NovelToon NovelToon
Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Keluarga & Kasih Sayang / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:276
Nilai: 5
Nama Author: Rootea

Rumi terlempar ke dunia otome game yang sedang digandrungi. Tapi, dia bukan tokoh utama wanitanya.... Dia cuma seekor kucing!

Berbekal pengetahuan akan seluruh akhir cerita bersama tiga pangeran, Rumi bertekad mengatur jalur romansa agar semuanya berakhir bahagia.

Namun, kehidupan tidak pernah sesederhana permainan game....

Tiga pangeran berarti tiga jalan hidup. Tiga pilihan. Dan hubungan yang perlahan menghancurkan dari dalam.

Apakah yang dia ketahui masih cukup? Ataukah, pada akhirnya Rumi tidak bisa melakukan apa-apa....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rootea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23 - Rumor

Berita mengenai kemungkinan miasma menyebar dengan cepat di istana beberapa hari setelah sidang besar itu. Dari bisikan para pelayan dan staf kerajaan, sangat jelas betapa kabar ini membuat semua orang khawatir. Keberadaan miasma memang dianggap sebagai bencana besar. Serupa kutukan. Seperti putusan yang jatuh dari langit—menghakimi perbuatan dosa.

Jadwal Jovienne keluar istana dibatalkan karena khawatir miasma menyebar, biarpun sebenarnya Kota Norton berada cukup jauh dari ibu kota.

Selain itu mulai terdengar pula kasak-kusuk menyoal perjodohan putra mahkota.

Sudah kuduga. Bahasan di pertemuan istana waktu itu memang soal pernikahan Caelian.

Banyak pelayan menyebut nama Althea sebagai calon paling kuat. Sang protagonis wanita!!

Aaahh sepertinya usahaku menjodohkan dan menyebar gosip tentang mereka tidak sia-sia. Ha ha ha.

Kalau benar Althea yang dipilih, aku bisa tenang. Kalaupun Havren dan Jovienne tidak berakhir baik, setidaknya perdamaian akan terwujud.

Meski, sebenarnya progres Havren dan Jovienne tidak seburuk itu sih…

Kurasa mereka masih ada harapan.

Ah! Mungkin cuplikan di game itu juga benar akan terwujud! Caelian dan Althea akan mengunjungi Solmara untuk kelahiran putri pertama Havren dan Jovienne!

Aku akan punya ponakan!

HAHAHA!!

...*...

...*...

...*...

Selama dua minggu, masalah perjodohan itu adalah topik yang selalu terdengar di berbagai penjuru istana. Terucap di bawah bisikan suara rendah. Dukungan, penolakan, kekhawatiran, kelegaan, semuanya saling tumpang tindih. Mungkin kasak-kusuk itu akan terus berlanjut sampai ada pengumuman resmi dari Kaisar.

Yang sepertinya keluar hari ini.

Tadinya aku berniat tidur di bawah sinar matahari pagi di dekat danau, tapi koridor istana begitu ramai. Orang berlalu-lalang dengan langkah tergesa dan saling berbisik dengan suara keras.

“—sudah diputuskan.”

“Cepat sekali.”

“—dengan Varkath?”

“Ini terlalu tiba-tiba.”

“—bukan gadis bangsawan?”

“Pagi ini dekrit kaisar keluar.”

“—yang mana?”

“Bukan putra mahkota…”

Seketika rasa kantukku lenyap. Telingaku berdiri berusaha menangkap obrolan itu, tapi mereka sudah berjalan terlalu jauh.

Apa maksud mereka dengan ‘bukan putra mahkota’?

Apa mereka bukan sedang membicarakan soal pernikahan? Atau…

Tidak mungkin mereka akan membatalkan perjodohan Havren dengan Jovienne, kan??

Dengan tergesa, aku melompat turun dari lengkung pilar.

Perasaanku tidak enak…

Tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan informasi lengkapnya.

