Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertengkaran 2
Nadia menatap Ratna dengan mata berkilat. Sorot matanya penuh luka yang selama ini ia tahan sendiri. Perempuan itu berdiri dengan dada naik turun, sementara suara televisi dari ruang tengah masih terdengar pelan, bercampur suara game dari tablet milik Nanda.
“Ratna, kamu boleh merebut suamiku,” ucap Nadia lirih, tetapi penuh penekanan. “Tapi jangan rusak caraku membesarkan Nanda.”
Ratna justru tertawa kecil. Sudut bibirnya terangkat sinis seolah ucapan Nadia hanyalah angin lalu.
“Nanda butuh hiburan, Nadia,” balasnya santai. “Aku kasihan sama dia. Hidupnya terlalu tertekan karena kamu.”
“Siapa kamu, Ratna, Nanda itu Anakku?” bentak Nadia..
Dadanya sesak menahan emosi yang sejak tadi terus dipancing..
“Anakmu?” tanyanya mengejek. Tatapannya merendahkan
Nadia mengepalkan tangan.
“Aku yang mengurus Nanda sejak bayi, Ratna,” ucapnya dengan suara bergetar. “Aku yang begadang waktu dia demam tinggi. Aku yang panik waktu tubuhnya kejang karena panas. Aku yang hafal makanan apa saja yang bikin dia alergi.”
Nadia menatap Ratna tanpa berkedip.
“Aku juga yang tiap malam tidur enggak tenang kalau Nanda batuk sedikit saja.”
Suasana mendadak terasa pengap.
“Dan kamu...” Nadia menarik napas panjang. “Kamu cuma pelakor. Perusak rumah tangga orang. Sekarang mau ikut campur mengurus anakku?”
Ratna sama sekali tidak terlihat marah.
Ia justru tersenyum tipis dengan wajah penuh kemenangan.
“Masalahnya,” katanya pelan, “aku selalu berhasil mendapatkan apa pun yang kamu punya, Nadia.”
Kalimat itu menghantam tepat di dada Nadia.
Napasnya memburu.
Wajahnya memerah menahan amarah dan sakit hati yang bercampur jadi satu.
Tangannya bahkan sudah terangkat hendak menampar Ratna.
“Hentikan!”
Suara keras Yuni memotong pertengkaran mereka.
Perempuan paruh baya itu melangkah cepat mendekat dengan wajah tegang.
“Kenapa kalian ribut di depan anak kecil?” hardiknya.
“Bu,” Nadia menoleh cepat dengan mata berkaca-kaca, “Ratna membawa pengaruh buruk buat Nanda.”
Ia menunjuk jam dinding.
“Ini sudah jam sebelas malam, tapi Nanda belum tidur. Dia masih main tablet. Besok sekolah.”
Tatapan Nadia langsung beralih pada putranya.
Hati Nadia mencelos melihat mata Nanda yang mulai takut.
“Kamu boleh ambil suamiku, Ratna,” ucap Nadia lirih penuh luka. “Tapi jangan rusak Nanda.”
Ratna mengangkat bahu.
“Nanda cuma butuh hiburan. Sesekali tidur malam enggak masalah.”
“Besok dia sekolah!” suara Nadia meninggi.
“Kalian ini perempuan dewasa, malah bertengkar kayak begini,” geram Yuni.
Ia segera masuk ke kamar Ratna lalu menggendong Nanda.
“Malam ini tidur sama Oma, ya.”
Nanda menunduk pelan.
Tablet di tangannya sudah mati.
Wajah kecil itu tampak murung. Anak itu mungkin belum benar-benar mengerti masalah orang dewasa, tetapi ia cukup paham kalau Mamah dan Bundanya sedang bertengkar gara gara dirinya.
Tatapan Nadia langsung melembut.
Rasa bersalah tiba-tiba menghantam dadanya.
Harusnya aku tahan emosi di depan Nanda, batinnya pilu.
Yuni membawa Nanda berjalan menuju kamar.
Namun sebelum pintu tertutup, suara mobil terdengar masuk ke halaman rumah.
Nanda langsung menoleh cepat.
“Yeay! Papah datang!”
Wajah kecil itu mendadak berbinar penuh semangat.
Nadia ikut menoleh.
Ia melihat Raka masuk sambil membawa beberapa kantong plastik makanan.
Aroma ayam goreng cepat saji langsung menyebar memenuhi ruangan.
Ada kentang goreng.
Minuman bersoda dingin.
Saus sambal.
Saus tomat.
Dan dua bungkus seblak pedas.
Rahang Nadia langsung mengeras.
“Makanan itu buat siapa, Mas?” tanyanya dingin.
Belum sempat Raka menjawab, Nadia sudah merebut kantong plastik itu dari tangannya.
“Oma, ayo makan di dapur!” seru Nanda polos sambil menarik tangan Yuni.
Yuni langsung paham suasana akan kembali meledak.
“Ayo, Sayang,” ujarnya cepat membawa Nanda menjauh.
Begitu mereka pergi, Nadia menatap Raka dengan mata penuh kecewa.
“Mas tega sekali.”
“Nad, cuma sesekali,” ucap Raka pelan. “Enggak masalah.”
“Enggak masalah?” suara Nadia bergetar. “Untuk apa semua ini? Untuk merayakan pelakor ini tinggal di rumah ini?”
Raka terdiam.
