NovelToon NovelToon
Si Cantik Milik Ketos Sadis

Si Cantik Milik Ketos Sadis

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Filanina

Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.

​Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.

​Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.

​Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.

​Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.

​Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Klaim Kepemilikan di Atas Panggung

Ray pulang ke rumah dengan menaiki taksi. Ia tidak menunggu jadwal jemputan sopirnya seperti biasa; baginya, setiap detik di sekolah setelah kejadian di aula itu terasa seperti siksaan.

​Begitu sampai di rumah, Ray langsung melesat masuk, mengabaikan suasana rumah yang sepi. Ia menuju ruang olahraga pribadi di lantai dua—sebuah ruangan luas yang biasanya menjadi tempatnya melepas penat dengan basket atau gym. Namun kali ini, ia tidak menyentuh bola basketnya.

​Tujuannya hanya satu: samsak kulit yang tergantung berat di sudut ruangan.

​Ray masih mengenakan pakaian adat Sunda yang sudah berantakan. Ia menarik napas dalam yang terasa panas di tenggorokan, lalu melayangkan tinjuan pertamanya tanpa pelindung tangan sama sekali.

​BUGH!

​Pukulan itu begitu keras hingga samsak tersebut berayun hebat. Perih seketika menjalar di buku-buku jarinya, tapi Ray justru merasa lega. Ia butuh rasa sakit fisik ini untuk menutupi rasa sakit di dadanya yang jauh lebih menghancurkan.

​BUGH! BUGH! BUGH!

​"Kenapa, Yas...?" bisiknya parau.

​Bayangan di aula itu kembali terputar di kepalanya. Ciuman Vyan, bisikan kemenangan pria itu, dan yang paling membuat hatinya mencelos: tangan Yasmin yang memegang lengannya, memohon agar ia berhenti memukul Vyan. Di mata Ray, Yasmin bukan sedang melerai perkelahian, tapi sedang melindungi laki-laki yang baru saja mengklaim kepemilikannya di depan umum.

​"Aku yang tulus, Yas... Aku sayang kamu!" seru Ray tertahan.

​Pukulan-pukulannya mulai kehilangan teknik. Ia hanya menghantam samsak itu dengan emosi murni. Kulit di buku jari tangannya mulai lecet dan memerah, bahkan ada setetes darah yang menempel di permukaan samsak, tapi Ray tidak berhenti. Keringat membanjiri wajahnya, bercampur dengan air mata yang akhirnya pecah juga.

​'Padahal aku yang niat ngomong duluan...'

​Ray memukul lagi, kali ini lebih membabi buta. Ia memukul bayangan Vyan, memukul kenyataan pahit hari ini, dan memukul dirinya sendiri yang merasa sangat bodoh. Keringat membanjiri wajahnya, bercampur dengan air mata yang akhirnya pecah juga.

​Kulit di buku jarinya mulai lecet dan memerah, bahkan setetes darah mulai membekas di permukaan samsak, namun Ray tidak peduli. Ia terus menghantam hingga tenaganya habis. Akhirnya, ia menyandarkan dahi pada samsak yang masih bergoyang pelan, bahunya naik turun menahan isak yang menyesakkan.

Ia merasa seperti pecundang paling buruk sedunia. Di depan banyak orang, Vyan berhasil membuatnya terlihat seperti pengacau, sementara Vyan menjadi pahlawan yang melindungi kekasihnya. Ray tertawa getir di antara tangisnya. Ia teringat nomor peserta 131 yang masih menempel di bajunya—nomor yang tadinya ia pasang dengan tangan gemetar karena gugup berada dekat Yasmin.

​Di tengah kesunyian ruang olahraga itu, Ray merobek paksa nomor peserta itu lalu menjatuhkannya di lantai. Ia baru menyadarinya, bahwa dalam drama yang disusun Vyan, ia hanya figuran yang dipaksa menonton kebahagiaan orang lain dari sudut tergelap.

...****************...

Suasana di aula semakin memuncak saat pengumuman pemenang mulai dibacakan. Riuh tepuk tangan penonton mengiringi para perwakilan pemenang lomba lagu dan tari daerah yang naik ke atas panggung. Kehebohan itu seolah memberi ruang bagi Vyan untuk memecah keheningan yang sejak tadi membeku di antara mereka.

​"Kelas kamu menang, Cantik!" ucap Vyan, mencoba mencairkan suasana.

​Yasmin tersenyum sedikit canggung, matanya masih merah namun ia berusaha fokus. "Iya, benar. Reka memang jago menari."

​"Kenapa kamu tidak ikutan?" tanya Vyan lagi.

