Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.
Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: TAMPARAN DI AMBANG KEBENARAN
Venesia menyambut Ian dengan kabut tipis yang menyelimuti kanal-kanal kuno, menciptakan suasana melankolis yang mencekam. Namun, Lorenzo Valenti tidak membawa Ian ke jantung kota yang ramai. Ia membawa Ian ke sebuah properti privat di pinggiran Veneto—sebuah estate megah dengan taman labirin yang luas dan sebuah kolam air asin raksasa di tengahnya, tempat lumba-lumba hidung botol berenang dengan tenang.
Ian turun dari limusin hitam dengan langkah yang masih terasa berat akibat jetlag dan duka yang belum usai. Yusuf, yang selalu waspada, berjalan dua langkah di belakangnya. Di sana, di dekat tepian kolam yang berkilau, Lorenzo berdiri mengenakan setelan linen berwarna gading, memegang segelas anggur putih.
"Benar-benar waktu yang tepat, Adrian," sambut Lorenzo dengan senyum misterius. "Aku ada urusan sebentar. Nikmatilah suasana taman ini. Biarkan ketegangan Jakarta menguap dari kepalamu."
Lorenzo berlalu, meninggalkan Ian di dekat air. Namun, perhatian Ian teralihkan oleh suara tawa kecil di balik barisan patung marmer. Seorang anak laki-laki, yang tampak jauh lebih nyata daripada foto yang dikirim Lorenzo, sedang berjongkok di tepi kolam, mencoba menyentuh permukaan air.
Anak itu mengenakan sweter rajut berwarna biru tua dan celana kain. Saat ia menoleh, Ian seolah melihat cermin masa kecilnya sendiri. Mata itu, sorot tajam yang diselimuti rasa ingin tahu yang besar, adalah mata seorang Diningrat.
Tanpa sadar, Ian melangkah mendekat. "Hei," sapanya pelan, mencoba tidak mengejutkan bocah itu.
Anak itu berdiri, menatap Ian tanpa rasa takut. "Halo. Kamu tamu Kakek Lorenzo?" tanyanya dalam bahasa Italia yang sangat fasih, namun dengan aksen yang lembut.
Ian berjongkok agar tingginya sejajar dengan sang anak. "Iya. Namaku Adrian. Siapa namamu?"
"Matteo," jawabnya singkat. Ia lalu menunjuk ke arah lumba-lumba yang muncul ke permukaan. "Lihat, dia suka kalau kita diam. Kalau berisik, dia pergi."
Ian tersenyum, sebuah perasaan hangat yang asing menjalar di dadanya. "Aku suka yang tenang juga, Matteo."
Yusuf mendekat, melihat interaksi itu dengan pandangan yang tak terbaca. "Tuan Muda, dia... dia sangat mirip dengan Anda."
Ian mengabaikan komentar Yusuf. Selama beberapa menit, ia terlibat dalam percakapan kecil dengan Matteo. Anak itu bercerita tentang koleksi bukunya dan betapa ia menyukai sejarah—hobi yang sangat jarang dimiliki anak seusianya, kecuali jika ia memiliki garis keturunan yang mendalami kekuasaan.
"Mainlah dengan Paman ini sebentar, Matteo," ucap Ian menunjuk Yusuf. "Dia jago membuat burung dari kertas."
Yusuf, yang biasanya kaku, terpaksa berlutut dan mulai melipat sapu tangan sakunya menjadi bentuk origami demi menghibur anak itu. Ian berdiri, menatap punggung Matteo dengan ribuan pertanyaan yang berputar di benaknya. Siapa ibu anak ini? Apakah benar dia "Singa Kecil" yang dimaksud Kakek?
Panggilan Pemicu Badai
Di sudut lain taman, di balik bayangan pohon ek, Lorenzo menempelkan ponsel ke telinganya. Ia melihat sosok Ian dan Matteo dari kejauhan melalui kacamata hitamnya.
"Cansu," ucap Lorenzo saat sambungan terangkat. "Adrian sudah di sini. Dia sedang berada di taman kolam lumba-lumba. Dan sekarang... dia sedang bersama Matteo."
Di seberang telepon, terdengar suara benda jatuh yang pecah. "Apa?! Paman, apa yang kamu lakukan?! Kamu berjanji tidak akan mempertemukan mereka!"
"Waktu tidak bisa menunggu lagi. Kakeknya sudah meninggal, dan Adrian berhak tahu warisan apa yang ia miliki di Italia. Datanglah sekarang, atau aku akan membiarkan Adrian membawa anak itu ke Jakarta."
Lorenzo memutus sambungan sepihak. Ia menyesap anggurnya, merasa puas. Baginya, kebenaran adalah sebuah bidak catur yang harus dimainkan pada saat yang paling menyakitkan agar memberikan hasil yang paling menguntungkan.
