NovelToon NovelToon
SCHATTEN UND DUFT

SCHATTEN UND DUFT

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: Oviamarashiin

Di sudut kota yang tenang, hiduplah keluarga Baskara yang tampak sederhana namun menyimpan kehangatan yang luar biasa. Cerita ini berpusat pada kehidupan sehari-hari mereka yang dinamis, berputar di antara aroma masakan dapur, wewangian parfum langka, dan ambisi masa depan.

Kyla Rebecca Lynette M., si bungsu berusia 18 tahun yang memiliki kecantikan visual mutlak bak boneka hidup, menyimpan dunia emosionalnya sendiri di balik taman belakang yang luas dan laboratorium parfum rahasianya. Di saat sang kakak sulung, Tamara, berjuang dan akhirnya berhasil menembus beasiswa penuh S2 di London membawa kebanggaan sekaligus rasa haru yang hebat bagi keluarga Rebecca harus menghadapi ujian akhir SMA-nya.

Dalam proses pendewasaan ini, Rebecca dibimbing sekaligus "diganggu" oleh kakak keduanya, Naufal, seorang pemuda dingin di luar namun menjadi mentor sekaligus pencipta kerusuhan yang manja di kamar Rebecca. Di bawah asuhan hangat kedua orang tua mereka, novel ini mengeksplorasi arti kedewasaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ruang Kelas yang Sepi dan Janji di Balik Suapan Terakhir

Melihat Sagara yang terus menyendok nasi pulen dan kuah soto ayamnya hingga tandas tanpa sisa, kepuasan tersendiri hadir di benak Rebecca. Gadis porselen itu menarik sebuah kursi kosong di dekat meja Sagara, lalu duduk dengan anggun di sana. Rok abu-abu span yang membungkus pinggul semoknya sedikit terangkat, memperlihatkan siluet kakinya yang jenjang dan mulus.

Rebecca menopang dagu mungilnya dengan sebelah tangan, membiarkan rambut asli hitam pekatnya yang panjang bergelombang jatuh menjuntai di atas meja kayu. Sepasang mata hijau lembutnya yang langka memperhatikan bagaimana otot-otot di lengan tegap Sagara bergerak ritmis setiap kali pemuda itu menyuap makanan.

"Kau makan seperti orang yang tidak diberi makan tiga hari, Sagara," ujar Rebecca jernih, nada suaranya yang polos terdengar seperti ledekan ringan di telinga Sagara.

*Uhuk!*

Sagara sedikit tersedak, wajah tampannya langsung memerah tipis. Ia segera meraih sebotol air mineral miliknya dan meneguknya hingga setengah. Setelah menetralkan tenggorokannya yang kering, ia menatap Rebecca dengan mata elangnya yang kembali menajam, mencoba menutupi rasa gengsinya yang telanjur runtuh karena ketahuan sangat menyukai masakan sang rival.

"Ini karena aku sudah mengeluarkan banyak tenaga untuk mengendalikan motor di jalanan rusak tadi pagi, Tuan Putri," dalih Sagara kaku. Suaranya yang berat dan serak kembali mengingatkan mereka pada momen mendebarkan di atas motor sport putih tadi subuh.

Sagara menggeser dua kotak bekal kaca yang kini sudah bersih mengkilap itu ke arah Rebecca. Ia memajukan tubuh jangkungnya, menumpu kedua siku di atas meja hingga jarak di antara wajah mereka memendek. Aroma parfum mawar hitam dan cendana milik Rebecca yang manis bercampur dengan aroma rempah soto yang gurih, menciptakan atmosfer intim yang aneh di sudut kelas yang sepi itu.

"Tapi... harus kuakui, masakanmu ini berbahaya, Re," desis Sagara rendah, tatapannya mengunci belahan bibir ombre alami Rebecca yang merah cerah tanpa riasan.

Rebecca berkedip polos, poni *see-through*-nya bergerak lembut. "Berbahaya bagaimana? Aku tidak memasukkan zat kimia apa pun dari laboratorium ke dalamnya."

Sagara mendengus sinis, sebuah senyuman tipis yang sangat tampan terukir di sudut bibirnya. "Dangerous for my heart," batin Sagara berteriak posesif. Namun yang keluar dari mulutnya hanyalah, "Berbahaya karena bisa membuatku malas memakan masakan koki di rumah mama Helena lagi."

Mendengar nama ibunya sendiri disebut secara kasual oleh Sagara, Rebecca mendadak teringat kembali pada monolog halu larut malamnya di atas kasur, di mana ia sempat mengklaim Nyonya Helena Wijaya Immanuel sebagai 'calon mama mertua'. Semburat merah muda yang tipis seketika merayap di kedua pipi putih bersih milik Rebecca, membuatnya langsung mengalihkan pandangan ke arah luar jendela kelas.

"Kalau kau suka, besok-besok aku bisa membawakannya lagi. Mas Naufal juga selalu meminta porsi lebih," ucap Rebecca mengalihkan pembicaraan dengan suara jernihnya yang mendadak agak cepat, mencoba menyembunyikan kegugupan langka yang mampir di hatinya.

