NovelToon NovelToon
Dalam Dekapan Istri Muda

Dalam Dekapan Istri Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: ratu_halu

Elizabeth Zamora atau yang biasa di panggil dengan Liz telah terjebak dalam pernikahan kontrak yang membawa dia pada titik terendah dalam hidupnya.

Akankah Liz bisa melalui takdir yang telah digariskan semesta untuknya ??

Happy Reading 💜
Enjoy 🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22

Ketika Liz sudah didalam mobil menuju rumah sakit, ponsel digenggamannya bergetar, jendela notifikasi memunculkan satu pesan yang membuat wajah Liz menegang seketika.

'Temui aku dicafe biasa jam 11'

Satu pesan itu dikirim Yurike tanpa salam bahkan tanpa menanyakan kabarnya setelah kejadian semalam.

Liz tidak membalas nya, di mengabaikan pesan itu dan kembali memasukkan ponsel ke dalam tas tangannya.

Sampai dirumah sakit, Liz langsung keruangan Ibu.

"Liz, Ibu mau pulang!"

Sejak kemarin Ibu selalu begitu, namun kali ini Liz tidak berusaha untuk menenangkan. Liz hanya diam seolah tidak mendengar rengekan Ibunya.

"Kamu denger nggak, sih, Liz ?!" nada suara Ibu meninggi, membuat Liz harus menahan sesak di dada.

"Iya, Bu. Liz denger," Jawab Liz dengan nada lembut.

"Ya terus kenapa kamu masih keras kepala nyuruh Ibu dirawat kaya gini ? Kamu mau menyiksa Ibu lebih lama lagi ?" Cerocos Ibu dengan wajah sinis.

Liz menggeleng, lalu maju selangkah mendekat ke brangkar Ibu.

"Bu, Liz ngelakuin ini karena Liz sayang sama Ibu. Di dunia ini Liz cuma punya Ibu. Liz mau Ibu panjang umur dan kembali sehat, bisa beraktifitas lagi seperti dulu."

Ibu terdiam seribu bahasa, matanya berkaca-kaca menahan kesal sekaligus sedih.

Liz tersenyum sebelum berlalu ke kamar mandi.

Didalam sana Liz mencoba menenangkan diri. Jujur, sebagai seorang anak ada banyak sekali yang ingin Liz utarakan pada Ibu, ingin cerita ini dan itu, tapi Liz tidak mau menambah beban pikiran Ibu. Liz hanya bisa memendam semuanya sendiri. Meski setiap detiknya terasa mencekik leher.

Ketika Liz keluar dari kamar mandi, ternyata didalam ruangan ada suster jaga yang sedang memeriksa keadaan Ibu sambil membawakan sarapan.

"Hari ini dokter Ridwan datang sedikit terlambat, Bu." ucap Suster seraya menyiapkan meja makan Ibu.

Liz mendengar sedikit percakapan Ibu dan suster.

Ketika melihat Liz, Ibu tiba-tiba membuang muka.

Liz membuang nafas berat.

"eh, Nona Liz. Maaf, saya tidak tahu kalau Nona sudah datang." ucap suster sambil merapikan peralatan nya.

"Selamat pagi, Sus." Sapa Liz, ramah.

"Selamat pagi, Nona. Oh ya. Hari ini dokter Ridwan datang sedikit terlambat Nona. Mungkin akan telat setengah sampai satu jam." Suster memberitahu Liz sebagai wali pasien.

"Baik, Sus. Tidak masalah."

"Kalau begitu saya permisi,"

Setelah Suster jaga pergi, Ibu tiba-tiba meminta Liz untuk membelikan sesuatu.

"Liz, em... tolong belikan Ibu bubur ayam untuk sarapan. Ibu bosan dengan makanan rumah sakit."

Liz tidak membantah, dia tahu makanan rumah sakit memang tidak menggugah selera dan cenderung hambar.

"Iya, Bu. Sebentar ya." Liz mengambil dompet kecil dan ponselnya dari dalam tas.

Liz turun menuju kantin rumah sakit.

"Bu, bubur ayamnya satu. Dibungkus ya. Jangan pake kacang dan sambal. Kerupuknya dipisah." Kata Liz pada penjual bubur.

Penjual itu mengangguk paham lalu segera membuatkan pesanan untuk Liz.

Sementara pesanannya disiapkan, Liz duduk di kursi yang tak jauh dari stand bubur tersebut.

