NovelToon NovelToon
Om Duda Come To Me!

Om Duda Come To Me!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Duda
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?

​Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.

​Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Pagi itu, suasana di kediaman Arsalan kembali riuh. Bukan karena ada sabotase atau pengkhianat baru, tapi karena Alexa sedang sibuk memasukkan tenda, kompor lapangan, dan beberapa botol oli (entah buat apa) ke dalam tas keril besarnya.

"Alexa, kamu yakin saya harus ikut?" Zyan berdiri di ambang pintu kamar dengan wajah yang tampak sangat tertekan. Di tangannya, ia memegang sebuah kaos angkatan fakultas teknik berwarna abu-abu muda yang ukurannya sedikit terlalu ketat untuk badannya yang atletis itu.

"Wajib, Om! Kan temanya 'Family and Unity'. Lo itu suami gue, jadi lo bagian dari keluarga teknik sekarang. Lagian, lo udah janji mau belajar dunia gue, kan?" Alexa nyengir sambil narik resleting tasnya. "Buruan ganti baju! Jangan sampe kita telat, ntar kena denda disuruh cuci motor se-fakultas!"

Zyan menghela napas pasrah. Lima belas menit kemudian, dia keluar dengan kaos abu-abu ketat, celana cargo, dan sepatu gunung yang harganya mungkin bisa buat beli tiga motor bekas Rio. Meski dandanannya santai, aura "Bos" Zyan nggak bisa ilang. Dia tetep kelihatan kayak model iklan perlengkapan outdoor kelas atas.

"Ganteng banget sih, Om Duda! Yuk, cabut!"

Lokasi Makrab (Malam Keakraban) berada di sebuah bumi perkemahan di kaki Gunung Gede. Begitu mobil SUV Zyan sampai di lokasi, ratusan mahasiswa teknik langsung menoleh. Terutama saat melihat Zyan turun dan langsung diserbu oleh kating-kating (kakak tingkat) Alexa yang mukanya lebih mirip preman pasar daripada mahasiswa.

"Woi, Lex! Ini supir lo atau selingkuhan lo?!" teriak salah satu kating bernama Guntur yang badannya segede lemari dua pintu.

"Sembarangan lo, Bang! Ini suami gue, Zyan!" sahut Alexa bangga.

Zyan mencoba tersenyum ramah, tapi senyumnya mendadak beku saat Guntur merangkul bahunya dengan tangan yang masih bau bensin. "Oh, ini suaminya Alexa? Ganteng juga ya. Tapi di sini nggak ada Direktur, Bro. Di sini semua sama. Lo siap 'main' bareng kita kan?"

Zyan melirik Alexa yang cuma ngasih jempol sambil ketawa. "Saya siap," jawab Zyan dengan nada bicara yang berusaha tetap berwibawa, meski hatinya sudah ketar-ketir melihat api unggun yang tingginya hampir tiga meter di tengah lapangan.

Ritual pertama dimulai: Lomba Masak Nasi Goreng Masal.

Zyan, yang baru saja belajar masak bareng Alexa tempo hari, merasa ini adalah ajangnya buat pamer. Tapi masalahnya, kompornya bukan kompor gas canggih di rumahnya, melainkan kompor *portable* mini yang apinya sering mati ditiup angin.

"Om, fokus! Bawangnya jangan diiris tebel gitu, ntar nggak mateng!" teriak Alexa yang sibuk jadi mandor.

Zyan keringetan. Asap dari penggorengan sebelah—yang dimasak sama Rio—terus-terusan kena matanya. "Alexa, mataku perih! Dan kenapa nasinya jadi lengket semua begini?!"

"Itu namanya nasi goreng teknik, Om! Isinya peluh, air mata, dan sedikit abu api unggun!" sahut Rio sambil ketawa.

Zyan akhirnya berhasil menyajikan satu piring nasi goreng. Saat juri (kating-kating senior) mencicipi, mereka semua terdiam. "Ini... nasi goreng atau aspal cair, Bro? Kok keras banget?"

Zyan berdehem. "Itu teknik extra-crunchy, Senior."

Malam pun tiba. Acara yang paling ditunggu—sekaligus paling ditakuti—dimulai: Malam Curhat dan Game Kejujuran.

Semua mahasiswa duduk melingkar mengelilingi api unggun. Suasananya mulai syahdu. Satu per satu orang menceritakan keluh kesahnya. Sampai tiba giliran Zyan.

"Nah, sekarang giliran Om Duda," ujar Guntur sambil menyodorkan mikrofon dari bambu. "Gimana rasanya punya istri kayak Alexa? Jujur ya, kalau bohong lo disuruh lari keliling tenda tanpa alas kaki!"

Alexa menatap Zyan dengan mata berbinar, penasaran apa yang bakal dikatakan suaminya di depan publik.

Zyan mengambil napas panjang. Dia menatap api unggun, lalu menatap Alexa. "Awalnya, saya pikir hidup saya sudah sempurna. Punya perusahaan, punya uang, punya keteraturan. Tapi saat Alexa datang, semua keteraturan itu hancur. Rumah saya jadi bau oli, karpet saya rusak, dan jantung saya sering mau copot karena dia hobi balapan."

Semua orang tertawa. Alexa sudah siap-siap mau ngelempar sandal ke arah Zyan.

