NovelToon NovelToon
Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:826
Nilai: 5
Nama Author: SecretPenaa_

Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .

Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tipu daya sang pangeran

Di sudut lain istana , pangeran Julian tengah berdiri mematung di dekat jendela besar. Tatapannya kosong mengarah ke kejauhan, namun kepalanya dipenuhi oleh rencana-rencana licik. Ia sedang memutar otak, mencari cara paling bersih untuk melenyapkan saingan terbesarnya yakni pangeran Cakra saudaranya sendiri .

"Selama bayang-bayang Cakra masih ada, sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa menguasai takhta ini." gumam Julian dengan nada suara yang rendah dan penuh ambisi. Rahangnya mengetat.

"Aku harus segera menyingkirkannya secepat mungkin!"

Tepat setelah gumaman penuh amarah itu terlontar, pintu ruangannya diketuk perlahan. Seorang pelayan pribadi masuk dengan langkah terburu-buru, lalu membungkuk hormat seraya menyodorkan sepucuk surat yang masih tersegel rapi.

"Lapor, Pangeran. Ada surat penting dari pangeran Kerajaan Utara, Pangeran Elias." lapor pelayan tersebut dengan suara pelan.

Julian sedikit mengernyitkan keningnya. Ia menatap surat itu dengan malas.

"Langsung kau sampaikan saja pada Raja. Mengapa malah memberikannya kepadaku?"

Dalam benaknya, Julian menduga itu hanyalah surat formal biasa mengenai kabar duka kematian Raja Seno—sahabat baik ayahnya. Namun, gelengan kepala si pelayan membuktikan bahwa dugaannya kali ini salah besar.

"Maaf, Pangeran. Surat untuk Yang Mulia Raja sudah disampaikan secara terpisah. Dan surat yang satu ini, Pangeran Elias tujukan khusus untuk Anda secara pribadi," jelas sang pelayan hati-hati.

Mendengar hal itu, rasa penasaran Julian mulai terusik. Ia menegakkan tubuhnya, lalu menyambar surat tersebut dari tangan si pelayan.

"Begitu rupanya... Baiklah, kau boleh pergi sekarang," titah Julian dengan lambaian tangan yang mengusir.

Begitu pintu ruangan tertutup rapat dan menyisakan dirinya sendirian, Julian langsung merobek segel surat tersebut. Ia membaca deretan kalimat di dalamnya dengan saksama. Detik berikutnya, kedua sudut bibir pangeran yang ambisius itu perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman seringai yang licik dan penuh kemenangan.

Cakra berdiri mematung, terus memperhatikan Nayan. Di hadapan mereka, Riu sedang dengan telaten mengoleskan ramuan obat di dahi gadis itu. Nayan tampak sedikit meringis, menahan rasa perih yang menjalar di keningnya.

"Maafkan aku, Nayan," ucap Cakra dengan nada bersalah. "Ini semua terjadi karena aku meninggalkanmu sendirian tadi."

Nayan mendongak, menyunggingkan senyum tipis untuk menenangkan pemuda di depannya. "Tidak, Cakra. Ini sama sekali bukan kesalahanmu. Jangan menyalahkan dirimu sendiri."

Saat sedang berbicara, mata Nayan tak sengaja melirik ke arah telapak tangan Cakra yang masih berlumuran darah segar. Rasa panik seketika menyerangnya.

"Cakra! Tanganmu berdarah!" Nayan refleks meraih pergelangan tangan Cakra untuk memeriksanya. Namun, Cakra dengan cepat menarik tangannya kembali ke belakang tubuh. "Ini hanya luka kecil, Nayan. Tidak masalah, sungguh."

Tanpa diduga, Nayan bersikap keras kepala. Ia kembali menarik tangan Cakra dan menatap luka sayatan akibat belati tadi dengan tatapan yang sangat dalam. "Luka kecil pun jika tidak segera diobati bisa menjadi sarang penyakit dan berbahaya," omel Nayan lembut namun tegas.

Nayan kemudian mengambil alih obat herbal dan kain perban dari tangan Riu. Dengan gerakan yang sangat hati-hati dan telaten, ia mulai membersihkan darah dan membalut luka di telapak tangan Cakra.