Liz membuka ponselnya, ada beberapa pesan yang masuk dari Tama.

'Maaf aku tidak mengantarmu kerumah sakit. Aku harus keluar kota hari ini,'

'Bik Surti bilang, katanya kamu hanya makan satu suap. Apa perutmu sakit ?'

'Selagi kamu dirumah sakit, tidak ada salahnya periksa kesehatan. Mungkin maag mu kambuh,'

'Liz, apa aku harus datang menemuimu sekarang agar aku tidak perlu repot-repot mengkhawatirkanmu disana ?!'

'Balas pesanku segera setelah kamu membacanya!'

Tama memberondong Liz dengan pesan-pesan yang terasa menghangatkan hati.

Liz membalas.

'Jangan khawatir, aku baik-baik saja.'

Liz membalas pesan itu, terlalu singkat dan... kaku.

Ting!

Sedetik kemudian pesan balasan muncul.

'Besok pagi aku usahakan sudah dirumah. Ingat! Jangan pergi kemanapun tanpa izinku!'

Namun, belum sempat Liz membacanya, pesanan bubur Liz sudah siap.

"Jadi berapa, Pak ?" tanya Liz sambil membuka dompetnya.

"15 ribu, Mbak."

Liz membayar dengan uang pas, kemudian bergegas untuk kembali ke kamar rawat Ibu.

"Ibu, ini bu..,"

Senyum dibibir Liz membeku seketika. Tangannya yang tadi memegang plastik dengan santai kini mencengkram erat benda itu hingga buku-buku jarinya memutih pasi.

"Liz, kamu darimana ? Aku datang kok malah pergi ?!"

Liz tidak langsung menjawab, dia hanya mematung di dekat pintu, menyaksikan Yurike yang duduk di samping ranjang Ibu.

Yurike berdiri, menyambut kedatangan Liz dengan sumringah.

"Ka-kamu... ngapain kamu kesini ?" bisik Liz lirih.

"Loh, Liz. Kok kamu ngomongnya gitu ? Apa kamu belum minta maaf sama Yurike ? Ibu kan kemarin sudah bilang, salah atau nggak, kamu harus tetap minta maaf. Yurike ini sahabatmu satu-satunya, jangan sampai persahabatan kalian hancur karena kesalahpahaman!"

"Ndak apa-apa, Bu. Aku sudah memaafkan, tidak baik kan marahan terlalu lama." Ucap Yurike dengan suara dibuat-buat. Bahkan Liz bisa melihat sepasang matanya menunjukkan kebohongan yang nyata.

Liz mencoba tersenyum, seluat tenaga menahan air mata yang mendadak mendesak ingin keluar. Sudut hatiku terasa perih. Bukan karena 'kelakuan' Yurike yang membuatnya ingin menangis, melainkan karena ucapan Ibu yang membela Yurike sampai sebegitunya.

Yurike maju, menyambar bungkusan bubur dari tangan Liz.

"Ini sarapan buat Ibu, kan ? Yasudah, biar aku yang suapi Ibu,"

"Nggak usah! Biar aku aja!" Liz hendak meraih kembali platik dari tangan Yurike, namun Ibu langsung menghentikannya.

"Sudahlah, Liz. Hari ini Ibu mau disuapi Yurike."

Suara lantang Ibu tiba-tiba menginterupsi ucapan Liz. Yurike langsung melemparkan senyum puas ke arah Liz.

"Kamu lebih baik berangkat kerja saja. Sudah jam segini, jangan dibiasakan terlambat," Lanjut Ibu ketus, tanpa memedulikan sama sekali bagaimana ucapannya menusuk perasaan putrinya sendiri.

Liz hanya bisa tersenyum getir di dalam hati. Menakjubkan sekali, bagaimana manusia bisa berubah begitu cepat.

"Eh, tunggu..," Yurike berpura-pura mengingat sesuatu, Ibu menunggunya bicara, sementara Liz sudah bersiap untuk mendengar apa lagi yang akan Yurike katakan didepan Ibu kali ini.

"Bukannya kamu udah resign, ya ?" Yurike melirik ke Ibu sambil menyembunyikan senyumnya.

