Mengisahkan Sintia Arunika, wanita yang harus berjuang dalam bahtera rumah tangganya bersama Alfiandi Rian Mahesa. 7 tahun pernikahan mereka seolah tak berarti apa pun karena Sintia tidak kunjung hamil dan puncaknya intervesi keluarga Rian membuat Rian bercerai dari Sintia. Bukan perpisahan yang membuat Sintia sakit, tapi Rian yang rupanya diam-diam menikahi Suci Wahyuni, wanita yang ia kenal baik bahkan dengan Suci rupanya Rian memiliki seorang anak berusia 6 tahun! Sintia memilih pergi dan saat itulah ia bertemu dengan pria bernama Kenzi Hutama yang mengubah hidup Sintia selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangis Ketulusan
Semburat jingga keunguan di langit Jakarta telah padam sepenuhnya, digantikan oleh pekatnya malam yang merayap perlahan menembus kaca temper raksasa di lantai teratas Menara Hutama Group. Di dalam ruang kerja privat yang luas itu, keheningan terasa begitu berat, sarat akan riak emosi yang membumbung tinggi. Gema ucapan Kenzi Hutama mengenai wasiat mendiang ayah Sintia masih bergetar di udara, meruntuhkan seluruh pertahanan batin yang selama bertahun-tahun ini dibangun kokoh oleh Sintia Arunika.
Sintia nampak berderai air mata saat Kenzi mengutarakan isi hatinya dengan begitu megah dan tulus. Bahunya yang biasa tegak mencerminkan keanggunan seorang wanita tangguh, kini berguncang hebat oleh isak tangis yang tak lagi mampu ia pasung. Air mata itu meluncur deras tanpa henti, membasahi pipinya yang mulus, mengalir bagai aliran sungai penderitaan yang akhirnya menemukan muara.
Setiap kata yang diucapkan Kenzi bagai sembilu yang menyayat kembali luka lamanya, memunculkan rasa penyesalan yang teramat pekat di dalam dadanya.
"Ayah... Maafkan Sintia..." bisik Sintia, suaranya terputus-putus oleh senggukan yang menyesakkan dada. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menyembunyikan kerapuhan yang teramat sangat.
****
Ia merasa sangat bersalah pada mendiang ayahnya karena dulu terlalu buta pada sosok Rian yang jahanam. Ingatan masa lalu berputar kejam di dalam kepalanya—bagaimana ayahnya di masa-masa terakhirnya di rumah sakit sempat menggenggam tangannya, menyuarakan keraguan atas pilihan hatinya pada Alfandi Rian Mahesa. Namun saat itu, egonya yang keras dan hatinya yang telah terhipnotis oleh janji manis Rian membuatnya mengabaikan firasat sang ayah. Dan kini, keras kepala masa lalunya itu terbukti berakhir menjadi bencana besar yang nyaris merenggut nyawanya dan menghancurkan masa depannya.
Kenzi melangkah maju, memotong sisa jarak di antara mereka. Dengan gerakan yang teramat lembut dan penuh penghormatan, ia menarik kedua tangan Sintia dari wajahnya, menggenggam jemari lentik yang bergetar hebat itu di dalam tangannya yang kokoh dan hangat.
"Sintia, tatap aku," pinta Kenzi, suara baritonnya melembut, memancarkan getaran maskulin yang menenangkan. "Jangan menyiksa dirimu dengan penyesalan atas masa lalu yang sudah menjadi abu. Kejahatan Rian bukan kesalahanmu. Kamu adalah korban dari kemunafikannya."
Sintia menggelengkan kepalanya dengan gerakan lambat, matanya yang basah dan kemerahan menatap langsung ke dalam manik mata sipit Kenzi. Ada rasa tidak berdaya dan inferioritas yang mendadak menyerang kesadarannya. Kenzi adalah pria yang tulus, sempurna, dan memiliki segalanya—kekuasaan, kekayaan, dan kesetiaan yang tak luntur oleh waktu selama tujuh tahun. Sementara dirinya? Dirinya hanyalah seorang janda berstatus sosial rumit yang baru saja keluar dari lingkaran neraka domestik, membawa serpihan trauma dan beban emosional yang berat.
"Tidak, Kenzi... Aku tidak sebanding denganmu," ucap Sintia, suaranya parau, bergetar hebat oleh rasa rendah diri yang teramat pekat. "Kamu pantas mendapatkan wanita yang utuh, wanita yang tidak memiliki masa lalu yang kotor dan rusak seperti aku. Lihat aku sekarang... Aku bahkan membawa Arka, anak dari pria yang telah menghancurkan hidupku dan wanita yang mencoba membunuhku. Aku tidak pantas menerima ketulusan sekeren ini darimu, Kenzi. Aku hanya akan menjadi beban dalam hidupmu."
