Seorang pria miskin harus menelan pahitnya dikhianati dan ditinggalkan kekasihnya di saat yang sama. Sempat hancur dan hampir menyerah, dia akhirnya memilih bangkit demi membalas semuanya. Sampai suatu hari, dia menemukan liontin misterius warisan keluarga yang mulai mengubah hidupnya. Dengan cara yang tak biasa, dia perlahan membalikkan nasib lewat hubungan dengan para janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarBlues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Di hadapannya, sosok itu masih berdiri dengan rupa Bu Hani.
Namun Juan tahu, ini bukanlah Bu Hani yang ia kenal di dunia nyata. Meskipun kemeja putih ketat itu mencetak jelas bentuk "melon" yang padat dan rok mininya memperlihatkan paha mulus yang identik, aura yang terpancar darinya jauh berbeda. Lebih tenang, lebih dalam, dan terasa seperti entitas yang telah hidup jauh melampaui usia peradaban.
“Kamu sudah sampai sejauh ini, Juan,” ucap sosok itu dengan suara serak yang bergema, memberikan getaran aneh di dada Juan.
Juan berdiri tegak, matanya tak lepas dari aset vulgar yang dipamerkan ruh tersebut. “Apa maksudmu?”
Sosok itu melangkah mendekat, aroma melati yang pekat menyeruak. “Kamu telah menaklukkan tiga janda. Tante Hena dengan kelembutannya, Teteh Ayu dengan gairah liarnya, dan Bu Hani dengan keganasannya. Kamu berhasil memuaskan mereka semua hingga puncak terdalam.”
Juan hanya terdiam, membiarkan ingatan tentang desahan dan remasan dari ketiga wanita itu berputar di kepalanya.
“Artinya,” lanjut sosok itu sambil mengelus dadanya sendiri yang membusung, “tinggal empat janda lagi untuk menyempurnakan evolusi pertamamu.”
Juan mengangguk perlahan. “Aku paham.”
“Selain itu,” mata ruh itu berkilat mesum, “kamu juga telah meniduri Lisa. Meskipun dia bukan seorang janda, setiap ikatan tubuh, setiap tetesan lahar panas yang kamu tumpahkan di dalam lembahnya, membawa resonansi energi bagi liontin ini.”
Mendengar nama Lisa, Juan merasakan denyut di bagian bawah tubuhnya. Ia ingat betul bagaimana sempit dan hangatnya Lisa saat ia gempur habis-habisan kemarin.
“Karena pencapaianmu melampaui target, kamu berhak menerima hadiah spesial di luar evolusi utama,” ucap sosok itu. Dari udara kosong, muncul seberkas cahaya keemasan yang kemudian memadat menjadi sebuah benda.
Sebuah kacamata dengan bingkai hitam pekat yang tampak biasa saja.
“Ini adalah kacamata tembus pandang,” ucap ruh itu tenang. “Kemampuan ini hanya bekerja pada wanita. Ia akan mengupas setiap helai kain yang menutupi tubuh mereka, memperlihatkan apa yang selama ini tersembunyi. Namun ingat, ia tidak akan bekerja pada pria. Aku tidak ingin matamu ternoda oleh hal-hal yang tidak berguna, dan membuat nanti malah menyukai sesama jenis.”
Juan menelan ludah. Jantungnya berdetak kencang. Jika benda ini benar-benar berfungsi, maka dunia ini akan berubah menjadi surga pribadinya. Setiap wanita yang ia temui akan berdiri polos di depannya hanya dengan satu kedipan mata.
“Tapi bukan itu saja,” lanjut sosok itu lagi.
Bayangan air terjun tempat Juan menemukan mutiara muncul di latar belakang. Dari sela-sela batu basah, muncul sebuah tanaman akar-akaran yang bercahaya hijau segar.
“Gingseng Angin. Tanaman langka yang hanya tumbuh di tanah dengan energi murni. Khasiatnya bisa menyembuhkan penyakit kronis, meningkatkan stamina lelaki secara permanen, atau bisa kamu jual dengan harga miliaran rupiah untuk mengubah nasibmu.”
Sosok ruh itu mendekat, membisikkan kata-kata terakhir tepat di telinga Juan sebelum cahaya putih membutakan segalanya. “Gunakan karuniamu untuk menaklukkan mereka, Juan...”
Juan tersentak bangun. Napasnya memburu, peluh dingin membasahi dahinya. Cahaya pagi menyelinap masuk melalui celah jendela kamarnya yang sederhana.
Namun, yang membuat matanya membelalak bukan karena cahaya matahari, melainkan benda yang terasa keras di genggaman tangan kanannya.
Sebuah kacamata bingkai hitam. Nyata. Bukan sekadar bunga tidur.
“Gila... ini benar-benar ada di tanganku,” gumam Juan dengan suara parau.
Ia mengangkat kacamata itu, menatapnya dengan rasa tak percaya sekaligus antusiasme yang meledak-ledak.
Setelah membersihkan diri dengan cepat, sambil sesekali mengagumi timun super-nya yang tetap berdiri tegak di bawah kucuran air dingin, Juan bersiap.
