Juni 2026
----
Aktivitas matahari menurun drastis. Zona es meluas dari kutub hingga mencapai Indonesia. Jakarta membeku dalam suhu minus belasan derajat, hukum dan negara runtuh, dan manusia saling berburu untuk bertahan hidup. Di tengah kiamat Es itulah Arka, seorang pemuda jenius tapi pemalas , mati dikhianati tunangannya sendiri. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terbangun satu tahun sebelum bencana, dengan ingatan penuh akan enam bulan neraka yang telah ia lalui. Kini, dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang masa depan, bisakah arka bertahan hidup di dunia tanpa hukum, di mana siapa kuat dia berkuasa saat ini ? ...
----
~ Jika waktu bisa mundur 1 tahun dari saat ini, Apa yg akan kamu lakukan? ~
----
@ThinkzIam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thinkziam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Dua hari berlalu sejak pemasangan perangkap terakhir. Dua hari yang terasa seperti dua minggu. Tidak ada serangan. Tidak ada suara di terowongan. Hanya sunyi yang pekat dan dingin yang merayap masuk meskipun sistem ventilasi sudah bekerja maksimal.
Arka menghabiskan lebih banyak waktu di ruang kontrol. Monitor kamera tidak pernah lepas dari pandangannya. Putih. Sunyi. Tidak ada gerakan. Tapi di kepalanya, hitungan terus berulang. Berapa lama mereka akan menunggu? Berapa lama kesabaran Komandan?
Pratama masuk dengan langkah pelan. “Wawan sudah selesai kalibrasi sensor. Sekarang kalau ada yang bergerak di pintu darurat, kita akan tahu.”
“Suaranya?”
“Bunyi bip di ruang kontrol. Cukup keras.”
Arka mengangguk. “Kamu sudah istirahat?”
“Belum. Nanti.”
Pratama duduk di kursi sebelah. Matanya juga tertuju ke monitor, meskipun tidak ada yang bisa dilihat selain putih.
“Mas, ada yang mengganjal di pikiranku.”
“Apa?”
“Badu bilang Komandan mantan tentara. Tipe orang seperti itu tidak akan menyerang tanpa rencana. Dia akan kirim tim pengintai dulu. Mungkin sudah. Mungkin kita tidak sadar.”
Arka menoleh. “Kamu pikir mereka sudah masuk?”
“Bukan ke terowongan. Tapi ke gedung-gedung sekitar. Atau ke stasiun lain. Mereka bisa memantau kita dari atas.”
“Kita tidak bisa mengecek semuanya. Hanya berdua.”
“Saya tahu. Tapi setidaknya kita harus lebih waspada.”
Arka tidak menjawab. Matanya kembali ke monitor. Putih. Sunyi. Tapi di balik putih itu, dia membayangkan bayangan yang bergerak. Mata yang mengawasi.
Siang harinya, saat semua orang makan di ruang utama, radio di ruang kontrol menyala sendiri. Bukan suara statis seperti biasa. Suara laki-laki. Jelas. Dekat.
“...kepada siapa pun yang mendengar. Ini peringatan. Gedung BNI akan kami bersihkan dalam dua hari ke depan. Warga sipil yang masih bertahan di sekitar area diminta menjauh. Kelompok bersenjata yang tidak dikenal akan ditembak di tempat.”
Arka berlari ke ruang kontrol. Suara itu masih terdengar.
“...ini bukan siaran pemerintah. Ini siaran independen. Kami memberi waktu dua hari. Setelah itu, tidak ada toleransi.”
Radio mati. Statis kembali.
Pratama yang mengikuti dari belakang berdiri di pintu. “Itu dari kelompok Komandan?”
“Atau dari kelompok lain yang ingin merebut BNI.”
“Tidak penting siapa. Yang penting mereka akan bertempur di dekat kita.”
Arka menyalakan radio lagi, memutar frekuensi. Statis. Tidak ada suara. Dia mematikan.
“Dua hari,” katanya. “Mereka akan sibuk bertempur. Mungkin mereka tidak akan punya waktu untuk kita.”
“Atau mereka akan lebih brutal setelah perang.”
Arka tidak punya jawaban.
Umar mendekat dari ruang utama. Wajahnya pucat, tapi tidak setegang beberapa hari lalu. Mungkin dia sudah mulai menerima. Atau mungkin dia hanya lelah.
“Mas, aku dengar suara dari radio.”
“Peringatan dari kelompok lain. Mereka akan serang markas Komandan.”
