"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."
Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.
Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21
Setelah badai fitnah yang diledakkan Nadia di media sosial, atmosfer di dalam penthouse mewah milik Arvin Dewangga tidak lantas menjadi tenang.
Meski Arvin telah mengusir Nadia dari kantornya dan memeluk Zoya dalam permohonan maaf, sisa-sisa trauma pengkhianatan masa lalu yang berpadu dengan rasa posesif yang meledak-ledak menciptakan sebuah penjara baru. Penjara yang kali ini tidak terbuat dari jeruji besi, melainkan dari rasa takut yang dibungkus atas nama perlindungan.
Pagi itu, sinar matahari yang menembus jendela kaca apartemen tidak terasa hangat bagi Zoya. Ia berdiri di meja makan, menatap ponselnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apa ini, Tuan?" suara Zoya bergetar, nyaris berbisik.
Arvin, yang sedang merapikan jam tangan mahalnya, melirik sekilas tanpa menghentikan gerakannya. Wajahnya kembali kaku, sebuah topeng pertahanan yang selalu ia pakai saat ia merasa dunianya terancam.
"Aplikasi pelacak," jawab Arvin datar. "Dan aku sudah mengatur jam malam di ponselmu. Pukul 16.00, kau harus sudah ada di dalam rumah ini. Jika lewat satu menit saja, alarm di ponselku akan berbunyi, dan aku tidak segan untuk menjemputmu secara paksa."
Zoya merasa jantungnya seperti diremas. "Tapi, Tuan... aku sedang menyusun skripsi. Banyak referensi yang hanya ada di perpustakaan kampus. Jam empat sore itu bahkan kelas terakhir aku belum selesai."
Arvin menghentikan gerakannya. Ia melangkah mendekat, mengikis jarak hingga Zoya bisa merasakan aura dominasi yang menyesakkan. Ia memegang kedua bahu Zoya, menatap tepat ke mata istrinya yang kini mulai digenangi air mata.
"Dengar, Zoya. Dunia di luar sana sedang menyorotmu. Akun anonim itu belum mati, dan fitnah tentangmu masih menjadi konsumsi publik. Aku tidak ingin kau berada di luar jangkauan penglihatanku sedikit pun. Aku tidak ingin ada celah bagi pria mana pun untuk mendekatimu, atau bagi media untuk mengambil fotomu lagi," ucap Arvin, suaranya berat dan penuh penekanan.
"Ini demi keamananmu," lanjut Arvin. "Atau setidaknya, itu yang ingin kau dengar. Tapi sejujurnya, Zoya... aku tidak ingin kehilangan kendali atas dirimu lagi. Aku tidak sanggup melihatmu ditarik oleh orang lain."
"Ini bukan perlindungan, Tuan. Ini penjara," air mata Zoya akhirnya luruh, membasahi kain cadarnya. "Kau bilang Kau mempercayai aku. Tapi kenapa Kau memasang rantai di kakiku?"
Arvin terdiam, rahangnya mengeras. Ia tidak bisa menjawab karena jauh di lubuk hatinya, ia tahu Zoya benar. Ini adalah manifestasi dari rasa takutnya yang terdalam, takut bahwa Zoya akan menyadari bahwa ia bisa hidup tanpa Arvin.
"Pukul 16.00, Zoya. Jangan terlambat," Arvin mengabaikan air mata itu, berbalik, dan melangkah keluar dengan suara pintu yang tertutup keras.
~~
Suasana di kampus terasa berbeda bagi Zoya. Ia merasa seolah-olah ada mata tak kasat mata yang terus mengikutinya. Setiap kali ia bergerak, ia teringat bahwa di ujung sana, Arvin sedang memantau bintik biru di layarnya yang melambangkan keberadaan Zoya.
Di perpustakaan, Zoya mencoba fokus pada tumpukan jurnal. Namun, setiap lima menit, ia melirik jam di pergelangan tangannya. Kegelisahan itu terbaca oleh Liam yang baru saja duduk di seberangnya.
"Zoya, kamu oke? Kamu gelisah banget dari tadi," tanya Liam khawatir.
Zoya tersentak, ia segera menjauhkan tangannya dari meja, takut jika Arvin bisa melihat kedekatan ini melalui GPS. "Aku tidak apa-apa, Liam. Aku harus segera selesai. Aku punya janji pukul empat."
