Ini adalah cerita Gao Rui, murid sekte terkuat yang sekaligus salah satu pemilik Kelompok Dagang Harta Langit. Salah satu kelompok dagang besar dan paling berkembang di Kekaisaran Zhou...
Simak petualangannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah Kedua Gao Rui
Sejenak, aula kembali dipenuhi bisikan.
“Batu Asah Naga Baja…?”
“Nama macam apa itu…?”
“Kenapa aku belum pernah mendengarnya?”
Para tamu undangan tampak saling pandang, kebingungan jelas terpancar di wajah mereka. Beberapa bahkan menggeleng pelan. Sebagai orang-orang yang hidup di dunia persilatan dan perdagangan, mereka terbiasa mendengar nama-nama benda langka. Namun nama itu… benar-benar asing di telinga mereka.
Namun di atas panggung, Shou Dong sama sekali tidak peduli. Tatapannya masih terpaku pada batu hitam di depannya. Jari-jarinya perlahan mengusap permukaannya, seolah memastikan sesuatu yang hanya bisa ia rasakan sendiri. Lalu… ia mengangkat kepalanya.
“Tuan Muda Rui,” ucapnya dengan nada yang sedikit lebih dalam dari sebelumnya, “bolehkah aku mencobanya? Aku… sungguh penasaran.”
Seketika aula kembali hening. Permintaan itu bukan sesuatu yang biasa. Seorang kepala keluarga besar… meminta izin untuk mencoba hadiah dari seorang bocah. Itu saja sudah cukup untuk membuat banyak orang menahan napas.
Namun Gao Rui hanya tersenyum ringan.
“Tentu saja boleh,” jawabnya santai. “Batu itu… sudah menjadi milikmu.”
Jawaban itu sederhana. Tapi entah kenapa, membuat beberapa orang merasa jantung mereka berdetak lebih cepat.
Tanpa ragu lagi, Shou Dong mengangguk. Tangannya bergerak, dan seberkas cahaya redup muncul dari cincin ruang di jarinya. Sebuah pedanng muncul di tangannya.
Pedang itu tidak tampak istimewa bagi orang awam. Namun bagi mereka yang paham, itu jelas bukan senjata biasa. Sarungnya sederhana, namun elegan. Dan saat Shou Dong perlahan menariknya keluar…
Shrrrkk....
Bilah pedang itu terlihat. Namun… beberapa orang mengernyit.
“Pedang itu… tumpul?”
“Bekas pemakaian berat…”
“Sudah sering digunakan…”
Memang benar. Di beberapa bagian bilahnya tampak bekas goresan halus. Kilauannya redup. Ketajamannya jelas telah berkurang.
Shou Dong menatap pedang itu sejenak. Lalu pandangannya kembali ke Batu Asah Naga Baja. Tanpa berkata apa-apa lagi… ia mulai mengasah.
Greeeek… shrrrkk…
Suara gesekan mulai terdengar di seluruh aula. Awalnya pelan. Namun semakin lama… semakin jelas. Dan kemudian....
Crack!
Kilatan api kecil tiba-tiba muncul dari titik gesekan.
“…!”
Beberapa tamu langsung terkejut. Mata mereka melebar. Percikan demi percikan mulai bermunculan. Bukan seperti percikan biasa melainkan lebih terang. Lebih tajam. Seolah dua benda itu tidak sekadar bergesekan melainkan saling “bertarung”.
Shrrrkk!
Greeekk!
Setiap gerakan Shou Dong stabil. Tangannya mantap. Aura seorang penempa ulung terpancar jelas dari setiap ayunan kecil yang ia lakukan.
Namun yang membuat semua orang terpaku… bukan hanya tekniknya. Melainkan hasil yang mulai terlihat. Perlahan… sangat perlahan… kilau pada bilah pedang itu berubah. Dari redup… menjadi terang. Dari kusam… menjadi tajam.
Di bawah panggung, seseorang tanpa sadar berbisik…
“Ini… hanya mengasah senjata…”
“Kenapa… terasa seperti menyaksikan sesuatu yang luar biasa…?”