“Kamu membiarkan Nanda main tablet sampai tengah malam, lalu memberinya makanan kayak beginian?” Tatapan Nadia terasa begitu tajam.
“Kamu boleh menghancurkan rumah tangga kita, Mas,” lanjutnya lirih penuh luka. “Tapi jangan hancurkan kehidupan Nanda.”
Air mata mulai memenuhi pelupuk mata Nadia.
“Aku mati-matian menjaga pola makan dia. Menjaga kesehatannya. Menjaga tidurnya. Tapi malam ini kamu dan perempuan itu menghancurkan semuanya.”
“Lebay.”
Ratna menjawab santai sambil menyandarkan tubuh di pintu.
“Diam kamu, Ratna!” bentak Nadia.
Sejujurnya Nadia sudah ingin menerkam perempuan itu sejak tadi.
Kalau saja Nanda tidak ada di rumah tersebut, mungkin tamparan itu sudah benar-benar mendarat.
“Nad,” ujar Raka pelan mencoba menenangkan, “hidup kamu terlalu serius. Anak kecil juga butuh senang-senang.”
“Keinginan Nanda atau keinginan Ratna?” potong Nadia tajam.
Raka langsung bungkam.
“Nadia,” Ratna kembali bicara dengan nada meremehkan, “kamu terlalu mengekang Nanda. Dia beberapa kali bilang sama aku kalau dia pengin makan makanan pedas, gurih, minuman soda, dan jajanan lain. Tapi kamu selalu melarang.”
“Diam kau, Ratna!” suara Nadia bergetar marah.
Ia menatap perempuan itu penuh kebencian.
“Kamu enggak pernah nungguin Nanda dirawat di rumah sakit gara-gara salah makan!”
Napas Nadia memburu.
“Aku pernah tidur di lantai rumah sakit selama berhari-hari demi jagain dia. Aku pernah hampir gila waktu lihat tubuh Nanda dipasang infus.”
Suasana mendadak hening.
“Dan sekarang kamu bilang aku kejam?”
“Sudahlah, Nad,” bujuk Raka lirih. “Jangan marah terus.”
Nadia tertawa kecil.
Tawa yang justru terdengar menyakitkan.
“Mas, kita cerai saja.”
Raka langsung menatap Nadia.
“Dan malam ini juga aku akan bawa Nanda pergi.”
“Jangan emosional, Nad,” ucap Raka cepat. “Kamu pikir Nanda bakal bahagia tanpa aku?”
Kalimat itu langsung menghantam titik terlemah Nadia.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga.
“Dan kamu pikir Nanda bakal baik-baik saja kalau enggak lihat papanya lagi?” lanjut Raka pelan.
Nadia memejamkan mata.
Dadanya terasa sesak.
Raka mendekat perlahan.
“Untuk malam ini aku minta maaf,” katanya lirih. “Ini terakhir kali. Besok kamu tegakkan lagi semua aturan buat Nanda.”
Nadia menatap suaminya lama.
Tatapan itu penuh kelelahan.
Penuh kecewa.
Dan perlahan kehilangan harapan.
“Enggak bisa, Mas,” jawabnya akhirnya.
Suaranya pelan, tetapi terasa begitu tegas.
“Selama perempuan itu ada di rumah ini...”
Nadia menoleh ke arah Ratna dengan mata basah.
“Semua aturan yang aku bangun untuk Nanda akan hancur sedikit demi sedikit.”
“Kalian ini ribut terus malam-malam begini. Kasihan Nanda, dia jadi terganggu makannya.”
Suara Yuni terdengar tegas di tengah suasana panas ruang makan.
Nadia menatap meja makan dengan dada sesak. Ayam goreng, kentang, minuman bersoda, dan seblak pedas masih tersusun di sana.
“Ibu membiarkan Nanda makan itu semua?” tanyanya lirih, hampir tidak percaya.
Yuni menghela napas panjang.
“Dia yang mau, Nadia. Sudahlah, jangan terlalu kejam sama anak.”
Kalimat itu terasa seperti tamparan bagi Nadia.
Kejam.
Lagi-lagi dirinya disebut kejam hanya karena berusaha menjaga kesehatan anaknya.
“Kalian semua keterlaluan,” ucap Nadia pelan penuh luka.
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik menuju kamar.
Brak!
Suara pintu dibanting keras membuat rumah mendadak sunyi.
Nadia bersandar di balik pintu dengan napas memburu. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi.
Rumah tangganya hancur.
Dan sekarang, aturan yang ia buat mati-matian demi kesehatan Nanda justru dianggap berlebihan.
“Apa mereka pernah lihat Nanda panas sampai empat puluh derajat?” bisiknya lirih.
Nadia memejamkan mata.
Namun perlahan sebuah harapan muncul di kepalanya.
Tadi saat ia ingin membawa Nanda pergi, Ratna terlihat biasa saja.
Tidak panik.
Tidak takut kehilangan.
Seolah Nanda memang bukan anak kandungnya.
Kalau begitu...
Nadia mengusap air matanya cepat.
“Aku harus cari cara supaya Nanda bisa ikut denganku,” batinnya penuh tekad.
raka tak bakal setuju cerai kan kamu
nadia terlalu bego sdh tau di jdi kan keluarga toxin jdi baby sister gratis tetap mau bertahan di dlm rmh demi nanda ank selingkuh raka/ ratna 🤭