Rumi sudah tiga tahun menikah dengan Fathur. Sebenarnya rumah tangga mereka baik-baik saja. Hanya saja menjadi tidak baik-baik karena selalu di recoki oleh ibu dan keluarga Fathur lainnya.
Hingga akhirnya saat Rumi kembali hamil, namun untuk kedua kalinya juga dia harus kegu guran karena ulah sang ibu mertua. Bu Sri tak pernah ingin jika Fathur memiliki anak dari Rumi.
Rumi jelas marah dan pun cak amarahnya saat Bu Sri membawa mantan dari Fathur ke dalam kehidupan ruang tangga mereka. Fathur bahkan tak mampu untuk membela istrinya.
Apakah dengan kenyataan seperti ini Rumi siap menjadi janda? Ataukah dia malah lebih memilih bertahan dengan kenyataan seperti itu?
"Jangan banyak membantah jika kamu tak ingin di Jan da kan oleh Fathur!" ancam Bu Sri.
"Jadi Jan da? Siapa takut Bu!" jawab Rumi membuat suami dan ibu mertuanya melongo tak percaya.
Ikuti terus kisah Arumi selengkapnya. Jangan lupa baca sampai akhir, karena ada banyak keseruan dari Rumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi Janda? Siapa Takut? 30
Di dalam mobil Honda Jazz putih yang terparkir tak jauh dari toko, suasana mendidih. Bu Siti membanting pintu mobil begitu keras hingga kendaraannya bergoyang. Wajahnya yang tadi ungu karena malu, kini merah padam karena amarah yang meledak-ledak.
"Sialan! Kurang ajar benar si Rumi itu! Sejak kapan dia punya nyali bicara begitu di depan orang banyak?!" teriak Dona sambil memukul-mukul dashboard mobil.
Dona, yang masih gemetar karena hampir tersungkur tadi, melempar tas KW-nya ke kursi belakang dengan kasar.
"Ini semua gara-gara Ibu! Tadi aku sudah bilang, jangan main labrak di tempat kerjanya. Sekarang lihat? Kita malah jadi tontonan orang-orang pasar!"
"Kok kamu malah menyalahkan Ibu?! Ibu kan membelamu!"
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Bu?"
Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke rumah Bu Sri dan mengadukan perbuatan Rumi yang sudah mulai berani dan bahkan tak lagi takut kepada mereka.
"Kuranga ajar! Semakin di biarkan wanita itu malah semakin menjadi dan seenaknya saja!" emosi Bu Sri saat mendengar laporan dari Dona dan ibunya.
"Lalu bagaimana sekarang?" tanya Dona.
"Tunggu Fajar dan Fikri datang bersama dengan istri mereka kesini. Kaloan bisa bantu aku dulu beres-beres rumah kan? Aku tak bisa membereskannya sendirian," pinta Bu Sri memanfaatkan keberadaan mereka berdua dengan semaksimal mungkin.
Dona dan Bu Siti saling berpandangan dengan wajah kecut. Niat hati ingin mencari dukungan dan menyusun strategi, mereka justru terjebak menjadi pembantu dadakan. Namun, melihat sorot mata Bu Sri yang masih berapi-api, mereka tak punya pilihan selain menelan gengsi.
Suasana di dalam rumah Bu Sri tak kalah panas dengan cuaca di luar. Debu tebal menyelimuti hampir seluruh ruangan dan tumpukan baju kotor tampak menggunung di sudut ruang tamu.
Entah berapa lama Bu Sri tak membereskan rumahnya. Karena tampak sekali aroma tak sedap menu-suk hidung mereka.
Dengan gerakan ji-jik, Dona memunguti bungkus camilan yang berserakan di lantai.
"Duh, Tante! Ini sampah dari kapan sih? Sampai lengket begini di lantai," keluh Dona sambil berusaha mengelap tangannya ke tisu yang ia bawa sendiri.
