tahu sendiri bagaimana seorang Adiwinata waktu itu membantu Papiku bangkit dari keterpurukan."
Alessandro tersenyum. Bukan mengejek.
Lebih seperti memahami. Karena dia tahu, Kaelric bukanlah orang yang mudah untuk diremehkan ataupun dijatuhkan.
“Dan kau memanggilku,” lanjutnya,
“karena kau tahu aku tidak akan bermain sebersih itu.”
Kaelric tidak menyangkal. Dia melihat Alessandro sekilas.
“Karena kau tidak terikat.”
“Ah.”
Alessandro mengangguk pelan.
“Ini tentang uang lagi?”
Kaelric menatapnya. Tidak lama. Namun cukup dalam.
“Bukan, ini tentang kendali dan kontrol.”
Alessandro terkekeh ringan.
“Selalu saja begitu.”
Ia bangkit dari kursinya, berjalan mendekat.
Langkahnya santai. Tidak terburu.
“Bagimu, semuanya harus terukur.”
Ia berhenti beberapa langkah dari Kaelric.
“Setiap angka, setiap langkah semua pasti ada tujuannya.”
Kaelric tidak menjawab. Namun dia tidak menyangkal apa yang diucapkan Alessandro.
“Sedangkan aku…”
Alessandro mengangkat bahu sedikit.
“Aku tidak pernah benar-benar peduli dengan angka.”
Suasana hening sejenak.
“Aku hanya menikmati permainan, itu saja!"
Nada suaranya tetap ringan. Namun ada sesuatu di baliknya.
“Dan itu sebabnya aku memanggilmu.”
Jawaban Kaelric tenang tapi tegas.
Tatapan mereka bertemu. Tidak ada permusuhan. Tidak juga persaingan.
Hanya ada satu kata yaitu pemahaman.
“Kau ingin aku masuk,” ujar Alessandro,
“bukan untuk menyelamatkan.....”
Ia berhenti sejenak. Senyumnya tipis.
“tetapi untuk membuat mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi.”
Alessandro menatap Kaelric lekat.
“Cukup sampai mereka kehilangan pijakan,” jawab Kaelric.
Alessandro mengangguk pelan.
“Dan Ravian?”
“Dia aku tarik kembali ke Aegis.”
Singkat dan itu keputusan final. Bahkan tidak ada perdebatan di antara mereka. Sudah seperti biasanya, setiap Kaelric ingin melibatkan Alessandro dalam permainan bisnisnya. Atau bahkan, ingin menjatuhkan lawan bisnisnya tanpa menggunakan tangannya.
Alessandro berjalan menjauh sedikit, lalu berhenti. Tangannya dimasukkan ke saku.
“Baiklah,” katanya akhirnya.
Nada suaranya ringan seolah semua ini hanya urusan kecil.
“Aku akan bermain dengan caraku.”
“Dan kau pastikan hasilnya harus sama.”
Alessandro tersenyum. Kali ini lebih dalam.
“Selalu, percayalah pada sepupumu ini.”
Hening kembali memenuhi ruangan. Dua orang. Dengan dua cara berpikir. Namun satu hal tetap sama : Mereka tidak bermain di level yang sama dengan orang lain.
Siang itu juga Alessandro meninggalkan Aegis tower dan kembali ke hotel tempat dia menginap.
Tadi, sebelum dia pergi ke Aegis tower, dia menyempatkan diri melihat rumah Kaelric yang ditempati Gerard sebelum diusir waktu itu.
Dan kini, rumah itu akan ditempati oleh Alessandro.
"Bagaimana kabar gadis itu?. Hampir dua bulan tidak memberi aku kabar."
"Adeliora, gadis cantik itu."
Suara notifikasi dari handphone membuyarkan lamunan Alessandro. Dia membukanya, senyum manis mengembang.
Adeliora, gadis cantik itu ingin bertemu dengannya. Dia minta ingin bertemu di hotel saja, tempat dimana Alessandro menginap saat ini.
Adeliora ini sosok gadis yang tidak ingin segala sesuatu tentang hidupnya diketahui publik. Dia memang sudah lama menjalin hubungan asmara dengan Alessandro. Tapi, mereka berdua menjalani diam-diam di belakang layar.
