Demi nafas Nonik, Santi OB miskin rela jual harga diri.
Demi warisan triliunan Opa Darwis, Dody CEO dingin butuh istri kontrak.
Satu tanda tangan di UGD, satu cap jempol Nonik yg sekarat.
Kontrak nikah 250 juta resmi dibuat.
Dia istri di atas kertas. Dia suami yg membeku.
Di antara mereka ada Nonik, bocah 5 tahun yang nyawanya jadi taruhan.
Bisakah hati sedingin es Dody luluh oleh tangis Santi?
Sementara Wati sang HRD dan Wandy sang tunangan siap menikam dari belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMBARAN DODY
TING
Dody buru-buru meletakkan ballpointnya ke meja. Segera dia mengambil HP hitamnya. Tertera nomor tidak dikenal. Lakamu dia minta diri pada Ritonga dan Isman ke belakang.
“Ingat tempat rahasia. Dekat pohon Akasia kanal B.”
Dody terkejut. Itu ada kode rahasia “kanal B” yang hanya dia dan saudara kembarnya yang tahu. Namanya Bagas Gumilang yang tiba-tiba menghilang pada saat usia 10 tahun. Masih segar diingatannya, kebingungan dari tante Wati yang mencari-cari Bagas yang tidak pulang sampai sore ke rumah. Dia menyalahkan Dody karena tidak tahu hilangnya Bagas.
KILAS BALIK 24 TAHUN LAKAMU
Wati sedang kebingungan. Bagas yang biasanya sudah pulang tidak tampak batang hidungnya. Dia menegur Dody kecil yang kelihatan Santai-santai saja saudara kembarnya menghilang.
“Dod. Kau itu ya saudaranya hilang tidak bingung malah Santai-santai, duduk-duduk saja. Ayo cari.”
Mata Wati melotot kepada Dody kecil. Dody kecil ketakutan.
“Ma…af tante. Aku baru saja pulang dari sungai. Tadi aku liat Bagas ada di sungai. Tak kira tadi pulang dulu. Ma…af tante.”
“Ais alasan. Ayo cari lagi. Aku tak kasih makan kau kalau tak ketemu.”
“Ba..baik tante.”
Dody segera merosot dari kursi duduknya. Langsung pergi ke sungai tempat dia biasa bermain dengan Bagas.
Dia tidak habis pikir. Sama-sama keponakan tetapi yang menjadi kesayangan tante Wati adalah Bagas. Bagas dimata tante Wati adalah anak yang baik,penurut dan mudah diatur. Tetapi ketika hilang dari pengawasan tante Wati, dia berubah menjadi anak yang bengal, suka main-main dan mau menang sendiri. Tetapi itu tidak masalah, baginya. Bagas adalah saudara kembarnya. Dia selalu menutupi kesalahan Bagas dihadapan Wati.
Pada waktu waktu Bagas kotor, payah dan bajunya sobek-sobek karena main-main sama anak-anak sebrang sungai. Dia bilang kalau Bagas terpeleset jatuh ke sungai. Tante Wati tidak marah malah buru-buru membersihkan Bagas dari kotoran yang menempel di tubuhnya. Anak tante Wati, Rido hanya melihat dikejauhan saja ibunya membersihkan Bagas. Rido iri kenapa dia yang anak kandungnya sendiri justru tidak mendapat perlakuan istimewa seperti itu.
Dia malah disuruh bersih-bersih sendiri dan mandi sendiri tidak seperti Bagas yang selalu di anakemaskan ibunya.
Dody tidak begitu akrab dengan Rido karena Rido anaknya penyendiri. Dia coba ajak main tetapi Rido selalu menolak. Dia seperti punya dunianya sendiri dan teman sendiri yang tidak kelihatan. Kadang-kadang Dody lihat Rido suka ngomong-ngomong sendiri seperti bicara sama temannya tetapi Dody tengok tidak ada anak lain selain dirinya.
Dody sudah cari sekitar sungai G. Sungai G adalah salah satu dari tiga daerah aliran sungai (DAS) yaitu DAS G, DAS B dan DAS BL. Dody mencari tempat dia biasa main. Tetapi nihil tidak ada sama sekali jejak dari Bagas.
Tiba-tiba bulu kuduknya meremang. Dia bergidik, teringat cerita tetangga rumah kalau ada hantu perempuan tua di rumpunan bambu pinggiran sungai yang suka menakut-nakuti orang yang lewat. Anak kecil yang bermain di sekitar sungai bila sampai tidak pulang sampai maghrib bisa jadi diajak main oleh hantu perempuan tua itu.tidak…..tidak mungkin. Membayangkan saja Dody kecil jadi ketekutan sendiri.
Apalagi sekarang sudah menjelang magrib. Harusnya tante Wati mengkhawatirkan dirinya. Tetapi Dody pikir tidak. Tante Wati tidak sayang pada dirinya. Pada Rido anak kandungnya. Dia hanya sayang kepada Bagas, saudara kembarnya.
Dia duduk di batu tepian sungai G. Dia tidak mungkin pulang tanpa Bagas. Tante Wati pasti memarahinya lagi.
“Dod.”
