NovelToon NovelToon
JERAT CINTA GADIS 80 KILOGRAM

JERAT CINTA GADIS 80 KILOGRAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:13.3k
Nilai: 5
Nama Author: Annisa Chairil

Tujuh tahun lalu, Prasetyo— seorang idola kampus—meninggalkan Indah Naraya Prameswari, gadis bertubuh 80 kilogram yang diam-diam menjadi kekasihnya. Dengan ucapan menyakitkan, ia bilang hubungan itu cuma main-main, lalu pergi ke luar negeri tanpa pamit seolah tak pernah ada apa-apa.

Kini takdir mempertemukan mereka lagi.
Indah sudah berubah total. Kini ia dikenal sebagai Nayara, wanita cantik nan langsing, ibu dari Clara prameswari, panggilan Lala, anak perempuan yang mengidap penyakit jantung bawaan. Ironisnya, dokter yang menangani putrinya ternyata adalah Dr. Prasetyo, dokter spesialis bedah jantung pindahan dari Amerika.

Prasetyo sama sekali tidak mengenali wanita di hadapannya. Sementara Nayara, terpaksa menahan luka lama dan berpura-pura tak kenal, demi keselamatan dan masa depan anaknya.

Sampai kapan rahasia ini bisa disembunyikan? Yuk ikutin kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Chairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KAMU MEMANG MENGGANGGUKU

...🌻HAPPY READING🌻...

...***...

"Minumlah dulu. Biar perutmu terasa lebih hangat dan tenang," ucap Prasetyo sambil menyodorkan segelas air hangat ke hadapan Nayara.

Kini mereka sudah berada di kedai mie pangsit langganan yang letaknya tak jauh dari rumah Nayara. Suasana yang sederhana namun akrab ini terasa jauh lebih aman dan menenangkan.

"Setakut itu sampai kamu lupa kebiasaanmu sendiri?" tanya Prasetyo tiba-tiba, memecah keheningan.

Nayara terdiam sejenak. Ia memang sudah memesan pangsit kesukaannya. Sang pemilik kedai yang sudah sangat hafal selera mereka pun langsung menyajikan pesanan seperti biasa—membawakan mangkuk tanpa udang untuk Prasetyo, persis seperti kejadian sebelumnya.

Namun karena masih terguncang oleh kejadian tadi, Nayara lupa menukar mangkuknya. Hampir saja terbongkar.

Belum sempat Nayara bergerak, Prasetyo justru menarik mangkuk miliknya. Dengan tenang ia memisahkan dan membuang satu per satu udang yang ada di dalamnya, baru kemudian mengembalikan mangkuk itu tepat di hadapan Nayara.

"Lain kali, jangan pernah pulang sendirian selarut ini lagi. Apalagi jika harus naik kendaraan asing," nasihatnya dengan nada tegas namun menyiratkan kekhawatiran.

Prasetyo tergoda untuk menyentuh dan merapikan anak rambut yang menutupi sebagian dahi Nayara. Namun tepat saat tangannya terulur, Nayara dengan cepat memundurkan tubuhnya. Tangan Prasetyo pun menggantung di udara, lalu ia menariknya kembali dengan berdehem pelan guna menutupi rasa canggungnya.

"Aku ke toilet sebentar," pamitnya.

Begitu sosok Prasetyo menghilang di balik pintu, Nayara menatap punggungnya yang menjauh dengan pandangan yang sulit diartikan.

Andai saja aku bisa bersikap biasa saja, berteman layaknya orang lain tanpa ada beban masa lalu... batinnya sambil tersenyum miris.

Ia masih merasa malu mengingat dirinya yang tadi terpaksa berpura-pura memanggilnya dengan sebutan sayang hanya untuk sebuah pertolongan.

Sementara itu, Prasetyo tidak benar-benar pergi ke toilet untuk buang air. Ia justru menyudutkan diri di tempat yang agak sepi, lalu segera menelepon seseorang.

