NovelToon NovelToon
Gadis Kesayangan Langit

Gadis Kesayangan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ceriwis07

Gladys Chandra Wiguna atau biasa dipanggil Gadis adalah mahasiswi berbakat dari fakultas bergengsi Kota A. Wajah cantik dan sosok mungilnya menyembunyikan jiwa pemberani yang kuat.

Malam itu, saat ia pulang dari cafe, seorang pria memaksanya masuk mobil. Di dalamnya menanti Langit Mahesa seorang bisnis man yang memiliki perusahaan raksasa di kota A. Pria yang sudah memiliki istri, Bella Safira. Akankah Gadis kembali ke kehidupannya yang tenang? Ataukah cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, menggoyahkan semua yang ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Anak wanita Ini?

Sudah lima hari berlalu sejak kejadian mengerikan di rumah utama. Waktu terus berjalan, dan perlahan memori tentang darah serta cambukan itu mulai memudar.

Namun bagi Langit, rumah ini terasa begitu sepi dan hampa.

Pria itu berdiri di depan meja rias besar di kamar mereka. Matanya menatap pantulan cermin, lalu tertuju pada kursi rias yang kini kosong melompong. Tempat di mana biasanya Gadis duduk berjam-jam merapikan diri, bercermin, dan tersenyum manis padanya.

Tiba-tiba ingatan masa lalu muncul begitu saja...

Flashback

"Kenapa dia belum hadir di sini, padahal kita sudah sering melakukannya,"

Suara lembut Gadis terdengar di telinganya. Ia teringat saat wanita itu berdiri tepat di posisi ini, berdiri di depan cermin sambil tangan mungilnya mengelus-elus perutnya yang masih rata dan kurus.

Langit yang berdiri di belakangnya pun tersenyum menggoda, lalu dengan posesif ia mengecup leher dan pundak kekasihnya itu.

"Sabar saja, Sayang..." bisik Langit saat itu. "Mungkin Tuhan ingin kita bekerja lebih keras lagi."

Kening Gadis langsung berkerut bingung, ia memutar tubuhnya menghadap pria itu.

"Bekerja keras yang bagaimana lagi?" tanyanya polos.

Langit tersenyum miring, lalu menunjuk ke arah ranjang besar di belakang mereka dengan dagunya.

"Bekerja keras di sana...."

"HIHIHI!! DASAR MESUM!"

Gadis tertawa renyah, lalu memukul pelan dada bidang Langit karena gemas. Suasana penuh cinta dan tawa itu terasa begitu nyata hingga kini.

End of Flashback

Langit tersenyum sendiri mengingat itu, tanpa sadar ia tersenyum lebar sendirian di depan cermin.

Ia sama sekali tidak sadar kalau Charlie sudah berdiri di ambang pintu memperhatikan kelakuan aneh tuannya itu.

"Hmm... Apakah kamu sudah menjadi gila?" celetuk Charlie memecah lamunan. Pria itu sudah rapi dengan setelan kerjaannya.

"Apa yang sedang dilakukan Anin sama Gadis di sana ya? Apa dia sedang dikurung? Atau... jangan-jangan Anin mau bikin sate daging Gadis ya? Hahaha!" ejek Charlie jahil, tertawa puas melihat tuannya cemburu.

Langit mendecakkan lidah kesal. Tanpa menoleh, tangan besarnya meraih satu botol parfum kesukaan Gadis yang ada di meja.

DUG!!

Dengan cepat ia melempar parfum itu tepat ke arah Charlie.

Asisten itu sempat berusaha menghindar, tapi terlambat! Botol itu tepat mengenai bahunya dengan keras.

"ADUH!!" pekik Charlie memegang bahunya.

***

Di tempat lain, di kediaman Anin yang megah dan tenang.

Gadis berjalan mondar-mandir mengelilingi ruangan yang luas itu. Ia merasa sangat jenuh jika harus terus mengurung diri di kamar. Matanya terus memperhatikan sekeliling, hingga tertuju pada deretan foto-foto berbingkai indah yang terpajang di dinding, di meja ruang tamu, ruang tengah, bahkan hampir di setiap sudut rumah terlihat foto yang sama.

