Zee Chou, atau yang dikenal dengan nama panggung Choi Heesung, adalah idola K-Pop paling populer dan dicintai jutaan penggemar. Di atas panggung, ia bersinar sempurna, tampan, dan memiliki citra bersih yang dijaga sangat ketat. Namun di balik kemegahan itu, ia menyembunyikan satu kenyataan pahit: warisan perusahaan keluarga yang terancam bangkrut. Demi menyelamatkan segalanya, Zee terpaksa menyetujui pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan—menikahi Park Hye-ri, gadis biasa dan sederhana, putri sahabat orang tuanya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia hiburan.
Pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan di atas kertas, rahasia yang harus dijaga mati-matian dari publik dan penggemar. Tidak ada cinta, tidak ada perasaan, hanya kewajiban dan aturan ketat. Bagi Zee, Hye-ri hanyalah kewajiban yang mengganggu karir cemerlangnya. Bagi Hye-ri, Zee hanyalah idola dingin, angkuh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Eunbi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MASALAH BARU
Pagi hari berikutnya, langit masih kelabu seolah enggan menyapa dunia dengan cahaya cerah. Heesung dan Hyeri tiba di gedung Starlight Entertainment lebih awal dari biasanya. Suasana di dalam agensi terasa berat dan kaku; para staf menatap mereka dengan pandangan campuran rasa kasihan, keraguan, dan bahkan rasa takut. Sejak berita buruk itu menyebar, seolah-olah mereka berdua telah menjadi orang buangan, sosok yang harus dijauhi agar tidak ikut terseret ke dalam masalah besar.
Mereka langsung menuju ruang kerja tim hukum dan produksi. Di sana sudah menunggu Park Jinwoo, manajer pribadi mereka yang setia, serta tim peneliti yang disewa khusus untuk menyelidiki kasus ini. Meja kerja dipenuhi berkas-berkas, rekaman data, dan catatan perbandingan yang tersusun rapi namun membuat kepala terasa pusing.
“Kami sudah meneliti setiap catatan produksi lagu ‘Langit Tanpa Batas’,” ucap Jinwoo dengan suara rendah, wajahnya serius dan lelah. “Kami menemukan sesuatu yang aneh. Tanggal pembuatan berkas lagu di komputer studio—yang seharusnya menjadi bukti bahwa kamu membuatnya jauh lebih awal daripada lagu musisi independen itu—ternyata telah diubah. Ada jejak rekam yang menunjukkan bahwa seseorang telah memanipulasi data tersebut sekitar dua minggu sebelum tuduhan plagiat itu muncul ke permukaan.”
Heesung tertegun, jantungnya berdegup kencang. “Diubah? Tapi siapa yang bisa masuk ke ruang studio dan mengakses komputer itu? Akses ke sana hanya terbatas untuk staf produksi dan anggota agensi yang berwenang saja.”
“Itulah masalahnya,” sahut salah satu peneliti, seorang wanita muda dengan kacamata tebal dan ekspresi tajam. “Sistem keamanan catatan akses juga telah dihapus sebagian. Seseorang dengan pengetahuan teknis yang cukup baik telah menyembunyikan jejak langkahnya. Tapi kami menemukan satu celah kecil: ada akun pengguna yang digunakan pada saat perubahan itu dilakukan—akun yang terdaftar atas nama Lee Junho, salah satu komposer yang sering bekerja sama dengan agensi.”
Nama itu membuat darah Heesung berdesir. Lee Junho… Ia tahu pria itu. Junho adalah komposer muda yang bergabung dengan Starlight sekitar setahun yang lalu. Ia pernah bekerja sama dengan Heesung dalam beberapa proyek kecil, dan meski hubungan mereka tidak terlalu akrab, Heesung tidak pernah menyangka bahwa pria itu akan melakukan hal sejahat ini. Namun, di sisi lain, ia juga ingat pernah melihat Junho sering memandangnya dengan tatapan iri dan tidak suka, terutama setelah lagu-lagu ciptaan Heesung mulai mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat.