Jika mereka ingin bertemu, maka hotel mewah-lah jawabannya.
Alessandro sangat tergila-gila dengan Adeliora. Sebelum ini, jika ingin bertemu, mereka lebih banyak melakukannya di luar negeri.
Entah, di Italia, Singapura atau negara mana yang diinginkan Adeliora. Dan Alessandro pun tak pernah keberatan.
Mereka berdua akan memanfaatkan pertemuan mereka dengan sesuatu yang membangkitkan hasrat di antara mereka.
Perlu diketahui, mereka berdua adalah hyper. Jadi, sudah tahu ya?
Sangat berbeda dengan Ravian dan Adisti. Ravian dan Adisti selalu bertemu di tempat-tempat terbuka. Di cafe atau dimana tempat yang mereka berdua sukai.
Pintu kamar hotel, tempat Alessandro menginap diketuk seseorang. Alessandro membukakan pintu.
"Mengapa kau tidak memberitahu aku?"
Adeliora langsung menyerbu Alessandro dengan ganasnya. Alessandro tak terkejut dengan sikap Adeliora.
Dia malah menyukai sikap gadis cantik itu yang blak-blakan dan apa adanya.
Alessandro akhirnya membawa Adeliora ke ranjang king sizenya.
Baju yang mereka kenakan pun entah lari kemana. Mereka berdua sedang bergairah kini.
Melampiaskan hasrat yang tertunda selama dua bulan ini.
"Lagi sayang, lebih kuat... Aah enak banget, sayang."
Adeliora meracau penuh kenikmatan.
"Aku gak mau kamu meninggalkan aku."
Adeliora posisi di bawah Alessandro. Pinggul pria itu naik turun, kadang cepat, kadang lambat."
"Aaah sakit, Alessandro. Aaaahhh....!"
Alessandro menghujani ciuman di bibir Adeliora.
"Kamu bisa diam gak?. Semakin keras kamu berteriak, semakin keras juga milikku memasuki punyamu."
'Ah manaaa?.. Ini kan cuma jari kamu. Tapi, aaah aaaah saaakit!"
"Kalau sakit, kenapa minta terus?. Hemmm...?"
"Bantu aku dulu, punyaku belum mengeras."
Bisik Kaelric ke telinga Adeliora.
"Baiklah, sekarang pindah posisi aja gimana?"
"Atau kita main di balkon atau bathup, sambil mandi."
"Tapi, Alessandro. Aku ingin disini saja. Biasanya, kau yang dahulu menyergapku,... dan naik ke atasku. Hemmm???"
"Ada apa ini?. Apa kau sudah bosan denganku?"
Adeliora mencumbui Alessandro. Dia menggesekkan bagian bawah tubuhnya kearah tonjolan milik Alessandro yang entah kenapa hari itu seperti tak bergeming.
Alessandro menggeleng.
"Aku tak pernah bosan denganmu sayang."
"Benarkah?"
Alessandro menggeleng lemah.
"Kita tidur saja, sambil... Seperti biasanya."
Alessandro tersenyum kecil pada Adeliora.
Akhirnya, mereka berdua merebahkan tubuh.
"Alessandro....!"
"Ya, sayang."
"Aku mau kamu diatas, kita pejamkan mata. Lalu, pelan sekali... Kamu... aah begini."
Tangan Adeliora menyentuh milik Alessandro dan ditekankan pada intinya.
"Sayang, gerakkan tanganmu naik turun."
Adeliora pun menggerakkan tangannya. Naik turun. Bahkan ritmenya dipercepat. Hingga Alessandro mendesah. Benda miliknya sudah mengeras kini. Buru-buru dia masukkan ke inti milik Adeliora.
Gadis itu pun menggelinjang, serasa di aliri listrik beribu volt saja layaknya.
Alessandro dan Adeliora melakukan pelepasan. Mereka berteriak. Dan akhirnya terkulai lemas tak berdaya.
Adeliora malam itu, seperti biasanya yang selalu dia lakukan. Menginap di hotel tempat Alessandro bermalam. Dia tidak pulang ke rumahnya.