"Apa lo takut?"
"Bukan. Gue cuma nggak mau dia ikut terluka."
Kalimat itu membuat Agnesa membeku.
Seumur hidupnya, Naren Aksara Gavindra adalah sumber masalah yang selalu ingin ia hindari. Ketua geng sekolah yang dingin, keras kepala, dan selalu berurusan dengan keributan.
Sementara Agnesa Valeria Anabella adalah Ketua OSIS yang hidupnya dipenuhi aturan, jadwal, dan kedisiplinan.
Mereka seharusnya berdiri di dua sisi yang berlawanan.
Namun sejak hari Agnesa berdiri di antara Naren dan musuhnya, sesuatu mulai berubah.
Di tengah ancaman Black Venom yang semakin dekat, rahasia masa lalu yang belum selesai, dan perang yang bisa pecah kapan saja, Naren justru sibuk memikirkan satu hal yang paling tidak masuk akal:
Tatapan Agnesa.
Dan yang lebih berbahaya, Agnesa mulai memikirkan Naren juga.
Tapi ketika perasaan tumbuh di antara mereka, sebuah pertanyaan muncul—
Apa yang akan terjadi jika gadis yang selalu mematuhi aturan jatuh hati pada laki-laki yang hidupnya adalah pelanggaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di balik retakan
Sisa air hujan di jaket kulit Naren menetes ke lantai keramik putih ruang tengah, menciptakan jejak bintik-bintik gelap yang tidak beraturan.
Pukul tujuh lewat lima belas menit malam.
Suara televisi yang menyiarkan berita ekonomi memenuhi ruangan, namun volume suaranya dikecilkan hingga hanya terdengar seperti gumaman lebah.
Bau tumisan bawang putih dan pembersih lantai yang tajam menyambut indra penciumannya saat ia melepas sepatu botnya yang basah.
Naren berdiri di ambang pintu antara ruang tamu dan ruang tengah. Ibunya sedang duduk di sofa panjang, tangannya sibuk dengan kikir kuku, sementara suami barunya—pria yang selalu mengenakan kemeja batik bahkan saat di dalam rumah—sedang menyesap kopi dengan mata terpaku pada layar televisi.
"Baru pulang, Naren?" tanya ibunya tanpa mendongak.
Krit... krit...
Suara kikir kuku yang bergesekan dengan kuku jari.
"Ya," jawab Naren singkat. Ia tidak beranjak.
Naren memegang jaket kulitnya yang berat dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masuk ke saku celana.
Ayah tirinya meletakkan cangkir kopi di atas meja kaca dengan bunyi ting yang pelan namun terdengar jelas di tengah sunyi. Pria itu tidak menoleh, tapi bahunya sedikit menegang.
Naren tetap berdiri di area transisi, tidak masuk sepenuhnya ke ruang keluarga, namun juga tidak langsung naik ke lantai dua.
"Basah semua begitu kemejamu. Kamu habis dari mana?" ibunya meletakkan kikir kuku, lalu menatap jejak air di lantai.
"Bik Inah baru saja mengepel."
"Baksos sekolah."
"Sampai jam segini?" sela ayah tirinya. Suaranya berat dan berwibawa.
"Setahu saya, acara sekolah itu selesai sore. Kamu tidak main-main lagi dengan teman-temanmu di ruko itu, kan?"
Naren tidak menjawab. Ia hanya menatap lampu gantung yang terpantul di permukaan meja kaca.
Ayah tirinya memutar tubuh, menatap Naren sepenuhnya.
Naren tidak membalas tatapan itu. Ia justru merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah permen karet yang sudah remuk bungkusnya, lalu meremasnya di dalam kepalan tangan.
Ia memejamkan mata selama dua detik, menghirup napas dalam-dalam, lalu kembali menatap ke arah tangga tanpa ekspresi.
"Naren, Papa bicara denganmu," tegur ibunya.
"Nggak main-main. Cuma neduh."
"Neduh di mana? Di pinggir jalan? Kamu itu sudah kelas dua belas. Harusnya mencontoh Agnesa itu. Tadi Mama lihat dia pulang diantar supir, kelihatannya habis dari perpustakaan," ibunya berdiri, berjalan mendekati Naren.
"Jangan buat malu keluarga di depan kolega Papa."
Naren melihat sebuah pajangan keramik berbentuk gajah di atas meja samping.
Gajah itu memiliki retakan kecil di bagian belalainya yang ditambal dengan lem super, membuat warnanya tidak senada.
Ia ingat waktu kecil ia pernah melempar bola kasti dan mengenai pajangan itu. Ayah kandungnya hanya tertawa dan bilang kalau gajah itu sekarang punya bekas luka perang.
Sekarang, ayahnya tidak ada, gajah itu masih di sana, dan dia merasa seperti retakan yang berusaha ditambal paksa agar terlihat utuh di mata kolega pria berbaju batik ini.
"Agnesa nggak diantar supir," kata Naren pelan.
