Empat tahun Inara menjadi ibu susu bagi Zidan. Selama itu pula, ia mendapatkan cinta dari Reno, ayah Zidan, bahkan mereka berencana untuk menikah.
Namun semuanya berubah saat Zoya, mantan istri Reno sekaligus ibu kandung Zidan, kembali dengan niat menebus kesalahan. Sejak saat itu, kehidupan Reno dan Zidan perlahan berpusat pada Zoya. Sementara Inara justru merasa tersisih dan selalu menjadi pihak yang disalahkan.
Inara tidak pernah tahu di mana letak kesalahannya, hingga membuat Reno yang dulu mencintainya kini berubah dingin.
Apa yang sebenarnya terjadi? Akankah Inara memilih bertahan atau justru akan pergi karena merasa sudah tidak dipilih lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Di rumah Reno, pagi-pagi sekali lelaki itu sudah terbangun dari tidurnya. Bahkan langit di luar masih tampak gelap ketika ia mulai sibuk di dapur seorang diri.
Semalaman Reno hampir tidak bisa memejamkan mata. Kepalanya dipenuhi bayangan Inara dan semua kesalahan yang sudah ia lakukan pada wanita itu. Namun di tengah penyesalan yang terus menghantuinya, Reno masih memegang satu keyakinan sederhana, selama Inara belum benar-benar menikah dengan orang lain, berarti dirinya masih punya kesempatan. Dan kali ini, ia ingin mencoba berubah.
Setidaknya itu yang terus ia tanamkan dalam pikirannya sejak semalam. Karena itulah pagi ini Reno sengaja membuat sarapan sendiri. Ia bahkan mencari tutorial nasi goreng dari internet sambil beberapa kali mengumpat kesal saat bumbu yang dimasaknya terlalu asin atau hampir gosong.
Sudah bertahun-tahun ia tidak pernah masuk dapur selama lebih dari lima menit. Dulu semua selalu disiapkan Inara. Mulai dari kopi pagi, pakaian kerja, sampai makanan hangat saat dirinya pulang malam dalam keadaan lelah dan emosi. Namun bodohnya, selama ini Reno justru menganggap semua itu hal biasa.
“Akhirnya selesai juga,” gumam Reno pelan sambil menatap nasi goreng di depannya dengan ekspresi cukup puas.
Meski tampilannya jauh dari sempurna, setidaknya makanan itu masih terlihat layak dimakan. Sudut bibir Reno perlahan terangkat tipis. “Aku yakin Inara bakal luluh sedikit.”
Ia bahkan mulai membayangkan wajah terkejut Inara saat dirinya datang pagi-pagi membawa sarapan. Membayangkan wanita itu perlahan memaafkannya, lalu semuanya kembali seperti dulu.
Namun kesenangan Reno tidak berlangsung lama. Suara langkah kaki tiba-tiba terdengar dari arah belakang.
“Sejak kapan kamu bisa masak?”
Senyum tipis di wajah Reno langsung menghilang begitu mendengar suara itu. Ia menoleh sekilas dan mendapati Zoya berdiri di ambang dapur sambil melipat tangan di dada. Rambut wanita itu masih tergerai berantakan, tetapi penampilannya tetap terlihat rapi dan menarik.
Reno kembali memalingkan wajahnya dengan rahang mengeras. “Gak perlu tahu.”
Jawaban dingin itu tidak membuat Zoya mundur. Wanita tersebut justru melangkah masuk lebih jauh ke dapur sambil memperhatikan beberapa wadah makanan di meja.
“Buat Inara?” tebaknya santai.
Reno langsung menatap tajam. “Urus aja urusanmu sendiri, jangan ikut campur.”
Zoya terkekeh pelan, seolah ucapan kasar Reno sama sekali tidak memengaruhinya.
“Ren,” ucapnya sambil menyandarkan tubuh di meja dapur, “gimana aku bisa gak ikut campur kalau sekarang aku tinggal serumah sama kamu?”
Tatapan Reno makin dingin.
“Apalagi,” lanjut Zoya sengaja menekan tiap katanya, “aku ibu dari anak kamu.”
Reno mendecak kasar lalu meletakkan spatula begitu saja ke atas meja.
“Jangan mulai lagi, Zoya.” Suaranya rendah, tetapi penuh tekanan. “Aku kasih kamu tinggal di sini cuma karena Zidan. Jangan bertingkah seolah posisi kamu lebih dari itu.”
Namun bukannya takut, Zoya justru tersenyum tipis penuh kemenangan. “Oh ya?” tanyanya pelan sambil melangkah mendekat. “Tapi kamu lupa satu hal, Ren.”
Reno mengernyit tidak suka.
“Di antara kita belum ada perceraian yang benar-benar selesai,” bisik Zoya sambil menatap tepat ke mata lelaki itu. “Jadi secara hukum… aku masih istri kamu.”
Kalimat itu membuat Reno seketika diam. Rahangnya perlahan mengeras saat kesadaran yang selama ini ia abaikan mulai menghantam pikirannya.