"Tapi," lanjut Zyan, suaranya mendadak jadi berat dan romantis. "Lewat kekacauan yang dia bawa, saya baru sadar kalau selama ini saya cuma hidup, tapi nggak benar-benar 'bernyawa'. Alexa itu seperti mesin turbo. Dia berisik, dia bikin panas, tapi dia yang bikin saya bisa lari kencang mengejar kebahagiaan yang selama ini nggak pernah saya tahu bentuknya gimana. Jadi, punya istri kayak Alexa... itu adalah kecelakaan paling indah dalam hidup saya."

CIEEEEEEEEEE!

Satu lapangan langsung heboh. Alexa mukanya merah padam sampai ke telinga. Dia nggak nyangka Zyan bakal seserius itu di depan teman-temannya.

"Udah, udah! Lanjut ke game selanjutnya!" teriak Alexa sambil nutupin wajahnya pake kerudung jaket.

Game selanjutnya adalah: Uji Nyali di Hutan.

Setiap pasangan harus masuk ke jalur hutan yang sudah diberi tanda untuk mengambil pita merah di pohon tua. Zyan dan Alexa berjalan bersama dengan hanya bermodalkan satu senter kecil.

"Om, lo jangan takut ya. Ini hutannya aman kok, paling cuma ada uler atau... ya tahu lah, penghuni tak kasat mata," bisik Alexa sambil megang lengan Zyan erat-atann.

Zyan, yang sebenarnya paling nggak bisa sama hal gelap dan mistis, mencoba tetep cool. "Saya tidak takut, Alexa. Saya ini pernah menghadapi mafia bisnis, masa cuma uler saja takut."

Baru saja Zyan ngomong gitu, tiba-tiba ada suara KRESEK KRESEK dari balik semak-semak.

"APA ITU?!" Zyan langsung loncat dan meluk Alexa seperti anak kecil.

"Pfft... hahahaha! Om, itu cuma kelinci atau tupai kali!" Alexa ketawa ngakak. "Masa Direktur Arsalan Group meluk mahasiswi teknik karena takut uler?"

"Tadi suaranya sangat mencurigakan, Alexa! Itu pasti sabotase alam!" bela Zyan sambil mencoba melepaskan pelukannya, meski tangannya tetep gemetar.

Tiba-tiba, senter mereka mati. Gelap total.

"Alexa? Jangan bercanda. Nyalakan senternya," ujar Zyan mulai panik.

"Duh, kayaknya baterainya habis, Om. Tadi lupa gue charge," sahut Alexa. Padahal sebenernya itu ide jahat Alexa buat ngerjain Zyan.

Suasana jadi sunyi. Hanya ada suara jangkrik dan embusan angin malam. Zyan menarik Alexa mendekat ke tubuhnya. Di tengah kegelapan itu, dia nggak lagi mikirin hantu atau uler. Dia cuma memikirkan satu hal: melindungi istrinya.

"Jangan jauh-jauh dari saya," bisik Zyan pelan.

"Ciee, Om Duda mau jadi pahlawan ya?" goda Alexa.

"Bukan jadi pahlawan. Saya cuma nggak mau kalau ada hantu, kamu yang diambil duluan. Nanti siapa yang benerin motor saya di rumah?"

"Dih, jahat banget!"

Zyan tertawa kecil. Dalam kegelapan itu, ia menarik dagu Alexa dan mencium bibirnya dengan sangat lembut. Ciuman di tengah hutan pinus yang dingin itu terasa sangat hangat dan tulus. Tidak ada tuntutan, tidak ada kontrak bisnis, hanya dua manusia yang akhirnya saling mengakui perasaan masing-masing.

"I love you, Gadis Teknik," bisik Zyan di sela ciuman mereka.

Alexa tertegun. Ini pertama kalinya Zyan bilang 'I love you' tanpa embel-embel 'kewajiban'. "I... I love you too, Om Duda."

Keesokan paginya, acara penutupan Makrab dilakukan. Zyan dinobatkan sebagai "Peserta Ter-Sabar" oleh panitia dan dapet hadiah berupa satu jerigen oli mesin gratis.

"Terima kasih. Ini akan sangat berguna untuk... menambah koleksi di ruang tamu saya," ujar Zyan sambil membawa jerigen itu dengan wajah datar, bikin semua orang ngakak lagi.

Saat perjalanan pulang, Alexa tertidur pulas di kursi penumpang, kepalanya bersandar di bahu Zyan. Zyan mengelus rambut Alexa dengan lembut sambil menyetir dengan satu tangan.

Namun, saat ia melirik kaca spion, ia menyadari ada sebuah mobil hitam yang terus mengikuti mereka sejak keluar dari bumi perkemahan. Bukan mobil Clarissa, bukan juga mobil Wijaya.

Zyan mengerutkan kening. Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat pada Siska.

[11.00] Zyan: Cek plat nomor B 1234 XXX. Dia mengikuti saya dari Puncak. Dan satu lagi, cari tahu siapa yang baru saja membeli saham minoritas Arsalan Group secara anonim kemarin sore.

Zyan menghela napas. Ternyata hidup tenang setelah Makrab cuma bertahan beberapa jam saja. Musuh baru sudah mulai membayangi, tapi kali ini Zyan tidak akan membiarkan Alexa berjuang sendiri.

"Siapa pun kalian, jangan berani-berani mengusik hari minggu kami," gumam Zyan sambil menginjak pedal gas lebih dalam, meluncur membelah jalan raya menuju Jakarta.

Bersambung.....

1
Mela Mela
karyanya menarik bgt,seru,menantang bgt bacanya..seakan gw ikut masuk. didalem ceritanya👍
neyrfly: makasih kakk🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!