“Junho…” gumam Heesung pelan, pikirannya melayang ke masa lalu. “Dia memang terlihat agak tersinggung saat lagu yang ia buat ditolak, dan akhirnya aku yang diberi kesempatan menggarapnya sendiri. Tapi aku tidak menyangka rasa irinya akan sampai sejauh ini…”
“Masih ada lagi,” Jinwoo menyela, sambil meletakkan selembar dokumen lain di atas meja. “Kami juga meneliti akun-akun media sosial yang pertama kali menyebarkan tuduhan ini. Sebagian besar akun itu adalah akun palsu atau akun yang dikendalikan dari jarak jauh, namun kami menemukan bahwa ada transaksi keuangan yang masuk ke rekening yang terhubung dengan identitas samar, dan jejak uang itu mengarah ke… seseorang yang sangat dekat dengan kita.”
Hyeri yang sejak tadi diam mendengarkan, kini mengangkat wajahnya dengan tatapan terkejut. “Siapa, Pak Jinwoo?”
Jinwoo menarik napas panjang sebelum menjawab dengan nada berat, “Jejak itu mengarah ke Kang Seo-jin. Asisten pribadimu, Hyeri.”
Dunia seakan berhenti berputar saat nama itu disebutkan. Hyeri merasa kakinya lemas seketika, ia hampir jatuh jika tidak ditahan oleh bahu Heesung. Seo-jin… Wanita itu adalah orang yang sudah bekerja bersamanya selama tiga tahun terakhir, orang yang ia percayai sepenuhnya, orang yang selalu ada di sampingnya dalam setiap langkah karier dan kehidupan pribadinya. Bagaimana mungkin orang yang ia anggap saudara sendiri ternyata menjadi pengkhianat?
“Tidak mungkin…” suara Hyeri bergetar hebat, air mata mulai menggenang kembali di matanya. “Seo-jin tidak akan melakukan hal seperti itu padaku… Aku selalu memperlakukannya dengan baik, aku selalu memercayainya dengan segala hal… Mengapa dia bisa berbuat sejahat ini?”
“Kami juga tidak percaya pada awalnya,” Jinwoo mengakui dengan nada lembut, berusaha menenangkan gadis itu. “Tapi bukti yang kami miliki sangat jelas. Ada pesan-pesan yang dikirim dari ponselnya ke nomor yang sama dengan yang berhubungan dengan akun penyebar fitnah itu, dan juga catatan pembayaran yang masuk ke rekeningnya. Sepertinya dia bekerja sama dengan seseorang, kemungkinan besar dengan Lee Junho, untuk menjatuhkan kalian berdua.”
Heesung memeluk bahu Hyeri yang gemetar, hatinya terasa perih melihat wanita yang dicintainya—meski perasaan itu masih tersembunyi di balik kontrak pernikahan—harus merasakan pengkhianatan yang begitu menyakitkan. Ia tahu betapa Hyeri sangat menghargai kepercayaan dan persahabatan, dan dikhianati oleh orang yang paling dekat pasti merupakan pukulan terberat baginya.
“Kita harus berhadapan dengan mereka,” ucap Heesung dengan suara tegas, berusaha menguatkan dirinya dan juga Hyeri. “Kita harus meminta penjelasan, dan membuat mereka mengakui semua perbuatan jahat yang telah mereka lakukan. Kita punya bukti, dan kita tidak boleh membiarkan mereka lolos begitu saja.”
Sore itu, mereka mengundang Lee Junho dan Kang Seo-jin ke ruang pertemuan pribadi di dalam gedung agensi. Suasana menjadi sangat tegang saat kedua orang itu tiba. Wajah Junho terlihat pucat dan gelisah, sementara Seo-jin berusaha menyembunyikan rasa bersalah di balik ekspresi yang dingin dan acuh tak acuh.
“Apa maksud semua ini?” tanya Junho dengan nada kasar, berusaha menutupi ketakutannya. “Kenapa kalian memanggil kami ke sini seolah-olah kami adalah penjahat?”
