NovelToon NovelToon
Pesona Murid Baru

Pesona Murid Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.

Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.

Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Panggilan Yang Mengusik

Matahari mulai condong ke barat, membiaskan cahaya keemasan di atas permukaan laut yang berkilauan. Kedai kopi kecil di pinggir pantai itu terasa begitu tenang, hanya ada suara deburan ombak dan musik akustik samar yang diputar dari speaker usang di pojok ruangan. Cinta menyesap sisa es cokelatnya, sementara Rian masih tampak menikmati kopinya sambil menatap jauh ke arah dermaga tua yang tadi mereka kunjungi.

"Sudah hampir sore," ucap Cinta memecah keheningan yang nyaman itu. "Kita sebaiknya bersiap pulang sebelum jalanan mulai padat oleh orang-orang yang habis berwisata."

Rian mengangguk, ia meletakkan cangkirnya ke meja. "Iya. Tapi hari ini benar-benar di luar ekspektasiku. Terima kasih sudah jadi pemandu yang hebat, Cinta."

Baru saja Cinta hendak membalas pujian itu, sebuah getaran keras terdengar dari atas meja kayu di depan mereka. Ponsel Rian yang diletakkan dalam posisi layar menghadap ke atas menyala terang. Sebuah panggilan masuk.

Cinta secara tidak sengaja melirik layar tersebut karena posisinya sangat dekat dengan tangannya. Di sana, tertera sebuah nama yang singkat namun cukup untuk membuat debaran jantung Cinta berubah menjadi rasa sesak yang aneh.

Clarissa❤️

Ada simbol hati merah di belakang nama itu.

Rian menatap layar ponselnya selama beberapa detik. Ekspresinya yang tadinya santai mendadak berubah kaku. Rahangnya mengeras, dan sorot matanya kembali mendingin, mengingatkan Cinta pada sosok Rian di hari pertama sekolah. Tanpa mengangkatnya, Rian menekan tombol merah, menolak panggilan tersebut dengan gerakan yang cepat dan tegas.

Namun, hanya berselang beberapa detik, ponsel itu kembali bergetar. Nama yang sama muncul kembali di layar.

Rian mendengus kesal. Ia membalikkan layar ponselnya sehingga menghadap ke bawah, lalu memasukkannya ke dalam saku jaket denim tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Suasana di kedai kopi yang tadinya terasa hangat mendadak berubah menjadi canggung. Cinta merasakan ada sesuatu yang mengganjal di dadanya.

Clarissa? Dengan simbol hati?

Pikiran Cinta mulai berkelana liar. Logikanya yang biasanya teratur kini berantakan. Ia membayangkan sosok perempuan cantik dari masa lalu Rian di Jakarta. Perempuan yang mungkin masih memiliki tempat khusus di hati cowok itu.

"Tentu saja dia punya pacar. Cowok seperti Rian tidak mungkin sendirian di Jakarta sana. Dan aku... aku hanya teman sebangkunya di sekolah baru ini," batin Cinta dengan rasa kecewa yang berusaha ia sembunyikan.

Cinta berpura-pura sibuk merapikan tasnya, menghindari kontak mata dengan Rian. Rasa manis dari es cokelat yang ia minum tadi mendadak berubah menjadi hambar.

"Ayo," ajak Rian singkat, suaranya terdengar lebih berat dari sebelumnya.

Mereka berjalan menuju parkiran motor dalam diam. Rian mengenakan helmnya, lalu menyerahkan helm cadangan kepada Cinta. Kali ini, tidak ada momen Rian membantu mengunci tali helmnya. Rian tampak sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri, seolah panggilan telepon tadi telah menariknya kembali ke sebuah tempat yang ingin ia lupakan.

Sepanjang jalan pulang, Cinta hanya diam. Ia tidak lagi memperhatikan pemandangan pesisir yang tadi ia puji. Ia hanya menatap punggung Rian, merasakan jarak yang tiba-tiba terasa begitu lebar di antara mereka meski mereka duduk di atas satu motor. Angin sore yang menerpa rambutnya terasa lebih dingin dari biasanya.

...****************...

Sesampainya di depan pagar rumah Cinta, Rian mematikan mesin motornya. Keheningan yang terjadi kali ini terasa menyesakkan, bukan lagi keheningan yang nyaman seperti saat mereka di bukit pagi tadi.

Cinta turun dari motor dan menyerahkan helmnya dengan gerakan kaku. "Terima kasih untuk hari ini, Rian. Maaf kalau aku banyak bicara tadi."

Rian menatap Cinta, ia menyadari perubahan sikap gadis itu. Rian bukan orang bodoh, ia tahu apa yang mungkin dipikirkan Cinta setelah melihat layar ponselnya di kedai tadi.

"Cinta," panggil Rian saat Cinta baru saja hendak berbalik masuk ke rumah.

Cinta berhenti, namun ia tidak langsung menoleh. "Iya?"