"Ini baru jam dua siang, Zoya. Bab empatmu belum selesai dikoreksi. Kalau kamu pulang sekarang, kamu bakal ketinggalan bimbingan kolektif nanti sore," Liam mencoba mengingatkan.
Zoya menggigit bibir bawahnya. Pergulatan batin terjadi di dadanya. Di satu sisi, masa depannya sebagai mahasiswi dipertaruhkan. Di sisi lain, ia tahu kemarahan Arvin adalah badai yang tidak ingin ia hadapi lagi.
"Aku tidak bisa, Liam. Aku benar-benar harus pulang," Zoya mulai memasukkan buku-bukunya ke dalam tas dengan tangan gemetar.
"Zoya, tunggu!" Liam menahan ujung buku Zoya. "Apa Pak Arvin yang menyuruhmu? Dia tidak bisa mengekangmu seperti ini. Kamu punya hak untuk belajar."
Zoya menatap Liam dengan mata yang penuh luka. "Kamu tidak mengerti, Liam. Menjadi istri Arvin Dewangga berarti menyerahkan sebagian jiwaku untuk ia jaga... meski caranya salah. Tolong, jangan buat ini semakin sulit."
Waktu menunjukkan pukul 15.45. Zoya sedang berada di dalam kelas terakhirnya. Dosen sedang memberikan poin-poin penting untuk ujian akhir. Seluruh kelas hening, hanya suara gesekan pena di atas kertas yang terdengar.
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil yang sangat bertenaga terdengar dari luar jendela lantai dua. Sebuah mobil sports mewah berwarna hitam metalik berhenti tepat di depan gedung fakultas, di area yang seharusnya terlarang untuk parkir.
Zoya membeku. Ia tahu suara mesin itu. Ia tahu siapa yang berada di balik kemudi itu.
Ponsel Zoya bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk.
Arvin ~ "15.50. Aku sudah di depan kelasmu. Keluar sekarang atau aku yang masuk ke dalam dan menyeretmu di depan dosenmu."
Zoya merasa dunianya runtuh. Ia menatap dosennya, lalu menatap teman-temannya yang mulai berbisik-bisik melihat mobil mewah di bawah sana.
"Zoya? Ada masalah?" tanya sang dosen.
Zoya tidak menjawab. Ia mengemasi barangnya dengan air mata yang mulai menetes. Tanpa kata pamit yang jelas, ia berlari keluar kelas. Di koridor, ia bertemu Liam yang baru saja ingin masuk.
"Zoya, mau ke mana? Kelas belum selesai!"
Zoya mengabaikannya dan terus berlari menuruni tangga. Begitu ia sampai di lobi gedung, ia melihat pemandangan yang akan menjadi buah bibir satu kampus selama berbulan-bulan.
Arvin Dewangga berdiri di samping mobilnya. Kacamata hitam menutupi matanya, setelan jasnya tampak sempurna, dan auranya begitu dominan hingga membuat satpam kampus pun tidak berani menegurnya. Ia berdiri dengan tangan bersedekap, menatap lurus ke arah pintu keluar.
Begitu melihat Zoya muncul dengan napas terengah-engah dan mata sembab, Arvin tidak menunjukkan empati. Ia justru berjalan mendekat, meraih pergelangan tangan Zoya dengan kuat, dan menuntunnya menuju pintu mobil yang terbuka.
"Tuan, semua orang melihat..." bisik Zoya malu, mencoba melepaskan cengkeramannya.
"Biarkan mereka melihat," sahut Arvin dingin. "Biar mereka tahu siapa pemilikmu, agar tidak ada lagi mahasiswa lancang yang mencoba mendekatimu."
Arvin membukakan pintu, setengah mendorong Zoya masuk ke dalam kursi kulit yang mewah itu. Dari lantai dua, Liam dan puluhan mahasiswa lainnya menempel di jendela, menatap dengan tatapan campur aduk, antara kagum, iri, dan ngeri melihat dominasi pria itu.
Di dalam mobil yang melaju kencang, keheningan terasa begitu berat. Zoya hanya bisa menatap jendela, membiarkan air matanya mengalir membasahi kain cadarnya hingga terasa lembap.