Sesekali ia melirik kuku manicure-nya yang mulai kusam karena terkena debu. Bukan hanya itu, lantai rumah Bu Sri juga sangat kotor. Entah berapa lama tak pernah di bersihkan. Jangankan di pel, di sapu saja sepertinya jarang.
Sementara itu, Bu Siti dipaksa memegang sapu lidi yang sudah mulai rontok. Wajahnya ditekuk sedalam mungkin.
"Sabar, Dona. Anggap saja ini salah satu jalan kita untuk memuluskan rencana membaut Fathur menikah dengan kami!" bisik Bu Siti pelan agar tidak terdengar tuan rumah.
Namun, setiap ayunan sapunya menunjukkan kekesalan. Debu bukannya bersih, malah beterbangan ke mana-mana. Hingga membuat mereka terbatuk-batuk. Sedangkan Bu Sri sedang memilah pakaian yang bertumpuk-tumpuk di sana.
"Siti! Tolong sekalian piring-piring di dapur itu dicuci! Tadi pagi aku belum sempat menyentuhnya," teriak Bu Sri.
Bu Siti mendengus keras. Saat melangkah ke dapur, matanya hampir keluar melihat tumpukan piring yang sudah mengering dengan sisa-sisa sambal yang menghitam. Bau sangat menyengat terlihat dengan jelas. Bukan hanya wastafel melainkan dapur dan kompor yang sangat kotor. Tak ada satupun benda di sana yang terlihat bersih.
"Astaga, ini rumah atau gudang rongsokan?" batin Bu Siti meronta.
Ia menyalakan keran dengan kasar, membuat air memuncrat ke daster mahalnya.
"Kurang ajar si Rumi itu, gara-gara dia aku jadi harus berurusan dengan kotoran begini!"
Di tengah aroma debu dan keringat, Dona terus mengoceh tanpa henti. Dia kesal karena harus mengerjakan pekerjaan yang bahkan di rumahnya sendiri saja dia tak pernah melakukannya. Sedangkan sekarang di rumah Bu Sri dia harus memegang sapu dan lap pel.
"Loh Dona kok cara ngepel kamu begitu sih? Mana bisa bersih lantainya!" protes Bu Sri.
Dona yang sudah mandi keringat dan emosi, langsung melempar tongkat pel ke lantai dengan kesal.
Braaaak
"Tante, ini sudah mendingan aku mau ngepel!" sentak Dona, tidak tahan lagi. Bahkan tangannya sudah memerah.
"Lantai ini bukan cuma kotor, tapi sudah berkerak! Harusnya disikat pakai pembersih porselen, bukan pakai air biasa!"
"Loh, kamu diajak susah sedikit saja sudah membantah? Katanya mau jadi istri Fathur yang terhormat? Istri itu harus serba bisa, Dona!?" Bu Sri berkacak pinggang, matanya melotot.
"Tapi nggak gini juga Tante! Kan bisa sewa pembantu! Aku tak bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Apalagi aku juga kan sama-sama kerja. Mana ada waktu," alasan Dona.
"Iya itu nanti! Tapi sekarang kamu ngepel dulu yang bener! ayo cepat! Keburu anak-anak ibu datang," perintah Bu Sri membuat Dona mendelik namun tetap mengambil kembali ujung alat pel dengan malas.
Sementara itu, di dapur, jeritan tertahan keluar dari mulut Bu Siti.
Aaaaaaaa
Kecoaaaaa
Bu Siti melompat mundur hingga menabrak rak piring plastik yang rapuh. Akibatnya, beberapa gelas plastik dan sisa nasi kering jatuh berhamburan ke lantai dapur yang becek. Seekor kecoa terbang dengan santainya melewati kepala Bu Siti, membuat wanita itu histeris sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke udara seperti orang kesurupan.
"Siti! Ada apa sih? Berisik sekali!" teriak Bu Sri dari ruang tengah.
"Ini rumah apa sarang hama, Sri?!" balas Bu Siti dengan suara melengking.
"Ada kecoa terbang! Belum lagi bau wastafelmu ini seperti sampah yang tidak dibuang sebulan!"
