NovelToon NovelToon
Kebangkitan Naga Astral

Kebangkitan Naga Astral

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Seorang murid sekte luar yang dihina karena akar spiritualnya yang cacat secara tidak sengaja membangkitkan sebuah pusaka kuno di lembah terlarang. Pusaka tersebut tidak memberinya kekuatan instan, melainkan sebuah metode kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap dan memurnikan Qi dari garis keturunan binatang buas mitologis. Untuk mencapai puncak, ia harus menempuh jalur yang penuh darah dan memburu eksistensi terkuat di langit dan bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali ke Sekte

​Perjalanan yang memakan waktu sepuluh hari bagi kuda bersayap tingkat rendah, diselesaikan oleh Lin Tian hanya dalam waktu empat hari. Berkat fisik yang telah menyerap esensi Beruang Punggung Besi dan kepadatan Qi tingkat lima yang terus dipasok oleh energi sisa Teratai Api Berdarah, ia mampu berlari menembus hutan dan tebing tanpa henti.

​Di hari kelima sejak ia meninggalkan Hutan Darah Besi, gerbang raksasa Sekte Pedang Langit yang terbuat dari batu pualam putih akhirnya terlihat di kejauhan.

​Lin Tian menghentikan langkahnya di bawah sebuah pohon rindang. Ia memejamkan mata dan memutar sebuah teknik pernapasan sederhana untuk menekan fluktuasi auranya. Menyembunyikan kekuatan adalah seni bertahan hidup terbaik. Ia menekan aura tingkat limanya yang terlalu mencolok hingga hanya memancarkan fluktuasi tingkat empat awal. Kenaikan satu tingkat dalam sebulan penuh di alam liar masih dianggap masuk akal, biasanya dikaitkan dengan keberuntungan menemukan herbal tingkat rendah.

​Setelah memastikan auranya stabil dan mengganti jubah abu-abunya yang hancur dengan jubah putih sekte dari cincin spasialnya, Lin Tian melangkah melewati gerbang.

​Tujuan pertamanya adalah Balai Ekspedisi.

​Suasana di Balai Ekspedisi sama sibuknya dengan sebulan yang lalu. Lin Tian berjalan tenang menuju meja penjaga, mengabaikan tatapan beberapa murid luar yang masih mengingat wajah "monster tingkat tiga" yang melumpuhkan Zhao Kuang.

​Diaken paruh baya yang bertugas sebulan lalu mendongak dari tumpukan perkamennya. Saat melihat Lin Tian, alisnya terangkat tinggi.

​"Kau kembali?" gumam diaken itu dengan nada tak percaya. Matanya memicing, memindai Lin Tian. "Dan fluktuasi Qi-mu... tingkat empat awal? Tampaknya kau menemukan peluang besar di Pegunungan Darah Besi, Nak."

​Lin Tian hanya mengangguk sopan. Ia meletakkan plakat misinya di atas meja, disusul dengan sebuah kantong kain kecil. Ia membuka ikatan kantong itu dan menuangkan isinya.

​Klotak! Klotak!

​Sepuluh butir Inti Beruang Punggung Besi tingkat empat menggelinding di atas meja kayu. Energi buas yang memancar dari inti-inti tersebut membuat beberapa murid di sekitar meja secara refleks melangkah mundur.

​Mata diaken itu membulat sempurna. Ia mengambil satu inti, merabanya, dan merasakan sisa-sisa energi murni di dalamnya. Ini bukan inti busuk yang dibeli dari pasar loak; ini adalah inti segar yang baru dipanen kurang dari seminggu yang lalu!

​"Sepuluh inti tingkat empat... Kau membunuh mereka semua sendirian?" Diaken itu menelan ludah.

​"Saya menggunakan jebakan tebing dan sedikit keberuntungan, Diaken," jawab Lin Tian merendah dengan ekspresi datar. "Apakah misinya dihitung selesai?"

​Diaken itu menatap Lin Tian dalam-dalam, tahu persis bahwa pemuda di depannya sedang berbohong, namun ia tidak memiliki wewenang untuk mencampuri rahasia murid. Ia mengambil stempel sekte dan mengecap plakat Lin Tian.

​"Misi selesai. 200 Poin Kontribusi telah ditambahkan ke plakatmu," ucap diaken itu sambil menyerahkan kembali plakat tersebut. Sebelum Lin Tian berbalik, ia menambahkan dengan suara pelan, "Tiga hari lagi adalah Turnamen Promosi Sekte Dalam. Pendaftaran ditutup besok siang. Dengan tingkat empat awal, kau memiliki peluang untuk masuk sepuluh besar. Tapi berhati-hatilah... faksi Zhao di sekte dalam akhir-akhir ini sangat gelisah."

​Mendengar nama Zhao, langkah Lin Tian terhenti sesaat. Kilatan dingin melintas di matanya sebelum ia menangkupkan tangan dan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

​Langkah Lin Tian sedikit dipercepat saat ia mendaki lereng menuju Pelataran 404. Udara di Puncak Luar terasa damai, namun insting naga di dalam dirinya merasakan ada sesuatu yang salah.

​Tepat saat atap pelatarannya terlihat, langkah Lin Tian terhenti sempurna.

​Gerbang kayu Pelataran 404—yang sebulan lalu baru saja diperbaiki—kini hancur berkeping-keping menjadi serpihan kayu yang berserakan hingga ke jalan setapak. Pintu utama ruangannya jebol ke dalam.

​"Chen'er!"

​Lin Tian melesat ke depan layaknya bayangan hitam. Matanya menangkap kilatan logam di sudut halaman. Perangkap benang baja yang ia pasang dengan susah payah sebelum pergi telah diputuskan dengan paksa, menyisakan jejak tebasan pedang yang sangat tajam di udara, menyiratkan bahwa pelakunya memiliki Qi elemen logam yang sangat padat.