Sepanjang proses itu, Cakra sama sekali tidak berkedip. Tatapannya terkunci rapat pada wajah Nayan yang begitu fokus mengobatinya. Tatapan yang begitu dalam dan penuh arti, sampai-sampai membuat Riu yang menonton di samping mereka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah.

Hmm... bagus sekali. Dari sekian banyak putri dan gadis bangsawan di istana, pada akhirnya pangeran malah tertarik dengan gadis desa yang ditemukan di tengah hutan, gumam Riu dalam hati, menahan tawa.

Merasa diabaikan dan ingin mencairkan suasana yang terlalu intim tersebut, Riu sengaja berdeham sangat keras dengan tingkah konyolnya yang khas.

"Ehem! Ekhemm...! Tenggorokanku mendadak gatal sekali ya!" sindir Riu sambil melirik mereka berdua penuh arti.

Sontak saja, sindiran Riu itu berhasil memecah keheningan. Cakra dan Nayan refleks saling berpandangan dengan pipi yang sedikit merona, diliputi perasaan canggung yang tiba-tiba menyeruak di antara mereka.

***

Di aula agung yang megah, Pangeran Elias berdiri di hadapan para raja bawahan dan pejabat tinggi yang berkumpul. Suasana hening seketika saat ia mulai angkat bicara dengan nada suara yang bergetar, sarat akan duka dan wibawa yang dibuat-buat.

"Aku berdiri di sini bukan hanya sebagai seorang putra yang tengah berduka," buka Elias, menyapu pandangannya ke seluruh ruangan.

"Tetapi juga sebagai seorang pangeran, sekaligus calon raja yang dikhianati oleh prajurit kepercayaannya sendiri."

Elias menghela napas berat, memasang gurat penyesalan yang tampak begitu nyata di wajahnya.

"Dengan segenap hati, dan mewakili mendiang ayahanda yang mungkin telah gagal menjadi pemimpin sebelumnya, aku atas nama Kerajaan Utara memohon maaf yang sebesar-besarnya. Pengkhianatan dan pembantaian yang telah dilakukan oleh pendekar Sedra terjadi sepenuhnya di luar sepengetahuanku dan mendiang ayahku. Semua kekejaman itu semata-mata ia lakukan demi ambisi pribadinya untuk merebut takhta Kerajaan Utara, serta menundukkan kerajaan-kerajaan sekutu di bawah kakinya!"

Mendengar pidato yang menggebu-gebu itu, salah seorang raja bawahan langsung berseru marah.

"Jadi, selama ini pendekar Sedra memang sudah merencanakan pemberontakan ini?!"

"Benar! Dia bahkan merampas harta benda kami juga! Dia pasti sudah bekerja sama dengan para bandit busuk itu untuk merampok rakyat!" sahut raja yang lain dengan emosi yang mulai tersulut. Aula seketika riuh oleh kutukan yang dilayangkan pada nama Sedra.

Elias mengangkat tangannya perlahan, meminta ketenangan. Begitu aula kembali sunyi, ia melanjutkan dengan senyum tipis yang penuh kemenangan terselubung.

"Kalian tidak perlu khawatir. Meskipun pengkhianat itu telah berhasil melarikan diri, aku secara pribadi telah berhasil melumpuhkan sebagian besar kekuatannya yang meresahkan itu. Dia tidak akan bisa mengancam kalian lagi."

Elias menjeda kalimatnya, lalu menatap mereka semua dengan sorot mata yang dipenuhi janji-janji manis.

"Sebagai pemimpin baru kalian, aku berjanji untuk menebus semua kesalahan masa lalu. Aku akan memastikan hidup kalian aman, damai, dan dipenuhi oleh kesejahteraan!"

"Hidup Pangeran Elias!" teriak salah satu bangsawan yang langsung menyulut semangat yang lain.

"Hidup Pangeran Elias! Hidup Kerajaan Utara!" Sorakan membahana itu memenuhi seisi aula, mengukuhkan takhta Elias di atas kebohongan yang sempurna.

Bersambung...

🌟🌟🌟

1
Rabbella Saputri
cakep 😍
Rabbella Saputri
ceritanya bagus thorr 😍 semangat trus 💪😍
SecretPenaa_: siappp 👍🏻 maksihhh ya udah mau baca 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!