Jinwoo meletakkan semua bukti yang telah mereka kumpulkan di atas meja, satu per satu, dengan tenang namun tegas. “Kami sudah menemukan semuanya, Junho. Cara kamu memanipulasi data file lagu, cara kamu menyebarkan informasi palsu, dan bagaimana kamu bekerja sama dengan Seo-jin untuk merusak nama baik Heesung dan Hyeri. Semuanya sudah ada buktinya, jadi berhentilah berpura-pura tidak tahu apa-apa.”
Wajah Junho berubah seketika menjadi merah padam, lalu menjadi pucat pasi. Ia melirik ke arah Seo-jin seolah meminta bantuan, namun wanita itu hanya diam saja, menundukkan pandangannya ke lantai.
“Kenapa?” tanya Heesung, menatap tajam ke arah Junho. “Apa yang pernah aku lakukan padamu sampai kamu tega merusak seluruh kariermu dan hidupku dengan cara yang begitu kejam?”
Junho tiba-tiba tertawa sinis, namun tawanya terdengar penuh kepahitan dan kemarahan yang terpendam lama. “Kenapa? Kamu bertanya kenapa? Karena semuanya selalu tentang kamu, Heesung! Kamu selalu menjadi bintang kesayangan, selalu mendapatkan kesempatan terbaik, selalu dipuji dan dikagumi semua orang! Padahal aku sudah bekerja keras bertahun-tahun, kemampuanku tidak kalah darimu, tapi tidak ada yang pernah melihatku! Aku benci melihatmu selalu bersinar dan mendapatkan segalanya dengan begitu mudah! Aku ingin melihatmu jatuh, aku ingin melihatmu hancur sama seperti perasaanku selama ini!”
Kata-kata itu meledak seperti badai, melepaskan semua rasa iri dan dendam yang selama ini tersimpan rapi di dalam hatinya. Ia mengakui segalanya—bahwa dialah yang meniru struktur lagu musisi independen itu, mengubah data, dan menyebarkan berita palsu, semata-mata karena rasa iri yang tak terkendali.
Kemudian, semua mata beralih ke arah Seo-jin. Hyeri menatap wanita itu dengan tatapan sedih dan tidak percaya, air mata menetes perlahan dari matanya. “Dan kamu, Seo-jin… Aku sudah menganggapmu seperti saudara sendiri. Aku selalu berbagi segalanya denganmu, aku selalu membantumu saat kamu sedang kesulitan… Mengapa kamu melakukan ini padaku? Apa yang aku kurangimu?”
Seo-jin mengangkat wajahnya, matanya memancarkan campuran rasa bersalah dan kebencian yang aneh. “Kamu kurang? Kamu punya segalanya, Hyeri! Kamu cantik, populer, dicintai semua orang, dan bahkan kamu bisa menikah dengan idola seperti Heesung hanya dengan satu kontrak saja! Sementara aku? Aku hanya orang biasa yang selalu ada di belakangmu, yang selalu bekerja keras tapi tidak pernah mendapatkan perhatian apa pun! Aku iri padamu, aku benci melihatmu hidup begitu mudah dan bahagia! Saat Junho menghubungiku dan menawarkan uang serta posisi yang lebih baik di agensi lain jika aku membantu menjatuhkanmu, aku… aku tidak bisa menolaknya. Aku ingin kamu merasakan bagaimana rasanya diremehkan dan dibenci oleh semua orang!”
Pengakuan itu memukul hati Hyeri lebih keras daripada serangan apa pun yang pernah ia terima. Pengkhianatan ini datang dari orang yang paling ia percayai, dan rasa sakitnya terasa begitu dalam dan menyiksa. Namun, di tengah rasa sakit itu, Hyeri juga merasa lega. Akhirnya kebenaran terungkap. Akhirnya mereka tahu siapa dalang di balik semua penderitaan yang mereka alami selama ini.
“Kalian berdua…” ucap Heesung dengan suara dingin dan penuh kekecewaan. “Kalian menghancurkan kepercayaan, persahabatan, dan bahkan masa depan kalian sendiri hanya karena rasa iri dan keegoisan kalian. Kalian pikir kalian akan menang dengan cara ini? Tidak. Kalian hanya akan menenggelamkan diri kalian sendiri ke dalam lubang kesalahan yang tak berdasar.”