Tak ada yang menjawab. Karena mereka semua merasakan hal yang sama. Mengasah senjata… seharusnya adalah hal biasa. Namun saat seorang kepala keluarga penempa melakukannya… dengan batu misterius seperti itu… pemandangan itu berubah menjadi sesuatu yang hampir… memukau.
Waktu seolah melambat. Hingga akhirnya....
Shing…
Suara ringan terdengar.
Shou Dong berhenti. Tangannya terdiam di udara. Lalu perlahan… ia mengangkat pedang itu. Cahaya dari lampu aula jatuh ke bilahnya. Dan kilau tajam memantul.
“…!”
Beberapa orang langsung menahan napas. Bilah pedang yang sebelumnya tampak tumpul… kini memancarkan kilau dingin yang menusuk mata. Garis tepinya bersih. Tipis. Sempurna. Bahkan… dari jarak beberapa meter, beberapa orang bisa merasakan sensasi dingin yang menusuk kulit mereka.
“Itu…”
“Ketajaman seperti itu…”
“Tidak mungkin…”
Seorang kepala keluarga lain tanpa sadar menggenggam sandaran kursinya.
Shou Dong sendiri… hanya menatap pedang itu. Lalu… senyum perlahan muncul di wajahnya.
Bukan senyum sopan. Bukan pula senyum basa-basi. Melainkan… senyum seorang pengrajin… yang baru saja menemukan harta terbesar dalam hidupnya.
Ia menurunkan pedang itu perlahan. Tatapannya beralih ke batu hitam di tangannya. Beberapa detik… ia tidak berkata apa-apa. Lalu akhirnya, ia menarik napas dalam.
“Ini…” ucapnya pelan, namun suaranya menggema jelas di seluruh aula.
Ia mengangkat Batu Asah Naga Baja itu sedikit.
“adalah batu asah terbaik… yang pernah kulihat sepanjang hidupku.”
Hening. Kali ini… tidak ada satu pun yang berani meremehkan lagi. Tatapan mereka terhadap batu itu… berubah total.
Di sudut aula… Cao Ren menyipitkan matanya dalam-dalam. Sementara di meja lain… Lan Suya menatap Gao Rui… dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Seolah ia sudah tahu… bahwa kejutan dari Gao Rui… baru saja dimulai.
Gao Rui tersenyum kecil mendengar pujian itu. Ia tidak terlihat bangga berlebihan, hanya sedikit mengangguk, seolah semua itu memang sudah ia perkirakan. Namun di balik ketenangannya, pikirannya sempat kembali pada momen beberapa saat lalu. Saat ia memutuskan untuk ikut memberikan hadiah.
Saat itu, ia benar-benar berpikir cepat.
“Keluarga Shou adalah keluarga pembuat senjata…” Pikiran itu muncul begitu saja.
Jika begitu… maka hadiah terbaik untuk patriak mereka bukanlah emas, bukan pula perhiasan. Melainkan sesuatu yang bisa benar-benar meningkatkan kualitas senjata mereka. Dan saat itulah… pikirannya langsung tertuju pada isi cincin ruangnya. Batu-batu asah. Hadiah dari gurunya… Boqin Changing.
Bahkan hingga sekarang, Gao Rui sendiri belum pernah menghitung berapa jumlahnya. Ia hanya tahu satu hal, ia punya banyak. Memberikan satu… jelas bukan kerugian besar baginya.
Keputusan itu diambil dalam sekejap. Dan kini, melihat reaksi Shou Dong… ia tahu, pilihannya tepat.
Setelah urusan dengan Shou Dong selesai, Gao Rui tidak tinggal lama di tempat itu. Ia melangkah perlahan ke sisi lain panggung. Di sana… berdiri seorang wanita anggun dengan aura lembut namun berwibawa. Nyonya An Ran. Istri dari kepala keluarga Shou.
Gao Rui sedikit menundukkan kepalanya.
“Selamat ulang tahun, Nyonya.”
Suaranya tenang. Sopan. Namun justru itulah yang membuat seluruh aula kembali hening.