Sebuah berita tak terduga telah membuat geger seluruh istana. Perintah Kaisar dikeluarkan dalam dekrit kerajaan. Dibacakan dalam sidang pagi hari, diumumkan ke seluruh negeri.

Kaelros dan Varkath akan menjalin hubungan baik melalui pernikahan—Pangeran Raien akan dikirim untuk Putra Mahkota Varkath.

….

Percayalah, aku juga berulang kali memastikan aku tidak salah dengar.

Putra. Mahkota. Varkath.

Kaelros saat ini memang tidak memiliki seorang putri kerajaan, tapi—RAIEN???!!

...*...

...*...

...*...

Rupanya, Varkath, negeri di sisi jauh utara Kaelros itu memiliki keadaan yang unik. Mereka adalah negara yang amat tertutup, selalu mengisolir diri dari dunia luar. Kabarnya mereka memiliki sumber emas dan batu mulia yang melimpah. Yang sejauh ini beredar di pasaran dalam jumlah begitu terbatas dan teramat langka. Menjalin kerja sama dengan mereka adalah keinginan Kaisar sejak bertahun lamanya.

Meski bukan negeri besar seperti Kaelros, tidak ada yang berani mengusik Varkath karena kekuatan militer mereka yang tangguh. Kabarnya klan Amatsurugi bahkan dapat dibinasakan dengan mudah. Ada rumor bahwa Varkath adalah pengendali sihir hitam. Rumor lain berkata Varkath memiliki darah makhluk magis, makhluk malam yang menurut legenda pun dihindari oleh para naga.

Kabar lain mengenai Varkath ialah… penerimaan mereka terhadap hubungan sesama jenis, terlebih dalam pernikahan politik dalam rangka menyatukan dua klan.

Selama ini Varkath tidak pernah membuka pintu untuk siapapun. Kaelros, melalui Pangeran Raien, akan menjadi pelopor hubungan besar antara dua negeri.

Kabar itu begitu mengejutkan sampai aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Bagaimanapun juga ini terlalu tiba-tiba.

Sayangnya, rumor dan gosip tidak berhenti sampai di sana.

Di dalam kerajaan, pernikahan seringkali menjadi alat politik. Pasangan untuk pangeran tidak bisa dipilih acak. Menikahi seorang pangeran adalah jalan paling cepat untuk meraih kekuasaan, terlebih bila kemudian dikaruniai seorang putra. Menikahi keluarga kerajaan adalah impian para bangsawan. Di sisi lain, menikahi keluarga yang tepat akan memperkokoh posisi tahta.

Atau, menghancurkannya.

Itulah sebab Caelian selaku putra mahkota belum memperistri keluarga manapun.

Dan itulah mengapa perjodohan Raien adalah sebuah malapetaka.

“—dia tidak akan bisa memiliki keturunan.”

“Apa Kaisar sedang menghukumnya?”

“Klan Amatsurugi tidak akan memiliki kesempatan lagi.”

“...Pangeran Raien adalah pahlawan Kaelros. Bukankah ini penghinaan?”

Jelas, ini adalah sebuah penghinaan besar bagi seorang pangeran yang memiliki peluang untuk meraih tahta.

“Bukankah justru itu masalahnya? Pangeran Raien terlalu populer…”

“Dengan dukungan Amatsurugi di timur, dan pencapaiannya baru-baru ini di utara, dia… terlalu besar….”

“Seseorang pasti ingin menyingkirkannya.”

...*...

...*...

...*...

“Sejak dulu bukankah dia pembawa malapetaka?”

“Tidak sampai satu bulan sejak kelahiran putra mahkota, kelahirannya sendiri adalah pertanda buruk.”

“Tahun itu ada wabah mematikan yang melanda Kaelros, bukan? Tidak jauh beda dengan kejadian kali ini.”

“Sebuah kutukan, ini pasti kutukan.”

“Siapa bisa menjamin kekacauan di utara itu bukan disebabkan oleh dia sendiri.”