Ibunya mengernyit. "Maksud kamu?"
"Nggak. Bukan apa-apa."
Naren mulai menaiki tangga. Namun, di anak tangga ketiga, ia berhenti. Ia membalikkan badannya, melihat ke arah asbak kristal di atas meja ruang tengah yang bersih tanpa satu pun abu.
Ia berjalan kembali ke bawah, mengambil asbak itu, lalu membawanya menuju dapur tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Naren! Kamu mau bawa ke mana asbak itu?" seru ibunya heran.
"Kotor," jawab Naren pendek. Padahal asbak itu mengilap.
Di dapur, Bik Inah sedang merapikan piring.
Klunting. Klanting.
Suara piring bersentuhan dengan rak besi.
"Eh, Mas Naren. Mau makan, Mas? Ibu tadi masak ayam ungkep," tanya Bik Inah ramah.
"Nanti aja, Bik. Nitip asbak ini ya." Naren meletakkan asbak itu di atas meja makan kayu yang permukaannya sudah kusam.
Naren duduk di kursi dapur yang sedikit goyang. Ia mengambil sebatang rokok dari saku jaket, namun kembali teringat ucapan Agnesa tentang 'seni berantakan' dan 'mobil rongsok'.
Ia hanya memutar-mutar rokok itu di antara jari-jarinya.
"Mas Naren kelihatannya capek banget. Habis hujan-hujanan ya?" Bik Inah menyodorkan segelas teh hangat.
Srak.
Gelas itu bergeser di atas meja.
"Lumayan, Bik."
"Ini, Mas. Tadi ada paket buat Mas Naren. Katanya dari teman sekolah." Bik Inah menyerahkan sebuah bungkusan plastik kecil berwarna putih.
Naren membukanya.
Di dalamnya ada sebuah plester luka baru—bukan gambar kelinci, tapi polos warna kulit—dan sebotol kecil minyak kayu putih.
Tidak ada catatan, tapi ada bekas coretan pulpen merah di pojok plastik: gambar syal kecil.
Naren menatap plester itu cukup lama. Ia tidak tersenyum. Namun, ia melepaskan jaket kulitnya yang berat dan basah, menyampirkannya di sandaran kursi dengan cara yang tidak rapi, membiarkan lengannya yang berotot terekspos.
Ia meminum teh hangat itu dalam satu tegukan besar, lalu menyandarkan kepalanya ke tembok dapur yang dingin.
"Bik," panggil Naren.
"Ya, Mas?"
"Bik Inah tahu nggak kenapa kura-kura kalau jalan lambat banget?"
Bik Inah tertawa kecil sambil mengelap meja.
"Walah, Mas Naren ada-ada saja. Ya memang dari sananya begitu, toh? Mungkin karena rumahnya berat dibawa-bawa."
"Mungkin," gumam Naren.
"Berat ya, bawa rumah ke mana-mana."
Ia berdiri, membawa plastik dari Agnesa itu ke kamarnya di atas.
Saat melewati ruang tengah lagi, ibunya masih di sana, kini sedang asyik menelepon dengan suara yang sengaja dilembut-lembutkan.
"Iya, Jeng... Agnesa itu memang luar biasa. Sudah cantik, pintar, ketua OSIS lagi. Menantu idaman memang..."
Naren mempercepat langkahnya.
Dug, dug, dug.
Suara kakinya di tangga kayu terdengar seperti dentuman drum yang tidak sinkron.
Di dalam kamar, Naren tidak menyalakan lampu utama. Ia hanya menyalakan lampu meja yang redup.
Ruangan itu berantakan; baju kotor menumpuk di kursi, buku-buku sekolah tergeletak di lantai, dan poster band rock lama sudah mengelupas di bagian sudutnya.
Hujan di luar mulai turun lagi, kali ini lebih halus, menciptakan suara desis yang merayap di genting.
Kamar Naren berbau maskulin—campuran parfum maskulin yang tajam, aroma jaket kulit, dan sedikit bau rokok yang menempel di gorden.
Di atas meja belajarnya, ada sebuah papan jalan biru milik Agnesa yang tadi tertinggal di mobil pick-up.
Lampu meja memberikan highlight pada gambar kelinci bersyal merah di pojok kertas itu.
Naren meletakkan botol minyak kayu putih di samping papan jalan itu. Ia duduk di lantai, bersandar pada tempat tidurnya.
"Anak emas," bisiknya sinis.
Ia mengambil ponselnya, membuka WhatsApp.
Naren: Jaket gue bau parfum jeruk lo. Nggak hilang-hilang.
Ia menunggu. Satu menit. Dua menit. Centang dua abu-abu berubah menjadi biru.
Agnesa: Cuci saja. Itu bau dari deterjen rumah saya, bukan parfum saya.
Naren: Nggak mau. Biar jadi kenang-kenangan kalau lo udah di Oxford.
Agnesa: Kamu bicara seolah-olah saya akan pergi besok pagi.