Dulu, setelah Zoya pergi beberapa minggu usai melahirkan Zidan, Reno memang sempat mengajukan gugatan cerai. Namun saat itu Zoya menghilang tanpa kabar dan tidak pernah datang ke persidangan.
Di sisi lain, Reno sendiri sedang berada di titik terburuk hidupnya. Bisnisnya hampir bangkrut, utang menumpuk, ditambah harus mengurus bayi seorang diri tanpa bantuan siapa pun. Sampai akhirnya proses perceraian itu terbengkalai begitu saja. Dan selama bertahun-tahun Reno terlalu sibuk bertahan hidup sampai lupa memastikan semuanya benar-benar selesai.
“Jadi…” Reno menatap Zoya tajam. “Ini rencana kamu?”
Zoya pura-pura terlihat bingung. “Rencana apa?”
Wanita itu kembali melangkah mendekat sampai jarak mereka nyaris tidak ada.
“Aku cuma ngingetin kenyataan,” ucapnya lembut.
Pagi itu Zoya memang terlihat sangat cantik. Ia mengenakan gaun tidur satin merah yang membalut tubuhnya dengan pas, kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Aroma parfum mahal samar tercium saat wanita itu mengangkat tangan lalu mengusap lembut pipi Reno.
“Suami istri gak perlu saling curiga, Ren,” bisiknya pelan. “Yang ada cuma belajar melanjutkan hidup demi anak kita.”
Namun bukannya luluh, Reno justru langsung menangkap pergelangan tangan Zoya kasar lalu menjauhkan sentuhan itu dari wajahnya. Sorot matanya kini benar-benar berubah dingin.
“Jangan sentuh aku.”
Zoya terkekeh pelan mendengar penolakan itu. Bukannya marah, wanita tersebut justru menatap Reno dengan sorot penuh permainan.
“Kenapa?” tanyanya lembut sambil memiringkan kepala. “Dulu kamu paling suka kalau aku sentuh seperti ini.”
Tangannya kembali bergerak pelan, seolah sengaja menguji kesabaran Reno. “Dan dulu juga,” lanjut Zoya lirih, “kamu gak pernah bisa nolak aku.”
Rahang Reno langsung mengeras. Dengan gerakan cepat ia menepis tangan wanita itu lalu mundur satu langkah, menjaga jarak seolah jijik disentuh lebih lama.
“Zoya,” ucapnya tegas sambil menahan emosi, “itu dulu.”
Tatapan Zoya perlahan berubah tipis.
“Sekarang semuanya udah beda,” lanjut Reno tanpa ragu. “Aku juga udah gak punya perasaan apa pun sama kamu.”
Kalimat itu membuat senyum di bibir Zoya sedikit memudar, meski wanita tersebut masih berusaha terlihat santai.
Reno mengembuskan napas kasar sebelum kembali berkata, “Dan satu hal lagi yang harus kamu ingat… aku tetap bakal nikah sama Inara.”
Sorot mata Zoya langsung berubah tajam.
“Untuk urusan status pernikahan kita, aku bakal urus semuanya secepat mungkin,” sambung Reno dingin. “Jadi berhenti ngomong seolah-olah kita masih punya hubungan.”
Beberapa detik dapur itu mendadak sunyi. Reno sama sekali tidak memberi kesempatan Zoya untuk membalas. Setelah mengambil kunci mobil dan kotak bekal berisi nasi goreng buatannya, lelaki itu langsung melangkah pergi begitu saja tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.
Suara pintu yang tertutup cukup keras membuat Zoya refleks tersentak kecil. Wanita itu masih berdiri di tempat yang sama sambil menatap kosong ke arah pintu, berharap Reno akan kembali atau setidaknya berhenti sejenak seperti biasanya. Namun langkah lelaki itu justru terdengar semakin menjauh.
Saat itulah perasaan tidak nyaman mulai memenuhi dadanya perlahan.
Selama ini Reno memang dikenal emosional, keras kepala, dan mudah marah. Akan tetapi, Zoya juga sangat tahu satu hal tentang lelaki itu Reno selalu mudah goyah jika menyangkut dirinya. Sedikit tangisan, sedikit perhatian, atau memainkan rasa bersalah biasanya sudah cukup membuat Reno luluh lagi.
Namun kali ini berbeda. Tatapan Reno tadi benar-benar tidak sama seperti biasanya. Tidak ada keraguan, tidak ada kemarahan yang masih menyisakan rasa peduli. Yang Zoya lihat justru keseriusan yang membuatnya mulai merasa terancam.
“Inara lagi…” gumamnya pelan sambil tertawa hambar.
Tangannya perlahan mengepal kuat. Zoya mengusap wajahnya kasar sebelum kembali menatap ke arah pintu dengan sorot mata dingin.
“Reno,” lirihnya pelan, “apa kamu pikir bisa balik sama Inara semudah itu?”
Sudut bibir wanita itu perlahan terangkat tipis, tetapi senyumnya sama sekali tidak menunjukkan kehangatan.
“Aku ini Zoya,” ucapnya lagi penuh penekanan. “Dan aku gak akan membiarkan wanita itu menang begitu saja.”