Di tengah kaku dan dinginnya protokol Keraton Amarta, Arya Wijaya, sang Raja muda, merasa hidupnya hanyalah pengabdian tanpa warna. Segalanya berubah saat ia bertemu dengan Sekar, seorang guru taman kanak-kanak yang juga seorang pelukis berbakat. Sekar adalah perwujudan dari keanggunan yang bersahaja—lembut dalam tutur kata, ceria dalam bersikap, dan memiliki jiwa bebas yang dituangkannya ke atas kanvas. Bagi Arya, Sekar adalah jendela menuju dunia yang lebih manusiawi. Namun, bagi tembok keraton, Sekar hanyalah rakyat jelata yang dianggap tak layak bersanding dengan takhta. Saat Arya dihadapkan pada tuntutan perjodohan politik demi stabilitas kerajaan, ia harus memilih: mempertahankan mahkota yang hampa, atau memperjuangkan cintanya pada sang pelukis yang telah mewarnai kembali hatinya. Sebuah kisah tentang benturan antara tradisi yang kaku dan cinta yang tulus, di mana keanggunan seorang wanita biasa diuji di hadapan kemegahan istana yang penuh intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara di Balik Heningnya Peraduan
Setelah samudra doa di alun-alun mulai mereda menjadi gumaman zikir yang tenang, Arya melangkah kembali masuk ke dalam istana. Tubuhnya terasa ringan namun hampa, seolah seluruh energinya telah habis terkuras bersama air mata di balkon tadi. Ia berjalan melewati lorong-lorong yang kini sunyi, menuju satu titik yang menjadi pusat dunianya: Peraduan Sekar.
Saat pintu kayu jati itu terbuka, aroma herbal yang tajam kini telah berganti dengan wangi melati segar yang dibawa oleh angin sore. Arya duduk kembali di sisi ranjang. Sekar masih di sana, tampak begitu damai dalam tidurnya. Wajahnya tidak lagi pucat pasi, namun tetap tidak ada tanda-tanda kelopak mata indah itu akan terbuka.
Arya mengusap punggung tangan Sekar dengan lembut. “Doa mereka sudah melangit, Sekar. Ribuan orang bersujud untukmu, berdoa untuk kesembuhanmu. Tidakkah kau mendengar mereka memanggilmu pulang?” Bisiknya pelan.
Di ambang pintu, Seno berdiri dengan tegap. Ia telah menunggu momen ketika Rajanya sudah mulai tenang untuk menyampaikan kenyataan yang lebih pahit daripada racun itu sendiri. Ia melangkah masuk setelah Arya memberikan isyarat kecil.
“Gusti Prabu,” suara Seno rendah namun sarat dengan ketegasan. “Hamba membawa hasil invetigasi dari ruang bawah tanah. Ningsih telah membuka mulut sepenuhnya sebelum ia menyerah pada ketakutannya sendiri.”
Arya tidak mengalihkan pandangannya dari Sekar, namun rahangnya mengeras. “Katakan, Seno. Siapa yang berani menyentuh apa yang menjadi milikku?”
Seno menarik napas panjang, menyiapkan diri untuk menyebutkan nama-nama yang akan menghancurkan sisa-sisa kedamaian di hati sang Raja.
“Ular itu tidak datang dari luar, Gusti. Racun Upas Warangan itu dikirim langsung dari pesanggrahan di lereng Gunung Lawu. Ningsih mengakui bahwa telik sandi Adipati Cakraningrat, dibawah perintah langsung dari Raden Ajeng Nastiti, telah menyusup ke dapur istana.”
Seno mejeda sejenak, matanya menatap Arya dengan penuh simpati. “Namun, botol pualam hitam itu… Ningsih bersumpah bahwa benda itu berasal dari kotak pribadi Kanjeng Ibu Suri. Mereka berdua bekerja sama, Gusti. Mereka ingin menghancurkan Nimas Sekar tepat di malam penyuciannya, agar Amarta kehilangan simbol harapannya.”
Keheningan seketika menyelimuti ruangan. Hanya terdengar suara detak jam kayu yang lambat. Tangan Arya yang memegang jemari Sekar gemetar, bukan karena sedih, melainkan karena amarah yang mulai membakar dari dalam ulu hatinya.
Arya perlahan meletakkan tangan Sekar di atas bantal sutra,. Ia berdiri, berbalik menatap Seno dengan mata yang berkilat tajam seperti mata pedang yang baru diasah. Rasa cintanya yang lembut pada Sekar kini bertransformasi menjadi murka yang dingin dan mematikan.
“Jadi… Ibu yang melahirkanku, dan wanita yang pernah kuharap menjadi pendampingku, adalah mereka yang mencoba mencuri napas dari wanita yang paling kucintai?” Suara Arya terdengar tenang, namun Seno tahu itu adalah ketenangan sebelum badai besar menghantam.
“Benar, Gusti. Mereka memalsukan laporan pengasingan. Mereka tidak pernah meditasi; mereka merancang kematian di balik kabut gunung,” tambah Seno.
“Cukup,” potong Arya tajam. “Seno, siapkan pasukan Jagabaya terpilih. Aku tidak akan menunggu hingga fajar besok. Jika mereka ingin bermain dengan maut, maka maut pulalah yang akan menjemput mereka di lereng Lawu malam ini juga. Takhta ini bisa memaafkan segala hal, tapi tidak untuk nyawa Sekar.”
Arya menatap Sekar sekali lagi, sebuah tatapan penuh janji. “Tidurlah dengan tenang, Sayang. Saat kamu bangun nanti, aku pastikan dunia ini sudah bersih dari mereka yang ingin melukaimu.”
Malam itu, Keraton Amarta tidak lagi berselimut doa. Suara derap kaki kuda pasukan elit mulai terdengar di pelataran, bersiap menembus kegelapan menuju Gunung Lawu untuk menuntaskan pengkhianatan dengan keadilan yang paling hitam.