Briella hanyalah "sampah" di kediaman megah keluarganya—anak haram yang lahir dari perselingkuhan ibunya. Saat ia nyaris tewas disiksa oleh saudari tirinya, Prilly, sebuah pelarian berdarah membawanya ke pelukan pria asing di sebuah hotel remang-remang. Satu malam panas mengubah segalanya. Pria itu adalah Geovani, dokter bedah jenius berdarah dingin yang ternyata merupakan tunangan Prilly. Kini, Briella kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang membawa benih sang dokter. Di bawah bayang-bayang balas dendam, Briella memulai permainan berbahaya: Merebut pria milik musuhnya, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di atas meja operasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran yang Menyakitkan
Udara di dalam ruang kerja Geovani mendadak terasa membeku. Briella masih terpaku menatap layar monitor yang menampilkan data perbandingan genetik yang sangat kontras. Napasnya memburu, sementara jemarinya yang dingin mencengkeram pinggiran meja mahogani hingga buku jarinya memutih.
Geovani berdiri di sampingnya, membiarkan keheningan itu menyiksa batin Briella sebelum ia memberikan pukulan terakhir. Pria itu menyentuh layar, mengaktifkan lapisan data tersembunyi yang baru saja ia dekripsi dari arsip lama. Sorot matanya yang gelap menunjukkan kilatan kepuasan yang dingin dan tak tersentuh.
"Kau melihat ini, Briella? Garis genetik ini adalah bukti absolut yang tidak bisa dibantah oleh protokol medis mana pun di Etheria," ujar Geovani dengan suara bariton yang rendah.
Briella menggelengkan kepala, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya yang memerah. "Apa maksudmu? Aku tidak mengerti angka-angka sialan ini, Geovani! Katakan langsung padaku!"
Geovani menarik napas pendek, lalu menunjuk pada kolom nama Prilly Adijaya yang disandingkan dengan profil DNA ayah Prilly. "Ibumu tidak pernah berselingkuh karena kau adalah anak kandung sah yang memiliki kecocokan genetik seratus persen. Namun, lihatlah hasil milik Prilly."
"Kenapa dengan profil Prilly? Dia adalah putri kebanggaan keluarga Adijaya, bukan?" tanya Briella dengan suara yang bergetar hebat.
"Prilly justru memiliki anomali pada lokus kromosom ayahnya. Secara medis, peluangnya untuk menjadi darah murni Adijaya hampir nol persen. Kemungkinan besar, dialah yang lahir dari hubungan gelap yang ditutupi dengan sangat rapi oleh ayahnya," jelas Geovani dengan nada tanpa emosi.
Seketika, dunia di sekitar Briella terasa berputar dengan sangat kencang. Kebenaran itu menghantamnya lebih keras daripada tamparan Prilly siang tadi. Selama ini ia hidup dalam kehinaan, disiksa di gudang bawah tanah, dan dilabeli sebagai darah kotor, sementara orang yang sebenarnya tidak berhak justru menikmati kemewahan.
"Jadi ... selama ini aku adalah pemilik sah identitas itu? Dan wanita yang menyiksaku hanyalah seorang penyusup?" Briella bergumam dengan suara yang pecah oleh isak tangis yang mulai meledak.
"Ya. Ayah Prilly memanipulasi datamu untuk menyingkirkan pewaris sah dan menaikkan kasta anak yang ia sayangi, meskipun anak itu bukan darah dagingnya sendiri," Geovani menatap Briella yang mulai tampak kehilangan kendali atas dirinya.
Tiba-tiba, Briella meraung kesetitan. Ia tidak lagi mampu menahan gejolak amarah yang membakar dadanya selama bertahun-tahun. Dengan gerakan kalap, ia menyapu semua barang yang ada di atas meja kerja Geovani hingga jatuh berantakan ke lantai marmer.
"Bohong! Semuanya bohong! Kenapa mereka setega itu padaku? Kenapa mereka membiarkan ibuku mati dalam keadaan dihina!" teriak Briella sambil menjambak rambutnya sendiri.
Geovani hanya berdiri diam, membiarkan Briella meluapkan emosinya yang meledak-ledak. Ia melihat gadis itu berlari menuju kamar tidur pribadinya yang terhubung dengan ruang kerja. Suara barang-barang pecah mulai terdengar dari dalam sana, menciptakan simfoni kehancuran di tengah malam.
Briella meraih vas bunga kristal di atas nakas dan membantingnya ke dinding hingga hancur berkeping-keping. Ia merobek seprai sutra, melempar bantal, dan menjatuhkan semua pajangan mewah yang ada di kamar itu. Setiap benda yang ia hancurkan mewakili rasa sakit hati yang selama ini ia pendam sendirian.
"Aku membenci mereka! Aku membenci setiap detik napas yang mereka hirup di mansion itu!" teriak Briella lagi, suaranya serak karena terus meraung.
Geovani melangkah masuk ke kamar, melihat kekacauan yang diciptakan oleh tawanannya. Ia tidak merasa marah meskipun barang-barang mahalnya hancur berantakan. Baginya, kehancuran mental Briella adalah proses yang diperlukan untuk membentuk sekutu yang lebih kuat dan tanpa belas kasihan.
