Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Universitas dan Seribu Kilometer yang Terlalu Jauh
Malam itu Lucifer tidak tidur lagi.
Ia duduk di ruang kerja, cahaya lampu menggores tiga berkas di atas meja. Columbia. NYU. Dan satu lagi—Universitas Indonesia, Jakarta.
Marco sudah mengorek semuanya sejak sore. Sejak Florence mengucap, “Aku... dulu mau kuliah sastra.” Dua kalimat itu menggema di kepalanya, menenggelamkan rapat miliaran dolar dan laporan darah dari kartel Meksiko.
Jakarta. Delapan ribu mil jauhnya. Enam belas jam di udara. Beda waktu sebelas jam. Jika Florence di sana, ia takkan melihat gadis itu bangun, takkan memastikan ia makan, takkan bisa menjangkaunya dalam satu panggilan.
Dadanya sesak. Terlalu jauh. Jika ia pergi lagi, aku runtuh. Sungguh-sungguh runtuh.
Tapi ia mengingat jari kurus itu menyentuh punggung buku. Mengingat bisikan “Terima kasih” yang hampir ditelan angin. Mengingat kertas di sakunya. Aku beri kamu satu kesempatan. Satu. Jangan rusak lagi.
Membiarkan Florence ke Jakarta berarti melepaskan. Menahannya di sangkar berarti merobek kesempatan itu dengan tangannya sendiri.
Pukul 03.00, ia melempar berkas Universitas Indonesia ke tempat sampah. Kasar. Marah pada dirinya sendiri. Egois. Iblis. Tak sanggup melepas sejauh itu.
Lalu ia membuka berkas Columbia. Sastra Inggris. Upper Manhattan. Tiga puluh menit dari mansion jika jalanan bersahabat. Ia bisa mengantar. Atau menyuruh Marco. Atau dua puluh bayangan bersenjata.
Biaya bukan hitungan. Ia bisa membeli kampus itu jika mau. Yang penting Florence tetap di kota yang sama. Di udara yang sama. Dalam jangkauan lima belas menit jika mimpi buruk datang lagi.
Ia menekan interkom.
“Marco. Bangunkan tim legal. Sekarang. Daftarkan Florence Beatrix di Columbia musim semi ini. Sastra. Kelas reguler. Tanpa perlakuan khusus di ruang kuliah. Tapi pengamanan—maksimum. Tak boleh ada yang tahu ia milikku. Paham?”
Di seberang, Marco tersentak bangun.
“S-siapa, Tuan?”
“Florence.” Nama itu meluncur tanpa gelar. Tanpa tameng. Hanya Florence.
“Siapkan sopir. Mobil anti peluru. Jadwal kuliahnya harus di mejaku besok pagi. Biaya, buku, tempat tinggal—aku tanggung. Apartemen jika ia mau, atau kamar di mansion tetap terbuka. Terserah ia.”
“Baik, Tuan. Tapi... apartemen? Apa Nona berencana pisah—”
“TIDAK!” Meja bergetar oleh kepalan. Lalu suaranya merendah, berat.
“...Tanyakan padanya. Bukan aku yang memutuskan. Jika ia ingin di sini, kamarnya tetap ada. Jika ia ingin keluar, beli gedung di sebelah kampus. Kosongkan. Isi dengan pengawal. Tapi jangan sebut namaku.”
Marco terdiam. Bosnya sudah gila. Tapi gilanya berubah arah. Dulu obsesinya mengurung. Sekarang obsesinya memberi, meski tetap dalam radius tiga puluh menit.
“Tuan,” bisik Marco hati-hati, “Anda yakin? Di luar sana risikonya besar. Wartawan. Musuh. Ia bisa lari.”
Lucifer menatap kegelapan di luar jendela.
“Ia bisa lari sejak dulu, Marco. Saat ia memelukku tiga hari lalu. Saat ia merawatku semalam. Saat ia bilang terima kasih tadi. Ia bisa menusukku, meracuniku, menghilang. Tapi ia tidak.”