"David, aku sudah kirimkan foto plat nomor taksi online itu. Tolong bantu lacak siapa dia sebenarnya," perintahnya singkat namun tegas.

"Baik, Bos. Jangan matikan telepon dulu. Kebetulan aku sedang di rumah James. Mengecek data seperti ini hanya butuh waktu sebentar," jawab suara dari seberang sana.

"Baiklah, aku tunggu."

Prasetyo membiarkan telepon tetap terhubung. Dari ujung lain saluran terdengar suara percakapan singkat antara David dan James, disusul bunyi ketukan cepat di atas papan ketik komputer.

James adalah seorang tim bagian IT sekaligus Hacker handal di perusahaan mereka.

Beberapa saat kemudian, suara David kembali terdengar.

"Ketemu, Bos. Namanya Arman. Dia adalah residivis kasus pelecehan dan pemerkosaan. Pernah dipenjara selama lima tahun atas kasus yang sama. Setelah bebas, ia bekerja sebagai sopir taksi online dan tercatat beberapa kali mendapat laporan dari penumpang wanita atas perbuatan tidak senonohnya."

Wajah Prasetyo berubah dingin, sorot matanya tajam dan tak menunjukkan belas kasihan sedikit pun.

"Tangkap dia. Beri dia pelajaran yang tak akan ia lupakan seumur hidupnya. Pastikan... ia tak bisa lagi berbuat jahat pada wanita lain. Patahkan saja kedua tangan dan kakinya, biarkan dia merasakan akibat perbuatannya."

"Siap, Bos. Akan kami laksanakan."

Prasetyo menutup teleponnya. Ia merapikan sedikit kemejanya, mencuci tangan, lalu menepuk-nepuk wajahnya guna mengembalikan ekspresi lembutnya. Segera ia kembali ke meja makan tempat Nayara sudah hampir menghabiskan makanannya.

"Nay... soal suamimu... apakah hubungan kalian memang tidak baik-baik saja?" tanya Prasetyo tiba-tiba, menatap lurus ke mata wanita itu.

Nayara terkejut mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu. Ia terdiam cukup lama, lalu menggeleng pelan.

"Tidak. Hubungan kami baik-baik saja," jawabnya berusaha tenang.

"Kalau begitu... kenapa saat dalam bahaya kamu malah menghubungiku, bukan dia?" desak Prasetyo lagi.

"Dia sedang bertugas di luar negeri. Perbedaan waktunya cukup jauh, aku takut mengganggu pekerjaannya," jawab Nayara berusaha mencari alasan yang logis.

Prasetyo menggelengkan kepalanya seolah tak percaya dengan penjelasan itu.

"Lalu tadi... andai saja kamu tidak bisa menghubungiku, apakah kamu akan menghubungi pria sembarangan yang ada di daftar kontakmu begitu saja?"

"Tidak ada pria sembarangan di daftar kontakku!"

Nada suara Nayara sedikit naik. Tatapannya menajam, memberi rasa dingin yang seketika membuat suasana menjadi canggung. Sudut bibirnya turun dan dia langsung mengalihkan pandangan ke jendela.

"Kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi, aku jamin. Lain kali aku akan jauh lebih berhati-hati," ucap Nayara tegas.

"Suamimu bekerja di luar negeri, seharusnya kamu bisa hidup dengan layak dan tenang. Tapi kenapa dia membiarkanmu bekerja keras begini? Hanya demi uang?"

Prasetyo masih mencecarnya. Bibirnya tersenyum sinis, lalu melanjutkan kalimatnya sebelum Nayara sempat menyela.

"Saat anakmu sakit, kamu yang mengurusnya sendirian. Saat ibunya sakit dan dirawat di rumah sakit, dia juga tak kunjung pulang. Nayara... sebenarnya kamu ini istrinya, atau hanya pengasuh yang disewa untuk menjaga ibu dan anaknya?"

Ucapan itu meluncur begitu saja tanpa disaring, tajam dan menusuk. Prasetyo tak sadar betapa kata-katanya itu melukai perasaan wanita di hadapannya.