"Kamu tadi melihat layarnya, kan?" tanya Rian langsung, tanpa basa-basi.

Cinta menarik napas panjang, ia membalikkan badannya dan berusaha menatap Rian dengan tenang, meski matanya menunjukkan sedikit kekecewaan. "Iya, aku tidak sengaja melihatnya. Maaf kalau itu lancang. Aku tidak bermaksud mencampuri urusan pribadimu, apalagi soal pacarmu."

Rian turun dari motornya, ia melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa satu meter. "Dia bukan pacarku."

Cinta tertegun, matanya sedikit membulat. "Tapi namanya pakai simbol hati.."

Rian mengembuskan napas panjang, seolah sedang membuang beban berat. "Itu Clarissa. Dia mantanku. Nama itu masih ada di kontakku karena aku belum sempat untuk menghapus atau mengubahnya. Simbol hati itu juga dia sendiri yang memasangnya saat kami masih bersama dulu."

Cinta terdiam, mencerna penjelasan Rian. Ada rasa lega yang tiba-tiba menyeruak di hatinya, namun ia masih merasa ragu. "Tapi kenapa dia terus menelponmu?"

"Sejak aku pindah kesini, dia sering menelpon. Katanya hanya ingin menanyakan kabar, memastikan aku baik-baik saja di tempat terpencil ini," ucap Rian dengan nada sarkastik.

"Tapi bagiku, semuanya sudah selesai saat aku memutuskan untuk pergi dari Jakarta. Aku menolak panggilannya karena aku tidak ingin ditarik kembali ke masa lalu yang kacau itu."

Rian menatap mata Cinta dengan intens, seolah ingin memastikan bahwa gadis itu mempercayainya.

"Aku ke sini untuk memulai awal yang baru, Cinta. Bukan untuk menoleh ke belakang."

Cinta merasakan kehangatan kembali merayap di hatinya. Rasa kecewa yang tadi sempat membekukan perasaannya perlahan mencair. Ia menyadari bahwa kejujuran Rian adalah sebuah bentuk kepercayaan yang sangat besar.

"Aku mengira kamu sudah punya seseorang di sana."

Rian tersenyum tipis, kali ini senyumnya terasa lebih lega. "Tidak. Sudah, masuklah. Mamahmu pasti sudah menunggu di dalam," kata Rian sambil kembali naik ke motornya.

"Sampai bertemu besok di sekolah, Bu Sekretaris."

Rian menyalakan mesin motornya dan melambaikan tangan sebelum melesat pergi.

Cinta berdiri di depan pagar, menatap bayangan motor Rian yang menghilang di belokan jalan.

Ia masuk ke dalam rumah dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan. Di ruang tamu, Mamah sedang melipat pakaian sambil senyum-senyum sendiri.

"Gimana jalan-jalannya? Seru?" tanya Mamah menggoda.

"Seru, Mah," jawab Cinta singkat sambil berlari menaiki tangga menuju kamarnya.

Di dalam kamar, Cinta meletakkan tasnya dan langsung membuka laptop. Ia menghirup dalam-dalam aroma cokelat yang masih tersisa di kamarnya.

Cinta membiarkan jemarinya diam mematung di atas keyboard selama beberapa saat. Penjelasan Rian tentang Clarissa masih terngiang, membawa getaran aneh yang lebih kuat daripada sekadar rasa lega.

Ia mulai mengetik, namun kali ini bukan lagi sekadar narasi tentang murid baru yang dingin.

Ada perbedaan tipis antara melupakan dan meninggalkan. Rian tidak sedang berusaha melupakan masa lalunya, ia hanya sedang memilih untuk tidak membiarkan masa lalu itu mendikte langkahnya hari ini.

Cinta tersenyum sendiri melihat kalimat itu muncul di layar. Ia teringat kembali wajah Rian yang terlihat jauh lebih tenang saat mereka di puncak bukit tadi. Yang tadinya hanya sebuah kota kecil tempatnya tumbuh, kini terasa memiliki warna yang berbeda sejak kehadiran Rian.

Tiba-tiba, ponsel Cinta bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang belum ia simpan, namun ia tahu siapa pemiliknya.

"Cokelat yang kemarin jangan cuma disimpan. Dimakan. Besok ada kuis Fisika, jangan sampai energimu habis hanya untuk melamun."

Cinta tertawa kecil, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Rian benar-benar tahu cara mengacaukan konsentrasinya sekaligus memberinya semangat. Ia mengambil cokelat pemberian Rian dari dalam tas, membukanya perlahan, dan mematahkan satu bagian kecil.

Cinta kembali menatap layar laptopnya, menutup draf novelnya dengan perasaan penuh, lalu berbisik pelan pada sunyinya kamar, “Sampai bertemu besok, Rian.”

1
Restu Siti Aisyah
mampir kak👍
EvhaLynn
Luar Biasa😉
clarisa
Ayo lanjut lagi, eh jgn lupa mampir di karyaku permen kopi edisi spesial yaaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!