Di siang hari, Renata adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pustakawati polos berkacamata tebal. Namun, saat malam tiba dan lampu kota Jakarta mulai menyala, ia berubah menjadi "Papillon" (Kupu-Kupu)—gadis hostess paling misterius dan mahal di Kupu-Kupu Bar, sebuah kelab malam eksklusif rahasia para konglomerat.
Renata tidak mencari uang demi kemewahan. Ia menjebak dirinya di dunia malam demi mengungkap misteri kematian kakak perempuannya yang tewas mengenaskan setelah melayani seorang pria berkuasa dari Dirgantara Group.
Rencananya berjalan mulus hingga malam itu tiba. Adrian Dirgantara, CEO dingin dan pewaris tunggal Dirgantara Group, masuk ke bar dan langsung memilih Papillon. Adrian tidak mencari hiburan, melainkan seorang "istri sewaan" untuk memenuhi wasiat kakeknya demi mempertahankan takhta perusahaan.
Satu kesepakatan di bawah lampu remang-remang bar mengubah segalanya. Renata melangkah masuk ke sarang musuh sebagai istri Adrian, sementara Adrian tidak pernah t
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zenaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Langkah Pertama Menuju Makau
Isi paket misterius yang mengusik ketenangan ruang kerja Renata tidak bisa dianggap lalu sebagai gertakan sambal belaka. Setelah badai emosi yang menguras air mata itu mereda, insting bertahan hidup sang Kupu-Kupu malam dan kalkulasi dingin sang CEO kembali mengambil alih kendali. Kamar kerja pribadi Adrian di penthouse lantai teratas diubah menjadi ruang komando rahasia dalam hitungan jam. Lampu ruangan diredupkan, menyisakan pendaran biru dari layar-layar monitor yang menampilkan barisan data enkripsi tingkat tinggi.
Renata duduk dengan tegap di depan komputer jinjing miliknya, jemarinya yang lentik bergerak secepat kilat di atas papan ketik, menembus lapisan demi lapisan dinding pertahanan siber perbankan bayangan internasional. Di sampingnya, Baskara berdiri dengan tatapan fokus, sementara Adrian berjalan mondar-mandir di belakang mereka dengan segelas wiski di tangan, mencerna setiap helai informasi yang berhasil ditarik ke permukaan.
"Aku sudah menemukan benang merahnya, Adrian," ujar Renata, suaranya kini telah kembali dingin, datar, dan tajam—ciri khasnya saat mode analisisnya aktif. "Pesan itu tidak bohong mengenai satu hal. Aliran dana gelap dari Klub Kupu-Kupu Hitam di Jakarta tidak pernah berhenti di rekening Victor Wijaya. Setiap bulan, delapan puluh persen dari keuntungan bersih tempat noda itu ditransfer melalui serangkaian bank koresponden di Swiss, sebelum akhirnya bermuara ke satu titik akhir: sebuah rekening korporasi atas nama The Grand Romero Resort & Casino di Cotai Strip, Makau."
Adrian menghentikan langkah kakinya. Ia meletakkan gelas wiskinya di atas meja dengan bunyi klang yang berat. "Klan Romero... Sindikat kasino terbesar di Asia Timur yang memiliki kekebalan hukum karena memegang kartu as para politisi papan atas."
"Tepat," Renata memutar layarnya ke arah Adrian, menampilkan bagan struktur organisasi yang rumit. "Dan pemilik asli sekaligus kepala operasional yang mengendalikan seluruh jaringan intelijen hitam mereka di wilayah Asia Tenggara adalah pria ini: Mateo Romero. Dia adalah orang yang mengubah klub malam menjadi ladang pemerasan informasi dengan menggunakan wanita-wanita yang dijebak, termasuk Kak Maya."
Baskara maju selangkah, menyerahkan sebuah laporan analisis intelijen lapangan. "Tuan Adrian, jika kita bergerak menggunakan nama Dirgantara-Mahardika Tbk, alarm bahaya mereka akan langsung berdering. Kedatangan seorang CEO raksasa korporasi baru dari Indonesia ke wilayah kekuasaan mereka akan memicu kecurigaan tingkat tinggi. Kita tidak akan pernah bisa mendekati ruang arsip Mateo."
Adrian tersenyum dingin, sebuah senyuman spekulatif yang sangat berbahaya. Ia berjalan mendekati Renata, meletakkan kedua tangannya di sandaran kursi istrinya, lalu menunduk untuk menatap langsung ke dalam sepasang mata cokelatnya. "Kita tidak akan datang sebagai Dirgantara-Mahardika, Baskara. Kita akan masuk ke sarang mereka dengan jubah yang berbeda. Kebetulan, dari laporan intelijen bursa komoditas, Klan Romero sedang mencari investor luar untuk mendanai resor kasino baru mereka di proyek reklamasi Asia Tenggara. Mereka butuh likuiditas bersih dalam jumlah besar agar tidak terendus otoritas moneter."
Renata langsung menangkap arah pemikiran suaminya. "Kita akan menggunakan Phoenix Holding—perusahaan cangkang baru milik ibuku. Di mata dunia, Phoenix Holding adalah entitas independen bentukan sisa-sisa taipan Hong Kong yang tidak terikat dengan perseteruan keluarga Dirgantara."
Elena Mahardika, yang sejak tadi duduk diam di sudut sofa dengan anggun, akhirnya angkat bicara. Suaranya terdengar parau namun penuh penekanan. "Ibu masih memiliki beberapa rekan kerja lama dari kalangan perbankan papan atas di Hong Kong yang berutang budi pada mendiang ayahmu, Renata. Ibu bisa meminta mereka untuk membuatkan surat pengantar VVIP dan jaminan dana fiktif atas nama Phoenix Holding agar kalian bisa langsung berhadapan dengan Mateo Romero dalam waktu dua puluh empat jam."
Adrian menegakkan tubuhnya, merapikan kemeja hitamnya dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh determinasi mutlak. "Persiapkan segalanya, Baskara. Kamu akan tetap tinggal di Jakarta untuk memegang kendali penuh atas operasional Dirgantara-Mahardika dan memastikan para pemegang saham minoritas tidak melakukan gerakan tambahan saat kami pergi. Aku dan Renata akan berangkat ke Makau besok malam."
Renata berdiri, melangkah masuk ke dalam dekapan hangat Adrian. Ia merasakan detak jantung suaminya yang berpacu kuat—sebuah ritme yang memberikan kekuatan baru di dalam jiwanya. Perjalanan ke Makau ini bukan lagi sekadar mempertahankan takhta bisnis yang baru mereka rebut, melainkan sebuah perjalanan mematikan untuk membongkar akar terdalam dari tragedi yang merenggut nyawa Kak Maya.
Jangan lupa vote & like supaya author semangat buat jalan ceritanya ♥️.