"Dr. Prasetyo, ini adalah ranah pribadi saya. Kamu tidak berhak ikut campur terlalu jauh. Aku juga punya pekerjaan dan tanggung jawab yang harus aku jalani," jawab Nayara dengan nada dingin, berusaha menahan rasa sakit di dadanya.

"Lalau bagaimana dengan tanggung jawabnya untuk melindungimu?"

Nayara sudah tidak menghiraukan lagi ucapan Pras, sebab matanya sudah mulai memanas.

Ia bergegas merapikan barang-barangnya di dalam tas.

"Terima kasih atas pertolonganmu malam ini. Maaf jika aku telah mengganggu waktumu," ucapnya sopan namun penuh jarak.

Nayara berdiri hendak melangkah pergi, namun pergelangan tangannya ditahan oleh Prasetyo.

"Tunggu sebentar," cegahnya.

Nayara menoleh.

"Kamu memang sudah menggangguku," lanjut Prasetyo pelan namun sarat akan makna yang tersirat.

Nayara terdiam sejenak, lalu menarik pelan tangannya hingga terlepas dari genggaman itu.

"Tidak akan lagi," balasnya singkat.

Nayara berbalik badan dan melangkah keluar dari kedai dengan langkah yang mantap meski hatinya terasa sesak.

Di ambang pintu, ia berhenti sejenak, menarik napas panjang untuk menenangkan gejolak perasaannya, sebelum akhirnya menghilang di kegelapan malam menuju rumahnya.

Di dalam kedai, Prasetyo masih duduk terpaku di tempatnya. Tangannya yang tadi menyentuh pergelangan Nayara masih terasa hangat. Ia menatap mangkuk pangsit yang tersisa setengah, lalu menghela napas panjang.

Kamu memang sudah sangat menggangguku... Tapi garis batas yang tak terlihat ini, membuatku tak bisa mendekat namun juga tak bisa berhenti memikirkanmu?

Prasetyo mengeluarkan ponselnya, menatap layar kosong yang tercermin di sana. Di sudut hatinya, ia tahu satu hal pasti, entah dia Indah atau Nayara, perasaan ini sudah jatuh kepadanya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...BERSAMBUNG...

**Jadi sudah nggak peduli lagi dia Indah atau Nayara ya, Pras. Tidak harus gemuk lagi, asalkan itu Nayara.

Ayo dukung aku terus, like dan komentar yang banyak ya... Maaciww 🥰🥰🥰

1
Filan
janda gpp dong
Filan
dia udah nebak?
Filan
emang jualan?
Filan
gemuk juga indah doang
Filan
sebelum ketemu juga udah niat nolak dia
RosMa🌹🌹🌹
ternyata Pras udah tahu🥰🥰🥰🥰
-Thiea-
bisa aja kang modus.
-Thiea-
suaminya pergi ke surga Pras. tapi gak papa, biar si Pras ovt terus 😁
FB tpq
Baru tau nama panjangnya
FB tpq
masih aja dipegang itu pena
FB tpq
masuk akal juga
FB tpq
tuh kan sudah tau prasnya
Mega Siregar
aduh lala, kenapa nelpon praz?
kan kasihan ibumu yang berjuang keras menjauh dari orang yang tidak menghargai ibumu🤦🏻‍♀️
Xlyzy
Lala dia nyaman sama Pras secara tidak langsung dia sebenarnya Lala merasakan sosok ayah di Pras
Xlyzy
ga salah sih dia berfikir seperti itu
Mega Siregar
pasti nyuap, kalo engga... bagaimana bisa serobot antrean? 🤔
👀 | 𝕽𝖊𝖓𝖆~🪽•̩̩͙*˚⁺‧͙
benih-benih cinta sudah tumbuh/Silent/
Miu.Nuha
dikira pergi kabur tak bertnggungjwb kali ya 😆
Miu.Nuha
blm tau to pras kalo suami nayara meninggoy 🙃
Filan
jangan kasar-kasar bang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!