Umar mengerjap. “Berarti... mereka akan sibuk?”
“Iya. Sementara.”
“Apa kita bisa gunakan kesempatan ini untuk... ke Kebayoran?”
Arka menatap Umar. Mata pria itu tidak lagi basah. Ada sesuatu di sana. Harapan. Atau putus asa yang berubah menjadi nekat.
“Belum,” kata Arka. “Kita tunggu dulu. Lihat bagaimana situasinya. Kalau mereka benar-benar sibuk, mungkin kita bisa bergerak.”
Umar mengangguk. Tidak memaksa. Dia kembali ke ruang utama.
Pratama berkata, “Kita tidak bisa ke Kebayoran sekarang. Jaraknya delapan kilometer. Lewat atas atau bawah sama-sama berisiko.”
“Aku tahu. Tapi Umar tidak akan bisa menahan diri selamanya.”
“Maka kita harus selesaikan masalah ini secepat mungkin.”
Arka menghela napas. “Kita siapkan semua. Perangkap, amunisi, jalur mundur. Kalau mereka datang, kita tidak boleh kalah.”
Malam itu, Arka memeriksa perlengkapan satu per satu. Pistol, dua magasin cadangan, pisau taktis, senter, radio genggam. Pratama melakukan hal yang sama di sudut lain.
Dewi duduk di dekat ruang medis, memeriksa kembali perban dan obat-obatan. Wawan memantau panel surya dari laptop. Rina di ruang tanam, memastikan lampu grow menyala dengan intensitas rendah.
Umar duduk di dekat pintu terowongan, obeng di tangan, matanya tertuju ke panel kayu yang menutup lorong.
Suasana tegang. Tapi tidak panik. Mereka sudah siap. Atau setidaknya, mereka merasa siap.
Arka berjalan ke pintu baja. Telapak tangannya menempel di permukaan yang dingin. Di balik pintu ini, terowongan. Di balik terowongan, stasiun. Di balik stasiun, musuh yang mungkin sedang bersiap.
“Mas,” suara Pratama dari belakang. “Kita harus putuskan. Kalau mereka datang, kita bertahan di sini atau kita keluar lewat terowongan dan serang dari belakang?”
Arka berpikir. “Kita lihat situasi. Kalau mereka masuk sedikit, kita tangkap satu per satu. Kalau mereka ramai, kita tahan di pintu. Kalau mereka terlalu banyak, kita mundur ke stasiun lewat jalur timur, lalu balik lagi.”
“Risikonya kita terpisah.”
“Tidak ada pilihan yang tanpa risiko.”
Pratama mengangguk. “Saya siap.”
Arka kembali ke ruang kontrol. Di monitor, putih. Sunyi. Tapi di sudut layar, ada gerakan. Bukan anjing kali ini. Bayangan. Samar. Seperti orang yang berjalan membungkuk.
Arka memperbesar. Bayangan itu menghilang.
“Ada yang di luar,” katanya.
Pratama mendekat. “Kapan?”
“Baru saja. Di kamera pintu belakang.”
“Mungkin pengintai.”
“Atau seseorang yang tersesat.”
“Tidak ada yang tersesat di sini. Semua yang bergerak punya tujuan.”
Arka tidak membantah. Dia terus menatap monitor. Tidak ada gerakan lagi. Hanya putih.
Dua jam kemudian, suara dari terowongan.
Bukan langkah kaki. Bukan suara orang. Tapi getaran. Samar. Seperti sesuatu yang berat bergerak di dalam tanah.
Pratama yang sedang duduk di ruang utama langsung berdiri. Umar memegang obeng lebih erat. Dewi menoleh ke arah pintu.
Arka berjalan ke panel kayu, menempelkan telinga.
Getaran itu berhenti.
Dia menunggu. Satu menit. Dua.
Tidak ada suara.
“Mungkin hanya kereta bawah tanah yang masih beroperasi?” bisik Umar.
“Kereta sudah berhenti berbulan-bulan lalu,” kata Pratama.
Arka mengangkat tangan. Semua diam.
Getaran itu kembali. Lebih jelas. Lebih dekat.
“Bukan dari terowongan kita,” kata Pratama. “Dari samping. Mungkin mereka sedang menggali.”
“Menggali?” Umar pucat.
“Mencari jalur lain ke bunker.”
Arka merasakan dingin menjalari punggungnya. Jika mereka bisa menggali, berarti mereka punya peralatan. Dan jika mereka punya peralatan, mereka serius. Tidak main-main.
“Kita harus cek,” kata Arka.
