NovelToon NovelToon
Rahasia Pangeran Pecundang

Rahasia Pangeran Pecundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ebez

Mapanji Wijaya seorang pangeran muda dari Istana Wuwatan terkenal dengan sifatnya yang manja, pengecut, suka foya-foya dan gemar berbuat seenaknya. Sebagai putra raja yang seharusnya memiliki sifat mengayomi dan melindungi masyarakat Kerajaan Medang, Mapanji malah menampilkan sifat yang sebaliknya.



Bahkan sampai Nararya Candrawulan, perempuan yang dijodohkan dengan nya, memohon agar perjodohan dengan Mapanji Wijaya dibatalkan saking bejatnya sang pangeran.


Tetapi di balik semua itu, ada sebuah rahasia besar yang ia simpan rapat-rapat hingga tak seorangpun yang tahu. Apakah itu? Temukan jawabannya dalam kisah Rahasia Pangeran Pecundang, hanya di Noveltoon kesayangan kita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rebutan

Suara kokok ayam jantan semakin keras terdengar berbarengan dengan cahaya matahari mulai terbit di ufuk timur. Cakrawala yang semula jingga kini berubah warna menjadi biru seiring naiknya sang mentari di singgasana. Rasa dingin dari sang malam terusir oleh hangat sinar sang surya yang mulai menerangi kawasan Kota Anjuk Ladang.

Hangatnya cahaya sang mentari menerobos masuk ke dalam bilik kamar tidur Pangeran Mapanji Wijaya melalui celah celah dinding kayu. Sebagian cahaya nya menyorot wajah sang pangeran yang masih lelap tertidur. Terganggu dengan hal ini, Pangeran Mapanji Wijaya bangun sembari mengucek matanya.

'Aneh badan ku kenapa pegal-pegal begini? Rasanya lemas seperti baru latihan silat.. ', batin Pangeran Mapanji Wijaya sembari mengedarkan pandangan.

Pupil mata sang pangeran melebar tatkala ia mendapati dirinya telanjang bulat tanpa sehelai benang pun. Buru-buru ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.

Tetapi kejutan kedua datang tak terduga.

Dua bercak darah nampak belum lama mengering terpampang di dua titik berbeda pada kain putih pelapis ranjang.

"I-ini... "

Selain dua bercak darah itu dia juga menemukan sebuah tusuk konde dari perak yang tergeletak di ujung ranjang dan sebuah kain pengikat kepala yang biasa digunakan oleh pendekar dunia persilatan.

"Apa yang sebenarnya terjadi tadi malam?

Hemmmmmmm... ", gumam Pangeran Mapanji Wijaya seraya mencoba mengingat-ngingat kejadian tadi malam. Ia masih ingat betul bahwa ia mabok setelah menenggak twak bersama Tumenggung Rengga dan Juru Mandhasiya. Setelah itu ia ingat dipapah oleh Ludaka dan Warak ke tempat tidur.

Tetapi kejadian setelahnya samar-samar dalam ingatan nya. Ia hanya ingat bahwa ia bercumbu dengan seorang perempuan tetapi remang cahaya lampu sentir membuatnya sulit mengingat wajah perempuan itu dengan jelas. Wajahnya pucat seketika.

"Berarti ini adalah darah perawan perempuan itu..

Sialan, bagaimana ini? Aku sudah merusak kehormatan seorang perempuan. Aku harus bertanggungjawab atas perbuatan ku. Tapi siapa perempuan itu? ", kembali Pangeran Mapanji Wijaya bergumam sendirian. Buru-buru Pangeran Mapanji Wijaya menyimpan dua benda yang ia temukan di dalam kamar nya ini dengan hati-hati.

" Ah Ludaka dan Warak pasti tahu siapa perempuan yang sudah masuk kesini. Aku harus bertanya pada mereka... "

Pangeran Mapanji Wijaya buru-buru mengenakan pakaian nya dan bersiap untuk keluar mencari dua pengawal pribadi nya saat tiba tiba..

Krriiiiiiieeeeeeeetttttttt...!!!

Pintu kamar tidur nya terbuka dari luar dan Sang Pamgat Anjuk Ladang Mpu Sima datang bersama dua orang pelayan nya. Ketiga nya segera memberi hormat pada Pangeran Mapanji Wijaya.

"Selamat pagi Gusti Pangeran Mapanji Wijaya..

Silahkan Gusti Pangeran membersihkan diri. Setelah itu hamba menanti Gusti Pangeran di sasana boga. Dayang istana ini yang akan merapikan tempat tidur Gusti Pangeran", ucap Sang Pamgat Mpu Sima dengan sopan.

Tak punya pilihan lain, Pangeran Mapanji Wijaya pun segera berjalan menuju kolam pemandian yang ada di belakang istana. Sedangkan dua dayang segera merapikan tempat tidur nya.

Pagi itu Pangeran Mapanji Wijaya benar-benar tak bisa menikmati sarapan yang disajikan oleh juru masak istana Anjuk Ladang meskipun pelbagai jenis masakan lezat tersaji di meja. Ini membuat Sang Pamgat Mpu Sima mengernyitkan keningnya.

"Apa masakan juru masak kami kurang berkenan di lidah Gusti Pangeran? ", tanya Sang Pamgat Mpu Sima penuh kehati-hatian.

" Eh tidak Mpu Sima, semuanya enak kok.. ", jawab Pangeran Mapanji Wijaya sekenanya.

" Jika enak, kenapa hanya makan sedikit? Apa Gusti Pangeran kurang enak badan? ", kembali Mpu Sima melontarkan pertanyaan.

" Kau pintar sekali Sang Pamgat..