Seorang anak kecil berperawakan sedang menyapa dirinya. Ritonga. Ritonga teman mainnya. Dia ketemu Ritonga pertama kali pas tersesat di pasar J karena tante Wati waktu itu marah-marah padanya karena menumpahkan air minum tamunya tante Wati. Dody tidak sengaja karena dia buru-buru mau kebelakang eh menabrak meja sehingga gelas minuman pecah dan airnya menumpahi tamu tante Wati. Tante Wati menjewer kupingnya sampai merah.
Dody diam.
“Kamu belum pulang.”
“Aku cari Bagas, tetapi tidak ketemu.”
Ritonga memandangi muka Dody yang tampak kusut dan lelah karena seharian di sungai belum makan. Karena Ritonga mendengar perut Dody keroncongan, perutnya minta diisi makanan.
“Nih.”
Ritonga menyodorkan dua buah arem-arem kepadanya. Segera Dody menyambar makanan itu dan memakannya dengan lahap.
Ritonga hanya memandangi Dody makan. Dia kemudian menjejeri Dody duduk disampingnya.
“Dod. Apa tante kau tak kasih makan.”
Dody menggelengkan kepalanya lemah. Walaupun dia anak Pratama Gumilang dan Wanda Gumilang dalam kenyataan pahitnya tidak mendapat makanan yang cukup. Kedua orangtuanya kecelakaan jet sewaan dalam perjalanan bisnisnya pada saat dia berusia 5 tahun. Dia dan saudara kembarnya dititipkan kepada tante Wati oleh opa Darwis. Tante Wati berjanji kepada opa Darwis untuk menjaga anak mendiang kakaknya Pratama Gumilang dengan baik.
“Ha…ha….ha.”
Dody tertawa getir. Anak orang kaya tetapi seperti anak orang tidak punya. Sungguh ironis sekali. Hidup seperti mempermainkan dirinya yang yatim piatu ini. Opa Darwis terlalu sibuk untuk mengurus dua anak baru berusia 5 tahun. Opa Darwis sangat sibuk sekali karena sepeninggal Pratama Gumilang dan Wanda Gumilang semua urusan perusahaan PT Gumilang Perkasa semuanya dia yang menangani. Opa Darwis hanya fokus pada bisnis dan bisnis. Baginys keluarganya hanya no 2 yang no 1 adalah bisnis perusahaan.
“Kamu napa.”
“Tak pa.”
Mereka berdua duduk dalam diam. Kemudian hening hanya keciprak air sungai dan gesekan rumpun bambu yang terdengar. Sejak saat itu Bagas Gumilang dinyatakan hilang. Dia dinyatakan opa Darwis sebagai pewaris satu-satunya di perusahaan PT Gumilang Perkasa.
WAKTU SEKARANG DI LOBBY TERMINAL M
Ritonga melihat muka Dody yang tampak menegang. Dia seperti memendam sesuatu yang besar.
“Ada apa.”
Sejenak Dody terdiam.
“Kamu ingat Bagas, saudara kembar aku.”
“Emmm.”
“Barusan dia kirim pesan ke aku.”
“Ahhh…”
Ritongan tampak terkejut. Dia ingat ketika itu banyak orang yang cari di pinggiran sungai G tetapi tidak ketemu. Bahkan petugas pengawal dikerahkan untuk dapat menemukan Bagas.
Sepanjang malam mereka mencari-cari bahkan ada yang menyusuri pinggiran sungai Ga sampai ke hulunya yaitu gunung U tetapi tidak ketemu juga. Lalu ada yang menyusuri sampai hilir sampai di laut J tetap tidak ketemu. Bagas seperti hilang ditelan bumi.
“Itu pesannya Bagas.”
Ritonga tidak percaya. Waktu itu Bagas dianggap sudah hilang. Segala daya upaya sudah dikerahkan untuk menemukannya tetapi tidak ketemu.
“ya…”
Dody menjawab dengan singkat. Ini juga hal yang mengejutkan juga bagi dirinya. Bagas sudah dianggap tidak ada. Tiba-tiba ada pesan yang hanya dia dan Bagas yang tahu.
“Apa tidak kamu cermati dulu pesannya.”
“Udah. Dia memberi kode yang hanya aku dan dia yang tau.”
Ritonga berdiam diri. Sedangkan Isman hanya mendengarkan saja keduanya berbicara.
“Maaf saudara Isman. Mungkin ini mengganggu kamu.”
“Tak. Santai saja.”
Isman menjawab dengan tenang.
“Udahlah. Biarkan saja. Yang penting sekarang bagaimana caranya menemukan Santi. Pesan dari Bagas itu dipikir nanti saja.”
“Itu aku setuju.”
Mereka segera terlibat dalam pembicaraan serius. Dody kelihatan menulis-nulis sesuatu di notesnya. Dia biasa mencatat point-point pembicaraan rapat meskipun ada sekretaris yang mendampinginya untuk membantunya mengetik di laptop. Tetapi bagi Dody adalah lebih penting untuk punya point-point yang dibicarakan sedangkan segala isi rapat biar diketik oleh sekretarisnya.
“Oke. Bagaimana setuju.”
Isman menyodorkan tangannya. Dody lalu menyambut tangannya.
“Aku setuju. Mudah-mudahan itu dapat segera melacak keberadaan Santi.”
Kedua orang itu kemudian saling berjabatan tangan.
Bagaimanakah dengan pesan dari Bagas. Apakah itu benar dari saudara kembarnya Dody atau orang lain yang menyamar sebagai Bagas untuk mengacaukan pikiran Dody.
Bersambung