“Sekarang?” tanya Pratama.
“Sekarang. Lewat jalur timur. Jangan lewat terowongan utama.”
Pratama mengangguk. Mereka berdua bersiap. Jaket, pistol, senter.
Umar meraih lengan Arka. “Mas, hati-hati.”
Arka tidak menjawab. Dia membuka panel kayu di dinding sebelah, bukan yang menuju terowongan utama. Di baliknya, lorong sempit yang jarang mereka lewati. Gelap. Dingin.
Mereka masuk.
Lorong ini lebih sempit dari terowongan utama. Tinggi hanya cukup untuk merunduk. Dindingnya tanah liat yang membeku, retak di beberapa tempat. Sesekali, mereka harus melewati balok kayu yang menyangga langit-langit.
Getaran itu semakin jelas. Tidak hanya di tanah, tapi di udara. Seperti suara bor atau linggis yang menghantam batu.
Pratama berbisik, “Dari arah timur laut. Dekat dengan stasiun Setiabudi.”
Arka mengangguk. Mereka terus berjalan.
Setelah sekitar dua puluh meter, lorong bercabang. Kanan menuju stasiun, kiri menuju ruang pompa yang tidak pernah mereka gunakan.
Getaran itu dari kiri.
Arka mengambil cabang kiri. Pratama mengikuti.
Di ujung lorong, cahaya. Samar. Bukan senter. Bukan lampu. Tapi obor. Api.
Arka mematikan senternya. Mereka merayap di dinding.
Suara orang. Beberapa orang. Dan suara linggis yang menghantam dinding.
“...di sini, temboknya lebih tipis. Kita tembus, langsung ke lorong mereka.”
“Komandan bilang jangan asal. Bisa kena perangkap.”
“Perangkap sudah kita hindari. Ini jalur baru. Mereka tidak tahu.”
Arka mengepalkan tangan. Mereka tahu. Mereka sudah memetakan bunker. Atau setidaknya, mereka sudah menemukan titik lemah.
Pratama mengeluarkan pistol. Arka menahan tangannya.
“Belum,” bisik Arka. “Kita lihat dulu berapa banyak.”
Pratama mengangguk.
Mereka mengintip dari balik tumpukan puing. Empat orang. Jaket tebal, wajah tertutup balaclava. Dua orang memegang linggis, satu orang memegang pistol, satu orang lagi memegang obor. Di dinding, retak mulai terbentuk. Tanah longsor kecil.
Mereka akan tembus. Malam ini. Atau besok.
Arka mundur perlahan. Pratama mengikuti.
Kembali di lorong sempit, mereka berjalan cepat. Tidak berlari. Tidak bersuara.
Begitu sampai di bunker, Arka menutup panel kayu dan menggeser baut pengaman.
Umar menatapnya dengan wajah tegang. “Ada apa?”
“Mereka menggali jalur baru. Dari timur laut. Empat orang. Mereka akan tembus.”
Dewi menutup mulut dengan tangan. Rina memeluk catatannya lebih erat. Wawan memegang kunci inggris.
Pratama berkata, “Kita punya waktu. Mungkin satu atau dua hari. Tapi mereka akan masuk.”
Arka menatap semua orang. “Kita tidak bisa bertahan di sini selamanya. Tapi kita juga tidak bisa lari. Jadi, kita lawan.”
Umar menggenggam obengnya. “Aku ikut.”
“Kita semua,” kata Dewi.
Arka mengangguk. “Pratama, siapkan senjata. Wawan, pastikan semua lampu mati saat mereka masuk. Kita akan gunakan kegelapan. Umar, kamu di belakang. Jaga pintu. Kalau ada yang lolos, kamu hadapi.”
Umar menelan ludah, tapi mengangguk.
“Rina, kamu di ruang tanam. Jangan keluar. Dewi, kamu di ruang medis. Siapkan perban.”
Mereka bergerak. Cepat. Tanpa suara.
Arka berdiri di depan pintu baja. Telapak tangannya menempel di permukaan dingin.
Di balik pintu ini, terowongan. Di balik terowongan, stasiun. Di balik stasiun, musuh yang sedang menggali.
Tapi di sini, di dalam bunker, ada enam orang yang siap bertahan. Bukan karena berani. Tapi karena tidak punya pilihan.
Arka menarik napas. Dingin. Tapi tidak sedingin yang dulu.
Kali ini, pikirnya, aku tidak akan jadi korban.
Sudahlah... Siapa yang tau jalan pemikiran sang Author??? 😁