Ia meremas surat di saku.
“Satu kesempatan itu termasuk ini. Jika aku kurung lagi, artinya aku tak percaya. Dan jika ia pergi...” Ia terdiam.
“...berarti aku memang pantas ditinggal.” lanjutnya.
---
Pukul 07.00 pagi. Ruang makan.
Lucifer sudah duduk di ujung meja. Seperti kemarin. Tanpa sarapan. Hanya kopi. Di depannya tergeletak map coklat polos. Tak ada logo. Tak ada nama.
Florence turun dengan langkah ragu, lalu duduk di ujung lain. Jarak tiga meter itu tetap sakral.
Sunyi. Hingga Lucifer mendorong map itu pelan ke tengah meja. Tidak terlalu dekat. Netral. Florence boleh mengambil, boleh mengabaikan.
“Apa itu?” tanyanya tanpa menatap Lucifer. Matanya tertambat pada map.
Lucifer meneguk kopi. Pahit. Sama seperti kalimat yang akan ia ucapkan.
“Columbia,” katanya akhirnya. “Sastra. Mulai musim semi. Jika... jika kau mau.”
Florence mendongak cepat. Matanya melebar. Kuliah?
“Aku tak bisa melepasmu ke Jakarta,” lanjutnya jujur, kasar, tanpa gengsi. “Terlalu jauh. Aku akan gila. Tapi di sini... aku bisa mengantar. Atau Marco. Atau kau pilih sopir lain. Semua biaya—aku tanggung. Buku. Apa saja.”
Ia berhenti. Rahangnya mengeras. Kalimat terakhir paling menyesak.
“Kau tak harus tinggal di sini jika tak mau. Bisa apartemen dekat kampus. Pengawal takkan mengganggu. Kau... bebas.”
Bebas. Kata itu asing di lidah Lucifer Azrael. Tapi ia mengucapkannya. Untuk Florence.
Florence membiarkan map itu tetap diam di tengah meja. Tangannya menggenggam lipatan gaunnya hingga buku-buku jari memutih. Mimpi yang ia kubur dalam tanah senyap—dan yang terseret paksa keluar saat Lucifer merenggutnya dari Bira Tengah—kini menggeliat pelan di bawah tulang rusuknya, seolah meminta dihidupkan lagi.
Dan kini iblis yang meremukkan hidupnya... mengembalikannya. Tidak sempurna. Tidak di Jakarta. Tapi kembali.
“Kenapa?” bisiknya. Pertanyaan yang sama, tapi bobotnya berbeda.
Lucifer menatapnya. Kali ini penuh. Tidak lama. Tidak menuntut. Hanya lelah.
“Karena kau bilang kau mau jadi guru,” jawabnya. “Dan karena aku... aku janji tidak akan rusak lagi.”
Ia berdiri.
“Pikirkan. Tak ada tenggat. Jika tak mau, bakar saja map itu. Aku takkan bertanya lagi.”
Ia pergi. Meninggalkan map di tengah meja. Meninggalkan pilihan di tangan Florence. Meninggalkan satu kesempatan itu untuk diuji.
Di kamar, Florence membuka map dengan jari gemetar. Brosur Columbia. Formulir pendaftaran. Nama Florence Beatrix sudah tertulis. Tinggal tanda tangan.
Di halaman terakhir, ada coretan kecil. Tulisan Lucifer. Berantakan.
Kau tidak perlu maafkan aku untuk mengambil ini. Ambil saja. Karena kamu. Bukan karena aku.
Florence menutup map itu, mendekapnya ke dada seperti buku kemarin.
Es di dadanya belum cair. Tapi di bawahnya, ada hangat yang mulai mengalir. Pelan. Sakit. Tapi mengalir.
Kesempatan itu—ternyata bukan hanya untuk Lucifer.
Tapi juga untuknya.
Untuk menjadi Florence lagi.
Bukan tahanan. Bukan korban.