NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:929
Nilai: 5
Nama Author: nurproject

Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.

​Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.

​Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Retorika dan Alur Skenario

​Aroma minyak zaitun dan wewangian khas Timur Tengah menguar lembut saat mesin cetak di pojok meja administrasi menyelesaikan tugasnya. Aisya menyerahkan selembar sertifikat mualaf resmi yang masih hangat ke atas meja, menjauhkannya beberapa senti agar tidak bersentuhan dengan Cassian.

​Imam Abdulaziz mengambil dokumen tersebut, namun tidak langsung memberikannya kepada Cassian. Pria paruh baya asal Somalia itu menatap Cassian lekat-lekat, seolah sedang membaca ketulusan di balik sepasang mata elang sang miliarder.

​"Tuan Noir, memeluk Islam adalah keputusan yang akan mengubah seluruh garis hidupmu," ujar Imam Abdulaziz, suaranya berat dan penuh penekanan. "Boleh saya tahu, apa yang sebenarnya menggerakkan hati seorang pria yang memiliki segalanya di kota ini, untuk menundukkan kepala di tempat ini? Apa yang kau cari?"

​Di sudut ruangan, Aisya menahan napas. Ia menajamkan pendengarannya di balik niqab hitamnya. Pertanyaan sang imam adalah representasi dari semua keraguan yang berkecamuk di dalam dadanya sejak tadi. Ia tahu betul siapa Cassian—pria kapitalis yang mengukur segala hal dengan angka dan keuntungan. Bagaimana mungkin hidayah menyentuhnya secepat ini?

​Cassian berdiri tegak, merapikan letak jasnya dengan ketenangan seorang eksekutif papan atas. Otak geniusnya sudah mengantisipasi pertanyaan ini sejak ia berada di dalam mobil. Sebagai pria dengan kecerdasan di atas rata-rata yang terbiasa membaca puluhan jurnal demi memenangkan negosiasi, Cassian sudah mempelajari dasar-dasar teologi Islam hanya dalam waktu satu malam melalui bantuan riset Kevin.

​"Logika, Imam," jawab Cassian dengan nada suara yang begitu meyakinkan, dalam dan penuh wibawa. "Sepanjang hidup saya, saya dikelilingi oleh sistem dunia yang serakah. Manusia menyembah uang, status, dan ego mereka sendiri. Namun, saat saya membaca tentang konsep tauhid—keesaan yang absolut tanpa perantara—saya menemukan sebuah struktur logika yang paling sempurna. Sebuah sistem di mana manusia tidak boleh menghamba pada manusia lain, melainkan hanya pada satu pencipta."

​Cassian menjeda kalimatnya, melirik sekilas ke arah Aisya sebelum melanjutkan dengan retorika yang teramat mulus.

​"Saya memiliki segalanya di Toronto, tapi semua itu tidak memiliki poros yang tetap. Saya di sini karena saya membutuhkan poros itu. Saya menginginkan kedamaian dari sebuah ketundukan yang rasional."

​Mendengar untaian kalimat yang begitu tertata dan filosofis dari mulut Cassian, Imam Abdulaziz tampak terenyak kagum. "Masha Allah... pikiranmu sangat mendalam, Tuan Noir. Semoga Allah mengokohkan langkahmu."

​Khadija dan para muslimah di belakangnya mengangguk-angguk takjub, sementara Aisya terpaku. Penjelasan Cassian begitu cerdas dan masuk akal bagi nalar Barat, namun entah mengapa, ada sesuatu yang terasa terlalu rapi di mata Aisya. Pria itu terlalu sempurna dalam merangkai kata, seolah sedang mempresentasikan sebuah proyek bisnis. Namun, Aisya segera mengusir prasangka buruk itu dengan mengucap istigfar dalam hati.