​Yasmin tertawa kecil, tawa yang terdengar merendah. "Aku tidak pandai apa-apa, Kak."

​"Rupanya kamu low profile ya, Yasmin," sahut Zia yang sejak tadi menyimak.

​"Apa?" Yasmin hanya bengong, lalu cengengesan polos karena tidak mengerti istilah itu, membuat suasana sedikit lebih ringan.

​Ketegangan kembali naik saat kategori Juara Kartini SMA diumumkan. Nama Zia disebut sebagai juara ketiga. Gadis berbaju kurung pink itu tampak terperanjat.

​"Wah, Kak Zia! Hebat!" seru Yasmin tulus.

​"Kenapa aku?" bisik Zia heran, ia merasa baru saja kembali dan belum berbuat apa-apa.

​Vyan menoleh pada Zia, tatapannya sulit dibaca. "Setahun sekolah di sini saja lo dah bisa jadi juara tiga. Gue yakin kalau lo ga pindah, pasti jadi juara satu."

​Zia tertegun mendengar kalimat Vyan yang terasa seperti pengakuan sekaligus sindiran halus. Ia pun berdiri saat Dila menjelaskan prestasi Zia di masa lalu sebagai pendiri ekskul keputrian yang pernah membawa nama baik sekolah ke majalah remaja. Tepuk tangan meriah membahana, menghargai kembalinya sang "bintang" lama.

​Yasmin hanya bisa terpaku menatap punggung Zia. 'Ternyata Kak Zia memang hebat ya! Sudah cantik, pintar lagi...' batinnya kagum. Ia melirik Vyan, namun pemuda itu hanya menatap lurus ke panggung dengan wajah datar yang menyimpan banyak rahasia.

​"Sekarang, ada satu kategori yang pesertanya diikuti oleh semua yang ada di sini, baik guru maupun murid," suara Tegar menggema. "Kategori Busana Terbaik! Kami harap juaranya belum pulang. Untuk wanita, juara tiga adalah nomor 19, juara dua nomor 38, dan juara satu... nomor 130!"

​Seorang siswi dan seorang guru maju ke depan. Dila dan Tegar sempat bingung mencari pemegang nomor 130 yang belum juga menampakkan diri.

​"Wah, sayang sekali juara satunya sudah pulang," gumam Yasmin pelan, ikut merasa kehilangan sosok juara itu.

​"Bagaimana kalau kita umumkan kategori pria dulu?" sela Dila. "Juara tiga nomor 100, juara dua nomor 40, dan juara satu... nomor 10!"

​Yasmin heran melihat Vyan tiba-tiba berdiri. "Kak Vyan mau ke mana?"

​"Aku menang, Yasmin," jawab Vyan singkat. Ia menatap Yasmin, lalu matanya tertuju pada kertas nomor yang tadi dipasang Ray di bahu Yasmin. Vyan menghela napas panjang, ada kilat keterkejutan di matanya. "Cantik, kenapa kamu tidak bilang kalau kamu nomor 130?"

​Yasmin bengong. Agil yang duduk di samping mereka juga ikut terperangah. 'Yo, kalian benar-benar menjadi pasangan di atas panggung,' batin Agil sambil menggelengkan kepala, tak menyangka takdir (atau campur tangan Bu Desi) begitu rapi bekerja.

​Vyan tidak memberi waktu bagi Yasmin untuk bingung lebih lama. Ia meraih tangan Yasmin, menggenggamnya erat, dan menuntunnya membelah kerumunan menuju panggung. Saat mereka berjalan, bisik-bisik mulai menjalar di antara para siswa.

​"Aku dengar dulu Kak Zia dan Kak Vyan pacaran, masa sekarang Vyan sama anak baru itu?"

"Tapi lihat deh, mereka serasi banget..."

​Langkah mereka memang menciptakan pemandangan yang memukau. Vyan dengan wibawanya yang tajam dan Yasmin dengan kebaya modern hasil sentuhan tangan dingin ibunda Ray terlihat begitu selaras. Warna dan potongan busana mereka seolah sudah dirancang untuk bersanding di bawah lampu panggung.

​Bu Dinda yang duduk di barisan guru mengerutkan alis melihat putranya. Dia yakin Vyan yang menggenggam tangan Yasmin dengan posesif seolah ingin pamer memiliki arti yang jauh lebih dalam dari itu.

'Apa karena Zia kembali?' pikirnya. Hatinya merasa sedikit kesal. Bagaimana pun, sebagian guru kini sudah tahu kalau Vyan putranya.