Sagara yang melihat perubahan ekspresi mikro dan rona merah di pipi porselen Rebecca langsung menaikkan sebelah alisnya. Ada rasa puas yang membuncah di dada bidangnya melihat gadis sedingin es ini akhirnya menunjukkan reaksi tidak biasa di depannya.

"Tidak usah bawa porsi Mas Naufal. Cukup bawa porsi untukku saja," sahut Sagara cepat dengan nada perintah yang protektif dan egois khas dirinya. "Dan ingat janjimu tadi, Re. Besok rambutmu harus dikuncir lagi. Aku tidak mau berbagi pemandangan punggung semok dan rambut indahmu ini dengan mata-mata mesum di koridor sekolah."

Rebecca hanya mendengus pelan, jemari lentiknya bergerak merapikan kembali kotak bekal kaca ke dalam tas rajutnya. Di balik sikap polos dan pikiran bersihnya yang menganggap Sagara hanya sebatas 'teman tapi musuh' yang cerewet, jalinan takdir di antara mereka berdua justru kian mengikat erat, mengabaikan bayangan-bayangan pria dewasa lain yang mungkin sedang menunggu Rebecca di luar gerbang sekolah sana.

...----------------...

Sore harinya, setelah melewati hari yang melelahkan di sekolah, Rebecca sudah berada di ruang tengah rumahnya yang nyaman. Suasana rumah cukup tenang karena Naufal belum pulang dari kampus. Gadis porselen itu kini telah menanggalkan seragam sekolahnya, berganti dengan kaus oversized berwarna putih polos yang santai, memperlihatkan kaki jenjangnya yang putih mulus.

Rambut asli hitam pekatnya yang panjang bergelombang diikat asal menggunakan jedai besar, menyisakan beberapa helai poni *see-through* yang jatuh alami di dahinya.

Di atas karpet bulu yang tebal, Rebecca duduk bersila menghadap televisi berlayar besar yang sedang menayangkan sebuah drama China bergenre wuxia romantis. Namun, perhatiannya sesekali teralih pada makhluk berbulu abu-abu putih yang sedang mendusel manja di paha mulusnya.

Itu adalah Dabo, kucing jantan kesayangannya yang memiliki tubuh luar biasa gembul dengan pipi bulat mirip bakpao. Dabo mendengkur halus (purring), sesekali menggerakkan ekor tebalnya dan menatap layar televisi dengan mata bulatnya yang malas, seolah ikut mengerti jalan cerita drama tersebut.

"Dabo, jangan bergerak terus. Nanti piringnya tumpah," bisik Rebecca selembut sutra, jemari halusnya yang mulus bergerak mengelus puncak kepala gembul Dabo.

Di samping posisi duduk Rebecca, terdapat sebuah meja kaca minimalis yang menyajikan menu camilan sore yang sangat istimewa. Sebagai gadis yang sangat telaten dalam urusan kuliner, Rebecca sengaja membuat sendiri batagor bandung berbalut bumbu kacang yang kental, disandingkan dengan sepiring dimsum mentai gyoza buatannya. Gyoza-gyoza berukuran padat itu dibakar torch tipis pada lapisan saus mentai oranye di atasnya, menghasilkan aroma gurih-asin yang begitu memikat udara ruangan.

Rebecca mengambil sepotong gyoza mentai menggunakan sumpit bambunya. Belahan bibir yang merah alami terbuka sedikit, menyuapkan camilan hangat itu ke dalam mulutnya. Perpaduan rasa daging ayam yang lembut, kulit gyoza yang kenyal, serta gurihnya saus mentai yang meleleh di lidah seketika membuat jiwa introvernya merasa sangat rileks setelah seharian menghadapi tingkah posesif Sagara di sekolah.

Melihat pemiliknya sedang mengunyah makanan enak, hidung merah Dabo kumat-kamit. Kucing gembul itu menegakkan tubuh bulatnya, mencoba meraih ujung meja dengan cakar mininya yang menggemaskan, berharap mendapat secuil daging.

"Tidak boleh, Dabo. Ini ada bumbu mentainya, tidak baik untuk perut gembulmu," potong Rebecca polos sembari menjauhkan piring gyoza dengan tangan kirinya.

Dabo hanya bisa mengeong protes dengan suara seraknya, lalu kembali menjatuhkan tubuh gembulnya dengan pasrah di samping kaki Rebecca, bertingkah manja dengan menyandarkan kepalanya yang berat.

Di bawah sorotan cahaya televisi dan kehangatan ruang tengah sore itu, Rebecca menikmati momen kesendiriannya yang damai. Pikirannya yang bersih dan suci sepenuhnya terfokus pada rasa gurih batagor mentai dan lucunya tingkah Dabo, sama sekali mengabaikan fakta bahwa dua pria berwajah tampan Gus Adrian dengan kharisma sakralnya di kampus hukum, serta Sagara yang mungkin sedang memandangi motor sport-nya dengan sisa debaran panas di parkiran sedang memikirkan sosok gadis porselen yang sama di tempat yang berbeda.

1
Manman
love🫧🪻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!