​"Karena hari ini Anda sudah resmi menjadi saudara kami," Imam Abdulaziz menepuk bahu tegap Cassian sembari menyerahkan sertifikatnya, "nanti malam kami mengadakan kajian berkala dan kelas bimbingan dasar untuk mualaf, termasuk latihan gerakan shalat. Saya akan sangat gembira jika Anda bisa meluangkan waktu."

​Cassian melirik Kevin yang berdiri di dekat pintu. Jadwalnya malam ini sebenarnya dipenuhi oleh rapat internal korporat untuk memantau pergerakan Rebecca Winston. Namun, demi menyempurnakan perannya dan memastikan umpan ini ditelan mentah-mentah oleh lingkungan Aisya, ia harus melangkah total.

​"Saya akan mengosongkan jadwal saya, Imam. Saya akan datang nanti malam," jawab Cassian tanpa ragu.

​Malam harinya, aula Islamic Centre berubah menjadi lebih temaram dan tenang. Karpet tebal hijau zamrud itu kini hanya diisi oleh belasan pria yang duduk melingkar. Di sudut pembatas kain transparan (tabir), jajaran muslimah termasuk Khadija dan Aisya juga hadir untuk menyimak bimbingan.

​Cassian Noir duduk bersila di atas karpet. Pemandangan itu sangat surealis; seorang miliarder yang biasanya duduk di kursi kulit eksklusif bernilai ribuan dolar, kini duduk bersila mengenakan kemeja linen longgar tanpa jam tangan mewahnya.

​"Mari kita mulai dari dasar gerakan shalat," ujar Imam Abdulaziz di depan lingkaran. "Shalat adalah tiang, sebuah dialog langsung antara makhluk dan Penciptanya. Saat kita mengangkat tangan, kita membuang seluruh urusan dunia ke belakang kita."

​Cassian mengikuti instruksi itu. Ketika Imam Abdulaziz meminta para mualaf berdiri untuk mempraktikkan gerakan, Cassian bangkit berdiri. Tubuh tegapnya yang atletis tampak mendominasi ruangan.

​Dari balik tabir pembatas, Aisya memperhatikan dengan saksama. Jantungnya berdesir aneh saat melihat Cassian perlahan mengangkat kedua tangannya di dekat telinga, mencoba menirukan takbiratul ihram. Pria yang biasanya meletakkan tangannya di saku jas dengan keangkuhan mutlak itu, kini mengangkat tangannya dengan canggung namun tampak berusaha keras.

​Saat gerakan berlanjut ke posisi sujud, Cassian menurunkan tubuhnya. Dahinya menyentuh karpet perpustakaan yang dingin. Bagi Cassian, gerakan fisik ini terasa asing dan melelahkan egonya. Menundukkan kepala di bawah lantai adalah hal yang tidak pernah ia lakukan seumur hidupnya. Namun, dari balik masker manipulasinya, ia tahu setiap inci gerakannya malam ini sedang disaksikan oleh mata bulat di balik niqab di seberang sana.

​Aisya memalingkan wajahnya sejenak, dadanya bergemuruh hebat. Melihat pria seangkuh Cassian Noir bersujud di atas sajadah, meruntuhkan seluruh ego dunianya demi sebuah penghambaan, perlahan-lahan mulai mengikis benteng kecurigaan di dalam hati Aisya. Jaring-jaring yang ditebar Cassian bekerja dengan teramat rapi; ia tidak hanya sedang menipu seluruh dewan direksi Noir Enterprises, tetapi ia juga mulai meruntuhkan pertahanan terdalam dari gadis yang menjadi target utamanya.

​Setelah kelas bimbingan shalat berakhir, aroma teh mint hangat memenuhi selasar Islamic Centre. Beberapa mualaf masih mengobrol santai dengan Imam Abdulaziz, namun Cassian memilih untuk langsung melangkah keluar menuju area pelataran parkir yang sunyi dan berangin. Pria itu membutuhkan udara segar setelah menahan egonya di atas karpet selama hampir dua jam.