"Hancurkan semuanya, Briella. Jika itu membuatmu merasa lebih baik, hancurkan saja. Tapi ingat, benda-benda ini tidak akan mengembalikan waktu yang hilang," ucap Geovani sambil berdiri di ambang pintu.
Briella berhenti sejenak, napasnya tersengal-sengal di tengah kamar yang sudah seperti medan perang. Ia menoleh ke arah Geovani dengan tatapan mata yang liar dan penuh dengan dendam yang sangat pekat. Air matanya terus mengalir, membasahi pipinya yang masih membiru akibat lebam.
"Kau tahu betapa menderitanya aku? Aku dipaksa memakan sisa makanan anjing sementara dia memakai gaun sutra! Aku dipukuli karena dianggap aib!" Briella berteriak tepat di depan wajah Geovani.
"Aku tahu. Itulah sebabnya aku membongkar rahasia ini untukmu. Aku ingin kau sadar bahwa kau memegang kendali atas kehancuran mereka sekarang," balas Geovani sambil mencengkeram bahu Briella agar gadis itu berhenti bergerak.
"Kendali apa? Aku hanya seorang mahasiswi yang kau kurung di sini sebagai objek penelitian! Aku tidak punya apa-apa untuk melawan mereka!" Briella mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Geovani.
Geovani menekan bahu Briella lebih kuat, memaksanya untuk menatap langsung ke dalam matanya yang tajam. "Kau punya aku. Dan kau punya bukti yang bisa menghapus kasta mereka dalam semalam. Jangan buang energimu untuk menangis seperti orang lemah."
Briella terdiam, tubuhnya perlahan melemas di dalam dekapan paksa Geovani. Ia merasakan dadanya sesak oleh kebencian yang kini memiliki tujuan yang jelas. Rasa sakit yang ia rasakan selama ini bukan lagi sebuah beban, melainkan bahan bakar untuk api yang akan melahap keluarga Adijaya.
"Kebenaran ini sangat menyakitkan, Geovani. Rasanya seperti jantungku dicabut hidup-hidup dari dadaku," bisik Briella dengan sisa kekuatannya sambil menyandarkan kepalanya di dada pria itu.
"Rasa sakit adalah guru terbaik di Upper-Chrome. Biarkan rasa sakit ini menuntunmu untuk mengambil kembali apa yang menjadi hakmu," Geovani mengusap rambut Briella dengan gerakan yang tampak protektif namun terasa mendominasi.
Briella menatap kepingan kristal vas bunga yang berserakan di bawah kakinya. Ia menyadari bahwa hidupnya yang lama benar-benar sudah hancur bersamaan dengan terbongkarnya rahasia ini. Tidak ada jalan kembali menjadi Briella yang sabar dan menerima nasib begitu saja.
"Prilly... dia akan merasakan apa itu menjadi darah kotor yang sebenarnya. Aku akan memastikan dia merangkak di kakiku," desis Briella dengan nada yang sangat dingin.
Geovani tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang sekali muncul di wajahnya yang kaku. "Bagus. Itulah sikap yang kubutuhkan darimu. Sekarang, bersihkan dirimu dan cobalah untuk tenang. Kita masih punya banyak pekerjaan untuk dilakukan besok."
"Aku tidak butuh ketenangan. Aku butuh rencana untuk menghancurkan mereka semua sampai tidak ada satu pun nama Adijaya yang tersisa dengan hormat," Briella melepaskan diri dari Geovani dan menatap kamar yang hancur itu tanpa penyesalan.
"Kita akan menyusunnya. Tapi ingat, kau harus patuh padaku. Jika kau bertindak sembrono, rahasia ini akan terkubur bersamamu sebelum kau sempat melihat mereka jatuh," peringat Geovani dengan suara yang kembali tegas.
Briella mengangguk pelan, ia merasakan kekuatan baru mengalir di nadinya. Kebenaran yang menyakitkan ini telah mengubahnya menjadi sosok yang berbeda. Ia tidak lagi peduli dengan moralitas atau kebaikan; yang ada di pikirannya hanyalah pembalasan dendam yang setimpal atas kematian ibunya.
"Aku akan patuh, Dokter. Asalkan kau menjanjikan darah mereka sebagai bayarannya," ujar Briella dengan tatapan mata yang kini sekaku es.
Geovani mengangguk puas, lalu meninggalkan Briella sendirian di tengah kekacauan kamar tersebut. Pria itu kembali ke ruang kerjanya, menatap monitor yang masih menampilkan data DNA tersebut. Ia tahu bahwa ia baru saja menciptakan monster yang sangat cantik, dan ia tidak sabar untuk melepaskannya ke dunia Upper-Chrome yang munafik.
Di dalam kamar yang gelap, Briella duduk bersimpuh di atas lantai yang dingin. Ia memegang sepihan kaca kecil dan menekannya ke telapak tangannya hingga berdarah sedikit. Rasa perih itu adalah pengingat bahwa mulai malam ini, hidupnya didedikasikan untuk satu tujuan: menghancurkan kerajaan kebohongan keluarga Adijaya.
"Ibu ... aku akan pulang ke rumah itu sebagai pemilik yang sah. Dan mereka akan mati dalam kehinaan yang sama seperti yang kau rasakan," bisik Briella ke arah kegelapan malam yang sunyi.