Badan ku pegal-pegal semua. Mungkin akibat perjalanan ", alasan Pangeran Mapanji Wijaya menyembunyikan hal yang sedang mengganjal hati.

Senyuman Sang Pamgat Mpu Sima merekah lebar mendengar jawaban sang putra kedua Ratu Sri Isyana Tunggawijaya ini. Dia yang semula khawatir tidak menjamu Pangeran Mapanji Wijaya dengan baik, menghela nafas lega. Bagaimanapun juga ia harus bersikap baik pada setiap kerabat dekat Istana Watugaluh jika ingin kedudukannya meningkat ke titik yang lebih tinggi.

"Dayang, ambilkan aku jamu pegal linu yang dibuat Paricara Ki Waskita. Biar Gusti Pangeran ini badannya segar kembali... ", perintah Sang Pamgat Mpu Sima yang membuat seorang dayang istana segera bergegas menuju ke tempat peristirahatan pribadi sang penguasa Anjuk Ladang.

Tak berapa lama kemudian, sang dayang kembali dengan membawa dua cangkir jamu yang diatur diatas nampan. Untuk menghindari kecurigaan, Sang Pamgat Mpu Sima segera meminum jamu pegal linu yang disajikan. Pangeran Mapanji Wijaya pun segera mengikutinya.

Tak butuh waktu lama, rasa lelah pada tubuh Pangeran Mapanji Wijaya berangsur-angsur hilang. Jamu pegal linu pemberian Sang Pamgat Mpu Sima memang manjur.

Setelah cukup siang, Pangeran Mapanji Wijaya berpamitan pada Sang Pamgat Mpu Sima untuk melanjutkan perjalanan. Sebuah kereta kuda baru pemberian sang penguasa Anjuk Ladang menjadi kendaraan baru sang pangeran menempuh perjalanan jauh ke Kalingga.

"Terimakasih atas tempat bermalam nya Sang Pamgat.. Aku pasti akan mengingat jasa baik mu ini dan bicara dengan Kanjeng Biyung Ratu nanti", ucap Pangeran Mapanji Wijaya sesaat sebelum naik kereta kuda.

" Hati-hati di perjalanan Gusti Pangeran.. ", ucap Sang Pamgat Mpu Sima saat kereta kuda yang dikusiri Ratri itu mulai meninggalkan pintu gerbang Istana Anjuk Ladang.

Di dalam kereta kuda, ada hal aneh yang terjadi. Nararya Candrawulan yang memperkenalkan diri nya sebagai Wulan nampak canggung duduk berdekatan dengan Pangeran Mapanji Wijaya. Perempuan yang biasanya galak ini berulang kali mencuri pandang pada Pangeran Mapanji Wijaya dan ini juga diketahui oleh sang pangeran muda.

'Aneh! Ada apa dengan perempuan satu ini? Kenapa dari tadi ia bolak-balik melirik ku terus?', batin Pangeran Mapanji Wijaya.

Perjalanan ke arah barat kali ini terjadi banyak hal mencurigakan terutama sikap Nararya Candrawulan dan Subadra yang berubah menjadi lembut dan seperti saling bersaing untuk memperebutkan perhatian dari Pangeran Mapanji Wijaya.

Menjelang senja, mereka baru sampai di Alas Caruban. Karena tidak mungkin meneruskan perjalanan, mereka terpaksa bermalam di tempat itu. Kala itu Alas Caruban masih berupa hutan lebat yang banyak dihuni oleh binatang buas dan rumah bagi kelompok perampok Macan Alas hingga Tumenggung Rengga mengatur giliran jaga malam untuk keamanan junjungan mereka.

Disini pun Nararya Candrawulan dan Subadra berebut untuk tidur di dekat sang pangeran dengan alasan takut binatang buas. Ludaka, Warak dan Ratri sampai terheran-heran dengan ulah dua orang perempuan cantik ini.

"Pokoknya aku tidur dekat Gusti Pangeran, titik! ", ucap Nararya Candrawulan sambil duduk di sisi kanan Pangeran Mapanji Wijaya dengan kasar.

" Heh, kau ini ya...

Aku ini takut gelap. Juga takut binatang buas. Jadi aku yang akan tidur dekat dengan Gusti Pangeran", sergah Subadra tak mau kalah.

"Hei kalian ini apa-apaan sih?!

Sebelah sini masih luas, jangan berdempetan begitu. Kasihan Gusti Pangeran tidak bisa bergerak kalau kalian jepit seperti itu", Warak mencoba menengahi.

" DIAM KAU...!!

Ini urusan perempuan! Jangan ikut campur..!!", kompak Subadra dan Nararya Candrawulan menunjuk ke arah Warak yang membuat lelaki berbadan gempal itu gelagapan tak bisa bicara.

Belum sempat perdebatan antara mereka berlanjut, Juru Mandhasiya berlari ke arah tempat bermalam Pangeran Mapanji Wijaya sambil berkata,

"Serombongan orang sedang bergerak kemari Gusti Pangeran...

Sepertinya mereka gerombolan perampok! "

1
🗣Aku 😆🇲🇨🦅
biasa aja dong kagetnya nanti @🐼𝒫𝒶𝓃𝒹𝒶𝓃𝒲𝒶𝓃𝑔𝒾 🏡s⃝ᴿ lagi bobok keberisikan 😅
Mujib
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile//Smile//Smile/
Mujib
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Idrus Salam
Ajian yang dahsyat tentu perlu penyelarasan dengan kesiapan tubuh pengguna dan naluri dalam penggunaannya perlu dilatih.
Mujib
😅😅😅😅😅
Mujib
👀👀👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕🖕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!