Ibu menatap Liz dengan tatapan kaget bercampur marah, "Liz, kamu berhenti kerja ? Astaga, nak, apa yang kamu pikirkan ? Cepat hubungi Pak Revan, katakan kamu salah dan minta maaf padanya! Kamu ini gimana sih ? Sudah tau cari kerja susah, kenapa juga malah berhenti!" Ibu mencak-mencak tanpa bertanya dulu alasan Liz resign.

"Bu, Liz sudah tidak bisa masuk lagi keperusahaan itu. Lagi pula posisi Liz dikantor sudah ada yang menggantikan." Jawab Liz pelan. Suaranya datar tanpa emosi.

"Apa suamimu tau kalau kamu berhenti kerja ?" tanya Ibu lagi,

"Tunggu, Bu ?" Potong Yurike. Nadanya dibuat shock seolah belum tau tentang kabar pernikahan Liz. "Su-suami ? Ka-kamu sudah menikah ?"

Liz terdiam sejenak, menatap langit-langit ruangan, menarik nafas panjang seolah mencoba mengeluarkan seluruh racun yang selama ini mengendap diparu-parunya.

"Cukup, Yurike!" Ucap Liz tiba-tiba.

"Liz, apa-apaan kamu ? Kenapa kamu membentak Yurike ?"

Liz mengangkat tangan, memberi isyarat agar Ibunya tenang. Ia kembali menatap Yurike dengan tatapan sedingin es.

"Jangan bersandiwara lagi! Sikapmu membuatku mual!" Ucap Liz membuat Yurike tersentak.

"Li-liz, kenapa kamu bicara begitu padaku ?" Yurike sengaja memainkan drama seolah dirinya korban dihadapan Ibu, tangannya dibuat gemetar mencoba meraih ujung jemari Elizabeth.

Liz menarik tangannya menjauh dari jangkauan Yurike. Matanya menatap mantan sahabatnya itu dengan rasa muak yang tak lagi bisa disembunyikan.

"Liz, apa-apaan kamu ini ?" Ibu membentak Liz, kali ini suaranya jauh lebih keras.

"Bu, a-aku permisi," Yurike meletakkan bubur Ibu di nakas dengan gerakkan lambat, lalu menutup mulut dengan tangannya seolah menahan isakan. Kemudian dia berlari ke arah pintu.

"Yurike! Tunggu, nak.." Ratap Ibu melihat kepergian Yurike.

"Kejar Yurike sekarang, Liz! Ibu nggak akan maafin kamu kalau Yurike sampai nggak mau datang lagi menemui kita!"

1
Fitria Syafei
KK cantik kereen 😍 kereen 😍 terimakasih 😘
Fitria Syafei
hadeh Yurike kudu diapain yaa 🤨 KK cantik kereen 😍 terimakasih 😍
Fitria Syafei
waduh kasihan Liz KK 🙄 KK cantik kereen 😘 kereen 😘
Fitria Syafei
KK cantik mantaf 😍 terimakasih 😘 terimakasih 😘
Fitria Syafei
asyik..asyik.. mereka mau bersatu ... 🫠 KK cantik mantaf 🥰 terimakasih 🥰
Fitria Syafei
semoga mereka selalu bersama dan bersatu 🤲 KK cantik kereen 😍 terimakasih 😍
Fitria Syafei
nahloo Yurike...senjata makan tuan ...🙄 KK cantik mantaf 😘 terimakasih 😘
Fitria Syafei
KK cantik mantaf 😍 kereen 😘 terimakasih 😘
Fitria Syafei
kasihan kau Liz 🥺 KK cantik kereen 😘 kereen 😘
Fitria Syafei
yang sabar yaa Liz 🥺 KK cantik mantaf 😍 terimakasih 😍
Fitria Syafei
waduh ngancem nya... jahat juga yaa ..kaya rentenir 😜 KK cantik kereen 😘 terimakasih 😘
Fitria Syafei
mungkin kah mereka bersatu 😔 KK cantik kereen 😘 terimakasih 😘
Fitria Syafei
hadeh Yurike Yee kalau ngomong nyakitin orang 😡 kk cantik kereen 😘 terimakasih 😘
Fitria Syafei
aneh yaa mereka 🙄 KK cantik pinisirin 😘
Fitria Syafei
semangat KK cantik 😘 KK cantik kereen 😍 terimakasih 😍
Fitria Syafei
waduh KK mungkinkah mereka bersatu 🙄 KK cantik mantaf 😍 terimakasih 😍
Fitria Syafei
KK cantik kereen 😘 kereen 😘 terimakasih 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!