NovelToon NovelToon
The Broken Lens

The Broken Lens

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: Vian's

Sinopsis: The Broken Lens

Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.

Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.

Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21: Gema Suara di Batas Malam

Jarum jam dinding di kamar Savya sudah lama melewati angka dua dini hari, namun netranya masih saja menatap lurus ke langit-langit kamar. Suasana malam pasca-hujan itu begitu sunyi, hanya menyisakan suara tetesan air dari talang rumah yang jatuh beraturan. Savya berguling ke kanan, memeluk gulingnya erat-erat, lalu sedetik kemudian berbalik lagi ke kiri dengan helaan napas pasrah.

Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, kegelapan di dalam kamarnya seolah berubah menjadi layar bioskop. Wajah Valerius saat melepas kacamata baca, gestur tubuhnya yang tegap, hingga gema suara beratnya saat mengucapkan, "Sampai bertemu besok, Savya," terus berputar otomatis tanpa bisa dihentikan.

Savya menarik selimut hingga menutupi setengah wajahnya yang mendadak terasa panas. "Satu kalimat saja bisa bikin sekacau ini, ya?" bisiknya pada keheningan malam, merutuki jantungnya yang menolak diajak bekerja sama untuk tidur.

Akibat "teror manis" yang menolak pergi dari kepalanya itu, Savya baru benar-benar terlelap saat semburat fajar mulai mengintip dari balik tirai jendelanya.

"Vya? Savya... Ya ampun, anak ini belum bangun juga?"

Suara ketukan pintu yang cukup keras akhirnya berhasil menembus alam bawah sadar Savya. Ia mengerjap-ngerjap, mengumpulkan kesadarannya yang masih tertinggal di alam mimpi. Saat matanya melirik ke arah jam meja di samping tempat tidur, kelopak matanya langsung terbuka lebar.

Pukul 07.30 pagi.

"Astaga! Aku kesiangan!" Savya meloncat dari tempat tidur, membuka pintu kamar dengan terburu-buru, dan langsung mendapati Ibunya berdiri di depan pintu sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan apron yang masih terikat di pinggang.

"Ibu sudah bangunin kamu dari jam enam lewat sepuluh tadi, Vya. Kamu biasanya paling rajin, kok hari ini tidurnya kayak orang pingsan? Sama sekali tidak terusik," omel Ibu, meski sorot matanya menyimpan rasa heran.

"Maaf, Bu, Vya semalam agak susah tidur," sahut Savya panik, langsung menyambar handuknya. "Vya mandi kilat dulu, Bu!"

Sepuluh menit kemudian, Savya turun ke ruang makan dengan rambut yang masih agak basah dan pakaian kerja yang dipakai terburu-buru. Di meja makan, Ayahnya sedang santai membaca koran digital di tabletnya, sementara di atas pangkuannya, duduk Locky—kucing jantan peliharaan mereka yang berbulu putih-oranye gembul—sedang mendengkur manja menikmati usapan di dagunya.

"Nih, sarapan dulu. Biar kesiangan, perut tidak boleh kosong," ujar Ibu sembari menyodorkan sepiring roti bakar cokelat dan segelas susu hangat.

"Aku makan di jalan saja, Bu, sudah telat banget. Jam delapan lewat harusnya kedai sudah buka," kata Savya panik, memakai jam tangannya dengan satu tangan.

Ayah menurunkan tabletnya perlahan, menatap anak tunggalnya itu dengan senyum kecil yang jeli. "Susah tidur kenapa, Vya? Memikirkan menu kue baru untuk kedai, atau... memikirkan pelanggan yang kemarin Ibu ceritakan?"

Savya hampir saja tersedak udara mendengar tebakan Ayah. "E-eh? Pelanggan apa, Yah? Enggak kok. Murni karena kemarin hujannya deras, jadi agak berisik."

Meow. Locky tiba-tiba melompat turun dari pangkuan Ayah, berjalan mendekati kaki Savya, lalu mengesekkan tubuh gembulnya di sana seolah ikut meledek pemiliknya yang sedang salah tingkah.

"Lihat itu, Locky saja tahu kalau wajah kamu itu bukan wajah orang yang terganggu suara hujan," gurau Ibu dari balik meja dapur, membuat pipi Savya semakin merona merah. "Wajahmu itu agak pucat karena kurang tidur, tapi matamu itu berbinar-binar. Kayak orang lagi... jatuh cinta?"

"Ibu ih, apa sih!" Savya buru-buru menggendong Locky sebentar untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti tomat matang. "Yah, Vya boleh minta tolong? Vya pasti ketinggalan bus jam segini. Boleh antar Vya ke kedai pakai mobil?"

Ayah terkekeh, lalu berdiri dan menyambar kunci mobil di atas bufet. "Tentu saja boleh. Demi anak gadis Ayah satu-satunya supaya tidak makin panik. Ayo berangkat, sebelum jalanan makin padat."

"Locky, lepas dulu ya, Aku mau kerja," pamit Savya sembari menurunkan si kucing gembul yang kembali mengeong pelan. "Ibu, Vya berangkat dulu!"