​Sesampainya di panggung, Dila dan Tegar menyambut mereka dengan antusias. "Ternyata Kak Vyan yang menang! Dan juara satu kategori wanitanya ada di sini!" seru Dila.

​Semua mata tertuju ke panggung pertunjukan itu. Namun, bukan lagi untuk mengagumi detail busana atau piala yang berkilauan. Fokus massa telah bergeser sepenuhnya pada Vyan tampak begitu posesif; ia hanya melepaskan genggamannya saat harus menerima piagam hadiah, meninggalkan Yasmin yang berdiri kaku dengan wajah merona hebat di sampingnya.

​Keriuhan itu seketika berubah menjadi gumaman yang menjalar cepat ke setiap sudut aula. Kemenangan di acara Kartini itu benar-benar kehilangan pamor ketika Sang Ketos menunjukkan otoritas kepemilikannya terhadap Yasmin. Bagi warga sekolah, ini adalah "berita besar" abad ini.

Selama hampir dua tahun bersekolah di sana, Vyan adalah sosok yang tak tersentuh. Dia sering menjadi buah bibir karena ketampanan dan karismanya, tapi tak satu pun gadis yang berhasil mencairkan hatinya. Bahkan Zia yang saat itu merupakan satu-satunya cewek yang dekat dengannya pun hanya memiliki hubungan pertemanan dengan Vyan. Fakta bahwa Vyan tidak pernah pacaran selama ini membuat standarnya terlihat sangat tinggi dan mustahil digapai.

​Namun hari ini, di atas panggung itu, semua asumsi tersebut runtuh. Vyan tidak hanya sekadar menggandeng, tapi seolah sedang memproklamirkan bahwa pencariannya telah berakhir pada sosok gadis baru itu.

​Aksi Vyan benar-benar menghebohkan. Di bawah sorotan lampu panggung, piagam dan piala itu hanyalah benda mati yang tak berarti. Sorot mata posesif Vyan dan wajah polos Yasmin telah menjadi pertunjukan utama yang jauh lebih dramatis, meninggalkan kesan mendalam sekaligus tanda tanya besar bagi siapa pun yang menyaksikannya—terutama bagi mereka yang tahu ada hati yang baru saja hancur di sudut aula yang gelap.

...****************...

Malam itu, di bawah temaram lampu area belakang rumah, Vyan masih bergelut dengan bola basketnya. Peluh membasahi kaosnya, namun ia seolah tak punya niat untuk berhenti, terus memburu ring dengan gerakan-gerakan agresif. Bu Dinda memperhatikan dari kejauhan sebelum akhirnya melangkah mendekat. Dalam satu gerakan sigap, ia merebut bola dari tangan Vyan.

​Tanpa membuang waktu, Bu Dinda membidik dan melepaskan tembakan. Bola itu meluncur mulus, masuk ke dalam keranjang dengan suara swish yang memuaskan.

​"Oke, Bun! Ternyata Bunda lumayan juga!" puji Vyan, sedikit terkejut.

​Selama beberapa menit, Bu Dinda mencoba mengimbangi permainan putranya. Namun, fisik dan kecepatan Vyan tetap tak tertandingi. Napas Bu Dinda mulai tersengal. Dengan sisa tenaga, ia melemparkan bola basket itu ke sembarang arah sebagai tanda menyerah. Sialnya, bola itu melambung melewati pintu belakang yang terbuka lebar dan masuk ke dalam rumah.

​PRANG!

​Bunyi benda jatuh dan pecah terdengar nyaring dari dalam.

​"Ending yang kacau," gumam Bu Dinda sambil mengatur napas.

​"Ah, Bunda sengaja ya?" Vyan terkekeh, tampak tak terganggu.

​Bu Dinda menatap putranya dalam-dalam, raut wajahnya berubah serius. "Tadi siang... kamu sebenarnya sedang bermain apa sih, Vyan?"

​Vyan menghentikan tawanya. "Main?"

​"Aku tahu kamu sengaja terus-menerus memegang tangan Yasmin agar semua orang heran. Kamu ingin mereka penasaran dan mulai bergosip tentang kalian, kan?"

​Vyan menyunggingkan senyum tipis yang penuh kemenangan. "Tepat sekali, Bun. Besok gosip itu pasti sudah tersebar ke seantero sekolah. Lagipula, beberapa orang sudah melihat 'kejadian lain' di dekat pintu masuk aula tadi."

​"Kejadian apa?"

​"Sesuatu yang sangat berhubungan," jawab Vyan santai, enggan merinci ciuman nekatnya.