Naren: Emang nggak besok. Tapi lo udah 'pergi' sejak lama, kan? Ke dunia yang Papa lo mau.
Ponsel Naren bergetar lagi. Bzzzzt.
Ia melihat layar, namun kali ini ia tidak segera membalas. Ia merasakan ujung jarinya yang tadi bersentuhan dengan dagu Agnesa terasa berdenyut pelan.
Dadanya terasa sedikit sesak, bukan karena asma, tapi seperti ada tekanan udara yang rendah di dalam kamarnya.
Ia menelan ludah, kerongkongannya terasa kering meski baru saja minum teh.
Agnesa: Jangan sok tahu tentang dunia saya, Naren.
Naren: Gue nggak sok tahu. Gue cuma liat cara lo pegangan di jaket gue tadi. Lo kayak orang yang takut jatuh tapi nggak mau pegangan kenceng.
Agnesa: Saya harus tidur. Besok ada rapat koordinasi baksos lanjutan jam 7.
Naren: Iya, Bu Ketua. Tidur yang nyenyak. Jangan mimpiin kura-kura.
Naren melempar ponselnya ke atas kasur. Ia menatap langit-langit kamarnya yang ada bekas bocoran air berbentuk seperti peta dunia.
"Oxford... panti asuhan... mi instan..." Naren mengulang kata-kata yang sama dengan yang diucapkan Agnesa di kamarnya sendiri, beberapa kilometer dari sana.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka tanpa diketuk.
Brak. Ayah tirinya berdiri di sana.
"Naren, saya ingatkan sekali lagi. Jangan pernah bawa barang-barang kotor dari dapur ke kamarmu. Asbak itu milik tamu."
Ayah tirinya melangkah masuk ke dalam kamar, menatap tumpukan baju kotor dengan jijik.
Naren tetap duduk di lantai, tidak berdiri menyambut. Ia hanya menatap pria itu dengan pandangan dingin dan dagu yang sedikit terangkat.
Ayah tirinya berhenti di tengah ruangan, melihat papan jalan biru di meja Naren.
Ia hendak mengambilnya, namun Naren lebih cepat. Naren berdiri dan menaruh tangannya di atas papan jalan itu, menahannya tetap di meja.
Pria itu mendengus, lalu berbalik dan keluar dari kamar tanpa bicara lagi.
Blam. Pintu ditutup keras.
Naren menghela napas panjang. Ia kembali duduk. Tangannya masih memegang papan jalan milik Agnesa.
"Seni berantakan ya, Nes?" gumamnya pada kegelapan.
Ia mengambil pulpen hitam dari laci mejanya yang macet—kriet—lalu di bawah gambar kelinci bersyal merah milik Agnesa, ia menambahkan sebuah coretan kecil: sebuah motor besar yang digambar dengan sangat kasar, hanya berupa dua lingkaran dan satu garis lengkung, di mana kelinci itu tampak sedang duduk di atasnya.
Naren menyimpan papan jalan itu di bawah tumpukan buku-buku sekolahnya yang paling berat.
Ia memastikan tidak ada bagian dari papan biru itu yang terlihat dari luar. Seolah-olah papan itu adalah rahasia yang bisa menghancurkan tatanan "rapi" yang dipaksakan di rumah ini.
Naren berjalan menuju jendela, membukanya sedikit.
Angin malam yang basah masuk, menerbangkan beberapa lembar kertas di lantainya. Ia tidak mempedulikannya.
Ia hanya ingin merasakan suhu yang sama dengan yang dirasakan Agnesa saat ini.
Di kejauhan, lampu-lampu kota Bandung terlihat berkedip-kedip seperti kunang-kunang yang terjebak dalam jaring laba-laba.
Pukul sepuluh malam.
Naren mematikan lampu mejanya.
"Oxford... jauh banget ya," katanya pelan pada angin.
Ia akhirnya merebahkan tubuhnya di atas kasur yang sprainya sudah tidak terpasang dengan benar di sudut-sudutnya.
Ia tidak mengganti pakaiannya. Ia tertidur dengan kemeja sekolah yang masih lembap di bagian bahu, aroma jeruk yang samar, dan satu plester polos di saku celananya yang siap ia gunakan jika suatu saat ia merasa 'lecet' lagi oleh dunia orang dewasa yang membosankan ini.
Di luar, hujan benar-benar berhenti. Hanya menyisakan suara tetesan air dari talang yang bocor.
Tik... tik... tik…
Seirama dengan detak jantung seorang pemuda yang sedang bermimpi tentang sebuah pick-up tua yang melaju tanpa tujuan di bawah langit yang tidak lagi kelabu.
BERSAMBUNG…
Bab Selanjutnya ➜
"Kopi yang lo minum tadi... itu dari Naren?"
"Hanya kopi murah."
Venzo Cemburu Sama Naren? Intip Kelanjutan Konflik Mereka di Bab 13: Aroma Kopi Murah