Jinwoo segera mengambil alih pembicaraan. “Atas perbuatan kalian ini, Starlight Entertainment akan mengambil tindakan hukum yang tegas. Kalian akan diberhentikan secara tidak hormat, dan kami akan menuntut kalian atas kerusakan nama baik, kerugian materiil, serta pelanggaran hukum lainnya. Kalian akan bertanggung jawab penuh atas segala kesulitan yang telah kalian timbulkan.”
Junho dan Seo-jin terdiam kaku, sadar bahwa mereka telah kehilangan segalanya. Ambisi dan rasa iri mereka telah membawa mereka ke jurang kehancuran yang tak terelakkan. Mereka tidak lagi memiliki tempat di industri hiburan, dan nama baik mereka pun hancur sepenuhnya.
Setelah kedua pengkhianat itu dibawa pergi oleh petugas keamanan, Heesung dan Hyeri duduk berdampingan di ruangan yang kini menjadi sepi dan sunyi. Beban berat yang selama ini menindih bahu mereka akhirnya terangkat. Kebenaran telah terungkap, namun rasa sakit akibat pengkhianatan dan fitnah yang menimpa masih terasa nyata di hati.
Hyeri bersandar lembut ke bahu Heesung, air matanya kembali mengalir, namun kali ini bukan air mata kesedihan semata, melainkan air mata pelepasan dan rasa lega. “Semua sudah berakhir, ya, Heesung?”
Heesung menggenggam tangan wanita itu dengan erat, memberikan kehangatan dan kekuatan yang ia miliki. “Ya, semuanya sudah berakhir. Dan sekarang, saatnya kita bangkit kembali. Kita akan menceritakan kebenaran kepada dunia, kita akan mengembalikan nama baik kita, dan kita akan melangkah maju, lebih kuat dari sebelumnya.”
Ia menatap Hyeri dengan tatapan yang penuh perasaan, perasaan yang sudah lama ia simpan dan kini semakin nyata dan kuat. “Terima kasih, Hyeri. Terima kasih karena telah tetap berada di sisiku, terima kasih karena percaya padaku saat dunia memalingkan muka dariku. Tanpamu, aku tidak akan sanggup melewati semua ini.”
Hyeri mengangkat wajahnya, menatap balik ke dalam mata pria itu. Di kedalaman tatapan itu, ia melihat ketulusan dan kasih sayang yang begitu besar, yang membuat jantungnya berdebar kencang. Selama ini ia berpikir bahwa hubungan mereka hanyalah sebuah perjanjian bisnis, namun di tengah badai masalah ini, ia sadar bahwa perasaannya terhadap Heesung sudah jauh melampaui batas kontrak pernikahan itu. Ia mencintai pria ini, sungguh-sungguh mencintainya.
“Aku juga berterima kasih padamu, Heesung,” ucapnya pelan, dengan suara yang lembut namun penuh keyakinan. “Kamu membuatku berani menghadapi ketakutan dan kesulitan. Kamu membuatku menyadari bahwa aku tidak sendirian. Dan aku… aku sangat bersyukur bisa bersamamu.”
Di ruangan itu, di tengah sisa-sisa badai yang baru saja berlalu, hubungan di antara mereka berubah selamanya. Batas antara pernikahan kontrak dan perasaan yang nyata mulai memudar, berganti menjadi ikatan yang lebih kuat dan tulus, ikatan yang telah ditempa oleh kesulitan dan cobaan berat.
Namun, mereka tahu bahwa perjalanan mereka belum sepenuhnya selesai. Meskipun dalang di balik masalah ini telah terungkap dan dihukum, mereka masih harus berjuang untuk memulihkan nama baik mereka di mata publik dan penggemar. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, dan rintangan yang harus dilewati. Namun dengan kebenaran di pihak mereka dan kebersamaan yang kini semakin erat, mereka yakin bahwa mereka mampu menaklukkan segalanya.
Matahari akhirnya mulai menembus celah-celah jendela, memancarkan cahaya hangat ke dalam ruangan, seolah menjadi pertanda bahwa hari-hari yang cerah dan damai akhirnya akan datang kembali bagi mereka berdua.