Foto seorang anak kecil yang sangat lucu dan menggemaskan.

Rasa penasaran membuatnya mendekat. Gadis meraih salah satu figura foto yang berisi gambar bayi mungil itu. Ia memperhatikannya dengan seksama, hingga matanya tertuju pada leher bayi itu.

Di sana, tergantung sebuah kalung kecil yang sangat familiar.

Jantung Gadis berdegup kencang. Bentuk kalung itu sama persis dengan kalung yang selalu ia pakai sejak kecil! Kalung pemberian Sila, ibu angkatnya!

Dan yang lebih mengejutkan, terukir jelas nama WIGUNA di kalung itu.

'Kenapa sama persis? Kenapa namanya juga Wiguna?' batin Gadis bingung dan gemetar.

Tak.. Tak..

Terdengar suara langkah kaki yang cepat menuruni tangga. Refleks Gadis segera meletakkan kembali foto itu ke meja seolah tidak terjadi apa-apa.

"Hai, selamat pagi!" sapa Anin ceria. "Bagaimana harimu? Tidurmu nyenyak semalam?"

Gadis segera memutar badan, ia melipat tangannya ke belakang punggung, wajahnya terlihat gugup dan sedikit takut, namun ia berusaha menyembunyikannya.

"Tidur nyenyak, terima kasih, Tante."

Anin dan Fajar berjalan mendekat, lalu Anin dengan akrab merangkul lengan Gadis.

"Jangan sungkan dong, ayo aku ajak keliling rumah. Kenalan sama rumah ini."

Gadis mau tak mau menuruti saja. Ia pun memperhatikan penampilan mereka yang hari ini terlihat sangat santai, tidak seperti biasanya yang selalu formal. 'Mereka tidak ke kantor?' batinnya bertanya-tanya.

Sepanjang jalan, Anin memperkenalkan satu per satu nama yang ada di foto-foto itu dengan penuh kasih sayang. Hingga akhirnya mereka berhenti tepat di depan foto bayi yang tadi dilihat Gadis.

Dengan memberanikan diri, Gadis akhirnya bertanya,

"Tante... siapa bayi mungil di foto ini?"

Anin menarik napas panjang, dadanya terasa sesak namun bahagia. Ia menoleh sekilas ke arah Fajar, dan sang kekasih pun mengangguk pelan memberi kode seolah mengizinkan untuk menceritakan segalanya sekarang.

"Dia... putriku," jawab Anin pelan namun tegas.

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata wanita itu.

"Aku terpaksa meninggalkannya di taman kota bertahun-tahun lalu. Saat itu aku dan suami, Hendra, dihadang oleh orang jahat. Suamiku memintaku lari membawa bayi kami, tapi aku sudah tidak kuat berlari lagi..."

Suara Anin terdengar bergetar.

"Jadi aku putuskan meletakkan bayi mungilku itu di taman kota, lengkap dengan kalung keluarga Wiguna di lehernya. Aku berharap dia ditemukan dan dirawat oleh orang baik. Aku selalu berdoa... semoga suatu hari nanti aku bisa dipertemukan kembali dengan anakku..."

Anin menatap tajam dan penuh air mata ke arah Gadis.

**"...Gladys Chandra Wiguna."

BRUK!!

Mendengar nama lengkap itu disebutkan dengan jelas, tubuh Gadis atau tepatnya Gladys mundur selangkah terhuyung-huyung.

Kepalanya terasa pening, dunia seakan berputar. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan tak percaya.

'Gladys... Chandra... Wiguna... Jadi aku... aku ini anaknya?! Wanita di depanku ini ibuku kandungku?!'

1
Erna Riyanto
Anin dulu pacar langit... berarti langit sdh tua dong seumuran bahkan mungkin lebih tua dr Anin(ibunya gladis)
Ceriwis07: Benar sekali 🤭
total 1 replies
anggita
like iklan👍☝
Ceriwis07: Terimakasih sudah mampir 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!