​Di dalam ruangan yang berantakan, perabotan kayu hancur berantakan. Lin Tian menemukan Lin Chen duduk bersila di sudut ruangan yang gelap.

​Wajah remaja itu sepucat kertas. Sudut bibirnya dipenuhi kerak darah kering. Napasnya sangat dangkal dan putus-putus. Sebuah luka tebasan yang cukup dalam melintang di dadanya, membelah jubah putihnya dan merobek dagingnya, meski beruntung tidak menyentuh organ vital.

​"Chen'er!" Lin Tian segera berlutut dan menempelkan telapak tangannya di punggung adiknya.

​Ia tidak menggunakan energi sisa dari inti binatang buas; ia langsung mengalirkan Qi ungu keemasan murni miliknya yang mengandung esensi penyembuhan dari Teratai Api Berdarah. Energi itu masuk ke meridian Lin Chen yang kacau, secara paksa menetralkan sisa-sisa Qi asing yang merusak organ dalamnya.

​Lin Chen terbatuk hebat, memuntahkan segumpal darah hitam, lalu perlahan membuka matanya. Pandangannya kabur sesaat sebelum akhirnya fokus pada wajah kakaknya.

​"Kakak Tian..." Air mata langsung menggenang di pelupuk mata remaja itu. Ia mencengkeram lengan baju Lin Tian dengan tangan bergetar. "Maafkan aku... aku tidak bisa menjaga tempat ini... aku terlalu lemah."

​"Ssst, simpan tenagamu," ucap Lin Tian, suaranya sangat pelan dan lembut, namun jika seseorang menatap matanya saat ini, mereka akan melihat pusaran badai kematian yang siap menelan dunia. "Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini padamu?"

​Lin Chen menarik napas dengan susah payah. "Tiga hari yang lalu... seseorang mendobrak masuk. Dia memotong semua benang bajamu hanya dengan satu ayunan tangannya. Dia bukan murid luar... di dadanya ada lambang awan perak. Dia murid sekte dalam."

​Lin Tian menyipitkan mata. Murid Sekte Dalam. Seseorang setidaknya berada di tingkat tujuh ranah Mortal untuk masuk ke sana.

​"Dia bilang namanya Zhao Lie," lanjut Lin Chen, suaranya diiringi isakan tertahan karena rasa sakit dan amarah. "Dia adalah kakak sepupu tertua Zhao Kuang. Dia datang mencari Kakak, tapi Kakak tidak ada. Dia menggeledah kamar kita... dia menemukan Batu Roh tingkat menengah yang Kakak tinggalkan untukku dan merampasnya."

​Lin Chen memejamkan mata, teringat penyiksaan itu. "Aku mencoba menghentikannya, tapi dia menendangku hingga tulang rusukku retak, dan menebasku dengan jari pedangnya. Dia bilang sekte luar memiliki aturan larangan membunuh, tapi membuat orang cacat adalah hal mudah."

​"Zhao Lie," Lin Tian mengeja nama itu perlahan, seolah sedang memahatnya di atas batu nisan.

​"Kakak, dia meninggalkan pesan untukmu," ucap Lin Chen dengan suara bergetar ketakutan. "Dia bilang, jika kau ingin membalas dendam atau mengambil kembali Batu Roh itu, kau harus mendaftar Turnamen Promosi Sekte Dalam. Dia menunggu di sana. Jika kau menolak mendaftar... dia berjanji akan menyuap para tetua untuk mengusir kita dari sekte dan membantai kita di luar gerbang gunung."

​Hening.

​Satu-satunya suara di ruangan itu hanyalah hembusan angin dari Tebing Angin Puyuh di halaman belakang.

​Lin Tian menatap adiknya. Ia merogoh cincin spasialnya dan mengeluarkan sebuah pil penyembuh tingkat menengah—barang rampasan dari Serigala Mata Satu—dan memasukkannya ke mulut Lin Chen.

​Setelah memastikan pernapasan adiknya stabil, Lin Tian perlahan bangkit berdiri. Auranya yang sejak tadi ditekan ke tingkat empat tiba-tiba bocor sedikit. Tekanan yang luar biasa berat membuat lantai kayu di bawah kakinya retak halus.

​"Kau istirahatlah di sini, Chen'er," kata Lin Tian. Suaranya tidak tinggi, tidak berteriak, dan tidak meledak-ledak. Ia sangat tenang. Ketenangan yang dimiliki oleh lautan sebelum mendatangkan tsunami. "Aku akan pergi ke balai pendaftaran turnamen sekarang."

​"Kakak Tian... dia di tingkat tujuh puncak! Kudengar dia adalah salah satu kandidat murid inti tahun ini!" Lin Chen berusaha meraih kakaknya, khawatir Lin Tian akan melakukan tindakan bunuh diri.

​Lin Tian berbalik dan tersenyum tipis, sebuah senyum yang tak mencapai matanya.

​"Tingkat tujuh puncak?" Lin Tian menepuk debu dari lengan jubahnya dengan gerakan lambat. "Kebetulan sekali. Aku baru saja memenggal kepala seseorang di tingkat itu beberapa hari yang lalu."

1
Samadi Kelana
Lanjutkan ...
yos helmi
😍😍
yos helmi
ntuk semua pembaca .. mari kita bersatu.. author yg up nya satu dua bab.. jgn beri like.. komen.. dll.. cukup baca aj.. biar mampus tu author .. 🤣🤣🤣
Gege
gaasss 100k kata diluncurkan saja jangan disimpen Thor...🤭💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!