​"Vyan, jujur sama Bunda... ini pasti ada hubungannya dengan kedatangan Zia, kan?"

​"Betul sekali," jawab Vyan tanpa ragu. Ia mengambil handuk di kursi dan menyampirkannya di bahu. "Kelanjutannya masih mau kupikirkan lagi, tapi sepertinya semua akan berjalan lancar."

​Vyan tertawa kecil, tawa yang terdengar dingin di telinga ibunya. "Memikirkannya saja sudah membuatku merasa senang. Oh ya, Bun. Si Ray tadi benar-benar meninjuku. Masih terasa sakit sih, tapi aku puas. Itu bukti otentik kalau dia sangat menyukai Yasmin. Kalau begini, apa ya namanya? Oh ya, sekali tepuk dua lalat kena!"

​Vyan tersenyum puas, seolah baru saja memenangkan lotre, lalu berjalan santai masuk ke dalam rumah.

​Bu Dinda terpaku di tempatnya berdiri. Ia merasakan sesuatu yang sangat salah sedang terjadi. Sesuatu yang dingin merambat di dadanya.

​"Vyan..." panggilnya lirih, namun suaranya terlalu lemah hingga tak mampu mencapai telinga putranya.

​'Aku... aku tidak bisa mengatakannya,' batin Bu Dinda pedih. 'Aku tidak pernah menjadi ibu yang bisa tegas padanya, yang bisa bilang kalau "ini" boleh dan "itu" tidak boleh. Kenapa aku bahkan tidak bisa mengatakan apa yang ingin kukatakan pada anakku sendiri? Tuhan, apa yang sebenarnya sedang terjadi?'

​Lutut Bu Dinda terasa lemas. Dengan langkah lunglai dan hati yang berat, ia menyusul masuk ke dalam rumah, membayangkan betapa kelamnya skenario yang sedang disusun oleh putranya sendiri.

1
Xlyzy
naik itu kuping ray karna di puji yasmin🤣
Xlyzy
si ray yang tadi nya cemberut langsung berubah
Aquarius97 🕊️
astaga vyan... lu juga benar2 dah ahh😆
Aquarius97 🕊️
hahahahaha ngakak banget ray... pas sebut setan vyan 🤣🤣🤣
Miu.Nuha
semua pada baik ke yasmin takut dimarahi pak ketos lagi 😅😅😅
Miu.Nuha
masih heran kenapa vyan yg harus bertindak... sungguh ironis ya sampe guru gk ad yg peduli...
Three Flowers
Dhini dan Tegar habis di'cuci' sama Ketos sadis🤣
-Thiea-
ya dia lah yang ngejebak kalian. siapa lagi yang punya akses lengkap di sekolah kalian..😅
-Thiea-
pak yoga sepertinya tahu banyak tentang keluarga Vyan.
-Thiea-
kerjaan si vyan ini pasti. 😆😆
ᰔᩚ⊹܀⃟ᴸ⃞ᵒᵛᵉˡʸ𝐂𝐡𝐞𝐨𝐧𝐦𝐚❦ೄྀ❧
kok bisa nyangkut😭😭😭
Filan: nyangkutlah. Pas masuk ga pegang apa-apa, pas keluarin pegang tupai
total 1 replies
PrettyDuck
terbukti ya kalo cowok gak peduli cewek bego atau enggak, yang penting cakep 🙃
Filan: bagaimana pun juga dari mata turun ke hati.
tapi Vyan itu cuma jadiin Yasmin pion sih, lalu lucu-lucuan aja kayak ke adik, lalu ga suka dg adanya pembullyan jadi belain, lalu jadiin alat lagi... lama-lama tahu sifatnya baru suka.
total 1 replies
ᰔᩚ⊹܀⃟ᴸ⃞ᵒᵛᵉˡʸ𝐂𝐡𝐞𝐨𝐧𝐦𝐚❦ೄྀ❧
hewan tuh pasti🤣
PrettyDuck
serem juga vyan ini
ᰔᩚ⊹܀⃟ᴸ⃞ᵒᵛᵉˡʸ𝐂𝐡𝐞𝐨𝐧𝐦𝐚❦ೄྀ❧
berubah menjadi panas karena terbakar api cemburu🤭
PrettyDuck
ooo dia mikirin keselamatn yasmin yaa
PrettyDuck
dih ngatur2, emamg situ sapa? /Facepalm/
PrettyDuck
dah, rebutan sana lu sama vyan
PrettyDuck
terlalu jujur mas 🤣
🐄 MULIANA ѕ⍣⃝✰
Dhini dan Tegar langsung bertindak baik ya /Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!