Semua mata… tertuju padanya. Setelah hadiah yang barusan saja mengguncang seluruh ruangan… tidak ada satu pun yang bisa menahan rasa penasaran. Apa lagi yang akan diberikan bocah ini?
Di salah satu meja, seseorang berbisik pelan kepada temannya.
“Menurutmu… dia akan memberi apa lagi?”
Temannya menyeringai tipis.
“Kalau mau mengalahkan hadiah Cao Ren tadi… paling tidak dua peti emas…”
“Benar juga…”
Beberapa orang di sekitar mereka mulai mengangguk pelan.
Namun di atas panggung… Gao Rui tidak memedulikan semua itu. Tangannya perlahan bergerak. Cincin ruang di jarinya berkilau redup. Dan dalam sekejap, sebuah benda muncul di telapak tangannya.
“…?”
Beberapa orang mengernyit.
“Itu… jamur?”
Memang. Bentuknya sederhana. Tidak besar. Bahkan… jika dibandingkan dengan hadiah-hadiah mewah sebelumnya, benda itu terlihat hampir biasa.
Namun… ada sesuatu yang aneh. Warnanya keemasan. Bukan kuning biasa. Bukan pula cokelat. Melainkan emas… yang tampak berkilau lembut, seolah menyimpan cahaya di dalamnya.
Seluruh aula mulai dipenuhi gumaman.
“Jamur apa itu…?”
“Aku belum pernah melihatnya…”
“Kenapa warnanya seperti itu…?”
Di atas panggung, Shou Dong juga sedikit mengernyit. Ia memandang benda itu beberapa saat, lalu menoleh ke samping.
“Istriku… kau tahu ini?”
Namun sebelum ia sempat berkata lebih jauh, An Ran sudah menutup mulutnya dengan satu tangan. Matanya melebar. Tatapannya terpaku pada jamur itu.
Beberapa detik… ia tidak bersuara. Lalu akhirnya… dengan suara yang sedikit bergetar, ia berkata...
“Itu… Jamur Emas Sembilan Matahari…”
“…!!!”
Seolah petir menyambar di tengah aula. Semua orang langsung berdiri.
“Apa?!”
“Jamur Emas Sembilan Matahari?!”
“Tidak mungkin…!”
Suasana langsung meledak. Nama itu… bukan nama asing. Itu adalah salah satu sumber daya paling langka yang pernah muncul di pasar.
Sebuah benda yang dipercaya mampu meningkatkan fungsi organ tubuh, memperkuat vitalitas… bahkan memperpanjang umur. Dan yang lebih penting selama ini, benda itu hanya pernah muncul di rumah lelang.
Dan setiap kemunculannya… selalu terjual dengan harga yang membuat para bangsawan pun harus berpikir berkali-kali.
Di sudut aula, seseorang menelan ludah.
“Itu… satu saja sudah bisa menyaingi lima peti emas…”
“Tidak… bahkan lebih…”
“Bocah itu… memberikannya begitu saja…?”
Tatapan mereka terhadap Gao Rui berubah lagi. Jika sebelumnya hanya terkejut… Kini… ada sesuatu yang lain. Keterkejutan yang bercampur dengan sedikit rasa gentar.
Di atas panggung, An Ran perlahan menurunkan tangannya. Tatapannya masih tertuju pada jamur emas itu.
“Hadiah ini… terlalu berharga…”
Namun sebelum ia bisa melanjutkan... Gao Rui tiba-tiba tersenyum canggung. Ia menggaruk pipinya pelan.
“Ah… itu… sebenarnya…”
Ia melirik ke sekeliling. Semua orang menatapnya. Dengan ekspresi yang… sulit dijelaskan.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia naik ke panggung, Gao Rui merasa sedikit kikuk.
“…Sepertinya… aku berlebihan?” Pikiran itu muncul begitu saja.
Ia hanya berniat memberi hadiah yang “lumayan bagus”. Namun melihat reaksi seluruh aula sekarang… entah kenapa… rasanya seperti ia baru saja melempar batu kecil dan tanpa sengaja menciptakan badai besar.