Suara mesin mobil Ayah menderu halus membelah jalanan kota yang mulai berdenyut sibuk. Di kursi penumpang, Savya berulang kali melirik jam di pergelangan tangannya, sementara jemarinya mengetuk-ngetuk tas kerja di atas pangkuan dengan gelisah. Di luar sana, sisa-sisa air hujan semalam masih menggenang di pinggir trotoar, memantulkan cahaya matahari pagi yang mulai terik.

Ayah sesekali melirik anak tunggalnya dari balik kemudi, lalu mengulurkan tangan untuk mengecilkan volume radio yang sedang memutar lagu lawas. "Tenang, Vya. Jangan terus-terusan melihat jam seperti itu. Malah bikin makin stres. Anak-anak di kedai kan anak-anak yang bertanggung jawab, mereka pasti bisa menangani persiapan pagi tanpa kamu."

Savya menghela napas panjang, mencoba menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Iya, Yah. Vya cuma tidak enak saja. Selama kedai buka, baru kali ini Vya terlambat parah begini."

Mobil mereka kemudian terjebak di lampu merah perempatan besar selama beberapa menit. Savya melempar pandangannya ke luar jendela, memperhatikan deretan pengendara motor yang berkejaran dengan waktu, namun pikirannya justru kembali melesat ke meja sudut kedai malam itu. Ia teringat bagaimana tatapan mata Valerius menguncinya, begitu intens di balik rintik hujan.

"Nah, sudah hijau," ucapan Ayah membuyarkan lamunan Savya. Mobil kembali melaju, berbelok memasuki kawasan komplek pertokoan yang mulai ramai oleh aktivitas pagi.

Beberapa ratus meter di depan, papan nama kayu bertuliskan Thalassa Coffee akhirnya tertangkap oleh pandangan mata Savya. Mobil Ayah bergerak perlahan membelah area parkir, sebelum akhirnya berhenti dengan mulus tepat di seberang pintu kaca kedai. Dari balik kaca mobil, Savya bisa melihat tirai kedai sudah terbuka rapi, menandakan anak-anaknya sudah bergerak cekatan sejak tadi.

"Terima kasih banyak, Ayah! Hati-hati di jalan!" seru Savya setelah mencium punggung tangan Ayahnya dengan takzim.

"Sama-sama, anak gadis Ayah. Kerja yang semangat, ya!" balas Ayah dengan senyum hangat yang menenangkan.

Savya buru-buru membuka pintu mobil, melangkah turun ke atas paving blok yang masih menyisakan hawa lembap semalam, lalu setengah berlari menuju pintu masuk kedai. Tepat saat jarum jam menunjuk ke angka 09.00 pagi, ia mendorong pintu kaca tersebut hingga denting lonceng kuningan di atasnya berbunyi nyaring.

Begitu pintu terbuka, empat pasang mata yang ada di dalam kedai serentak menoleh ke arah sumber suara. Kedai sudah rapi, mesin espresso sudah memuntahkan aroma kopi yang pekat, dan lagu jazz instrumental mengalun lembut—semuanya sudah disiapkan tanpa kehadiran dirinya.

Sila yang sedang menata sedotan di dekat kasir langsung melongo, menjatuhkan satu sedotan ke atas meja. "Mbak Savya?! Demi apa... seorang Mbak Bos Savya yang biasanya jam tujuh pagi sudah stand-by, baru sampai jam sembilan?!"

Arka yang sedang memegang kain lap langsung menaruh telapak tangannya di dahi, berlagak dramatis hingga tubuhnya sedikit limbung. "Wah, ini keajaiban dunia yang kedelapan! Mas Farel, coba cubit saya! Apa saya lagi mimpi melihat Mbak Bos kita kesiangan?"

Farel hanya mendengus geli melihat kelakuan Arka, namun ia tetap menatap Savya dengan pandangan heran yang sama dari balik mesin kopi. "Mbak Savya baik-baik saja? Enggak sakit, kan?"

Mika yang sedang mengelap kaca etalase kue ikut menoleh perlahan, memiringkan kepalanya dengan kedipan mata yang lambat. "Mbak Savya... jalannya... cepat sekali... seperti... dikejar... Mas Vale..."

"Mika!" potong Savya cepat, napasnya masih sedikit terengah-engah antara lelah karena berlari dari parkiran dan malu karena langsung diserang interogasi kompak dari karyawannya. "Maaf, ya, semuanya. Aku... aku benar-benar kesiangan hari ini."

Arka menyengir lebar, mencondongkan tubuhnya ke meja kasir dengan tatapan menggoda yang super usil. "Aha! Kesiangan ya, Mbak? Hmm... bau-baunya ada yang semalaman enggak bisa tidur nih gara-gara kepikiran kalimat 'sampai bertemu besok' dari pangeran es kita. Mengaku saja, Mbak!"

"Arka, diam atau lap itu aku masukkan ke mulutmu!" ancam Savya dengan wajah yang kembali memanas, membuat Sila dan Farel langsung tertawa lepas memenuhi sudut kedai pagi itu.

Meskipun paginya dimulai dengan kepanikan dan godaan bertubi-tubi, Savya diam-diam menghela napas lega setelah memakai apronnya di belakang bar. Saat matanya melirik ke arah meja sudut tempat Valerius biasa duduk, dadanya kembali berdesir hangat. Di balik rasa kantuknya yang tersisa, ada satu antisipasi manis yang membuatnya tidak sabar menantikan jam-jam berikutnya di hari itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!