****
Mendengar kalimat penuh keputusasaan itu, guratan tegas di rahang Kenzi menegang, namun sepasang matanya justru memancarkan kilat cinta yang kian membara. Ia mencengkeram bahu Sintia, mengunci pergerakan wanita itu agar tidak lagi berpaling dari takdirnya.
"Dengarkan aku baik-baik, Sintia Arunika," desis Kenzi, setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar bagai ikrar suci yang tak bisa diganggu gugat. Namun Kenzi mengatakan bahwa ia menerima Sintia apa adanya, termasuk dengan kehadiran Arka. "Aku mencintaimu bukan karena kesempurnaan statusmu di mata dunia. Aku mencintai jiwamu, ketulusanmu, dan keluhuran budimu yang tak pernah mati walau diinjak-injak oleh kemiskinan moral keluarga Mahesa. Jika kamu membawa serpihan trauma, maka izinkan aku menjadi lem yang menyatukannya kembali. Dan jika kamu memilih untuk menjaga Arka, maka mulai detik ini, bocah itu adalah tanggung jawabku juga. Aku akan menjadi ayah yang tidak pernah ia miliki dari Rian. Aku menerima kalian berdua ke dalam semesta hidupku, tanpa syarat, dan tanpa tapi."
Sintia terpaku, tangisnya mereda berganti dengan rasa takjub yang luar biasa. Di bawah temaram lampu ruangan, ia menyadari bahwa pria di hadapannya bukan lagi sekadar pelindung, melainkan pelabuhan terakhir tempat jiwanya yang lelah boleh bersandar tanpa takut akan badai pengkhianatan lagi.
****
Sementara kehangatan dan janji suci sedang merajut takdir baru di Menara Hutama Group, atmosfer yang seratus persen bertolak belakang sedang membakar sel tahanan sementara di Mapolres Jakarta Selatan. Udara di dalam ruangan jeruji besi itu terasa pengap, berbau keringat dan keputusasaan yang pekat.
Suci Wahyuni duduk bersimpuh di atas lantai semen yang dingin dan kotor. Seragam pelayannya yang sobek di bagian lengan kini tampak semakin kumal. Sisa-sisa kemarahan dari ruang interogasi tadi belum juga padam, melainkan telah bermutasi menjadi kegilaan psikologis yang teramat mengerikan.
BRAKKKK! BRAKKKK!
Sementara Suci Wahyuni meraung dan bersumpah keluar dari sel tahanan ini untuk balas dendam pada Kenzi dan Sintia, ia menghantamkan kedua tangannya yang kini terbebas dari borgol ke arah jeruji besi dengan beringas. Suara dentangan besi yang beradu dengan tenaganya yang liar bergaung hebat di dalam koridor sel yang sunyi, memicu caci maki dari tahanan lain yang merasa terganggu.
"Lepaskan aku! Bajingan! Kalian tidak bisa menahanku di tempat terkutuk ini!" raung Suci, suaranya melengking tinggi hingga serak, air liurnya memercik di antara sela-sela besi pembatas. Wajah cantiknya telah berubah total menjadi monster kedengkian, matanya melotot merah dengan urat-urat leher yang menonjol tegang bagai tali tambang.
Suci mencengkeram jeruji besi itu dengan kedua tangannya, menariknya dengan kekuatan penuh seolah-olah ia bisa meruntuhkan struktur baja tersebut dengan otot-ototnya yang gemetar akibat adrenalin yang membakar sanubarinya.
"Sintia! Kenzi! Jangan pikir kalian bisa tidur nyenyak di atas penderitaanku!" teriak Suci, kegilaannya kian memuncak saat membayangkan kemesraan dua orang tersebut di luar sana. "Aku bersumpah demi sisa napasku, aku akan keluar dari sel tahanan ini! Aku punya seribu cara untuk menghancurkan kalian! Aku akan membalas setiap tamparan, setiap hinaan, dan setiap detik siksaan di dalam tempat busuk ini dengan darah kalian! Dengar itu, Sintia! Aku akan merebut Kenzi, dan aku akan memastikan kamu mati mengenaskan di tanganku!"
Seorang petugas jaga melangkah mendekat, memukul jeruji besi dengan tongkat pemukulnya untuk menertibkan situasi. "Diam, tahanan! Cukup teriak-teriaknya!"
Namun Suci tidak peduli. Ia justru menjatuhkan dirinya ke lantai, tertawa terbahak-bahak dengan nada yang teramat melengking dan mengerikan—sebuah tawa delusi dari seorang iblis terluka yang sedang merancang konspirasi baru di dalam kegelapan sel, bersumpah untuk menumpahkan badai pembalasan yang jauh lebih kejam begitu kakinya kembali menginjak tanah kebebasan.
astaga
btw, kak. aku suka gaya cerita kakak...