Ia mengambil peti mutiara dari bawah ranjang, membungkus Gingseng Angin yang entah bagaimana sudah ada di atas mejanya dengan kain bersih, lalu memasukkannya ke dalam tas.
Tujuannya pagi ini, Warung Teteh Ayu.
Udara desa masih terasa segar saat Juan melangkah menyusuri jalan setapak. Sesampainya di warung, suasana sudah cukup ramai. Beberapa bapak-bapak duduk menyeruput kopi sambil membicarakan hasil kebun.
Namun, perhatian Juan langsung tertuju pada Teteh Ayu yang sedang membungkuk di balik meja warung, merapikan gorengan. Daster tipisnya tersingkap sedikit, memperlihatkan betisnya yang mulus.
“Pagi, Teh,” sapa Juan sambil duduk di bangku pojok.
Teteh Ayu menoleh, senyum genitnya langsung mekar. Mata janda itu menatap Juan dengan tatapan lapar yang tidak disembunyikan. “Pagi, Juan... Tumben pagi-pagi sudah segar begini? Mau pesan apa?”
“Kopi hangat sama lontong, Teh,” jawab Juan.
Sambil menunggu pesanan, tangan Juan merogoh saku celananya. Keringat dingin mulai keluar dari telapak tangannya. Dengan gerakan pelan, seolah hanya ingin memakai kacamata biasa, ia mengenakan benda mistis itu.
Deg!
Pandangan Juan seketika berubah. Dunia di depannya seolah terkelupas. Saat ia menoleh ke arah bapak-bapak di sebelahnya, mereka tetap terlihat berpakaian lengkap dengan sarung dan baju kebun mereka. Namun, begitu ia mengalihkan pandangannya ke arah Teteh Ayu...
Juan hampir saja menjatuhkan ponselnya.
Pemandangan di depannya begitu vulgar dan nyata hingga membuatnya sesak napas. Daster kuning tipis yang dikenakan Teteh Ayu benar-benar hilang dari pandangan. Kini, Teteh Ayu berdiri di balik meja dalam kondisi telanjang bulat.
Juan bisa melihat dengan sangat detail bagaimana melon besar milik Teteh Ayu bergoyang-goyang bebas tanpa bra setiap kali wanita itu bergerak menyiapkan kopi.
Putingnya yang berwarna cokelat tua tampak menonjol, menegang karena uap kopi yang panas. Lebih rendah lagi, perut Teteh Ayu yang sedikit berisi namun tetap seksi terlihat sangat halus, hingga sampai pada lembah rimbun di antara dua paha jenjangnya.
Rambut halus yang tumbuh di sana tampak lembap, dan Juan bisa melihat dengan jelas bibir lembah yang merah muda dan tampak basah alami.
“Gila... kacamata ini benar-benar bekerja,” batin Juan. Jakunnya naik turun dengan cepat.
Teteh Ayu yang tidak tahu apa-apa, malah sengaja membungkuk lebih rendah untuk mengambil sendok di laci bawah. Di mata Juan, bokong bohay Teteh Ayu yang tanpa penutup apa pun itu tampak membusung ke arahnya.
Lubang kenikmatannya terlihat sangat menggoda, terbuka sedikit seolah mengundang Juan untuk segera menghajarnya lagi.
Juan benar-benar kesulitan mengatur napas. Timun super-nya di balik celana langsung menegang maksimal, menekan kain celana jinsnya hingga terasa sesak.
Stimulasi visual ini jauh lebih dahsyat daripada apa pun yang pernah ia bayangkan. Ia bisa melihat setiap pori-pori, setiap bekas keringat yang mengalir di belahan dada Teteh Ayu yang bergoyang.
“Ini kopinya, Juan... Kok bengong? Lihatin apa sih?” tanya Teteh Ayu sambil berjalan mendekat ke arah meja Juan.
Melihat Teteh Ayu berjalan polos ke arahnya dengan buah dada yang memantul-mantul mengikuti irama langkah kaki membuat kepala Juan berdenyut hebat. Pemandangan itu begitu eksplisit, ia bisa melihat bagaimana area kewanitaan Teteh Ayu sedikit terbuka setiap kali ia melangkah.
Juan buru-buru melepas kacamata itu sebelum ia benar-benar kehilangan kendali dan menerkam Teteh Ayu di depan bapak-bapak desa.
Begitu kacamata dilepas, Teteh Ayu kembali mengenakan dasternya. Namun, citra tubuh polos dan menggoda sang janda sudah terpatri permanen di otak Juan.
“Terima kasih, Teh,” ucap Juan dengan suara serak yang berat, mencoba menyembunyikan gairah yang meledak-ledak.
Ia segera menunduk, pura-pura sibuk dengan ponselnya, sementara tangannya yang lain di bawah meja mencoba menenangkan tenda di celananya yang menonjol luar biasa.
Ia tahu, dengan kacamata ini, perjalanannya ke kota hari ini akan menjadi petualangan visual yang paling liar dalam hidupnya.