Tamparan Sang Mawar
Hanya butuh waktu lima belas menit hingga sebuah SUV putih menderu masuk ke halaman estate. Cansu keluar dengan napas tersengal. Rambutnya berantakan, matanya merah karena kepanikan yang luar biasa. Ia berlari melewati labirin taman, mengabaikan sapaan para pelayan.
Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: Matteo tidak boleh diambil. Matteo tidak boleh masuk ke dalam pusaran Keluarga Diningrat yang mematikan.
Saat ia sampai di area kolam, ia melihat Ian sedang berdiri membelakanginya, menatap Matteo yang tertawa bersama Yusuf. Sosok Ian yang tegap dengan jas hitamnya tampak seperti ancaman nyata di mata Cansu.
"ADRIAN!" teriaknya parau.
Ian berbalik, terkejut melihat Cansu yang tampak hancur. Namun, sebelum ia sempat mengucapkan satu kata pun, Cansu sudah berada di depannya.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi kiri Ian, hingga wajah pria itu tertoleh ke samping. Suara hantaman itu bergema di keheningan taman, membuat lumba-lumba di kolam menyelam dalam.
"Kamu apakan anakku?!" tegas Cansu dengan nada gemetar, air mata mulai mengalir deras di pipinya. "Berani-beraninya kamu menyentuhnya! Berani-beraninya kamu datang ke sini setelah apa yang terjadi!"
Ian terpaku. Pipinya terasa panas dan berdenyut, namun rasa bingung di kepalanya jauh lebih menyiksa. Ia menatap Cansu dengan tatapan kosong. "Cansu... apa yang kamu bicarakan? Sejak kapan kamu punya anak?"
Cansu tidak menjawab. Ia tersedu-sedu, dadanya naik turun karena emosi yang meluap. Matteo, yang mendengar keributan, segera berlari meninggalkan Yusuf.
"Mama!" teriak Matteo kecil, langsung memeluk kaki ibunya dengan erat.
Cansu segera berlutut, mendekap putranya seolah-olah dunia akan merenggutnya dalam hitungan detik. Ia menatap Ian dengan tatapan penuh kebencian dan ketakutan secara bersamaan. "Pergi, Adrian! Pulanglah ke istrimu yang sedang hamil di Jakarta! Jangan pernah injakkan kakimu di sini lagi!"
Simfoni Keheningan
Ian berdiri mematung di depan Lorenzo yang kini melangkah maju dengan wajah santai, seolah baru saja menonton pertunjukan opera yang menghibur.
"Cansu, tenanglah," ucap Lorenzo lembut namun penuh otoritas. "Adrian tidak melakukan apa pun. Mereka hanya berbincang. Matteo sangat menyukainya, bukan?"
Ian menatap Lorenzo, lalu beralih ke Cansu yang masih memeluk Matteo di lantai. Otak cerdasnya mulai menyusun kepingan teka-teki yang selama ini disembunyikan.
Anak laki-laki yang mirip dengannya. Cansu yang menghilang tepat setelah mereka berpisah di Milan. Kakeknya yang rela dirawat oleh Cansu di pengasingan. Dan sebutan "Singa Kecil".
"Matteo..." suara Ian serak, hampir pecah. "Matteo adalah anakku, bukan?"
Cansu membeku. Ia semakin erat memeluk Matteo, menenggelamkan wajah putranya di pundaknya agar Matteo tidak melihat ketegangan ini. Ia tidak menjawab, namun keheningan itu adalah jawaban paling jujur yang pernah Ian terima.
"Jawab aku, Cansu!" bentak Ian, suaranya menggelegar membuat burung-burung di sekitar taman beterbangan. "Apa Matteo adalah anak hasil malam dimana aku mabuk waktu itu?!"
Cansu mendongak, matanya berkilat penuh luka. "Dia anakku, Adrian. Hanya anakku. Jangan merebutnya dari ku, karena Matteo satu satunya hal berharga yang aku punya! ",
Ian mundur satu langkah, merasa seolah dunia di bawah kakinya baru saja runtuh. Di Jakarta, Rhea sedang menanti kehadirannya dan calon bayi mereka. Namun di sini, di tanah Italia yang dingin, ia menemukan seorang putra yang sudah tumbuh besar tanpa pernah ia ketahui keberadaannya.
Yusuf berdiri kaku di belakang Ian, tangannya mengepal. Ia tahu, momen ini adalah titik nol bagi masa depan keluarga Diningrat.
Lorenzo Valenti tersenyum di balik gelas anggurnya. "Sekarang, Adrian... apa yang akan kamu lakukan? Memilih putra yang sudah ada di depan matamu, atau kembali ke kehidupan sempurna yang sudah kamu bangun di Jakarta?"
Ian menatap Matteo yang kini mengintip dari balik bahu Cansu, menatapnya dengan mata yang persis sama dengan miliknya. Di tengah taman yang indah itu, sang Macan Diningrat menyadari bahwa ia baru saja memasuki labirin yang tidak memiliki pintu keluar.