NovelToon NovelToon
Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."

Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.

Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.

Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.

Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Lima tahun.

Ternyata waktu tidak benar-benar menghapus luka, ia hanya mengajariku cara menyembunyikannya dengan rapi di balik setelan kerja formal dan polesan gincu merah yang tegas. Kini, tidak ada lagi Rana Anindita Putri yang manja dan meledak-ledak. Yang tersisa hanyalah Rana, seorang asisten manajer di salah satu perusahaan konsultan terbesar di Jakarta.

"Rana, laporan untuk proyek kerja sama dengan Abiwangsa Group sudah siap?" Suara Pak Hanan, atasanku, membuyarkan lamunanku.

"Sudah di meja Bapak sejak tiga puluh menit yang lalu," jawabku singkat tanpa menoleh dari layar monitor.

"Bagus. Besok malam kita akan ada meeting perdana dengan perwakilan mereka. Siapkan dirimu, ini proyek besar."

Aku hanya mengangguk. Pekerjaan adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa berkuasa atas hidupku sendiri. Setelah lulus kuliah lebih awal dengan predikat cum laude, aku mendedikasikan seluruh waktuku untuk karier dan butik Ibu yang syukurlah, kini semakin ramai di pusat kota. Kami berhasil. Kami bertahan tanpa satu sen pun bantuan dari laki-laki yang dulu kusebut Ayah.

Malam itu, hujan turun membasahi ibu kota. Aku berdiri di depan lobi gedung kantorku, menunggu taksi online yang tak kunjung datang. Udara dingin mulai menembus blazerku, membawaku kembali pada memori malam keberangkatanku lima tahun lalu.

Tiba-tiba, jantungku mencelos.

Di persimpangan jalan, tepat di bawah lampu jalan yang temaram, aku melihat seorang laki-laki. Dia berdiri mematung di seberang jalan, memegang payung hitam, matanya lurus menatap ke arahku.

Laki-laki itu... siluet itu... aku mengenalnya meski dari jarak puluhan meter.

"Farez?" bisikku pelan, hampir tak terdengar.

Duniaku seolah berhenti berputar. Laki-laki yang dulu selalu mengupas jeruk untukku, yang suaranya selalu menjadi peredam amarahku, kini ada di sana. Dia tampak lebih dewasa, bahunya lebih lebar, dan raut wajahnya terlihat lebih matang namun menyimpan kesedihan yang dalam.

Saat mata kami bertemu, ada kilat keterkejutan di matanya. Dia mulai melangkah, menyeberangi jalan dengan terburu-buru menuju ke arahku.

Aku panik. Seluruh pertahanan yang kubangun selama lima tahun terasa goyah hanya dalam satu tatapan. Tanpa pikir panjang, saat sebuah taksi berhenti di depanku, aku langsung masuk dan menutup pintu dengan keras.

"Jalan, Pak! Cepat!" perintahku dengan suara bergetar.

Melalui kaca jendela yang basah, aku melihat Farez berhenti tepat di tempat aku berdiri tadi. Dia menatap taksiku yang menjauh dengan tatapan yang hancur. Tangannya yang bebas tampak terkepal di samping tubuhnya.

Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Napasku memburu.

Kenapa sekarang? Kenapa di saat aku sudah merasa tenang, kamu kembali muncul, Rez?

Aku lupa satu hal. Dunia ini mungkin luas, tapi takdir punya cara yang lucu—dan terkadang kejam—untuk mempertemukan dua orang yang mencoba saling melupakan. Dan yang lebih menakutkan, besok aku harus menghadapi Abiwangsa Group.

Aku punya firasat buruk, bahwa pertemuan di persimpangan tadi hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya.

Sesampainya di rumah, aku tidak langsung masuk. Aku berdiri di depan pintu cukup lama, mengatur napas agar Ibu tidak menangkap kegelisahan di mataku. Aroma wangi kain dari butik Ibu yang terletak di sebelah rumah biasanya menjadi penenangku, tapi malam ini, aroma itu kalah oleh dinginnya sisa hujan yang menempel di pundakku.

"Rana? Sudah pulang, Sayang?" Ibu muncul dari balik pintu dapur dengan celemek yang masih terpasang. Wajahnya tampak jauh lebih segar dibanding lima tahun lalu. Garis-garis kesedihan itu sudah memudar, digantikan oleh gurat ketangguhan.

"Sudah, Bu," jawabku berusaha setenang mungkin, mencium tangannya.

"Kamu pucat sekali. Kehujanan?" Ibu menempelkan punggung tangannya ke dahiku. "Wajahmu seperti melihat hantu."

Aku tersenyum kecut. Memang hantu, Bu. Hantu masa lalu yang baru saja mengejarku di persimpangan jalan.

"Hanya capek, Bu. Besok ada meeting besar dengan klien baru," aku berbohong demi kebaikan jantung Ibu.

Malam itu, aku tidak bisa memejamkan mata. Bayangan Farez di bawah lampu jalan terus menghantui. Bagaimana bisa dia ada di Jakarta? Bukankah seharusnya dia sedang meniti karier di kota asal kami? Dan yang lebih membuatku takut, apakah dia salah satu dari orang-orang Abiwangsa Group?

Pagi harinya, aku menyiapkan diriku dengan ekstra. Aku memilih blazer abu-abu gelap dengan potongan tegas dan memulas bibirku dengan warna merah yang lebih berani dari biasanya. Ini adalah tamengku. Aku tidak boleh terlihat lemah, siapapun yang akan kuhadapi di meja meeting nanti.

Ruang rapat di lantai dua puluh itu sudah riuh saat aku masuk. Pak Hanan sudah duduk di sana, berbincang dengan beberapa orang asing.

"Ah, ini asisten manajer saya, Rana Anindita Putri," Pak Hanan memperkenalkanku saat rombongan klien utama masuk ke ruangan.

Langkahku terhenti. Udara di sekitarku seolah tersedot habis.

Di sana, di barisan terdepan perwakilan Abiwangsa Group, berdiri seorang laki-laki dengan setelan jas hitam yang sangat pas di tubuhnya. Rambutnya tertata rapi, wajahnya kaku, namun matanya... matanya tetap sama. Mata yang dulu selalu menatapku dengan penuh kelembutan, kini menatapku dengan intensitas yang sanggup melubangi dadaku.

"Selamat pagi. Saya Farez Abiwangsa, Direktur Operasional Abiwangsa Group," suaranya yang soft-spoken terdengar berat, menggema di ruangan yang tiba-tiba terasa sempit.

Dia mengulurkan tangan ke arahku. Bukan sebagai kekasih yang kehilangan, tapi sebagai kolega bisnis yang dingin. Namun, aku bisa melihat sedikit getaran di ujung jemarinya.

"Senang bertemu dengan Anda, Ibu Rana," ucapnya lagi, menekankan setiap kata seolah ingin mengingatkanku bahwa pelarian lima tahunku telah resmi berakhir.

Aku menelan ludah, mencoba menguasai diriku yang mulai gemetar. Aku menyambut uluran tangannya, merasakan hangat kulit yang sudah lama kuhindari.

"Senang bertemu Anda, Pak Farez," jawabku, suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.

Pertemuan ini bukan lagi soal persimpangan jalan yang gelap. Ini adalah medan perang, dan aku baru saja menyadari bahwa musuh terbesarku bukan lagi kenangan tentang Ayah, melainkan rasa sakit yang baru saja meledak di mata laki-laki di hadapanku ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!