“Kekejamannya hanya ditutupi oleh kemenangan perang.”

“Sejak awal, keberadaannya di istana adalah sebuah tabu.”

“Kaisar melakukan hal yang tepat dengan menyingkirkannya ke Varkath.”

“Seharusnya dia tidak pernah kembali ke istana.”

“Ah, benar. Bukankah dulu dia sudah dibuang—”

...*...

...*...

...*...

Hanya dalam tiga hari, rumor dan gosip yang beredar semakin menjadi. Semakin tidak menyenangkan untuk didengar. Semua orang seperti berlomba untuk menjadi si paling tahu. Ujaran kebencian dan cemooh begitu pekat di udara. Arak-arakan penuh puja di jalanan ibu kota itu seolah hanya mimpi.

Setelah sarapan pagi itu, akhirnya aku bertemu Raien. Di depan istal istana. Kuda hitamnya yang gagah menunduk patuh, membiarkan Raien memasang tali kekang. Di belakangnya ada beberapa kuda lain, dipenuhi perlengkapan dan perbekalan.

“Pangeran Raien! Anda tidak berniat pergi secepat ini, bukan?” Jovienne berlari menghampiri, dan aku mengikuti di belakangnya.

Raien tidak menjawab, alih-alih balas bertanya. “Hendak latihan berkuda, Putri Jovienne?”

Jovienne menghembus napas pendek dan melipat lengan di depan dada, tampak kesal karena pertanyaannya kentara sengaja tidak dijawab.

“Anda… sungguhan akan ke Varkath?”

Pangeran kedua itu berpakaian lebih berat dibanding biasanya. Kaelros memang mulai memasuki musim dingin, tapi mantel dan jubah yang dikenakan pemuda itu lebih tebal dari sewajarnya. Seolah-olah ia hendak menuju tempat yang teramat dingin, di mana hangat matahari tidak bisa mencapai permukaan tanahnya.

“Tak perlu mengkhawatirkan hal yang tidak melibatkanmu, Putri. Itu akan menghindarkanmu dari bahaya.” Raien berucap seraya memasang pelana.

Aku hanya bisa menatap punggung besar itu. Tak mengerti bagaimana komandan perang yang dikenal garang dan memiliki harga diri tinggi ini terdengar…. seperti itu. Tidak murka. Tidak tampak terhina.

Ketika Raien menoleh, ada senyum tipis di wajahnya.

Pemuda itu mengulang apa yang ia lakukan pada Jovienne di jalanan Valtheris tempo lalu. Tangannya terulur untuk mengusap puncak kepala sang gadis.

“Kupercayakan Havren padamu,” ia berucap pelan, nyaris berbisik.

Kali ini, tangan besar itu juga sempat mengacak-acak buluku.

Lantas, ia melompat ke atas kuda dan meraih tali kekang. Rahangnya yang tegas terlihat sedikit kaku. Sorot matanya terlihat penuh determinasi. Seperti seseorang yang sedang mengemban tugas dan bertekad menyelesaikannya sebaik mungkin.

Seperti seseorang yang hendak pergi ke medan perang.

Mungkin, ini memanglah peperangan—dalam bentuk yang berbeda.

Akan tetapi, Pangeran Raien tidak diiringi pasukannya yang tersohor. Di belakang kudanya hanya ada dua ksatria, satu diplomat, dan tiga orang pelayan. Jumlah yang terlalu sedikit.

Sebelum sadar, aku sudah berlari mengikuti mereka hingga gerbang istana.

Perasaan tidak enak yang aku rasakan sejak tiga hari lalu semakin kuat.

Kelotak kaki kuda itu terlalu hening. Kepergian ini terlalu sunyi. Tidak ada yang mengantar. Tidak ada arak-arakan. Seolah tidak ada yang peduli. Seolah-olah… nama "Pelindung Kaelros" tidak lagi berarti.

Kepergian itu terasa begitu salah. Seperti awal dari sesuatu yang tidak semestinya terjadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!