​Dari kejauhan, pintu keluar wanita terbuka. Aisya melangkah keluar berdampingan dengan Khadija, istri sang imam. Mereka tampak berbicara lirih sebelum akhirnya Khadija berpamitan untuk kembali ke dalam gedung, meninggalkan Aisya yang berjalan sendirian menuju halte bus di ujung blok.

​Cassian tidak membuang peluang itu. Dengan langkah tenang namun pasti, ia memotong jalur jalan Aisya, membuat gadis itu seketika menghentikan langkahnya tepat di bawah pendar lampu jalan yang temaram.

​"Tuan Noir," bisik Aisya, suaranya sedikit tertahan di balik niqab hitamnya. Ia segera mundur satu langkah untuk menjaga jarak aman dua meter di antara mereka. "Ada hal lain yang Anda butuhkan dari lembaga? Dokumen Anda sudah selesai diproses."

​Cassian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menatap Aisya dari ketinggian tubuhnya yang dominan. "Aku tidak membutuhkan dokumen lagi, Aisya. Aku sudah memiliki sertifikat legalitas itu di tanganku."

​Aisya mengangguk pelan, matanya menatap aspal. "Alhamdulillah. Menyaksikan Anda bersujud malam ini... itu adalah hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Semoga Anda menemukan kedamaian yang Anda cari."

​Cassian tersenyum miring—sebuah senyuman tipis penuh misteri yang tersembunyi di balik kegelapan malam. "Aku memang menemukan jalanku. Dan jalan itu menuntunku langsung pada sebuah kesimpulan."

​Aisya mendongak cepat, sepasang mata bulatnya menatap bingung. "Apa maksud Anda, Tuan Noir?"

​Cassian maju setengah langkah, membuat aura intimidasinya kembali mengunci pergerakan Aisya. "Sebelumnya, kau menolakku di perpustakaan karena alasan batasan keyakinan dan mahram. Kau bilang nilai prinsip hidupmu jauh lebih tinggi daripada apa pun yang bisa kutawarkan."

​Cassian jeda sejenak, tatapan elangnya menajam tepat pada manik mata Aisya.

​"Sekarang, tembok pembatas itu sudah runtuh. Aku sudah memenuhi syarat mutlak yang ada di duniamu. Aku memiliki status legal yang sama denganmu di mata hukum agalamu," lanjut Cassian, suaranya merendah namun sarat akan ketegasan yang tak terbantahkan. "Maka dari itu, bersiaplah, Aisya. Besok malam, aku akan datang secara resmi ke rumah pamarmu untuk melamarmu di hadapan keluargamu."

​Petir rasanya menyambar di langit Toronto yang bersih malam itu. Jantung Aisya berdegup begitu kencang hingga ia merasa pusing. Melamar? Ke rumah pamannya?

​"A-Anda gila, Tuan Noir..." bisik Aisya, suaranya bergetar hebat antara rasa tidak percaya dan kepanikan yang mendalam. "Pernikahan bukan sebuah transaksi yang bisa Anda putuskan sepihak! Anda tidak bisa datang begitu saja ke rumah saya!"

​"Aku tidak pernah bermain-main dengan keputusanku, Aisya. Kau tahu itu," sahut Cassian mutlak, memotong semua kepanikan Aisya dengan ketenangan yang mematikan. "Sampaikan pada pamanku bahwa pria yang memegang sertifikat mualaf sah dari Imam Abdulaziz akan datang untuk meminta haknya secara terhormat. Sampai jumpa besok malam."

​Tanpa menunggu bantahan lebih lanjut dari Aisya yang masih terpaku lemas dengan dada bergemuruh, Cassian berbalik dan masuk ke dalam Rolls-Royce yang sudah menunggunya di pinggir jalan. Mobil mewah itu meluncur membelah malam, meninggalkan Aisya sendirian di bawah pendar lampu jalan, menyadari bahwa badai terbesar dalam hidupnya baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!