Bu Sri mendengus, ia mendekat ke pintu dapur sambil memegang keranjang cucian yang isinya menggunung.
"Alah, cuma kecoa satu saja heboh. Sudah, cepat selesaikan! Fajar dan Fikri sebentar lagi sampai!" jawab Bu Sri.
Tak lama kemudian, suara deru mobil terdengar di depan rumah. Dona dan Bu Siti buru-buru merapikan pakaian mereka yang sudah acak-adakan. Dona mencoba memoles kembali lipstiknya yang luntur karena keringat, sementara Bu Siti berusaha menyembunyikan tangannya yang keriput karena terlalu lama terendam air sabun.
Pintu depan terbuka. Fajar dan Fikri masuk bersama istri-istri mereka yang tampil rapi dan wangi. Kontras sekali dengan Dona dan Bu Siti yang terlihat seperti buruh cuci dadakan.
"Loh, Tante Siti? Dona? Ada di sini juga?" tanya Fajar dengan dahi berkerut.
Dia terlihat heran melihat dua orang yang biasanya selalu tampil pamer kekayaan itu kini memegang lap dan sapu.
"Ibu, kok rumahnya bau menyengat begini? Kayak ada yang busuk." Intan, menutup hidungnya dengan sapu tangan.
Wajah Bu Sri memerah antara malu dan marah. Ia langsung menunjuk Dona.
"Ini tadi Dona lagi semangat-semangatnya bantu Ibu beres-beres, tapi sepertinya dia salah pakai cairan pembersih."
Dona hampir saja meledak karena dituduh jadi penyebab bau, tapi ibunya menyenggol lengannya dengan keras.
"Iya, Fajar, Fikri," sahut Bu Siti dengan senyum yang dipaksakan, meski hatinya mendidih.
"Sudah ayo duduk! Kalian bawa apa itu?" tanya Bu Sri saat melihat kantong plastik di tangan kedua menantunya.
"Oh ini buah dan kue buat ibu!" Jawab Hana tersenyum manis.
Senyum palsu dari kedua menantu Bu Sri yang pada akhirnya membuat Bu Sri selalu bisa luluh dengan sogokan yang di berikan mereka.
"Wah kalian benar-benar menantu yang sangat pengertian ..." puji Bu Sri.
"Ada apa sebenarnya ibu memanggil kami semua? Aku nggak bisa lama-lama di sini Bu, soalnya Aldo di rumah sana pengasuhnya!" tanya Hana.
"Iya aku juga harus segera menjemput Riko di rumah ayah sama ibu!" timpal Intan.
"Sebentar saja! Ada hal penting yang harus ibu bicarakan. Ini Masalah Rumi!" jawab Bu Sri.
"Rumi? Ada apa lagi dengan wanita kampung itu?" ketus Hana sambil mengelus perut buncitnya. Tinggal menghitung hari akan melahirkan.
rencana pura2 sakit akhir ny sakit beneran ,, fathur yg kecewa krn di bohongi dg alasan sakit ,, jd gx percaya ( semoga ) dsaat ibu ny sakit beneran ,, gmna tuuuh rasa ny bu sriii Dan kawan2 ,, 😒😒😒😒
punya rencana koq dangkal ,,
semoga rencana mereka gagal total ,, biarin tu si Dona Dan menantu bu Sri yg lain jd babu dadakan ,,
Dan Elisa yg tau rencana ini bisa kasih tau fathur ,,
biar fathur gx ke jebak ,,
nnti penyesalan akn tiba tempat pda waktu ny ,, disaat semua terjadii mungkin Rumi udh pergiii atau udh menjadi sosok yg gx mereka kiraa sebelum ny ,, 😒😒😒😒
bukan sama manusia ,, bner kata Rumi ,, rencana manusia tu baik ,, tp rencana Tuhan tu luar biasa ,,, semangat trus rumii ,, Tuhan tu tdak tidur ,, /Smile//Smile//Smile/