"Kenapa Kau melakukan ini, Tuan?" tanya Zoya sesenggukan. "Kau sudah mempermalukan aku di depan teman-teman dan dosenku. Aku bukan barang pajangan yang bisa Kau jemput kapan saja Kau mau."
Arvin mencengkeram kemudi dengan kuat. "Aku melakukannya karena aku peduli! Kau lihat jam berapa sekarang? 16.05! Kau terlambat lima menit dari kesepakatan!"
"Hanya karena lima menit Kau menghancurkan reputasiku sebagai mahasiswi?!" Zoya berteriak, sebuah ledakan emosi yang jarang ia tunjukkan. "Kau bilang Kau mencintaiku, tapi Kau tidak pernah menghargai mimpiku. Kau hanya ingin aku menjadi boneka yang selalu ada saat Kau pulang."
Arvin tiba-tiba menginjak rem mendadak di pinggir jalan yang sepi. Ia memutar tubuhnya, menatap Zoya dengan mata yang memerah.
"Mimpi? Zoya, mimpiku adalah melihatmu aman! Apa kau tidak tahu betapa sesaknya dadaku setiap kali aku melihat titik birumu berhenti di dekat pria itu di perpustakaan? Apa kau tidak tahu aku hampir gila memikirkan fitnah apa lagi yang akan muncul jika kau pulang terlambat?!" Arvin berteriak balik, namun suaranya pecah di akhir kalimat.
Zoya terdiam. Ia melihat gurat kelelahan dan ketakutan yang nyata di wajah suaminya.
"Tuan..." Zoya meraih tangan Arvin yang gemetar di atas kemudi. "Ketakutanmu akan kehilanganku tidak seharusnya membuat kamu menjadi penjara bagiku. Pernikahan ini harusnya menjadi tempat paling aman bagi kita untuk tumbuh, bukan tempat di mana salah satu dari kita harus layu."
Arvin menundukkan kepalanya, menyandarkan dahinya di atas tangan Zoya. Untuk sesaat, keangkuhan pria itu luruh.
"Aku tidak tahu cara lain, Zoya," bisik Arvin pedih. "Masa laluku mengajariku bahwa jika aku tidak menggenggam kuat apa yang aku miliki, maka dunia akan merampasnya dariku. Aku hanya... takut kau pergi."
Zoya mengusap punggung tangan Arvin dengan lembut, meski hatinya sendiri masih terasa perih. "Aku tidak akan pergi, Tuan. Tapi tolong... jangan biarkan cinta ini berubah menjadi tali yang mencekik. Jika Kau terus seperti ini, Kau tidak akan kehilangan aku karena orang lain, tapi Kau akan kehilanganku karena aku tidak lagi mengenali diriku sendiri."
Arvin terdiam lama. Ia menghirup aroma menenangkan dari Zoya, mencoba menenangkan badai di dalam kepalanya. Perlahan, ia menegakkan tubuhnya, menatap Zoya dengan tatapan yang lebih lembut, meski sisa-sisa posesif itu masih terlihat jelas.
"Besok..." Arvin berdehem, mencoba mengembalikan wibawanya. "Aku akan memberimu kelonggaran sampai pukul 17.00. Tapi supirku yang akan menunggumu di depan gedung. Tidak ada protes."
Zoya tersenyum tipis di balik cadarnya, sebuah senyum yang getir. Ia tahu ini baru langkah kecil, dan perjuangannya untuk mendapatkan kembali kebebasannya masih panjang.
"Terima kasih, Tuan Arvin."
Mobil kembali melaju menuju apartemen. Di luar, langit Jakarta berubah jingga, namun di dalam hati mereka berdua, mendung masih menggantung. Perang antara rasa cinta dan obsesi kontrol Arvin baru saja dimulai, dan Zoya tahu, air mata pernikahan mereka masih akan banyak tertumpah di lantai penthouse mewah itu.
...Posesif Arvin benar-benar bikin sesak ya! Tapi di balik itu semua, ada rasa takut kehilangan yang sangat besar. Apakah Arvin akan benar-benar berubah, atau justru akan ada aturan yang lebih gila lagi? Dan bagaimana nasib Liam yang terus menyaksikan penderitaan Zoya? Jangan lewatkan episode selanjutnya !...
...----------------...
To Be Continue ....